HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 222. Aku Akan Menunggu


__ADS_3

"Jangan kau pikir kau menang bisa mendapatkan Pak Gala karena sebenarnya akulah wanita beruntung yang pertama kali disentuh oleh Pak Gala. Kau hanya mendapatkan sisaku atau bekasku," bisik Diandra di telinga Sarah dengan menekankan pada kata sisa dan bekas.


Mendengar bisikan tidak enak di telinganya wajah Sarah langsung memerah, menahan amarah sekaligus sakit hati.


"Sabarlah Sarah, itu hanya masa lalunya dan kau masa depannya." Sarah berbicara dalam hati. Menguatkan dirinya yang seakan rapuh hanya gara-gara mendengar bisikan dari mulut Diandra.


"Biasanya kaum lelaki akan selalu mengingat momen pertama dia tidur dengan seorang perempuan. Jangan-jangan pas malam pertama nanti dia akan membayangkan diriku saat bercinta denganmu," lanjut Diandra lagi masih dengan suara berbisik membuat Sarah mengepalkan tangannya.


Kalau saja Sarah tidak ingin menjaga image dan juga tidak ingin acara pernikahannya kacau, pastilah dahi Diandra sudah benjol terkena bogeman tangan Sarah.


Diandra benar-benar marah pada Gala karena telah memilih Sarah dibandingkan dirinya padahal Diandra sudah bela-belain memberikan perhatian lebih dan mengungkapkan perasaannya di hadapan Gala. Namun, pria itu malah menolak dirinya. Lebih baik panas-panasi Sarah agar membenci Gala, begitulah kira-kira pikiran Diandra.


Diandra juga benci dengan Sarah, sebab sudah diperingatkan beberapa kali oleh Diandra masih nekat menikah dengan Gala.


"Sarah!"


"Ah iya Pak?" tanya Sarah gugup lalu mengalihkan pandangannya ke arah sang suami.


"Apa yang kalian bisikkan?"


"Oh, saya hanya menasehati Sarah Pak. Biasalah sesama perempuan. Selamat ya Pak, selamat ya Sarah. Maaf sampai lupa mengucapkan selamat sebab asyik ngomong dengan Sarah," ujar Diandra sambil menyalami tangan Sarah dan Gala secara bergantian.


Gala mengernyit, merasa aneh dengan sikap Diandra.


"Bagaimana dia bisa menasehati Sarah? Orang dia sendiri belum pernah menikah," batin Gala.


Namun, "Sama-sama," ujarnya


"Kalau begitu saya turun ke bawah ya Pak, Sarah juga, sebab yang lain masih banyak yang ingin naik dan mengucapkan selamat pada kalian berdua."


"Ya," jawab Gala sedangkan Sarah hanya diam saja.


"Sebelum sampai ke bawah Diandra berbalik. "Oh ya Sarah jangan lupakan ya nasehat saya!" seru Diandra dan Sarah terlihat mengangguk.


"Dasar wanita, sungguh aneh," batin Gala melihat sikap Sarah dan Diandra tadi.


Mereka pun menyalami para undangan lain yang naik ke atas.


Mentari dan baby Izzam naik ke atas pelaminan. Kini saatnya mereka berfoto-foto, mengabadikannya momen pernikahan keduanya. Semua keluarga dan para sahabat berfoto bergiliran bahkan ada beberapa karyawan Gala pun yang juga ingin berfoto dengan kedua mempelai.


Selesai berfoto-foto Mentari malah meneteskan air mata karena mengingat momen pernikahannya dengan ustadz Alzam.


"Sayang kuatkan ummi ya!" ujar Mentari sambil mengusap-usap pipi putranya lalu menciumnya. Kau ganteng seperti abimu." Dia mencium baby Izzam lagi seolah tidak mau melepasnya.


Pesta pun berlanjut, tamu-tamu resepsi semakin malam semakin berdatangan.


"Paman banyak banget ya Pak mengundang rekan-rekannya. Rasanya aku ingin segera beristirahat," keluh Sarah. Kali ini bukan fisiknya saja yang kelelahan, tetapi juga pikirannya yang masih terngiang-ngiang kata-kata Diandra tadi.


"Kalau begitu kita tinggalkan pesta saja," saran Gala.


"Memang boleh?"

__ADS_1


"Siapa yang akan melarang keinginan kita berdua?" tanya balik Gala lalu berjalan menuju Tama dan memberitahukan keinginannya.


"Tidak masalah, beristirahatlah kalian. Kesehatan kalian lebih penting daripada pesta ini. Biar para tamu fokus pada hiburannya saja," ujar Tama.


"Terima kasih Pa." Gala pun menggandeng tangan Sarah menuju kamarnya sendiri.


"Mandilah terlebih dahulu sebelum beristirahat agar tubuhmu tidak lengket," saran Gala saat keduanya sudah memasuki kamar pengantin.


Sarah pun mengangguk dan langsung masuk ke kamar mandi dengan membawa baju ganti yang sudah disiapkan oleh sang ibu. Setelah Sarah keluar barulah Gala yang gantian masuk.


Selesai mandi Sarah langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpejam, tetapi pikirannya melayang kemana-mana.


"Sarah!" panggil Gala. Namun, Sarah yang fokus dengan lamunannya sendiri tidak menjawab panggilan Gala.


"Sudah tidur dia rupanya," gumam Gala sambil mengganti handuk yang dipakainya dengan baju piyama.


Melihat Sarah tidak memakai kerudung, Gala tersenyum lalu menggeleng.


"Dulu kau sangat marah jika aku melihat rambutmu. Sekarang tanpa aku minta kau malah memperlihatkan padaku," gumam Gala lalu dia pun naik ke atas ranjang. Membaringkan tubuhnya di samping Sarah yang tidur miring dan membelakangi dirinya.


"Terima kasih Tuhan, akhirnya dia menjadi milikku juga," ucap Gala dalam hati lalu memainkan rambut Sarah.


Sarah yang merasakan belaian di rambutnya kaget dan menoleh. "Pak–" Sarah ingin melayangkan protes. Namun, Gala segera menaruh jari telunjuknya di bibir Sarah.


"Aku suka rambutmu." Gala mengingat momen saat di dalam lift yang mengatakan dia tidak berselera dengan tubuh Sarah. Dia tersenyum lucu, nyatanya sekarang melihat rambutnya saja membuat Gala ingin memiliki seluruh tubuh Sarah.


"Ah otak jangan ngeres kamu, dia capek dan aku pun juga capek. Ditunda dulu ya kalau gaskeun sekarang takutnya malam pertama kami malah tidak terkesan sebab itu sama-sama pertama kalinya bagi kami!" Gala menekan-nekan kepalanya sendiri.


Sarah menggeleng. "Belum ngantuk, hanya ingin tiduran saja."


"Oke, kalau begitu aku temani." Gala malah melingkarkan tangannya di pinggang Sarah dan menarik tubuh sang istri dalam pangkuannya. Sarah yang kaget segera menepis tangan Gala.


"Dengar ya Pak Gala, kita menikah bukan atas dasar cinta, tetapi, atas permintaan Paman Tama dan juga untuk mewujudkan permintaan Kak Alzam agar Pak Gala bisa melindungi Sarah."


"Kamu ngomong apa sih?" Gala heran mendengar perkataan Sarah yang tiba-tiba ngegas.


"Jangan sentuh aku!"


Gala menghembuskan nafas berat.


"Baiklah kalau itu mau mu," ujar Gala lalu bangkit dari ranjang dan meninggalkan kamar. Gala langsung keluar dan menuju ruang kerjanya. Beberapa saat memeriksa berkas-berkas akhirnya ia keluar dan meminta bibi untuk membuatkan kopi dan menyuruh pembantu tersebut untuk mengantarkan ke ruang kerjanya.


"Den Gala masih kerja?" tanya pembantunya itu sebab heran di malam pernikahannya sendiri Gala masih ingat dengan pekerjaan kantor.


"Iya Bik daripada sepi sendirian mending aku kerja saja biar nanti pekerjaan tidak menumpuk."


"Kenapa nggak balik ke pesta saja?"


Gala menggeleng. "Nggak enak Bik kalau kembali seorang diri."


"Non Sarah?"

__ADS_1


"Tidur."


"Oh, mungkin kecapekan ya. Kenapa Den Gala tidak ikut istirahat juga?"


"Belum ngantuk Bik, masa harus dipaksa?"


"Iya juga ya, hehe," ujar si bibi sambil cengengesan.


"Sudahlah buatkan kopi saja untuk menemani malamku!"


"Kalau begitu bibik pamit ke dapur dulu Den."


"Silahkan." Gala pun membuka dokumennya lagi lalu membacanya, beberapa saat kemudian kembali fokus menulis.


Sarah sendiri di dalam kamar tampak gelisah melihat Gala keluar kamar dan tidak kembali-kembali. Pasalnya ini sudah satu jam dari saat dirinya menepis tangan Gala.


"Dia pasti marah. Ya Tuhan maafkan aku." Sarah keluar dari kamar dan mencari Gala di ruang tamu. Namun, tidak menemukan Gala di sana. Sarah lalu beranjak ke dapur karena tidak tahu lagi harus mencari kemana. Kalau tidak ada terpaksa dia akan mencarinya di pesta.


"Non Sarah cari Den Gala?"


Sarah mengangguk dan bertanya, "Bibi tahu dia dimana?"


"Iya Non dia ada di ruang kerjanya dan meminta bibik untuk membuatkan kopi," sahut sang bibik.


"Biar saya yang bawa saja Bik!" pinta Sarah.


"Boleh saja Non. Ini dan ruang kerja Den Gala ada di sana."


Sarah pun membawa kopi ke ruang kerja Gala.


"Pak!" panggil Sarah di depan pintu dengan nampan di tangannya.


Gala mendongak dan menatap dingin ke arah Sarah membuat perasaan Sarah langsung tidak enak.


"Oh kamu? Masuk!"


Sarah mengangguk dan menaruh kopi di meja Gala.


"Kenapa belum tidur?" tanya Gala.


"Belum mengantuk. Bapak kenapa malah bekerja, katanya capek? Bapak marah ya sama Sarah?"


Gala tersenyum ke arah Sarah membuat hati Sarah sedikit lega.


"Kenapa harus marah? Kalau kamu belum siap saya bisa menunggu," ujar Gala membuat senyuman terbit di bibir Sarah.


"Maafkan Sarah."


"Tidak perlu minta maaf, ayo aku temani tidur lagi!"


Sarah mengangguk dan Gala langsung menutup berkas-berkasnya lalu bangkit dan menggandeng tangan Sarah kembali ke kamar mereka.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2