
Esok hari Mentari terbangun lebih awal. Seperti biasa dia langsung menunaikan tugasnya sebagai seorang istri menyiapkan segala macam kebutuhan suami sebelum berangkat bekerja seperti keperluan mandi, Pakaian dan yang lainnya termasuk urusan perut.
Setelah selesai dengan pekerjaannya Mentari duduk di sofa menunggu Bintang pulang.
Lama menunggu yang ditunggu tak kunjung datang. Mentari merasa bosan. Dia pikir Bintang tidak akan pulang sekarang.
Dia menimbang-nimbang apakah perlu untuk bekerja hari ini ke toko ataukah tidak. Kalau dia tidak bekerja dia kesepian di rumah dan tidak enak kepada Sarah. Dia harus meminta maaf dengan kejadian yang terjadi kemarin di toko Sarah sekaligus dia juga merasa perlu meminta maaf kepada ustadz Alzam sebab karena dirinya ustadz Alzam yang menderita.
Mentari beranjak ke kamar mengambil tas kemudian memutuskan untuk pergi ke toko Sarah untuk meminta maaf pada ustadz Alzam walaupun hanya melalui Sarah. Dia yakin ustadz Alzam tidak akan ada di toko Sarah.
Mentari menelpon taksi agar mengantarkan ke toko kue dan roti milik Sarah.
"Mentari!" teriak Nanik yang melihat Mentari berjalan ke arahnya. Dia pikir tadi yang turun dari taksi bukan Mentari melainkan salah satu pelanggan di toko tersebut.
"Kamu kalau masih belum baik-baik saja mendingan tidak usah kerja dulu," ucap Mega setelah Mentari sampai ke sisi mereka.
"Sarah ada?" tanya Mentari langsung.
"Ada di dalam. Tunggu saya panggilkan dulu." Nanik beranjak ke dalam memanggil Sarah. Tidak menunggu lama Nanik keluar dengan Sarah dan ustadz Alzam di belakangnya.
Mentari terbelalak kaget ternyata ustadz Alzam ada di tempat ini.
"Sebaiknya Kak Mentari tidak usah bekerja di sini lagi," ucap Sarah dingin. Mentari tahu pasti Sarah tidak menyukainya sekarang karena gara-gara dirinya kakak dari Sarah terkena masalah.
Mentari hanya mengangguk walaupun di hati dia sangat merasa kecewa. Namun, Sarah benar dirinya pantas di salahkan atas semuanya.
Tak hanya Mentari, Nanik dan Mega pun terlihat tidak suka dengan keputusan Sarah.
"Aku ke sini hanya ingin menyampaikan permintaan maaf padamu dan juga ustadz Alzam." Mentari menunduk.
"Maafkan aku Sarah karena Mas Bintang kemarin telah membuat keributan di tempatmu."
Mentari tampak menjeda ucapannya. Dalam hatinya sekarang dia merasa sesak.
"Dan ustadz Alzam maafkan aku, kekacauan yang terjadi semua gara-gara diriku meski semuanya diluar kendali. Maaf dan terima kasih telah menolongku." Setelah mengatakan itu Mentari berbalik dan meninggalkan tempat.
"Mentari!" panggil ustadz Alzam, tetapi Mentari tak ingin menoleh. Dia terus saja melangkah ke arah jalan raya.
"Mentari!" teriak Nanik. Mentari tidak menjawab, tetapi terus melangkah.
__ADS_1
Nanik hendak berlari menyusul Mentari, tetapi dicegah oleh Sarah. "Biarkan saja dia pergi. Ini yang terbaik."
Nanik mengurung niatnya saat melihat Mentari sudah naik ke dalam taksi.
"Sarah mengapa kau terlalu terburu-buru mengambil
keputusan?" protes ustadz Alzam melihat Sarah ternyata dengan mudahnya memecat Mentari.
"Sudahlah Kak, lebih baik dia tidak usah bekerja lagi. Kalau orang-orang melihat dia masih bekerja di sini asumsi mereka pasti tidak baik. Apalagi kalau melihat Kak Alzam dan Mentari sama-sama ada di tempat ini," jelas Sarah.
"Tapi bukan begini caranya Sarah. Kau bisa menjelaskan dengan baik-baik pada dirinya, atau kalau perlu kamu tidak usah memecatnya biar Kakak saja yang tidak berkunjung ke tempat ini lagi."
"Ckk, sudahlah Kak, Kak Mentari sudah pergi juga."
"Dia pasti kecewa padamu Sarah," sesal ustadz Alzam lalu pergi meninggalkan Sarah.
Selepas ustadz Alzam pergi Sarah nampak berpikir. "Ah sudahlah aku hanya ingin menjauhkan mereka dari fitnah yang lebih kejam lagi." Sarah begitu yakin dengan keputusannya.
Mentari sampai di apartemen. Saat dia membuka pintu unit apartemennya dia melihat Arumi sedang menggendong bayi dalam pangkuannya. Mentari sudah dapat menebak bahwa bayi tersebut adalah bayi Katrina.
"Selamat pagi Ma!" sapa Mentari pada Arumi dan hendak menyalami tangan mertuanya itu. Namun, tangan Arumi menepis tangan Mentari.
"Belum Ma," jawabnya.
"Gimana mau hamil, saya yakin kamu pakai alat kontrasepsi, kan?"
"Tidak Ma, saya tidak memakai alat atau obat apapun," tepis Mentari perkataan Arumi.
"Halah, jangan sok-sokan polos kamu. Iyalah pakai alat kontrasepsi kalau tidak, kamu bakal bingung siapa anak yang ada dalam kandunganmu nanti. Anak Bintang atau anak ... ustadz siapa itu namanya?"
"Ustadz Alzam Ma," jawab Katrina sambil berjalan ke arah Arumi dengan mengocok botol susu.
"Tuh lihat! Kamu tidak malu apa sama Katrina? Dia ini wanita karir, tapi sayang sama keluarga. Meskipun dia kerja di kantoran masih mau memberikan Bintang keturunan ... dan kamu lihat sendiri dia begitu mandiri meski baru melahirkan dia tidak mau bermanja-manja di kasur."
Perkataan Arumi membuat Katrina tersenyum penuh kemenangan.
"Sudah Kate kamu istirahat saja dulu biar mama yang menggendong bayimu. Kan sudah ada susunya. Lebih baik tenaga kamu simpan buat begadang nanti malam sebab mama akan pulang," ujar Arumi.
"Permisi," ucap Mentari dan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar dia sangat terkejut karena kamarnya sudah berubah menjadi kamar bayi. Mentari keluar lagi untuk untuk meminta penjelasan pada Bintang.
__ADS_1
"Loh mama tidak mau menginap di sini?" tanya Katrina.
"Tidak Mama harus pulang sebab nanti malam papa kalian sudah balik dari Amerika."
"Papa udah pulang Ma?" tanya Bintang yang berjalan ke arah Katrina dan mamanya lalu menoel pipi putranya yang anteng dalam pangkuan neneknya.
"Katanya nanti sore baru tiba. Mama sudah kangen itu gara-gara ditinggal papamu lama ke luar negeri."
"Kenapa Mama nggak ikut saja sih? Lumayan kan bisa jalan-jalan di sana," ucap Bintang.
"Nggak lah Bin. Mama malas naik pesawat, takut pusing. Lagian nggak semangat juga jika harus jalan-jalan sendiri sedangkan papamu pasti akan sangat sibuk dan tidak akan ada waktu luang untuk menemani mama. Tahu sendiri kan papamu kalau sudah serius bekerja? Bisa-bisa semua yang bukan pekerjaan ditinggalkan," keluh Arumi.
"Mas aku ingin bicara," ucap Mentari pada Bintang. Bintang acuh tidak mau mendengar perkataan Mentari.
"Mas kenapa kamar kita berubah menjadi kamar bayi?" tanya Mentari wajah yang serius. Tetap saja Bintang tak mau menjawab. Dia malah mengajak putranya yang masih belum bicara itu mengobrol.
"Mas!" Mentari lelah diabaikan terus.
"Kenapa memangnya? Aku yang menyulap kamar itu menjadi kamar bayi. Kamu mau protes? Bayi ini juga punya hak atas apartemen ini," ucap Arumi sedangkan Bintang masih nampak acuh tak acuh.
"Tapi Ma, kan ada kamar Katrina? Kenapa tidak dibuatkan box bayi di kamar Katrina saja," sanggah Mentari. "Terus aku akan tidur dimana?" lanjutnya.
"Kamu kalau tidak mau tidur di kamar itu ya bisa tidur di sofa ini atau kalau tidak mau lagi bisa tidur di ruang kerja Bintang atau di dapur sekalian."
Mentari menekan dadanya. Dia merasa tidak dihargai di tempat ini.
"Mas!" protes Mentari ingin mendengar pendapat Bintang tentang ucapan Arumi.
Bintang tetep saja tidak mau bicara.
"Kalau Mas Bintang tidak mau bicara aku akan pergi." Mentari mengambil keputusan. Tidak ada gunanya hidup bersama orang yang tidak bisa menghargai dirinya.
Karena Bintang tetap tidak mau bicara akhirnya Mentari masuk ke dalam kamar dan bergegas.
"Aku pergi," ucapnya tanpa mau melihat satupun dari wajah orang-orang yang ada di ruangan itu.
Bintang yang masih marah pun membiarkan Mentari pergi begitu saja.
Bersambung.
__ADS_1