HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW 174. Tak Akan Berjodoh


__ADS_3

"Alhamdulillah akhirnya sekarang Ummi sudah bisa pulang." Ustadz Alzam membantu sang istri untuk duduk sementara Sarah dan sang ibu tampak beberes apa-apa yang ingin dibawa pulang ke rumah.


Mereka tidak berpikir bahwa Mentari akan secepat ini pulangnya sehingga Sarah dan sang ibu membawa barang-barang yang sekiranya diperlukan Mentari dan diri mereka sendiri agar tidak pulang pergi dari bisa tenang menjaga Mentari.


Gala dan Tama sudah tadi malam pulang dan belum menjenguk lagi. Mereka berdua berencana untuk menjenguk adik dan putrinya nanti sore saja setelah Gala pulang dari kantor.


"Kamu makan dulu ya sebelum pulang, nanti langsung minum obat. Harus ditahan ya meskipun obatnya bau demi anak kita," bujuk ustadz Alzam agar Mentari mau meminum obatnya siang ini. Kebetulan juga pihak rumah sakit baru saja mengantarkan makan siang untuk pasiennya.


Mentari mengangguk dan menurut saja saat ustadz Alzam memaksa dirinya agar mau disuapi makan.


"Ayo makan!" seru ustadz Alzam yang melihat Mentari bukannya mengunyah makanan malah senyum-senyum sendiri sambil memandangi wajah suaminya itu.


"Kamu kenapa sih senyum-senyum terus sedari tadi? Apa orang hamil memang aneh seperti dirimu ya," kelakar ustadz Alzam.


"Syukuri saja Nak, biasanya orang hamil itu sensitif dan mudah menangis. Kalau istrimu tersenyum berarti kan bagus. Suasana hatinya berarti tenang dan bahagia."


"Ibu benar sekarang saya bahagia melihat suamiku yang tiba-tiba romantis." Mentari terkekeh sehabis menggoda sang suami.


Ustadz Alzam mengernyit kemudian tersenyum. "Ya aku memang bukan pria yang romantis, tapi aku pastikan aku adalah lelaki yang setia."


"Asyik," sambung Sarah sambil tangannya mengotak-atik sesuatu di bawah sana.


"Sarah!" Ingin rasanya ustadz Alzam ingin menimpuk kepala adiknya itu karena sering merusak momen berduanya bersama sang istri.


"Nikah sana daripada suka gangguin orang!"


Mentari malah tertawa mendengar suaminya menyuruh Sarah untuk menikah seperti menyuruh membeli pakaian saja.


"Nikahnya sih nggak masalah, tapi yang jadi masalah pasangannya mana? Apa aku harus menikah dengan kambing?" protes Sarah.


"Kalau belum dapat yang pas nanti kakak bakal jodohin kamu sama teman kakak di madrasah."


"Ogah Sarah tidak mau. Teman kakak nggak ada yang tampan," ujar Sarah.


"Nggak usah cari yang tampan rupanya yang penting hatinya baik dan bertanggung jawab, Sarah," nasehat ustadz Alzam.


"Alah Kak Alzam sendiri malah cari yang cantik kayak Kak Mentari. Para ustadzah yang mau dijodohkan dengan kakak nggak ada satupun yang cocok padahal mereka semua takwa-takwa. Terus cari apa kalau tidak cari yang cantik?"


"Cari yang aku cintai Sarah."


"Ya udah Sarah juga."


"Kalau ada suruh langsung menemui ibu dan kakak!"

__ADS_1


Sarah menggeleng.


"Kenapa?" tanya ustadz Alzam pada Sarah. "Kalau kamu sudah bicara cinta seharusnya sudah ada dong incaranmu."


"Ada, tapi sayang bulan depan dia akan menikah dengan orang lain. Apa aku harus meniru jejak Kak Alzam ya?"


"Maksudnya?" Ustadz Alzam begitu serius menanggapi perkataan Sarah padahal gadis itu sama sekali tidak serius.


"Kalau Kak Alzam bilang gini sama kak Mentari 'kutunggu jandamu' maka Sarah juga punya semboyan 'kutunggu dudamu'. Setelah mengatakan hal itu Sarah tertawa renyah.


"Wah-wah-wah ternyata ada yang mau mengejar duda ini. Apa nggak laku ya dengan pria bujang?" Gala datang sambil bertepuk tangan.


"Ckk, perasaan kemana-mana selalu ada dia deh kayak hantu saja yang selalu gentayangan kemanapun?" Sarah seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri sebab suaranya yang tidak begitu jelas. Namun, bukan berarti Gala tidak mendengarnya.


"Iya hantu tampan," Seloroh Gala.


"Cih tampan dari mananya? Narsis amat dia membuat aku kepengen muntah saja," kesal Sarah.


"Muntah sana!" tantang Gala.


"Mas aku lagi makan," protes Mentari.


"Hehe sorry Ca, habisnya adik iparmu ini mengesalkan," ujar Gala.


"Abi bagaimana kalau mereka kita jodohkan," ide Mentari.


"Boleh saja," sahut ustadz Alzam. "Biar Papa nggak sepi lagi kalau kamu tinggal bersamaku."


"Ogah," jawab mereka berdua serempak.


"Jangan Ummi mereka nggak mau. Kalau dipaksa bersatu aku malah takut bukannya bisa membuat papa senang karena keadaan rumahnya ramai tapi malah membuat papa jantungan karena mereka yang suka berselisih tidak tahu tempat. Lagipula Abi kasihan sama Sarah dia kan pernah berjanji kalau sampai dirinya bisa bersatu akan push up di hadapanku sebanyak 100. Kasihan takut encok dia," sindir ustadz Alzam.


"Dia cuma seratus aku berani seribu kali," sambung Gala.


"Awas ya kalian, kalau berjodoh bakal nyesel sebab sampai berjanji seperti itu. Jodoh itu sudah ditentukan oleh Tuhan tahu. Semuanya sudah tercatat di Lauhul mahfudz."


"Ya-ya kamu benar Ummi. Kalau sudah berjodoh sekeras apapun kita menolak, ujung-ujungnya akan bersama juga. Begitupun sebaliknya, meskipun penuh perjuangan kalau sudah tidak berjodoh ya akhir kisah akan bercerai juga."


"Tenang aku sebelum lahir ke dunia sudah mengintip di Lauhul mahfudz itu dan jodohku tidak ada yang namanya Sarah," ucap Gala dengan begitu yakin.


"Sama. Aku pun pernah mengintip dan ternyata tidak menemukan tulisan Gala. Dalam mimpi, hahaha." Sarah tertawa renyah.


"Sarah kalau ketawa jangan lebar-lebar," protes ustadz Alzam.

__ADS_1


"Iya Kak." Langsung diam.


"Sama-sama pemimpi ya kalian berdua. Awas! Takutnya pas bangun dari mimpi kalian sudah ada di bawah ranjang, kan menyakitkan jatuh dari atas ranjang," ujar Mentari.


"Biarkan saja Ummi mereka dengan fantasinya mereka sendiri. Kamu makan aja lagi."


Mentari mengangguk, ustadz Alzam menyuapi kembali.


Hening tak ada suara di dalam ruangan. Semua orang nampak diam dan larut dengan pikiran masing-masing.


"Apa kabar?" Tiba-tiba Katrina muncul dari balik pintu yang memang tidak Gala tutup tadi saat masuk.


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja," jawab ustadz Alzam disertai anggukan dari sang ibu yang dari tadi hanya memilih diam saja dibandingkan nimbrung dengan pembicaraan para anak muda.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Gala langsung mengintrogasi Katrina.


"Tenang Pak Gala yang terhormat, kedatangan saya kemari tidak ingin mengganggu kebahagiaan kalian."


"Terus tujuannya apa?"


"Saya hanya ingin menanyakan keberadaan Bintang."


Gala malah tertawa mendengar kalimat terakhir dari Katrina.


"Kau salah tempat Kate. Tanyakan saja sana pada Paman Tama sama bibi Arumi."


Mendengar nama Bintang disebutkan, Mentari berhenti makan.


"Kenapa berhenti Ummi, ayo makan lagi!" Mentari menggeleng, selera makannya hilang sudah.


"Dia tidak ada di sana dan saya yakin Mentari yang tahu dia ada dimana." Katrina begitu yakin.


"A-ku? Aku tidak tahu Mas Bintang ada dimana."


"Tapi dia kemarin bersamamu, bukan?"


"Kate sudahlah aku tidak tahu," bantah Mentari. Wanita itu mulai gemetaran lagi mengingat perlakuan Bintang kemarin sore. Air matanya menetes kembali.


"Ummi ada apa ini?" tanya ustadz Alzam melihat perubahan raut wajah dari Mentari yang tiba-tiba saja langsung murung.


"Abi maafkan aku." Mentari langsung mendekap tubuh ustadz Alzam.


"Hei ada apa sebenarnya?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2