
Di tempat lain ustadz Alzam termenung menunggu informasi dari Sarah yang menurutnya begitu lama sekali.
"Kemana Sarah nih kok nggak ada kabar?" Ustadz Alzam mengetuk-ngetukkan jarinya ke pahanya yang tertutup sarung hingga dia tersadar dari lamunannya kala seseorang menyapa dirinya.
"Pak ustadz, kalau berkenan boleh ya sekalian pak ustadz yang membaca sholawat?" tanya seorang panitia pengadaan acara maulid nabi tersebut. Mereka terpaksa meminta tolong ustadz Alzam sebab yang mendapat tugas untuk memimpin pembacaan sholawat tiba-tiba menelpon dan mengatakan tidak bisa hadir karena harus mengantarkan anaknya opname.
Mereka berani meminta bantuan ustadz Alzam sebab tahu ustadz Alzam adalah ustadz yang ramah dan supel. Pria itu berbaur dengan masyarakat mana saja dan tidak suka dimuliakan.
Ustadz Alzam mengangguk setuju.
Panitia lalu mempersilahkan ustadz Alzam untuk memimpin pembacaan shalawat.
Saat pembacaan shalawat sedang berlangsung terdengar ponsel di saku baju kokonya berbunyi. Namun, ustadz Alzam tidak memperdulikan sebab dia masih fokus membaca shalawat nabi.
Barulah setelah pembacaan shalawat selesai, ustadz Alzam mengecek ponselnya.
"Sarah ada apa dia memanggilku? Apa ingin memberikan kabar tentang istriku?" gumamnya.
Dia langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya. karena tidak enak jika harus menelpon seseorang dalam keadaan seperti ini.
"Ada apa menelponku Sarah?"
Tak ada jawaban dari Sarah.
"Kalau ustadz sudah tidak lelah bisa langsung dimulai tausyiahnya, tapi kalau ustad masih lelah kami akan selingi dengan nyanyian kasidah dulu." Seorang panitia berbisik di telinga ustadz Alzam.
"Boleh dilangsung saja Pak," sahut ustadz Alzam. Entah kenapa perasaannya sedari tidak tenang dan ingin segera pulang. Jika harus diselingi dengan kasidah terlebih dahulu maka dia akan tertahan lebih lama di tempat ini.
Semenjak dirinya yang hampir saja menabrak kucing tadi yang melintas ke tengah jalan, pikiran ustadz Alzam menjadi gelisah dan selalu memikirkan keadaan Mentari.
Panitia itu langsung membisikkan pada MC acara tersebut dan pemandu acara langsung memanggil nama ustadz Alzam dan mempersilahkan untuk memulai ceramahnya.
Sedangkan ustadz Alzam yang dipanggil oleh pemandu acara tersebut tampak pucat setelah membaca chat dari Sarah.
"Kak, katanya Kak Mentari kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit. Sekarang saya sedang menuju ke rumah sakit Harapan Sehat untuk melihat keadaannya."
"Ya Tuhan lindungi istriku." Ustadz Alzam mengusap wajahnya lalu berjalan ke tempat di mana dia harus memulai ceramahnya saat ini. Bagaimanapun dia harus profesional, tidak boleh meninggalkan tempat ini sebelum selesai berceramah.
Meskipun dengan pikiran kacau balau, ustadz Alzam tetap memulai berceramah. Hingga saat pada pembacaan sebuah ayat dia mandeg, sedikit lupa dengan apa yang ingin disampaikannya dan saat sudah mulai ingat ayat yang disampaikannya tidak sesuai dengan tema.
"Astaghfirullahhaladzim," ucap ustadz dalam hati. Dia benar-benar tidak bisa fokus saat ini.
"Minum dulu ustadz!" Seorang panitia yang duduknya tidak jauh dari ustadz Alzam menghampiri meja dan menuangkan air ke dalam gelas.
Ustadz Alzam menghentikan ceramahnya sebentar untuk minum terlebih dahulu. Setelah menarik nafas panjang dan mengucapkan bismillah pria itupun melanjutkan ceramahnya hingga selesai.
__ADS_1
"Alhamdulillah akhirnya kelar juga." Ustadz Alzam lalu berdiri dan berjalan menuju para panitia yang duduk di samping panggung untuk bersalaman.
Beberapa panitia menggiring pria itu pada suatu tempat dimana sudah disediakan jamuan makan malam.
"Makan-makan dulu ustadz."
"Mohon maaf ya Bapak-bapak bukannya saya tidak menghargai Bapak-Bapak dan para ibu yang sudah menyempatkan memasak masakan ini, tetapi saya harus segera pergi karena istriku masuk rumah sakit. Mohon maaf ya, saya benar-benar mohon maaf, ini diluar dugaannya saya."
Sebenarnya ustadz Alzam merasa tidak enak jika harus menolak jamuan makan itu sebab ini sudah menjadi kebiasaan apabila dia mengisi ceramah di masjid-masjid yang ada di desa. Namun, apalah daya saat ini dia sangat mengkhawatirkan Mentari yang katanya masuk rumah sakit dan belum ada kepastian dari Sarah tentang keadaan istrinya sampai sekarang.
"Istri ustadz masuk rumah sakit? Sakit apa?" Panitia terlihat kaget.
"Tadi kata adik saya kecelakaan tapi belum jelas juga keadaannya, dari tadi chat saya tidak dibalas."
"Pantas saja wajah ustadz terlihat begitu pucat sedari tadi, juga sampai beberapa kali salah fokus saat pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an nya. Kami pikir ustadz Alzam tadi hanya butuh Aqua saja ternyata ada kabar buruk ya dari istrinya."
"Iya Pak minta doanya ya supaya istri saya baik-baik saja. Sampaikan juga permintaan maafku kepada semua jamaah yang hadir di sini karena tadi ceramah sempat tersendat dan ada beberapa ayat yang ketukar sebelum akhirnya saya betulkan. Mohon maaf kali ini saya benar-benar tidak bisa fokus."
"Iya ustadz tidak apa-apa nanti saya sampaikan kepada para jamaah."
Terima kasih, kalau begitu saya pamit ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ustadz Alzam pun keluar dari area tersebut melewati beberapa jamaah yang berdiri membentuk barisan untuk menunggu bersalaman dengannya. Beberapa panitia pun menggiring ustadz Alzam sampai ke mobil.
"Ustadz tunggu dulu!"
Ustadz Alzam mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil dan menoleh ke arah datangnya suara.
"Ada apa Pak?"
"Sebentar!" Pria yang memanggil dirinya menoleh ke arah lain dan melambaikan tangan ke arah seorang perempuan yang sedang berjalan sambil membawa sesuatu di atas kepalanya dan juga di tangannya ada keranjang buah, seolah memberikan kode supaya perempuan itu mempercepat langkahnya.
Ustadz Alzam mengernyit, tidak paham apa yang akan dilakukan pria yang memanggilnya tadi.
"Ustadz ini sekedar makanan sama buah-buahan. Tolong diterima ya! Ustadz bisa membawa langsung ke rumah sakit untuk dikonsumsi keluarga yang menjaga istri ustadz ataupun ustadz dan istri apabila memungkinkan." Pria itu menyodorkan bak besar berisi makanan dan buah-buahan yang diterima dari perempuan.
"Kok jadi merepotkan begini?" Ustadz Alzam merasa tidak enak sebab karena dirinya yang tidak makan tadi malah dibawakan makanan sebanyak itu.
"Tidak repot kok ustadz karena memang sudah ada. Mohon jangan ditolak ya?"
"Baiklah kalau begitu saya terima dan terima kasih banyak." Ustadz Alzam meraih bak besar dan keranjang buah dari tangan pria itu karena takut tersinggung kalau tidak diterima lalu memasukkan barang itu ke dalam mobil.
"Sama-sama ustadz."
__ADS_1
"Saya pamit ya Pak, maaf saya terburu-buru." Ustadz Alzam langsung menyalami tangan pria tersebut dan masuk ke dalam mobil.
"Iya tidak apa-apa ustadz, kami semua maklum kok."
Ustadz Alzam mengangguk dan menghidupkan mesin mobilnya. "Mari Pak, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ustadz."
Ustadz Alzam pun melajukan mobilnya di jalanan, langsung menuju ke arah rumah sakit dimana Mentari saat ini dirawat.
Baru lima belas menit berada di jalanan, ponselnya berbunyi. Ketika ustadz Alzam ingin meraihnya, ponsel tersebut ternyata sudah tidak berbunyi lagi sehingga dia mengurungkan untuk mengambil ponsel tersebut karena ingin fokus menyetir agar segera sampai ke rumah sakit.
Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi. Ustadz Alzam merogoh ponsel yang masih berada di saku baju kokonya dan memeriksa.
"Chat dari Sarah?"
Kak Sarah minta maaf ternyata Sarah salah informasi. Kak Mentari tidak kecelakaan melainkan masuk rumah sakit karena hamil dan ternyata kehamilannya lemah. Namun, Kak Alzam jangan khawatir karena ternyata Kak Mentari tidak apa-apa, dia baik-baik saja saat ini.
Adikmu tercinta, Sarah🙏❤️❤️❤️
Ustadz Alzam menggeleng membaca chat dari adiknya itu. Dalam hati rasanya dia ingin segera bertemu dengan adiknya itu dan langsung menyemburnya.
"Sarah-Sarah, kau tidak tahu saja, hariku jadi kacau hanya gara-gara informasimu yang ngawur," kesal ustadz Alzam.
"Eh tapi, benarkah istriku sedang hamil sekarang?" Raut wajah yang kesal tiba-tiba berubah menjadi ceria tatkala mengingat informasi dari terakhir dari Sarah yang mengatakan Mentari sedangkan mengandung anaknya sekarang.
"Awas kalau informasimu salah lagi Sarah. Akan kuhukum kau karena telah mempermainkan kakakmu sendiri."
Saat fokus kembali menatap jalanan, ustadz Alzam melihat ada toko bunga di samping jalan raya. Segera ia menepikan mobilnya dan masuk ke dalam toko tersebut.
"Assalamualaikum Mbak!"
"Walaikumsalam." Wanita yang sedang mengemas bunga-bunga itu menoleh.
"Eh Ustadz Alzam, ada yang bisa saya bantu Ustad?" tanya seorang penjaga toko.
"Saya mau pesan buket bunga mawar yang merah muda, ada tidak?"
"Oh ada sebentar saya rangkaikan dulu. Bunga hidup atau yang dari plastik Ustadz?"
"Yang hidup aja deh biar wanginya alami."
"Baik ustadz, ditunggu dulu ya."
Ustadz Alzam mengangguk. Setelah mendapatkan bunga dan membayar pria itu langsung kembali ke mobil dan mengendarai mobilnya kembali, melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung.