
Satu tahun kemudian.
"Pa ... pi," ujar Gaffi begitu bersemangat menyambut kedatangan Gala. Balita itu heboh dalam gendongan Sarah.
"Wah anak papi sudah fresh ya, sudah mandi rupanya," ujar Gala kemudian menaruh tas kerja dan dua paper bag di atas lantai sebelum mengambil Gaffi dari gendongan Sarah.
"Pa ...pi, Pa ... pi." Gaffi berceloteh riang membuat Gala yang gemas dengan putranya langsung mencium bibir mungilnya itu.
"Pasti sudah kangen sama papi," ujar Gala sambil menguyel-uyel wajah putranya.
Sarah sendiri setelah memberikan Gaffi pada Gala lalu mengambil tas dan paper bag yang Gala letakkan di atas lantai dengan sembarangan kemudian hendak membawanya ke ruang kerja Gala.
"Oh ya, itu untuk putra kita. Ada baju untukmu juga," ujar Gala pada Sarah sehingga Sarah meletakkan paper bag di atas meja untuk dibuka bersama putranya nanti. Kemudian wanita itu berjalan cepat ke ruang kerja Gala dan menaruh tasnya di dalam sana.
Setelah menaruh tas kerja Gala, Sarah kembali ke sisi Gala.
"Sini Sayang duduk di sini! Kita lihat, kira-kira kado apa yang dibelikan papi," ujar Sarah sambil menepuk sofa di sampingnya.
Gala pun langsung membawa duduk Gaffi di samping Sarah.
Sarah terlihat membuka paper bag yang satu dan mengeluarkan baju dari dalamnya. Setelah menarik kain dari dalamnya terlihat gamis berwarna merah maroon dengan aksen ruffle di kedua lengannya.
"Wah ini seperti yang aku inginkan," ujar Sarah sambil berdiri lalu mengukur baju itu di depan tubuhnya.
Gala hanya tersenyum tipis, tentu saja gamis itu sesuai dengan keinginan Sarah sebab Gala melihat dari ponsel Sarah gamis model seperti itu ada di keranjang aplikasi belanja online milik Sarah.
"Coba saja dulu siapa tahu ukurannya tidak pas, nanti aku kembalikan ke tokonya untuk ditukar," saran Gala.
"Memang boleh?"
"Boleh."
"Sebentar aku ke kamar dulu," ujar Sarah kemudian berlalu dari hadapan Gala.
Setelah melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya dan mengganti dengan pakaian baru, Sarah tampak melihat tubuhnya yang kini sudah terbalut gamis baru.
"Ternyata aku masih cantik meskipun sudah melahirkan." Wanita itu tersenyum puas
Sarah kembali turun ke lantai bawah dan menunjukkan pada Gala.
"Bagaimana?" tanya Gala ketika melihat Sarah menuruni anak tangga.
"Ukurannya pas, rasanya adem dan lembut di badan, tapi cocok nggak sih sama badan Sarah?" Tetap saja pendapat Gala lebih penting dibandingkan pendapatnya sendiri menurut Sarah.
"Cocoklah, apa sih yang nggak cocok buat kamu? Orang cantik mah mau dipakaikan baju apapun tetap saja cantik."
"Gombal." Sarah mencebik lalu terkekeh dan Gala pun ikut terkekeh.
"Coba lihat punya Gaffi dulu." Sarah mengeluarkan baju yang berada di dalam paper bag satunya lagi.
Nampak pakaian baju monyet dengan warna senada dengan gamis Sarah.
"Masyaallah pinter banget kamu Mas, Sayang cobain juga yuk! Lucu deh ini," ujar Sarah dengan begitu antusias lalu melepaskan pakaian Gaffi dan menggantinya dengan yang baru.
"Tuh kan imut-imut," ucap Sarah. Saking gemasnya Sarah mencubit kedua pipi putranya.
"Yang itu apa Mas?" tanya Sarah sebab masih ada barang lagi di bawah baju monyet milik Gaffi tadi.
__ADS_1
"Mainan playgro Bright baby Boats," jawab Gala.
"Mainan apa tuh? Boats? Perahu dong!"
"Iya kamu lihatlah dululah. Itu bisa dibawa ketika Gaffi mandi. Sambil kamu membersihkan tubuhnya, Gaffi bisa bermain-main. Jadi kamu bisa leluasa membersihkan tubuh Gaffi karena dia tidak akan rewel lagi saat mandi."
"Oh begitu ya Mas, jadi penasaran gimana cara memainkannya, atau cuma didorong-dorong di atas air seperti mainan biasanya?"
Mainan Playgro Bright Baby Boats itu terdiri dari tiga buah perahu berwarna cerah. Ini adalah mainan berbentuk perahu yang bisa mengapung di air. Pada perahu terdapat lubang yang bisa dimasukkan rantai untuk dihubungkan dengan perahu lain sehingga saling terkait satu sama lain. Gaffi bisa bermain-main untuk menghubungkan semua perahunya dan yang pasti mainan ini aman untuk balita juga bagus untuk motorik anak."
Penjelasan Gala membuat Sarah puas lalu dengan tidak sabaran mengeluarkan mainan itu dari dalam kotaknya.
"Nih lihat sayang, bagus, kan?" Sarah mendekatkan mainan itu ke wajah Gaffi.
"Nanti nggak boleh ada drama nangis lagi ya saat mandi!" pinta Sarah pada putranya.
"Baba ... baba ... Ma ...mi." Gaffi masih saja berceloteh tidak jelas.
"Dia mau ngomong apa sih Mas?" tanya Sarah bingung. Lalu membiarkan saja ketika Gaffi mengambil satu mainan perahu yang kecil dari tangannya.
"Dia mau bilang baik kali," ujar Gala lalu tersenyum geli.
"Apa seusia Gaffi normal ya Mas hanya bisa bicara beberapa kata saja. Mami, papi, maem, nggak ada lagi. Adanya hanya kata-kata yang nggak jelas selain itu." Sebenarnya Sarah mengkhawatirkan tumbuh kembang Gaffi, takut perkembangan anak itu terhambat atau lambat dari perkembangan normal.
"Ya wajar lah Sayang dia, kan masih satu tahun, masa kamu mau dia langsung bicara lancar kayak kamu? Ya mustahil lah, kecuali anak kita anak jenius."
"Kayaknya Izzam dulu nggak gitu deh, apa Izzam anak jenius?"
Gala hanya bisa menggeleng mendengar pertanyaan Sarah.
"Kok menggeleng gitu?" protes Sarah.
"Om!"
Saat serius-seriusnya Gala menasehati Sarah terlihat Izzam menuruni tangga dengan langkah yang cepat. Di belakangnya menyusul Mentari.
"Pelan-pelan Izzam! Jangan sampai kamu terperosok dan jatuh!"
"Om!"
"Hai Izzam, kau juga ada di sini rupanya," sapa Gala.
"Iya, dari tadi dia tidur," ujar Sarah.
"Mainan buat Izzam mana?" tanya Izzam sambil melihat mainan yang berada di tangan Gaffi.
Gala terdiam, bukan maksudnya melupakan Izzam, tetapi pria itu tidak tahu bahwa keponakannya sedang ada di rumah sekarang.
"Nanti om Gala belikan ya!" ucap Gala, tetapi anak tiga tahun itu langsung naik ke atas sofa dan duduk di samping Sarah sambil memberengut kesal.
"Om Gala tidak sayang lagi sama Izzam," ucapnya ketus membuat Gala dan Sarah saling pandang dengan perasaan yang tidak menentu.
"Mainannya untuk berdua saja ya," bujuk Sarah yang melihat anak itu menatap tidak suka pada Gaffi.
"Izzam tidak mau. Izzam mau mainan yang lain. Izzam tidak mau main, mainan bekas dedek Gaffi."
Mentari hanya menggeleng melihat tingkah putranya.
__ADS_1
"Izzam tidak boleh begitu, sekarang Izzam pinjam aja dulu mainan dedek Gaffi, lalu nanti Ummi belikan mainan apapun yang disukai Izzam, oke?"
"Atau nanti mandi bersama dedek dan main bersama biar seru," bujuk Sarah lagi.
"Izzam mau dibelikan mainan oleh Abi kayak dedek Gaffi." Anak itu merajuk.
"Maafkan Mas ya Ca, aku tidak tahu kalau kalian juga ada di sini." Meskipun Mentari adalah adik kandungnya sendiri, tetapi Gala tetap merasa tidak enak pada Mentari.
"Nggak apa-apa Mas, dia memang kadang begitu."
Izzam bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat di pintu anak itu terlihat antusias.
"Abi!" panggil Izzam membuat Mentari yang mendengar suara anak itu bingung lalu menyusul ke arah pintu.
Tampak di luar Bintang berjalan ke arah Izzam sambil menenteng
sebuah kotak mainan.
"Izzam!" seru Bintang sambil mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke sisi Izzam yang saat ini sedang berlari ke arahnya.
"Abi!" teriak Izzam.
"Hei apa kabar? Tadi saya ke rumah Izzam, tapi kamu tidak ada di sana. Jadi pas tanya sama oma katanya kamu ada di sini. Jadi, saya langsung kemari." Bintang tersenyum manis.
"Hei kenapa diam? Apa kabar?" ulang Bintang.
"Buruk Abi. Om Gala tidak sayang lagi sama Izzam." Anak itu cemberut lagi membuat Bintang mengernyit.
"Oh ya, saya bawakan Izzam mainan. Izzam bisa main-main bola di dalamnya. Oh ya, saya taruh di sana dulu ya! Om kebelet pipis soalnya," ucap Bintang lalu bergegas masuk ke dalam dan menaruh kotak mandi bola di atas meja
"Numpang kamar mandi Gala!" pamitnya lalu masuk ke salah satu kamar mandi khusus pembantu karena jaraknya yang dekat dengan posisinya sekarang.
Izzam masuk ke dalam dan menghampiri mainan yang dibawa oleh Bintang.
"Dedek Gaffi, Izzam juga punya mainan yang dibawakan Abi," ujar Izzam sambil memamerkan mainannya.
"Izzam!" protes Mentari.
"Ummi!" Anak itu merajuk lagi melihat wajah Mentari terlihat marah. Anak itu terlihat takut pada Mentari.
"Ikut Ummi ke kamar!" Mentari langsung menggendong tubuh Izzam dan membawanya ke kamar.
"Turunkan Izzam Ummi, Izzam mau sama Abi Bintang!" teriak Izzam. Namun, Mentari tidak mendengarkan ucapan Izzam dan terus membawa Izzam ke dalam kamar meski anak itu memberontak ingin turun dari gendongan.
"Jangan panggil Om Bintang Abi!" larang Mentari dan Izzam langsung menunduk.
Mentari mengambil foto ustadz Alzam yang masih terpajang di atas buffet di kamarnya dan kembali ke sisi Izzam.
"Lihatlah Izzam, dia yang Abi kamu bukan Om Bintang," ucap Mentari membuat Izzam langsung menatap bingkai foto yang disodorkan oleh umminya.
"Kau tahu, tidak akan ada yang bisa menggantikan dia di hati kita. Hanya dia Abimu dan selamanya dia, tidak ada yang lain lagi Izzam. Ingat itu!"
"Tapi kalau dia memang Abi Izzam kenapa tidak pernah datang dan menggendong Izzam seperti Om Gala pada dedek Gaffi?" Air mata Izzam mulai bercucuran.
"Kenapa malah Abi Bintang yang menggendong Izzam? Kenapa Abi ini tidak pulang?" tanya anak itu polos.
"Om Bintang!" Mentari memperingatkan. "Ummi tidak mau mendengar kamu memanggilnya Abi. Abimu hanya Abi Alzam. Kalau saja Abi tidak dipanggil Tuhan Abimu pasti saat ini tidak akan pernah meninggalkanmu."
__ADS_1
"Ummi jahat!" Izzam merosot dari ranjang lalu berlari keluar.
Bersambung.