
Jam setengah tujuh malam ustadz Alzam dan Mentari sudah kembali lagi ke gedung acara pernikahan mereka. Sebelum duduk di pelaminan mereka dirias lagi sebelum akhirnya duduk di pelaminan kembali.
Di luar para undangan sudah heboh sedari tadi sebab MC sudah membuka acara. bahkan pembukaan acara di awali dengan nyanyian dari band Wali. Semua orang riuh bertepuk tangan di luar sana.
"Kayaknya para tamu undangan nggak bakal fokus sama kita deh Abi karena sepertinya mereka akan lebih memperhatikan penyanyi favorit mereka," ujar Mentari di tengah-tengah dirinya sedang dirias.
"Tidak masalah agar kita tidak jadi pusat perhatian," jawab ustadz Alzam.
Mentari mengangguk.
"Jangan gerak-gerak Mbak, nanti lama selesainya." Mentari santai saja, tetapi tukang riasnya yang ngebet ingin cepat selesai. Bagaimana tidak, dirinya sudah diwanti-wanti oleh Gala agar menyelesaikan tugasnya lebih cepat karena waktunya yang sudah mepet. Gala mengancamnya jika tidak cepat tepat waktu sisa bayaran mereka tidak akan diberikan.
"Baik Mbak," ucap Mentari dan kini dirinya anteng sudah tidak bergerak-gerak ataupun bicara lagi. Di meja yang lainnya ustadz Alzam juga tampak dirias, tentunya yang merias ustadz Alzam adalah seorang lelaki yang gemulai seperti perempuan.
Tak memakan waktu lama akhirnya mereka selesai dirias dan dituntun menuju pelaminan. MC menyambut kedatangan kedua mempelai ke tengah-tengah para hadirin. Setelahnya mempersilahkan lagi seorang penyanyi band ternama tanah air dimana personilnya sudah siap di atas panggung.
Setelah memberikan ucapan selamat atas pernikahan dan menyampaikan do'a untuk kedua mempelai band tersebut langsung mempersembahkan lagu romantis untuk keduanya.
Lagu berjudul Saat Bahagia dipersembahkan untuk kedua mempelai oleh Ungu band. Para tamu undangan menyambut dengan sorak sorai. Menghadiri pesta undangan seperti menonton konser, siapa yang tidak mau?
Tepuk tangan dari para undangan semakin malam semakin riuh sebab Tama tidak hanya mengundang satu dua band saja tetapi ima band ternama tanah air sekaligus.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Baju kedua mempelai sudah berganti tiga kali dan kali ini para tamu masih antusias menyaksikan pertunjukan musik di tempat itu sedangkan Mentari sudah menguap beberapa kali sedari tadi.
"Abi aku capek," rengek Mentari. Matanya sudah benar-benar tinggal beberapa watt saja untuk melek. Pasti enak kalau menutup mata dan tidur dengan tenang, begitu pikir Mentari saat ini.
Ustadz Alzam berdiri dan membisikkan sesuatu di telinga seorang panitia. Pria itu berjalan cepat ke arah Gala dan Tama dan memberitahukan bahwa Mentari sudah tidak tahan berlama-lama lagi duduk di atas pelaminan.
Tama mengangguk lalu berjalan menuju pelaminan, menjemput Mentari dan ustadz Alzam agar beristirahat saja.
"Ayo Nak papa antar ke kamar hotelnya!"
Mentari dan ustadz Alzam mengangguk dan langsung membawa mereka keluar dari gedung untuk diantarkan ke hotel.
"Wah kedua mempelainya ternyata sudah tidak tahan, kita do'akan saja ya mereka diberikan anak yang sholeh sholehah. Amin. Bagaimana masih mau dilanjutkan?" tanya MC tersebut terhadap para tamu.
"Lanjut."
"Lanjut."
__ADS_1
"Lanjut."
Para tamu undangan masih antusias walaupun waktu sudah merangkak menuju tengah malam. Mentari yang kini sampai di depan pintu hanya menggeleng sambil berpikir apakah mereka semua tidak mengantuk.
Hai Me!" Dari sebuah kursi seorang wanita tampak menyapa. Mentari tampak membelalak melihat siapa yang memanggil dirinya.
"Alya kapan kamu sampainya? Kenapa tidak menemui aku di depan sana?"
"Sudah tadi sih, cuma aku merasa nggak enak kalau maju ke depan terlalu ramai soalnya. Sorry ya Me. Sorry juga nggak bisa nemenin pas kamu akad."
"Ah kamu sih Al, tapi nggak apa-apa sih. Kita foto-foto dulu sebentar yuk!"
Alya mengangguk. Mentari mencari tempat yang bagus untuk mereka foto-foto selain pelaminan sebab Mentari malas jika harus kembali ke tempat itu, kejauhan.
"Di sana itu bagus Ca," ucap Gala menunjukkan bagian gedung yang bagus dijadikan spot untuk berfoto-foto.
"Kok aku risih ya Mas dipanggil dengan Ca begitu," ucap Mentari terkekeh, lucu mendengar panggilan nama aslinya.
"Masa masih mau dipanggil Mentari sih?" protes Gala.
"Terserah sih mau panggil apa cuma Meme nggak biasa aja. Benar juga apa yang dikatakan Mas Gala. Kita ke sana yuk Al, Abi!"
"Ayo katanya mau istirahat," ajak Gala.
"Tapi Alya ...." Mentari mulai ragu meninggalkan pesta.
"Tidak apa-apa Me, kamu balik saja ke kamar biar saya sama bibi Warni dan Pandu saja."
"Baiklah."
"Mas Gala titip dia ya, jangan sampai hilang."
"Iya, jawab Gala singkat."
"Emang aku anak kecil apa Me. Ya sudah pergi sana!"
"Ya sudah ya Al, aku pamit."
Alya mengangguk, Mentari, ustadz Alzam dan Tama segera meninggalkan gedung dan menuju hotel yang sudah mereka request.
__ADS_1
Sampai di depan kamar Tama pamit dan meninggalkan keduanya untuk beristirahat malam itu dan kembali ke gedung pernikahan lagi.
Pagi hari kabar pernikahan Mentari dan ustadz Alzam langsung menjadi trending topik apalagi setelah tahu Mentari adalah putra dari pemilik perusahaan Pradiatama, juga pernikahan mereka mengundang para band ternama tanah air. Setelah sebelumnya video konfirmasi dari Bintang sempat juga menjadi pembicaraan orang-orang.
"Waw bagaimana kalau Katrina tahu bahwa Mentari sebenarnya adalah adik dari Gala." Arka manggut-manggut di depan televisi.
"Untung saja si Mentari itu sudah cerai dari Bintang kalau tidak saingannya berat," gumam Arka lagi.
Pria itu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Katrina. Namun, nihil ponsel Katrina tidak bisa dihubungi.
"Ah, sudahlah biar dia tahu sendiri saja." Arka mematikan televisi dan bersiap-siap untuk beraktivitas pagi.
Sementara di dalam negeri, Mentari dan keluarga berbahagia jauh di negara sana Bintang dan keluar berkabung dan siap-siap untuk melakukan penerbangan setelah semua dokumen pemulasaraan jenazah baby Aldan siap. Di pemakaman keluarga ternyata Tuan Winata sudah menyuruh orang untuk menggali makam buat cucunya.
Pagi-pagi sekali Tama dan Mentari serta ustadz Alzam yang datang untuk berziarah kaget melihat orang-orang menggali kuburan.
"Siapa yang meninggal?" Tama heran dan langsung berjalan menuju orang-orang. Kalau di pemakaman keluarga ada yang menggali kubur berarti ada salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia.
Mentari dan ustadz Alzam pun mengikuti Tama dari belakang.
"Siapa yang meninggalkan Pak?" tanya Tama tanpa berbasa-basi.
"Cucunya Tuan Winata Tuan."
"Cucu?"
"Iya, Aldan meninggal dunia di rumah sakit Singapura, katanya sebentar lagi pesawatnya akan segera sampai."
Mentari menganga mendengar berita sedih itu.
"Kasihan kamu Aldan. Mas Bintang juga bakal sedih melihat putranya pergi untuk selama-lamanya.
"Dia bukan putra Bintang Ca." Tiba-tiba suara Gala mengangetkan semua orang.
"Apa maksudmu Gala?" Tama tidak mengetahui mengapa putranya menyimpulkannya macam-macam.
"Dia putra orang lain Pa, Bintang selama ini dibohongi," ucap Gala enteng.
Bersambung.
__ADS_1