HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 40. Rahasia Katrina


__ADS_3

Setelah Risa pergi Mentari langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Katrina untuk mencari Bintang. Wanita itu baru ingat bahwa suaminya itu belum makan malam.


Sampai di depan kamar Katrina, Mentari menghentikan langkahnya saat mendengar tawa Katrina yang menggelegar dari ruangan tersebut. Mentari mengintip dari balik pintu ternyata Bintang tidak ada di dalam.


"Ih jangan-jangan dia sarap lagi. Malah ketawa sendiri. Atau mungkinkah dia memang benar-benar stres karena Bintang telah menduakannya?" Tubuh Mentari bergidik ngeri apalagi lagi terdengar cekikikan lagi dari mulut Katrina. Lalu dengan secepat kilat Mentari bergegas dari tempat itu.


"Mas ternyata kamu ada di sini," ucap Mentari setelah menemukan keberadaan Bintang yang sedang menyantap makanannya. "Kenapa nggak bilang sih kalau mau makan kan aku bisa menemani.""


"Saya pikir kamu masih marah atau masih sakit perut jadi aku tidak mau mengganggumu."


"Maaf ya Mas aku lupa tadi bahwa kamu belum makan malam," sesal Mentari.


"Tidak masalah aku bisa ambil sendiri, kan semuanya sudah siap di sini."


"Mau nambah nasi? Aku ambilkan."


Bintang mengangguk dan Mentari melayani suaminya makan.


"Alhamdulillah sudah kenyang," ucap Bintang setelah selesai minum.


"Masih sakit perutnya?"tanya Bintang melihat ekspresi wajah Mentari yang masih meringis. Wanita itu menggeleng.


"Terus kamu kenapa?" tanya Bintang lagi, penasaran.


"Katrina baik-baik saja kan Mas?"


"Wah tumben kamu perhatian sama dia," kata Bintang sambil tersenyum senang. Semoga saja Mentari bisa perduli dengan keadaan Kartina. Syukur-syukur bisa akur. Padahal Katrina lah yang menentang pernikahan poligami tersebut bukan Mentari. Meskipun sakit Mentari mencoba berdamai dengan keadaan asalkan Bintang bisa berlaku adil terhadap dirinya dan Katrina. Cemburu sih tetap cemburu tetapi dia sedemikian rupa menekan rasa itu agar tidak terlalu membuatnya larut dalam kesedihan. Namun Katrina yang tidak terima, dia ingin memiliki Bintang seutuhnya.


"Apa dia masih normal Mas?" tanya Mentari lagi.


"Kenapa kamu tanya seperti itu?" Bintang bertanya kembali karena heran dengan pertanyaan Mentari.


"Dari tadi aku lihat dia tertawa terus dalam kamar. Sesekali dia bahkan tertawa cekikikan, maaf Mas seperti orang gila," jelas Mentari.


"Ah itu mungkin dia lagi senang saja. Maklum orang hamil kan memang begitu. Kadang aneh," ucap Bintang.


Apa hubungannya dengan kehamilannya? Kalau ngidam baru ada hubungannya dengan orang hamil. Nah ini jelas dia ketawa-ketawa sendiri tidak jelas.


"Ada yang mau ditanyakan lagi?"


"Tidak ada Mas."


"Ya sudah kalau begitu aku istirahat ke kamar dulu ya. Nanti kalau misalnya ada apa-apa sama Katrina bangunkan saja aku."


Mentari mengangguk. Bintang pergi ke dalam kamarnya bersama Mentari sedang Mentari membereskan peralatan makan. Semua piring kotor ia cuci agar esok bisa langsung memasak.


Selesai mencuci piring Mentari kembali ke kamarnya sendiri. Namun saat melewati kamar Katrina ia berhenti sebentar. Ia mengintip ke dalam. Tampak Katrina sedang mematahkan benda kecil. Kalau dari bentuknya Mentari menebak itu adalah kartu ponsel kalau tidak ya memory ponsel.

__ADS_1


"Kau tidak akan pernah menemukanku lagi Arka. Kau tidak bisa menghancurkan impianku untuk menjadi Nyonya satu-satunya dari Bintang. Silahkan saja kamu tunggu aku di apartemen sampai lumutan karena aku tidak akan pernah kembali ke sana, hahaha...."


"Arka? Siapa Arka?" batin Mentari tangannya tidak sengaja menyenggol lukisan kecil yang terletak di samping pintu.


"Siapa itu?" tanya Katrina mendengar bunyi benda terjatuh.


Mentari langsung berlari menjauh dan bersembunyi dibalik lemari hias.


Katrina berjalan ke arah pintu. Hatinya bergetar tak karuan, takut-takut suaranya tadi terdengar oleh Bintang dan pria itu akan curiga.


"Oh ini yang jatuh?" Katrina memungut lukisan di lantai yang terlihat retak.


"Tidak ada angin tidak ada orang kok bisa terjatuh? Aneh atau ada orang yang mengintip tadi?" gumam Katrina.


"Bodoh." Katrina merutuk diri sendiri. "Mengapa aku sampai lupa bahwa di sini aku tidak hanya tinggal sendiri," batinnya.


Katrina berjalan, memeriksa ruangan tersebut. Mentari ketar-ketir takut persembunyian ditemukan.


"Ya Tuhan selamatkan aku. Aku bahkan belum tahu apa yang Katrina maksud tadi dan Arka itu siapa?" Mentari merapalkan doa dalam hati agar keberadaannya sekarang tidak ditemukan.


Hampir saja sampai di depan lemari hias Katrina berbalik karena mendengar suara cicak yang begitu mengganggu. Bukan berbunyi seperti biasanya tetapi seperti mengetuk-ngetuk benda.


"Suara apa itu?" Katrina mengambil lukisan tersebut dan memeriksa belakang lukisan itu yang terletak di samping lukisan yang jatuh tadi. Lukisan ini jauh lebih kecil karena ukurannya memang mini. Lukisan ini juga tampak bergerak-gerak.


"Cicak sialan jadi kamu yang menjatuhkan lukisan ini tadi?" Hampir saja cicak itu digeprek oleh Katrina kalau saja tidak segera merayap dengan cepat ke atas.


Mentari bernafas lega kemudian berlari menuju kamarnya sendiri dan menjatuhkan tubuhnya di samping Bintang.


"Kenapa kamu? Kenapa ngos-ngosan begitu?" Ternyata Bintang masih belum tidur. Meskipun matanya tampak terpejam tetapi ia belum terlelap.


"Kenapa belum tidur?" Mentari balik bertanya.


"Nggak bisa tidur mungkin karena nggak ada kamu di sini." Bintang menepuk bantal di sebelahnya meminta Mentari lebih merapat.


"Lebay, emang kemarin-kemarin ada aku di sisimu? Nyatanya kamu bisa tidur kan tampak aku?" Mentari mencebik. Malas mendengar kegombalan Bintang.


"Tapi sejak kemarin saat aku pulang ke sini aku selalu bersamamu. Mungkin sudah jadi kebiasaan baruku harus tidur memeluk dirimu. Tak bisa tidur tanpa dirimu." Bintang terkekeh.


"Mas Bintang tahu nggak dulu aku suka sama pria yang romantis."


"Sekarang?"


"Nggak lagi."


"Kenapa?"


"Karena aku melihat pria yang romantis itu suka romantisin cewek sana sini," jelas Mentari.

__ADS_1


"Mana ada?" protes Bintang.


"Ada lah, Mas Bintang itu buktinya. Dulu mengatakan cuma aku satu-satunya di hati eh nggak tahunya dua-duanya."


"Sorry sayang bukan maksudku menduakanmu tapi takdir yang menentukan semuanya."


"Itu bukan takdir tapi pilihan," ucap Mentari.


"Kan sudah terjadi berarti takdir. Udah ah kita bobo saja, udah malam ini." Bintang menarik tubuh Mentari dalam pangkuannya.


"Mas tahu apa perkataan pria yang paling aku benci?"


"Apa?" tanya Bintang sambil memejamkan mata.


"Saat mengatakan aku tidak bisa hidup tanpamu tetapi ternyata setelah istrinya pergi atau meninggal eh dia menikah lagi. Gombal banget nggak si Mas, persis kegombalan Mas Bintang."


Tidak ada suara dari Bintang.


"Mas!" Mentari kesal karena Bintang tidak menggubris perkataannya.


"Apa, mau cari pahala malam Jumat?" Goda Bintang.


"Ih nggak boleh ah, aku


kan lagi berhalangan." Mentari menutup bagian intinya dengan tangan.


"Apa sih ditutup begitu? Bisa dengan cara lain kan?" goda pria itu lagi sambil mengedipkan mata.


"Nggak boleh bersenang-senang antara lutut dan pusar, haram," tegas Mentari.


"Ih mesum aku kan cuma mau tidur memeluk kamu. Haram juga?"


"Abisnya Mas Bintang ambigu sekali sih ngomongnya."


"Kan cuma bercanda doang. Kamu aja yang pikirannya ngeres. Udah ah tidur!"


Keduanya pun memejamkan mata. Tidak butuh waktu lama akhirnya Bintang bisa tertidur. Namun sekarang Mentari lah yang tidak bisa terlelap. Dia masih penasaran ada apa dan siapa Arka yang disebut Katrina tadi.


Di dalam kamar sebelah Katrina terlihat mondar-mandir. Pikirannya masih belum tenang. Ia lalu bergegas mengecek Mentari dan Bintang di kamar yang satunya.


Dengan hati-hati Katrina memutar handle pintu. Ternyata keduanya lupa mengunci pintu kamarnya.


Melihat keduanya yang tertidur pulas bahkan Bintang terdengar mendengkur Katrina mengelus dadanya.


"Aman ternyata mereka sudah tertidur. Mungkin benar lukisan tadi hanya cicak yang menjatuhkan."


"Benar-benar aneh," batin Mentari.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2