HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW 147. Menyusul Mentari


__ADS_3

"Apa ini?" Mentari menekan dadanya sendiri.


"Apa mereka menganggap aku hanya mainan?"


Mentari kecewa, bahkan sangat kecewa dengan ustadz Alzam. Dia pikir lelaki itu berbeda dengan yang lainnya. Nyatanya sama saja, pria itu tidak ada bedanya dengan Bintang.


"Duh takdir kenapa kau mempermainkan ku seperti ini."


Tak terasa air mata menetes di pipinya lalu Mentari berbalik, dengan langkah gontai ia keluar dari pekarangan rumah dan langsung menyetop taksi untuk kembali ke rumah Tama.


"Kapan saya menjanjikan hal itu? Maaf saya tidak bisa melepaskan istriku karena saya sangat mencintainya," ucap ustadz Alzam tegas.


"Kau ingkar janji? Apa saat berdakwah kau mengajarkan orang-orang yang hadir untuk berbohong ataupun ingkar janji?" geram Bintang.


"Jangan bawa-bawa dakwah, ini tidak ada kaitannya dengan hal itu dan saya tegaskan sekali lagi saya tidak pernah berjanji seperti yang kamu ucapkan."


Cih mengelak dia.


"Ada adikmu sendiri di toko kue waktu itu," tekan Bintang.


Ustadz Alzam terdiam, pria tampak mengingatkan-ngingat kejadian di toko Sarah.


"Oh, waktu itu?"


Ustadz Alzam menggelengkan kepala. "Memangnya waktu itu saya mengatakan sesuatu? Sarah mengatakan setuju jika kamu mau mengklarifikasi tentang kesalahpahaman yang terjadi di masyarakat dan sebelum saya menjawabnya kau sudah buru-buru pergi padahal saya ingin mengatakan bahwa diriku tidak setuju dengan persyaratanmu itu," jelas ustadz Alzam panjang lebar.


"Kalian berdua benar-benar penipu ya, aku sudah menyangka sejak hari kematian Aldan bahwa kamu akan ingkar dengan semuanya. Menyesal aku memulihkan nama baikmu. Apa karena kamu tahu bahwa Mentari itu putri dari pemilik perusahaan Prasdiatama sehingga kau enggan untuk melepaskannya?"


"Jangan katakan tentang itu, bahkan saya menyukai Mentari saat tahu dia masih bukan siapa-siapa. Untuk kebaikanmu yang telah membersihkan nama baikku, saya ucapkan terima kasih banyak, namun sepertinya saya tidak perlu membalas budi sebab saya tahu semua itu ulahmu pula yang membuat namaku buruk di mata orang-orang. Bukankah sudah menjadi kewajibanmu mengembalikan sesuatu yang kau kotori menjadi bersih kembali? Pulanglah kalau kau ke sini hanya ingin mencari masalah karena aku tidak ingin menambah dosa jika kau terus mengajakku berdebat!"


"Waw kau mengusirku rupanya? Hebat seorang ustadz mengusir tamu dari rumahnya." Bintang tersenyum mengejek.


"Maaf terpaksa, sebab saya tidak ingin Mentari mendengar pembicaraanmu yang ngelantur sedari tadi. Bisa-bisa dia akan berprasangka buruk terhadapku. Yang terpenting bagiku, saya tidak ingin melukai hatinya. Sudah cukup kamu menyiksa batinnya selama hidup bersamamu."


"Cih kamu pikir dia akan berbahagia denganmu. Aku tahu dia menikah denganmu hanya sebatas ingin menjadikan dirimu pelarian semata karena dia ingin memanas-manasiku saja."

__ADS_1


"Astaghfirullah hal adzim." Ustadz Alzam menggeleng mendengar ucapan Bintang.


"Minumannya Nak," ucap ibu ustadz Alzam sambil menaruh gelas berisi minuman di atas meja. Ibu itu tidak tahu apa yang keduanya bicarakan dari tadi.


"Minumlah mungkin kau haus," ucap ustadz Alzam mempersilahkan Bintang untuk meneguk minumannya.


"Aku tidak butuh minuman aku butuh kau mengembalikan Mentari padaku."


Ibu ustadz Alzam kaget mendengar permintaan Bintang.


"Bu! Ibu temani saja dia, saya harus pergi." Ustadz Alzam meninggalkan Bintang. Jengah mendengar perkataan Bintang yang tidak ada ujungnya.


Melihat ustad Alzam pergi Bintang berdiri.


"Hei ustadz! Aku akan melakukan apapun agar Mentari kembali padaku. Aku akan mengatakan kalau kamu menikah hanya karena permintaanku yang menginginkan dirimu menjadi muhallil saja. Kalau bukan karena itu kalian tidak akan pernah menikah!" Bintang berteriak sambil menuding ke arah ustadz Alzam yang sudah semakin menjauh.


"Tenangkan dirimu Nak, Nak Bintang masih muda jadi Nak Bintang bisa bebas memilih perempuan mana yang akan dijadikan istri. Tolong jangan ganggu hubungan anak dan menantuku, mereka sudah bahagia," mohon ibu dari ustadz Alzam.


"Seharusnya nasehat itu ibu berikan kepada anak ibu sebab dialah yang telah merebut istriku Mentari, kalau saja dia tidak pernah mendekati Mentari mungkin saat ini rumah tangga kami masih utuh karena saya tidak akan pernah marah dan khilaf sampai mengucap kata talak."


Ibu itu menggeleng. "Jangan salahkan orang lain kalau Nak Bintang tidak bisa menjaga omongan Nak Bintang sendiri. Makanya seseorang kalau ingin berbicara dikontrol, dipikir dulu baik mudharatnya apa yang keluar dari mulut Nak Bintang agar tidak hanya menyisakan penyesalan saja."


Di dalam kamar ustadz Alzam menelpon Sarah.


"Assalamualaikum, Sarah."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Wah komplit bagus," puji ustadz Alzam kepada Sarah.


"Iya Kak ada apa ya?"


"Kapan kalian pulang?"


"Mungkin nanti sore Kak sebab tugas Sarah masih banyak. Teman-teman bilang tidak ada yang boleh pulang kalau tugas kami belum selesai."

__ADS_1


"Teman?"


"Iya Kak, Sarah sekarang sudah berada di rumah teman."


"Kak Mentari mana? Apa dia mau menginap di rumah Papa Tama? Kalau mau menginap sih tidak apa-apa mungkin dia kangen sama papanya."


"Loh Kak, Kak Mentari sudah aku antar ke rumah tadi sebelum Sarah pergi ke rumah teman. Apa Kak Alzam belum sampai ke rumah?"


Deg.


Perasaan ustadz Alzam menjadi tidak enak. "Kapan Sarah? Kak Alzam sudah di rumah hampir satu jam yang lalu."


"Dan Sarah mengantarkan Kak Mentari baru sekitar setengah jam-an."


"Apa?" Ustadz Alzam terperanjat.


"Kenapa Kak?"


"Sudah ya." Ustadz Alzam langsung menutup panggilan teleponnya.


Di seberang sana Sarah hanya menggeleng sebab kakaknya menutup telepon tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Begitu ya kalau sudah menikah tidak bertemu sehari rasanya sebulan. Eh, Kak Mentari memang kemana?" Sarah terlihat bingung


"Kenapa sih Sarah?"


"Nggak, cuma mikir kakak sama kakak iparku."


Sudahlah mungkin Kak Mentari masih jalan-jalan di luar sebab belum tahu kalau Kak Alzam sudah kembali.


Sarah kembali fokus berdiskusi dengan teman-temannya sedangkan ustadz Alzam berlari keluar rumah.


"Ada apa Nak kok kelihatannya terburu-buru?"


"Mau menemui istriku Bu sebelum Bintang menemuinya terlebih dahulu."

__ADS_1


"Baiklah hati-hati di jalan."


Bersambung.


__ADS_2