HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 187. Surprise


__ADS_3

"Ummi!"


"Sebentar Abi, tawaku belum kelar." Mentari tertawa lagi sedangkan ustadz Alzam hanya bisa menggelengkan kepala.


"Awas perutnya sakit tertawa terus. Nanti bayinya ikut terguncang."


Mentari segera menghentikan aksi tawanya mendengar peringatan dari sang suami.


"Ayo masuk saja, betah benar di luar sini," ajak Nanik.


"Lah kan Mbak Nanik yang menyambut kedatangan kami di sini. Pakai main lawak-lawakan lagi," protes Mentari.


"Ayo Ummi masuk." Ustadz Alzam menggandeng tangan sang istri ke dalam toko diikuti Nanik dan Mega di belakangnya.


"Sarah nggak ke sini Mbak Nanik?" tanya ustadz Alzam setelah semuanya sudah duduk di kursi.


"Tidak Ustadz, sudah seminggu Bu Sarah tidak datang kemari. Katanya dia sangat sibuk dengan magangnya dan saat tiba di apartemen langsung istirahat karena lelah. Beliau memintaku untuk menghandle segalanya," terang Nanik.


"Mbak Nanik tidak kesulitan harus menghandle semua tugas yang ada di toko ini?" tanya Mentari tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya menjadi Nanik sekarang.


"Tuh! Kan ada beberapa karyawan baru," tunjuk Nanik kepada dua orang yang sedang sibuk membuat kue di dapur sana.


Mentari menoleh, melihat tiga karyawan baru dari dapur yang hanya tersekat dengan kaca dari tempatnya duduk sekarang. "Wah sudah ada karyawan baru ternyata."


"Udah dari dulu kali Me, makanya sekali-kali datang kemari."


"Iya Mbak Nanik lain kali aku usahakan berkunjung ke tempat ini."


Nanik mengangguk.


"Mega bisa minta tolong tidak?" tanya ustadz Alzam pada Mega yang kini tengah duduk di samping mereka, tetapi tampak memberengut kesal mengingat perkataan Nanik yang mengatakan kucing saja tidak berminat padanya.


"Apa aku seburuk itu ya?" batin Mega.


"Mbak Mega!" Ustadz Alzam mengulangi panggilannya karena Mega sama sekali tidak mereflek panggilannya tadi.


"Ah, iya ustad. Ada apa?" Mega nampak kaget.


"Tolong bungkus kan beberapa kue buat kami untuk dibawa bertandang ke toko bangunan."


"Kue yang mana ustadz?"


"Kamu aja yang pilihkan. Pilih yang rasanya enak menurut kamu dan simple bawaannya!"


"Baik."


"Abi aku mau ke mobil dulu ambil buah," pamit Mentari.


"Ya hati-hati," sahut ustadz Alzam.


"Oh ya Mega dan Mbak Nanik tolong sekalian buatkan kue tart juga."


"Ustadz ulang tahun ya?" tanya Mega penasaran.

__ADS_1


"Bukan saya tapi untuk istri saya. Hari ini tepat tanggal lahirnya," jelas ustadz Alzam.


"Oh ya? Bukannya tanggal lahir Mentari bukan sekarang ya Ustadz?" Nanik masih ingat tanggal saat satu tahun yang lalu Bintang membelikan istrinya kue ulang tahun dan saat itu Mentari menganggap Bintang mau memberikan surprise kepada dirinya. Namun, akhirnya Mentari malah merasakan kekecewaan karena kue itu bukan untuknya melainkan buat Katrina.


"Iya tanggal sekarang yang benar, itu kata papa Tama," jelas ustadz Alzam.


"Oke baiklah." Mega dan Nanik langsung beranjak ke dapur. Menyuruh karyawan lain membuatkan kue sekaligus mereka berdua juga ikut membantu.


"Kemana sudah Mbak Nanik sama Mega?" tanya Mentari pada ustadz Alzam saat melihat kedua orang itu sudah tidak ada di tempat duduknya masing-masing.


"Tuh ke dapur untuk menyiapkan kue pesanan kita," sahut ustadz Alzam.


"Kalau begitu aku ke sana juga ya Abi," pamit Mentari.


"Eh jangan kamu tunggu di sini saja," cegah ustadz Alzam.


"Ummi mau ngasih ini sama Mbak Nanik Abi biar dibagi-bagikan," ucap Mentari lagi.


"Nggak usah taruh aja dulu di meja," cegah ustadz Alzam lagi.


"Baiklah," sahut Mentari pasrah. Dia menaruh tas kresek berisi buah di atas meja. Setelahnya wanitanya itu melihat-melihat kue yang sudah ditata rapi di dalam etalase.


"Kenapa nggak diambilkan dari sini saja? Kenapa harus bikin lagi sih," gumam Mentari.


"Mungkin semua yang ada di dalam etalase sudah pesanan orang jadi nanti kalau dijemput sama orangnya nggak kelabakan nih para pekerja yang ada di sini."


"Mungkin Abi benar. Ya sudah deh kita tunggu saja." Mentari kembali lagi ke sisi ustadz Alzam dan ikut duduk.


Mereka berdua tampak berbincang-bincang sambil menunggu Nanik dan Mega kembali dari dapur. Dari belakang mereka duduk terdengar bunyi mixer yang berisik di telinga Mentari sehingga membuat wanita itu tidak betah.


"Sabar Ummi, sebentar lagi selesai. Kan asyik tuh kalau Reni dan yang lain dapat kue yang fresh langsung diambil dari oven."


"Iya juga ya Abi."


Ustadz Alzam mengangguk.


Beberapa saat kemudian, Nanik dan Mega keluar dari dapur dan berjalan ke arah ustadz Alzam dan Mentari.


"Wah sudah selesai ya, tapi kenapa dibuatkan kue tart?" tanya Mentari heran.


"Apa Reni atau karyawan lain di toko bangunan ada yang ulang tahun ya Abi?" tanya Mentari langsung pada ustadz Alzam.


"Tidak ada."


"Loh kok ...."


Dor.


Baru saja mau protes, terdengar bunyi balon meletus dibarengi dengan taburan kertas kado mengkilap yang sudah dipotong kecil-kecil.


"Astaghfirullahaladzim." Mentari mengelus dadanya kaget. Namun, kemudian wanita itu terlihat sumringah.


"Selamat ulang tahun Me," ucap Mega dan Nanik secara bersamaan.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun ya Mbak," ucap ketiga karyawan baru yang kini sedang berdiri di belakang Nanik dan Mega.


"Terima kasih ya semuanya," ucap Mentari haru. Bagaimana mungkin Nanik dan Mega bisa tahu tanggal lahir dirinya.


"Selamat hari lahir ya Ummi. Moga panjang umur dan selalu menyayangi Abi," ujar ustadz Alzam lalu tersenyum tipis.


"Pasti Abi, Ummi akan selalu menyayangi Abi, sampai Ummi mati. InsyaAllah."


"Abi juga akan selalu menyayangi Ummi hingga akhir hayatku nanti."


Mentari mengangguk dengan air mata yang tak kuasa untuk tidak menetes. Dia sangat bahagia sekali melihat orang-orang begitu menyayangi dirinya.


"Ayo Me potong kuenya!" perintah Nanik saat dirinya telah meletakkan kue tart di meja dan menyingkirkan tas kresek ke lantai.


"Berdoa dulu untuk kebaikan istriku," pinta ustadz Alzam.


"Baik ustadz, ustadz pimpin saja doanya," ujar Nanik.


Mereka bertujuh pun berdoa. Tanpa ada nyanyian selamat ulang tahun, Mentari meniup lilinnya.


"Abi!" seru Mentari. Dirinya baru melihat dengan jelas tulisan di atas kue tart tersebut yang bertuliskan 'selamat ultah istriku tercinta, ustadz Alzam.'


"Memang Abi yang menyuruh mereka membuatnya," jujur ustadz Alzam.


"Oh pantes Abi tidak memperbolehkan ummi masuk dapur, ternyata mau bikin surprise buat ummi. Terima kasih ya Abi, i love you," ujar Mentari dan langsung memeluk tubuh sang suami dengan erat seakan Mentari takut kehilangan pria yang sangat dicintainya ini.


"I love you tou," ujar ustadz Alzam dan langsung mengecup bibir sang istri.


Mega yang terbawa suasana menggerakkan wajahnya ke depan hingga hampir saja mencium bibir Nanik. Untung saja Nanik segera sadar dan langsung menabok bibir Mega.


"Woi! Kau belum tidur mengapa sudah bermimpi? Kalau ngantuk tidur sana!" kesal Nanik, hampir saja dirinya menjadi jeruk yang dimakan jeruk.


Ketiga orang di belakang mereka hanya tertawa renyah menyaksikan adegan di hadapannya. Bukannya fokus pada Mentari dan ustadz Alzam, ketiga karyawan baru itu malah fokus pada Mega yang berulah.


Mentari melepaskan pelukannya dari sang suami karena merasa ditertawakan semua orang.


"Aku lebay ya?" tanyanya, tidak paham apa yang membuat orang-orang pecah tawanya.


"Siapa yang menertawakanmu Me," jawab Nanik.


"Terus?"


"Mereka menertawakan Mega karena hampir saja mencium bibirku. Gila nggak ya, sepertinya kita harus segera mencarikan dia jodoh," usul Nanik.


"Boleh tuh Mbak Nanik kalau Mbak Nanik ada, jodohkan saja," ujar Mentari.


"Mana ada dia Me, jodoh sendiri belum nemu," protes Mega.


"Ya sudah aku potong kuenya ya." Mentari mengambil pisau dan memotong kue tersebut. Kue pertama untuk sang suami. Kedua untuk Nanik, ketiga buat Mega dan selanjutnya adalah untuk ketiga karyawan baru di toko tersebut.


"Terima kasih ya semuanya sudah memberikan kejutan dan kebahagiaan untukku hari ini. Aku tidak bisa membalas kebaikan kalian, semoga Allah SWT yang membalasnya."


"Aamiin," ucap semua orang serempak.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2