
"Wah akhirnya kakakku menemukan belahan jiwanya," ucap Bintang menggoda Gala sambil tersenyum senang.
"Terimakasih Bin," ujar Gala.
"Wah selamat ya Nak!" Tuan Winata menepuk pundak Gala.
"Terima kasih Paman, semua ini atas doa paman juga."
"Hah, mengapa baru kali ini sih kalian bersatu?" sesal Mentari padahal sedari dulu dirinya dan ustadz Alzam selalu menganjurkan keduanya agar menikah saja.
"Kenapa memangnya Ca kalau sekarang?" tanya Gala tidak mengerti.
"Tidak ada Abi, seharusnya dia juga bisa merasakan kebahagiaan ini." Mentari mengusap air mata yang tiba-tiba mengenang di bola matanya.
"Mungkin dulu masih belum waktunya kami berjodoh Ca, rencana Tuhan siapa yang tahu."
"Iya Mas."
"Sudahlah Nak, jangan terlalu memikirkan putraku yang sudah tiada. Lihat tubuhmu semakin kurus begini. Seharusnya kau menambah porsi makan kamu bukan malah sering tidak makan seperti beberapa hari ini." Mertua perempuannya itu mengusap-usap bahu Mentari.
"Iya Bu, Mentari sudah berusaha tapi tetap saja masih kepikiran Abi."
"Iya ibu mengerti, tapi ingatlah Izzam, dia butuh ASI-mu. Apa kau akan bergantung pada susu formula jika ASI-mu tidak keluar?"
"Tidak Bu, insyaallah Mentari masih bisa mencukupi kebiasaan akan Asi dari Izzam."
"Paman-paman dan ibu-ibu semua kami pamit pulang ya!" ucap Bintang pada semua orang yang berkumpul di sana.
"Iya Nak Bintang."
"Me, Sarah. Kami pergi ya!"
"Iya Bin."
"Ayo Ma, Pa."
Tuan Winata dan Arumi bangkit dari duduknya dan menyalami semua orang yang duduk di tempat itu.
"Pandu, mau ikut?"
"Nggak Mas Bin," tolak Pandu.
"Ya sudah kalau begitu saya pergi semuanya. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Bintang dan keluarga pun meninggalkan kediaman ibu dari Sarah.
"Bagaimana tadi Izzam?" tanya Warni.
"Langsung diam Bu saat digendong Mas Bintang. Aku jadi bingung ke depannya akan bersikap seperti apa pada putraku. Tidak mungkin kan aku selalu meminta Mas Bintang tiap malam datang ke rumah ini? Apa kata orang-orang?" Mentari mendesah pelan.
"Nggak usah pedulikan orang-orang lah Ca, orang kamu nggak berbuat macam-macam," ujar Gala.
"Ya tetap aja nggak enak Mas, suami baru meninggal malah masukin lelaki ke dalam rumah. Mantan lagi." Mentari. menghembuskan nafas kasar.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Nak kalau itu memang kebutuhan cucuku, kan ada ibu di rumah jadi kamu tidak sendirian. Sarah juga akan tinggal disini, kan Sarah?"
"Iya Bu."
"Kalau menurut ayah sih lebih baik kamu kembali saja ke Nak Bintang setelah masa iddahmu selesai," saran Pak Burhan.
"Ibu juga setuju Nak, cucu ibu butuh sosok ayah dan sepertinya dia memilih Nak Bintang," imbuh mertua perempuannya.
Mentari menggeleng.
"Tidak bisa Yah, Bu. Di sini masih ada nama Abi." Mentari menunjuk dadanya sendiri. Dia merasa kecewa dan sakit hati mendengarkan keputusan kedua orang tua ustadz Alzam.
"Mentari memang seorang perempuan, tetapi insyaallah bisa menjadi ayah sekaligus
ibu untuk putraku." Setelah mengatakan hal itu Mentari bangkit berdiri dan melangkah pergi ke arah kamar.
"Nak bukan maksudku menyuruhmu untuk–"
"Sudahlah Pak Burhan, anak saya sedang sensitif saat ini. Jadi topik pembicaraan yang sedikit rentan lebih baik jangan dibicarakan sekarang," tegur Tama.
"Maaf aku melupakan bahwa Cahaya masih dalam keadaan berkabung, tapi sebenarnya maksudku baik, aku tidak ingin dia merawat cucuku tanpa didampingi suami, apalagi sepertinya Izzam sangat dekat dengan Bintang."
"Iya saya mengerti Pak Burhan, biarkan saja putriku menikmati kesendiriannya dulu."
"Maafkan aku."
Tama mengangguk.
"Sebelum kita sama-sama kembali ke rumah masing-masing apakah tidak sebaiknya kita berdiskusi tentang hari dan tanggal pernikahan Gala dan Nak Sarah?" usul Tama
"Gala, kamu ada jadwal kunjungan ke luar kota ataupun ke luar negeri tidak? Kalau ada tanggal berapa biar kita silang?" tanya Tama.
"Nggak ada Pa," jawab Gala langsung.
"Yaelah nggak ada, minggu depan ada jadwal ketemu klien di Bali," sanggah Kiki.
"Apa gunanya kamu Ki? Nggak bisa mengatasi hal sepele seperti itu?"
Kiki menelan ludah mendengar perkataan Gala.
"Nanti aku gaji 2 kali lipat."
"Wau gajinya sih enak, tapi masa iya bos ngadain pesta aku tidak bisa menikmatinya?"
"Iya juga ya Ki."
"Ya sudah katakan tanggal berapa saja ada kunjungan keluar Ki!" perintah Tama.
Kiki pun membeberkan semua keterangan yang diminta Tama.
Sementara yang lain di luar sedang berembug, di dalam kamar Mentari menangis.
"Abi mereka tega sekali mau menjodohkan aku sama Mas Bintang." Mentari menelungkupkan wajahnya di atas bantal sambil menangis.
"Mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan. Rasanya aku tidak bisa hidup tanpa Abi. Pijakanku terasa lemah saat menyadari kita tidak lagi berpijak pada bumi yang sama. Abi, kisah kita hanya tinggal kenangan saja. Kenangan indah yang masih terukir di dalam relung hati ini. Abi, aku kangen." Mentari pun tertidur dalam tangisnya.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
"Abi jangan tinggalkan aku lagi!" seru Mentari dalam tidurnya.
"Oaaa, Oaaa ..."
"Astaghfirullah." Mentari langsung kaget dan duduk.
"Ya Allah ternyata aku ketiduran dan yang tadi itu hanyalah mimpi," gumam Mentari sambil meraih baby Izzam untuk digendong.
"Please ya Sayang jangan minta ditidurkan oleh Om Bintang lagi. Dia sudah pulang Sayang." Mentari langsung menyusui putra kecilnya dan dia bisa bernafas lega saat putranya langsung diam.
"Kau tahu nggak sayang, tadi Abi datang melihat kita berdua. Walaupun cuma dalam mimpi, tetapi ummi puas bisa memeluk dan diciumnya lagi kayak dulu. Abi juga sayang Izzam tadi dia juga menggendong dan mencium Izzam." Mentari menyentuh hidung putranya dengan jari telunjuk dan balita itu malah tersenyum manis.
"Ya Tuhan andai aku tahu yang tadi hanyalah mimpi, ingin rasanya aku tidak bangun dari tidurku.
***
Hari yang ditentukan pun tiba. Di kediaman Tama diadakan pesta pernikahan besar-besaran. Hari ini Gala dan Sarah akan menikah.
"Ya ampun Sarah kenapa tubuhmu malah bergetar seperti itu sih?" protes Mentari.
"Nggak tahu Kak, aku grogi banget hari ini," ujar Sarah sambil mengambil kedua tangan Mentari lalu menggenggamnya.
Mentari menggelengkan kepala.
"Kamu nih, mau nikah aja sampai begini bagaimana kalau sampai nanti Mas Gala menyentuhmu? Tanganmu dingin sekali Sarah, astaga."
"Nggak tahu Kak."
"Coba tarik nafas dan hembuskan!"
Sarah mengangguk lalu melakukan seperti yang diperintahkan oleh Mentari.
"Bagaimana sudah enakan?"
"Lumayan Kak."
"Sudah ya aku malu lihat Mas Gala dulu!"
Sarah mengangguk.
Mentari pun melepaskan genggaman tangan Sarah dan berjalan keluar kamar ingin menemui Gala di ruangan lain.
"Kak!" panggil Sarah saat punggung Mentari hampir menghilang di balik pintu.
Mentari menghentikan langkah dan berbalik. "Ada apa Sarah?"
"Nanti kalau saya sudah menikah dengan Pak Gala, Sarah harus panggil apa sama kakak?"
"Maksudnya?" Mentari tidak paham dengan pertanyaan Sarah.
"Mau manggil Kakak atau adik?" tanya Sarah malu-malu. Mentari malah tertawa melihat perubahan sikap Sarah.
"Terserah mau manggil apa yang penting sama Mas Gala jangan panggil Pak, nanti dikira ayah sama anak lagi."
__ADS_1
Sarah hanya mencebik mendengar perkataan Mentari.