
Mentari kembali ke dalam unit kamar apartemennya sendiri. Sampai di sana Bintang sudah selesai membersihkan diri. Mentari pun gantian masuk ke dalam kamar mandi karena tubuhnya sudah terasa gerah.
"Malam ini Mas Bintang menginap di sini?" tanya Mentari.
"Iya rencananya seminggu aku di sini," sahut Bintang membuat Mentari menyunggingkan senyuman termanis. Rupanya Bintang telah mendengarkan keluh kesahnya.
Dalam hati, Mentari berharap Bintang bisa berlaku adil dan tegas terhadap Katrina. Aneh memang, terkadang Mentari kesal dan tidak terima dengan Bintang yang telah menduakannya. Rasanya ingin lepas saja jika tidak terikat janji pada Tuan Winata.
Namun, terkadang Mentari tidak rela jika harus berpisah dengan Bintang. Dia begitu mencintai sosok suaminya itu meski kadang membuatnya kesal dan ingin menyerah.
***
Lima hari Bintang tinggal di apartemen bersama Mentari. Setiap pagi ia berpisah karena pekerjaan. Bintang pergi ke perusahaan sedang Mentari pergi ke toko bersama Sarah. Hal itu membuat Bintang merasa kebersamaannya sebentar bersama Mentari.
"Bintang kapan kamu kembali ke apartemenku? Kau sudah lama tinggal bersama Mentari," protes Katrina pada Bintang saat ia baru mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya.
"Dua hari lagi Kate, aku sudah membuat keputusan. Seminggu bersamamu dan seminggu lagi bersama Mentari," terang Bintang.
"Seharusnya dia mengalah Bin, aku ini lagi hamil. Butuh pendamping yang menjagaku setiap saat," protes Katrina.
"Tapi Kate dia sudah lama aku abaikan. Bagaimanapun dia juga istriku, tidak mungkin kan aku abaikan terus. Bisa curiga nanti papa kalau aku selalu tidak ada di apartemen. Apalagi dia juga tidak ada keluarga di kota ini Kate, kasihan dia."
"Oh jadi kamu lebih perhatian sama dia dibanding aku dan bayimu ini? Oke kalau begitu jangan salahkan aku kalau sampai bayimu ini keguguran. Kamu tahu sendiri kan apa kata dokter? Bayi Ini lemah Bin, aku butuh kamu selalu di sampingku untuk menjaganya."
"Tapi Kate, Mentari juga butuh aku di sampingnya. Mana mungkin aku meninggalkan dia terus menerus sendiri di apartemen. Bisa pulang dia nanti ke kampung. Dia ke sini ikut aku jadi tidak pantas aku meninggalkannya."
"Bagus dong kalau dia pulang sekalian aja kamu pulangkan dia. Kembalikan dia pada orang tuanya. Bukankah kamu tidak mencintainya? Kenapa harus dipertahankan?"
Bintang menggaruk kepalanya tatkala mendengar ocehan Katrina yang baginya tidak jelas. Bukankah dia sudah pernah menjelaskan pada wanita itu kalau tidak mungkin menceraikan Mentari sebelum papanya menyerahkan tampuk perusahaan kepadanya.
"Bintang ini saatnya kau menceraikan dia. Aku sudah tidak perduli meski Paman Winata tidak menyerahkan perusahaan padamu. Bagiku memilikimu seutuhnya lebih penting daripada perusahaan itu. Toh kita masih diterima bekerja di sini meski Pak Gala sudah tahu semuanya."
Gala hanya melirik kedua orang tersebut dari ruangannya sendiri dengan ekor matanya dan pura-pura tidak melihat dan mendengar percekcokan antara keduanya. Ia menatap berkas-berkas yang sudah siap ingin disentuh olehnya. Namun, pikirannya tidak tenang karena konsentrasi terganggu.
"Sudah Kate! Ini tempat kerja bukan tempat untuk membuat keributan," ujar Bintang sambil menggaruk-garuk kepalanya, bukan karena gatal tapi karena pusing mendengar Katrina mengomel dari tadi.
"Aku yakin Bin kalau anak kita lahir nanti, pasti Paman Winata akan merestui hubungan kita. Di dalam perutku ada pewaris keluargamu. Jadi apa yang masih kita takutkan?"
__ADS_1
"Cukup Kate! Keputusanku sudah bulat, pembagian waktu harus adil," sentak Bintang. "Dan aku sampai kapanpun tidak akan pernah menceraikan dia."
"Kau berubah Bintang, kau berubah!"
"Kau yang membuatku berubah. Andai saja malam itu kamu tidak datang ke apartemenku pasti kekacauan ini tidak akan pernah terjadi. Bukankah aku sudah mengatakan jangan menggangguku lagi karena aku akan menikah dengan orang lain. Kenapa kamu masih nekat dan malah mengajakku minum-minum alkohol."
"Sudah bertengkarnya? Kalau belum silahkan selesaikan di luar dulu. Kalian mengganggu konsentrasiku saja." Gala akhirnya buka suara karena tidak tahan mendengar perselisihan keduanya.
"Iya Pak," jawab Bintang sambil menunduk dan mulai fokus untuk bekerja. Sedangkan Katrina kembali ke mejanya sendiri.
Gala mendekat. "Kalian masih kubiarkan bekerja di sini ya mengingat kalian berdua banyak jasa terhadap perusahaan ini tapi kalau kalian terus membuat kegaduhan seperti ini terpaksa nanti akan saya pecat. Kalau ada masalah rumah tangga selesaikan di rumah jangan di kantor," tegas Gala lalu kembali ke ruangannya lagi.
"Iya Pak maaf," sahut Katrina.
Mereka berdua pun kembali fokus bekerja. Mencoba melupakan apa yang terjadi tadi agar bisa fokus bekerja.
Sore hari Bintang kembali ke apartemennya. Seperti biasa Mentari menyambut sang suami dengan penampilan yang sudah fresh sehabis mandi. Memang semenjak Bintang pulang Sarah memperbolehkan bahkan menganjurkan agar Mentari pulang lebih awal.
"Apa kabar Sayang!" sapa Bintang.
"Baik Mas," sahut Mentari sambil mengambil tas dari tangan Bintang dan menyalaminya.
"Iya Mas, air hangatnya sudah aku siapkan." Mentari mengikuti langkah Bintang masuk kamar dan meletakkan tas milik Bintang di ruang kerja yang berada di dalam kamar juga tapi disekat oleh dinding. Ruangan itu hanya kecil saja.
"Wah kau memang istri yang perhatian," goda Bintang.
"Biasa aja Mas nggak usah berlebihan." Mentari tidak suka Bintang memuji dirinya di depannya sendiri. Baginya hal itu terasa lebai. Kadang Mentari berpikir apakah Bintang melakukan itu terhadap Katrina juga. Ah terlalu diabaikan Bintang membuat wanita itu sedikit su'udhan.
"Ya sudah aku masuk dulu ya," ucap Bintang. "Atau mau ikutan mandi?"
Mentari menggeleng. "Bisa bahaya ini," batinnya.
"Tidak Mas," tolaknya. Mentari tidak ingin mandi dua kali. Bintang baginya aneh suka bertingkah di kamar mandi. Mentari berkata sambil berjalan ke arah lemari dan menyiapkan pakaian Bintang.
Bintang mengangguk.
"Oke aku siapkan makan malam dulu biar Mas Bintang bisa langsung makan malam." Setelah selesai menyiapkan pakaian Bintang Mentari langsung bergegas ke dapur.
__ADS_1
Saat masakan sudah terhidang di meja terdengar pintu apartemen di ketuk.
"Siapa ya?" tanya Mentari bergumam sendiri. Setelah menepuk kedua tangannya ia berjalan ke arah pintu.
"Pasti Sarah," pikirnya. Mentari memutar handle pintu dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Katrina?" Mentari hampir saja menutup pintu kembali tetapi langsung ditahan oleh Katrina.
"Mau apa ke sini?" tanya Mentari curiga melihat wajah Katrina memerah. Sepertinya wanita itu dikuasai amarah.
"Mau makan orang, minggir!" Katrina mengibaskan tangannya dan berlalu masuk.
"Bintang! Bintang!" teriak Katrina. Lelaki itu tidak menjawab mungkin belum selesai mandi sehingga tidak mendengar suara Katrina yang keras karena suara air yang keluar dari shower begitu berisik di telinganya atau bahkan Bintang menikmati momen mandinya tersebut.
"Dia belum selesai mandi," jelas Mentari agar perempuan itu tidak terus berteriak.
Katrina berjalan-jalan di dalam hingga langkahnya terhenti di meja makan. Melihat makanan terhidang di meja ia langsung duduk dan melahap rakus makanan di hadapannya. Mentari hanya memandang aneh ke arah Katrina yang seperti orang kelaparan.
Beberapa saat kemudian Bintang datang ke meja makan. Kenapa berdiri di situ?" tanyanya heran melihat Mentari berdiri bengong.
"Tuh!" tunjuk Mentari pada Katrina.
Bintang menoleh dan ikut kaget melihat Katrina ada di sana dan malah makan terlebih dulu.
"Kate!" seru Bintang.
"Bintang, enak sekali ini masakannya. Bayi kita menyukainya. Kamu bisa meminta dia memasak untuk kita setiap hari," tunjuknya pada Mentari yang terlihat kaget dan menggeleng.
"Apa maksudmu Kate? Kamu bisa pesan makanan online di luar."
"Tidak Bin bayimu hanya akan makan masakan dia."
Mentari bergidik ngeri melihat dirinya ditunjuk lagi. Katrina seperti orang kesurupan saja.
"Karena kamu tidak mau pulang ke apartemenku maka aku juga akan tinggal di sini."
Sontak pernyataan itu membuat Bintang dan Mentari syok.
__ADS_1
"Apa?"
Bersambung....