HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 204. Sadar dan Cemburu


__ADS_3

Sebelumnya saya minta maaf ya teman2 sebab sudah lama tidak update. Jujur beberapa hari ini othor blank dengan novel ini. Semoga kalian bisa memaklumi.🙏


🌟Happy Reading.🌟


"Akh, sudahlah aku mau mencari kakak saya. Jangan jadi penguntit lagi!"


Gala menggaruk kepalanya kemudian bersikap bodoh. Pria itu berjalan pelan di belakang Sarah menuju tempat dimana ada Bintang yang dikelilingi oleh ustadz Alzam dan yang lainnya.


"Loh kok masih ikut, kan sudah kubilang jangan ikuti aku!"


"Sarah! Sarah! Siapa yang mau mengikuti kamu? Kamu mau ke kakak kamu dan aku mau ke Bintang. Bukankah satu tujuan bukan berarti menguntit?"


"Terserah Bapak lah, silahkan jalan duluan!" Sarah berhenti dan mempersilahkan Gala berjalan di depannya.


"Sudah berapa kali kukatakan padamu Bintang jangan pernah lari dari masalah ke minum-minum," protes Tuan Winata pada sang putra. Namun, Bintang acuh dengan nasehat sang papa.


"Lepas Pa, saya tidak mau pulang!" Bintang memberontak saat Tuan Winata menarik tangannya.


"Pokoknya kamu harus pulang sekarang saya tidak ingin kamu mabuk seperti dulu lagi."


"Bintang tidak akan mabuk Pa, Bintang hanya menemani mereka saja," kilah Bintang sambil menunjuk teman-teman satu mejanya yang sudah pada mabuk.


"Ah alasan, ayo pulang!" Tuan Winata tetap berusaha menarik tangan putranya yang tidak mau pulang.


"Pulang Bintang, apa yang mau kamu lakukan di tempat ini?" Ustadz Alzam menepuk lembut bahu Bintang. Bintang menoleh ke arah ustadz Alzam dan menatap pria itu tanpa berkata sepatah katapun.


"Ikhlaskan setiap apa yang terjadi padamu agar hidupmu bisa tenang. Tidak perlu melampiaskan pada alkohol yang akan menyeretmu pada masalah lain dan semakin menjauhkanmu dari rasa bersyukur."


"Aku tidak mabuk, aku hanya menenangkan diri dan menemani mereka saja. Aku tidak enak jika meninggalkan mereka." Bintang memang belum terlalu mabuk sebab tidak terlalu banyak minum malam ini. Dia masih dalam keadaan sadar.


"Jangan dengarkan ocehan mereka Bintang, ayo kita minum lagi. Mereka hanya manusia yang berlagak malaikat, hahaha." Teman-teman Bintang tertawa-tawa dalam keadaan mabuk.


"Ya awalnya tidak, tapi lama kelamaan akan mabuk seperti mereka karena tidak tahan dengan ajakan untuk tambah dan tambah lagi. Cari teman itu cari yang baik agar tidak menjerumuskanmu. Kau tahu jangankan manusia, kulit hewan pun bila salah tempat tidak akan dihargai. Jika kulit hewan dijadikan sampul Al-Quran maka dia akan dimuliakan dan dihargai. Terbukti semua orang akan menciumnya dan kamu tahu jika si kulit hewan itu dijadikan sepatu? Semahal apapun harganya, ia akan tetap diinjak. Jadi kalau kamu ingin Tuhan memberikan yang terbaik padamu maka lakukanlah yang terbaik dan mendekatkan diri dengan orang-orang baik. Jika sudah beriktiar masih saja belum mendapatkan apa yang kita inginkan maka jalan satu-satunya adalah menerima takdir dengan ikhlas."

__ADS_1


Tanpa diduga Bintang mengangguk dan berdiri dari tempatnya duduk.


"Mari kita keluar dari tempat ini." Ustadz Alzam mengulurkan tangan pada Bintang dan pria itu menerimanya. Ustadz Alzam membawa Bintang keluar dari tempat tersebut.


"Bintang kau tidak boleh pergi!" Salah seorang teman Bintang yang mabuk mengejar Bintang hingga tak sengaja minumannya tersembur ke wajah pria itu.


Tuan Winata dan Tama mencari tisu di atas sebuah meja. Namun, tidak ketemu.


"Astaghfirullahal adzim. Sarah ada tisu?" tanya ustadz Alzam.


Sarah langsung mengeluarkan tisu dari dalam tas dan tanpa disuruh langsung mengelap wajah Bintang.


"Terima kasih Sarah ternyata selain cantik kau juga baik, selama ini aku salah menilaimu." Bintang menatap wajah Sarah sambil tersenyum dan seolah tidak mau mengalihkan pandangan. Sarah pun balik tersenyum.


"Sama-"


"Minggir!" Belum sempat Sarah menjawab perkataan Bintang, Gala menarik tubuh pria itu agar menjauh dari Sarah.


"Ada apa Gala?" tanya Bintang tidak mengerti dengan sikap pemuda itu.


Tama hanya menggeleng melihat tindakan bodoh putranya. Dia tahu Gala cemburu pada Bintang. Namun, gengsi pria itu masih sangat tinggi sehingga tidak mau mengakui perasaannya sendiri.


"Ya sudah kita kembali ke mobil!" ajak Tama kemudian.


Semua orang mengangguk dan berjalan keluar.


"Biar Bintang sama saya." Gala menarik tangan Bintang agar ikut mobilnya.


"Tidak saya mau satu mobil dengan ustadz Alzam. Ada yang ingin saya bicarakan," tolak Bintang.


"Mau bicara dengan ustadz Alzam apa Sarah?" tanya Gala penasaran.


Bintang mengernyit, masih tidak paham dengan pemikiran Gala.

__ADS_1


"Ustadz Alzam bukan Sarah," jawab Bintang.


"Yasudah sekalian ustadz Alzam ikut denganku," usul Gala. "Papa bisa kan nyetir sendiri?"


"Biar paman saja." Tuan Winata menawarkan diri.


"Boleh," jawab Gala.


"Nitip Sarah paman, Pa," kata ustadz Alzam.


"Oke Nak Alzam siap."


Mereka berenam pun masuk ke dalam mobil yang berbeda. Gala melajukan mobilnya menuju kediaman Tuan Winata untuk mengantar Bintang sedangkan Tuan Winata melajukan mobilnya ke rumah ustadz Alzam terlebih dahulu untuk mengantarkan Sarah sebab Sarah mengatakan sudah mengantuk dan ingin segera pulang ke rumah ibunya.


"Ustadz Alzam, aku ingin menjadi orang yang baik." Bintang membuka percakapan setelah mobil melaju di jalanan.


Gala terkekeh, dalam hati berkata, "Jadi selama ini dia merasa menjadi orang jahat."


"Kau sudah baik," jawab ustadz Alzam. Dia paham Bintang saat ini sedang rapuh. Entah apa alasannya ustadz Alzam tidak tahu, mungkin saja karena tidak dipilih oleh Mentari, karena pengkhianatan Katrina atau mungkin juga karena alasan yang lain. Yang pasti ustadz Alzam hanya ingin Bintang tidak menjadi lemah dan menjadi pria yang lebih baik lagi.


"Maksudku aku ingin menjadi pria sholeh sepertimu. Ajarkan aku ilmu agama yang dalam agar aku bisa menjadi manusia yang selalu dalam tuntunan Tuhan."


Gala mengernyit dan memikirkan perkataan Bintang tadi. Apa benar perkataan Bintang tulus dari hati ingin berubah atau malah ada modus tersembunyi.


Bagaimana kalau Bintang jatuh cinta pada Sarah?


Gala ketar-ketir sendiri.


"Baiklah kau bisa datang langsung ke rumah saat aku ada di sana. Aku akan mengajarkan apapun yang ingin kamu ketahui yang terpenting aku juga ada ilmunya. Kalau tidak ada ya mohon dimaklumi, ilmuku terbatas," ujar ustadz Alzam.


"Kau serius Dek Alzam? Tidak takut dia menikung Cahaya?" Gala ingin agar ustadz Alzam mempertimbangkan lagi. Kalau Bintang datang ke rumah ustadz Alzam maka akan ada 2 kemungkinan. Yang pertama dia akan menggangu Mentari dan ya kedua dia akan mendekati Sarah.


"Yakin Mas, kalau masalah tikung menikung saya pasrahkan saja pada Tuhan. Yang terpenting saya sangat mempercayai istri saya, begitupun sebaliknya. Saya percaya apapun goncangan yang terjadi tidak akan mampu menggoyahkan rasa cinta di hati kami. InsyaAllah hanya maut yang bisa memisahkan kami di dunia ini."

__ADS_1


Gala hanya bisa menelan ludah karena rencananya gagal sedangkan Bintang tiba-tiba saja menjadi kagum dengan ustadz Alzam.


Bersambung.


__ADS_2