
"Pak, Pak Gala pernah jatuh cinta nggak?" tanya Sarah saat mereka berdua sudah terbaring di atas ranjang.
Gala mengernyit. "Mengapa menanyakan tentang itu?"
"Jawab saja!" pinta Sarah.
"Pernah lah kan setiap manusia diberikan perasaan cinta oleh Tuhan," jawab Gala.
Sarah mengangguk. "Sama siapa?" tanyanya.
"Kok masih tanya? Sama siapa lagi sama kamu lah," ujar Gala dengan ekspresi tenang.
"Ckk, maksudku sebelum sama Sarah? Eh Pak Gala serius cinta sama Sarah?"
"Ya ampun Sarah tidak perlu ditanyakan kalau soal itu. Kalau tidak mana mungkin aku nikahi kamu."
Sarah mengangguk. "Kalau sebelumnya?"
"Hmm, pernah sih tapi sudah lama sekali. Saya sampai lupa itu zaman kuliah atau SMA gitu."
"Bisa ya Pak lupa begitu?"
"Bisa lah bahkan aku sudah lupa seperti apa wajah gadis itu."
"Bapak aneh," gumam Sarah.
"Sudahlah tidak usah mengingat yang terjadi di masa lalu sebab masa depan saya sudah terpampang di hadapan saya," ucap Gala sambil menyelipkan anak rambut Sarah ke belakang telinganya.
"Tidur yuk ini sudah jam berapa!"
"Tidur aja duluan aku belum ngantuk!"
"Sini aku pukpuk biar cepat ngantuk!" Gala terkekeh.
"Emang aku baby Izzam apa kalau mau tidur dipukpuk dulu!" protes Sarah.
"Kali aja manjur kan belum dicoba."
Sarah menggeleng. Bisa-bisa Gala khilaf kalau Sarah menyetujuinya.
"Oh ya Pak bagaimana dengan Diandra?" tanya Sarah dengan hati-hati.
__ADS_1
Gala mengernyitkan dahi. "Kenapa dengan dia? Dia ngomong macem-macem ya sama kamu?" tanya Gala mulai curiga sebab ekspresi Sarah berubah saat bertemu dengan Diandra tadi siang padahal sebelumnya Sarah terlihat senang dengan pernikahan mereka. Sekarang pun saat menyebut nama Diandra wajah Sarah seperti melow. Tidak pernah Gala mendapati ekspresi seperti itu dari Sarah sebelum-sebelumnya.
"Ah tidak hanya tanya saja."
Gala mengangguk.
"Kalau soal performa kerjanya bagus sih, tapi kalau soal kepribadiannya, maaf-maaf ya rasaya saya enek sama dia," ujar Gala.
"Kenapa bisa begitu?" Sarah terus saja memancing Gala. Dia tidak mau menanyakan langsung karena berpikir tidak mungkin laki-laki akan jujur jika sudah menyangkut kenakalannya. Siapa tahu Gala masih belum berhenti bermain-main dengan Diandra.
"Pokoknya nggak banget deh, semakin ke sini semakin gencar dia merayuku padahal sudah berkali-kali aku tolak. Kayak nggak tahu malu aja. Ada ya perempuan macam dia. Astaghfirullah hal adzim, aku kok jadi gibahin dia sih? Sudah tidur saja sudah malam!"
Sarah menghela nafas lalu mengangguk. Sepertinya dia sudah bisa menerka-nerka.
"Tapi bagaimana kalau Diandra berlaku seperti itu karena memang pernah ditiduri oleh Pak Gala?" Pikiran buruknya kembali lagi. Sebab Sarah pernah mendengar kalau perempuan sudah tidur dengan laki-laki maka keinginannya untuk mendapatkan laki-laki itu semakin kuat.
"Apa? Berpikiran macam-macam apa lagi?" tanya Gala saat Sarah menatap dirinya dengan sedikit aneh.
"Ah nggak, aku hanya menyadari bahwa Pak Gala ternyata tampan," ucap Sarah kikuk karena berbohong.
"Baru sadar ya padahal suamimu ini sudah dari dulu tuh tampannya," ujar Gala sambil menarik sang istri dalam pelukannya.
***
Esok hari pagi-pagi sekali Gala sudah mendapat telepon dari Kiki.
"Apaan sih nih orang berisik banget," keluh Gala saat melihat Kiki menelpon dirinya pagi-pagi buta.
Gala menaruh ponselnya kembali dan mencoba mengacuhkan telepon dari Kiki. Gala melihat Sarah sudah tidak ada dalam dekapannya.
"Kemana dia?" gumam Gala lalu bangkit dari ranjang.
"Bapak sudah bangun?" tanya Sarah yang baru masuk ke dalam kamar.
"Dari ruang shalat Pak, Pak Gala tidak mau shalat subuh?"
"Jam berapa ini?" Gala langsung mengecek jam di arloji yang dia taruh di bawah lampu tidur.
"Hampir setengah lima." Segera Gala masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Sarah hendak beranjak ke dapur karena ingin membuatkan kopi untuk sang suami. Namun,Sarah mengurungkan niatnya tatkala mendengar Ponsel Gala berbunyi lagi, kali ini bukan lagi dari Kiki, melainkan dari Diandra.
"Pak ada telepon!" seru Sarah dari dalam kamar.
__ADS_1
"Angkat saja dan katakan aku tidak ingin diganggu!" perintah Gala dari dalam kamar mandi.
Sarah langsung meraih ponsel Gala untuk menerima panggilan masuk, tetapi urung sebab di layar ponsel Gala tertulis nama Diandra. Wanita itu jadi ragu, takut Diandra menghancurkan moodnya pagi ini.
"Kenapa tidak diangkat Sarah? Angkatlah berisik banget tuh Kiki."
Gala langsung mengangkat panggilan telepon, tetapi tidak bersuara.
"Pak Gala mohon maaf Pak mengganggu. Terpaksa saya menelpon Pak Gala pagi-pagi karena panggilan Pak Kiki tidak dijawab."
Sarah tetap saja tidak bersuara.
"Halo Pak, Halo!"
"Siapa Sarah?" tanya Gala yang kembali keluar dari kamar mandi karena lupa tidak membawa handuk.
"Nih!" Sarah memberikan teleponnya pada Gala.
"Mau apa dia?" tanya Gala.
Sarah hanya mengangkat kedua bahunya.
"Halo ada apa Diandra?"
"Ini Pak klien yang dari Jepang datang hari ini," lapor Diandra.
"Kan ada Kiki yang akan menanganinya?"
"Masalahnya klien yang dari Amerika juga datang bersamaan. Apakah saya perlu merubah tempat bertemu biar langsung dalam satu tempat?"
"Bodoh ubah aja waktunya. Kenapa hal ini harus ditanyakan padaku? Kau menganggu saja."
"Tapi Pak mereka tidak mau kalau waktunya diubah sebab mereka juga ada acara du tempat lain setelah ini. Jam 6 pagi mereka akan sampai di kota ini."
Gala menggaruk kepalanya. Kenapa sekretarisnya tidak bisa mengatur jadwal. Benar-benar tidak bisa diandalkan. Baru saja semalam Gala mengatakan performa kerja Diandra bagus pada Sarah eh sekarang malah kacau.
"Baik saya akan masuk hari ini, lain kali kalau tidak bisa mengatur jadwal lebih baik mengundurkan diri saja," kecam Gala dan langsung menutup panggilan teleponnya.
"Ah, ada-ada saja tuh Diandra," kesal Gala.
Bersambung.
__ADS_1