HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 131. Gelisah


__ADS_3

Sementara di luar negeri sana Bintang mondar-mandir di dalam ruangan rawat Aldan. Dia merasa stres sebab kondisi putranya semakin hari semakin menurun saja.


"Bagaimana ini Kate, bagaimana kalau sampai terjadi hal terburuk pada Aldan?" Bintang mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar.


"Duduklah Bin, dari tadi aku lihat kamu mondar-mandir tak tentu arah, aku pusing tahu nggak, lihatnya," protes Katrina.


Bagaimana tidak pusing sang anak semakin drob keadaannya dan Bintang bukannya bisa menenangkan dirinya malah semakin membuatnya gusar saja.


Tiba-tiba terdengar ponsel Bintang berdering. Lelaki itu memeriksa panggilan dari siapa dan menerimanya. Katrina sedikit merasa lega karena akhirnya kini Bintang duduk di atas sofa dan tidak mondar-mandir lagi.


"Ya ada apa?" tanya Bintang kepada pemilik telepon di sana.


"Cuma mau ngabarin Bro bahwa video klarifikasi tentang video waktu itu sudah dipublikasi dan disebar. Saya jamin dalam beberapa hari ini nama Mentari dan ustadz Alzam akan bersih."


"Oke terima kasih atas semuanya ya. Nanti kalau ada kabar lagi tolong di simpan dulu karena saat ini saya tidak ingin mendengar berita apapun sebab anakku sedang anfal ini."


"Baik Bro, semoga lekas sembuh ya buat putranya dan kalian bisa pulang secepatnya ke tanah air."


"Amin, terima kasih." Setelah mengatakan itu Bintang langsung menutup panggilan telepon.


"Siapa Bin?" tanya Katrina penasaran.


"Teman, ngomongin pekerjaan terus tanyain tentang perkembangan kesehatan Aldan," jawab Bintang dan Katrina hanya manggut-manggut saja.


Bintang menaruh ponsel di sampingnya lalu menyandarkan bahunya pada sandaran sofa sambil memejamkan mata. Terdengar ada notifikasi masuk. Bintang membuka matanya lagi dan meraih ponselnya kembali.


"Gala, ngapain dia chat aku?" tanyanya dalam hati merasa heran. Apakah mungkin pria itu bersimpati dengan keadaan putranya sekarang sehingga mau menghubunginya lagi atau hanya ingin menanyakan Katrina yang sudah lama tidak masuk kerja lagi.


Buru-buru Bintang mengusap layar ponselnya dan membuka chat dari Gala.


"Oh pernikahan antara Mentari dan ustadz itu," ucapnya dalam hati masih merasa tenang sebab dia tahu ustadz Alzam melakukan pernikahan itu atas permintaannya.


"Baguslah kalau begitu, biarkan saja dulu Mentari sama ustadz Alzam. Mentari sebentar lagi kau akan kembali padaku," ucapnya dalam hati sedangkan bibirnya tersenyum.

__ADS_1


"Ada apa sih Bin?" tanya Katrina heran, tadi terlihat sedih dan gusar dan sekarang tiba-tiba saja tersenyum sendiri.


"Ah nggak, sekali-kali tersenyum itu perlu Kate biar kita tidak jadi gila sedih-sedih terus."


Katrina mengernyit kemudian menggeleng sebab tidak paham dengan Bintang saat ini.


"Biarkan saja deh agar dia tidak tambah stres," batin Katrina.


Saat Bintang menaruh ponselnya kembali terdengar notifikasi masuk lagi.


Ah Gala lagi, dia stres kali karena yang menikahi Mentari bukan dirinya tetapi malah orang lain.


Bintang terkekeh sendiri membuat Katrina semakin ketar-ketir saja takut Bintang menjadi gila.


Dengan malas Bintang membuka chat dari Gala lagi. Kali ini gambar yang dikirim Gala adalah momen-momen romantis antara Mentari dan ustadz Alzam. Nomen saat ustadz Alzam memegang ubun-ubun Mentari sambil membaca do'a, saat-saat ustadz Alzam mengecup tangan dan kening Mentari begitupun sebaliknya.


"Tunggu, tunggu! Mengapa aku merasa ada yang aneh?" Bintang tertegun melihat keduanya tampak bahagia seakan pernikahan itu adalah benar-benar keinginan mereka.


Bintang menggeser foto-foto yang dikirimkan oleh Gala itu. Dalam foto berikutnya ia melihat ustadz Alzam yang mendekap pinggang Mentari dengan mesra.


"****!" Bintang langsung melempar ponselnya begitu saja karena kesal.


"Apa sih Bin?" tanya Katrina lagi keheranan. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah ponsel Bintang yang terletak di lantai.


Katrina mengusap ponsel tersebut yang terlihat pecah di layarnya, tetapi ponsel tersebut tidak rusak dan masih menyala


Katrina memeriksa apa yang dilihat Bintang tadi.


"Oh jadi ini yang membuatmu kesal? Seharusnya kamu bahagia dong Bin Mentari menikah dengan ustadz itu daripada harus menikah dengan Pak Gala maka dia akan menindasmu karena merasa lebih kaya," ucap Katrina sambil berjalan ke arah Bintang dan menaruh ponsel tersebut di sisinya lagi.


Bintang tidak menjawab malah terlihat dadanya naik turun karena menahan amarah sebab dia mulai berpikir bahwa ustadz Alzam ingkar janji.


"Dasar ustadz pengkhianat, awas ya kalau sampai membohongiku."

__ADS_1


"Hei kamu kenapa sih Bin, aneh banget bukankah kamu sudah menceraikan Mentari ya. Jadi tidak usahlah memikirkan dia lagi. Mau dia mau nikah dengan siapapun kek itu sudah bukan urusan kita lagi," protes Katrina.


Bintang masih saja diam.


"Dasar wanita kampung murahan. Pasti nih dia memakai susuk sehingga Bintang yang sudah berpisah pun masih memikirkan dirinya. Lagipula bagaimana mungkin dia bisa dengan mudah menikah hanya dalam kurun waktu beberapa bulan setelah berpisah dengan Bintang." Saat Katrina berpikir buruk tentang Mentari di ranjang Aldan sedang kejang-kejang.


"Aldan!" pekik Katrina setelah menyadari bayinya dalam keadaan darurat. Bintang pun langsung berdiri dan fokus pada putranya kembali.


"Cepat Bin panggil dokter!" perintah Katrina.


Bintang pun segera memencet bel yang ada di kamar tersebut yang terhubung ke ruangan dokter.


Beberapa saat kemudian tampak dokter dan beberapa suster masuk ke dalam kamar rawat dan langsung menangani Aldan.


Di atas ranjang rumah sakit tampak Aldan tersenyum manis membuat Bintang merasa lega bisa melihat senyum putranya lagi.


Namun, tak berselang lama wajah Bintang kembali pucat melihat Aldan menutup mata. Entah mengapa melihat hal itu Bintang memiliki firasat buruk bahwa sepertinya Aldan bukanlah tidur melainkan telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Dokter, bagaimana keadaan putra saya?" tanya Bintang panik sedangkan Katrina tampak bingung dan termenung.


"Maaf Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Dengan sangat berat kami menyampaikan putra Anda telah tiada," ucap dokter yang menangani Aldan dengan perasaan sedih.


Mendengar penuturan dokter tersebut tubuh Bintang bergetar hebat. Air matanya jatuh tak terasa.


"Bagaimana mungkin Dokter? Kami jauh-jauh datang kemari untuk mengobati putra saya bukan malah mengantarkan nyawanya."


Bintang merasa tidak terima jika putranya harus pergi sekarang.


"Aldan jangan tinggalkan Papa!" teriaknya memenuhi seluruh ruangan sedangkan Katrina tampak menangis tanpa suara.


Bersambung.


Jangan lupa Rate Bintang 5 nya, ya teman-teman. Makasih banyak 🥰

__ADS_1


__ADS_2