HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 135. Makan Bersama


__ADS_3

Mereka akhirnya mandi secara terpisah dan ustadz Alzam yang selesai lebih duluan.


Ustadz Alzam menggeleng saat sampai di dalam kamar, ternyata Mentari belum menyelesaikan mandinya malah bernyanyi di dalam kamar mandi tersebut.


"Ummi jangan bernyanyi di dalam kamar mandi," seru ustadz Alzam di depan pintu kamar mandi dan Mentari langsung berhenti menyanyi.


"Dipercepat ya Ummi, sebab waktu shalat sudah mepet tinggal dua puluh menit lagi," ustadz Alzam mengingatkan.


"Iya Abi!" teriak Mentari dari dalam.


Ustadz Alzam memasang sarung dan kopiah lalu menghampar karpet dan sajadah di samping tempat tidur. Dia juga meletakkan mukena di atas sajadah yang ada di belakangnya. Lalu dia duduk bersila sambil menunggu Mentari dengan resah karena sebentar lagi sudah akan masuk waktu ashar.


Beberapa saat kemudian Mentari keluar dari kamar mandi. Wanita itu berjalan ke arah ranjang dengan bingung sebab sekarang dirinya hanya memakai jubah mandi saja.


"Abi shalat saja duluan biar tidak ketinggalan waktu shalat." Mentari menggaruk kepalanya bingung. Haruskah dia shalat dengan memakai jubah mandi? Tidak masalah sih sebenarnya, tetapi entah kenapa Mentari was-was.


Ustadz Alzam menghela nafas lalu bangkit dari berdirinya dan berjalan menuju lemari. Dia mengeluarkan sepotong pakaian dari dalam lemari itu dan memberikan pada Mentari.


"Ini pakailah!"


Mentari lekas-lekas mengganti jubahnya dengan pakaian yang disodorkan ustadz Alzam tadi, dia tidak mau gara-gara dirinya ustadz Alzam harus menanggung dosa.


Setelah selesai memasang pakaian, Mentari langsung berdiri di belakang ustadz Alzam dan langsung memakai mukena yang sudah disiapkan oleh sang suami.


"Sudah siap?" tanya ustadz Alzam memastikan saat mukena sudah terpasang sempurna di tubuh Mentari.


"Sudah Abi."


Ustad Alzam mengangguk dan langsung memulai memimpin shalat. Mentari di belakang bermakmum dengan khusuk. Entah kenapa saat ini Mentari merasakan shalatnya berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Dia begitu tenang dalam shalatnya tidak seperti sebelumnya yang sering shalat tapi pikirannya bercabang kemana-mana. Apakah karena lantunan surat Alfatihah dan surat-surat pendek yang dibaca ustadz Alzam sangat menyentuh hatinya? Entahlah Mentari pun tidak paham.


Shalat pun diakhiri dengan salam. Ustadz Alzam memberikan tangannya untuk di salami oleh sang istri. Mentari tersenyum lalu mencium tangan sang suami dengan khidmat.


"Kita dzikir sebentar ya!"


Mentari mengangguk, mereka berdzikir sebentar hingga memasuki waktu shalat ashar. Terdengar suara adzan berkumandang dari Masjid di sekitaran rumah ustadz Alzam.


Keduanya saling pandang dalam tersenyum mengingat wudhu mereka sudah batal akibat tangannya yang bersentuhan tadi. Mereka lalu diam dan menjawab adzan.


Setelah selesai menjawab adzan Mentari langsung berkata, "Sorry Abi aku tidak sengaja tadi seharusnya pakai alas saat bersalaman." Mentari merasa bersalah karena membuat ustadz Alzam harus repot-repot mengambil wudhu' lagi.

__ADS_1


"Kenapa harus minta maaf Ummi? semakin banyak kita mengambil wudhu itu semakin baik. Kalau bisa tiap kali shalat ya mengambil wudhu' sebab memperbaharui wudhu' itu dianjurkan dan bahkan ada yang mengatakan sunnah." Ustadz Alzam menghela nafas saat mengingat dirinya tadi belum sempat mengambil wudhu' saat jima' bersama sang istri padahal itu juga sangat dianjurkan. Lain kali dia tidak akan terburu-buru lagi, begitu niatnya dalam hati. Entahlah niat itu akan bisa terlaksanakan ataukah tidak mungkin tergantung kondisi.


Mentari mengangguk paham.


"Sana wudhu' duluan!" perintah ustadz Alzam dan Mentari pun mengangguk serta melepaskan mukenanya setelah itu langsung bergegas ke kamar mandi.


Setelah Mentari kembali sekarang giliran ustadz Alzam mengambilnya wudhu'. Setelah selesai mereka shalat berjamaah lagi.


Selesai shalat mereka tidak langsung bangkit berdiri tetapi membaca doa-doa sebentar.


"Abi, kenapa abi melarang ummi untuk bernyanyi di dalam kamar mandi?" Mentari merasa selalu perlu menanyakan hal apapun yang membuatnya penasaran.


"Itu karena kamar mandi atau WC itu adalah rumahnya iblis," jelas ustadz Alzam singkat.


Mentari kaget mendengar jawaban ustadz Alzam.


"Abi tidak menakut-nakuti ummi, kan?"


"Tidak, kenapa harus menakut-nakuti istri sendiri?Memang benar kamar mandi itu tempatnya jin sebab dulu iblis pernah protes pada Allah sebab anak adam diberikan tempat tinggal di muka bumi sehingga


iblis meminta tempat tinggal juga. Maka Allah berikan dia tempat tinggal dalam kamar mandi atau WC.


"Wahai Allah, Adam dan keturunannya Engkau beri tempat tinggal di bumi, maka berilah pula aku tempat tinggal,” kata Iblis.


"Satu lagi kalau ada orang yang mengajakmu bicara dalam kamar mandi jangan dijawab cukup bilang 'hem' saja."


Mentari mengernyit, merasa aneh.


"Kenapa harus seperti itu?"


"Sebab jika kamu berkata-kata dalam kamar mandi jin atau iblis akan menoleh padamu dan akan melihat auratmu. Ummi tidak mau kan aurat ummi menjadi bahan pembicaraan diantara mereka?"


"Ih." Mentari bergidik ngeri. "Ya nggaklah Abi."


"Sudah paham, kan? Jangan lupa baca basmalah saat masuk kamar mandi karena itu akan menjadi tabir bagi tubuhmu agar tidak terlihat oleh mereka."


"Baik Abi." Mentari manggut-manggut mendengar setiap kalimat-kalimat dari mulut sang suami.


"Bila dari sisi kesehatan menyanyi di dalam kamar mandi juga tidak baik karena akan mengakibatkan terserang banyak virus. Keadaan kamar mandi yang kotor dan penuh kuman akan semakin cepat merasuk ke dalam tubuh kita apabila sering bernyanyi dan membuka mulut lebih lama di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Banyak virus yang bersarang di sana. Diantaranya virus Gastrointestinal yang dapat menyebabkan sakit perut, Staphylococcus Aurea merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit kulit dan pernapasan, Pathogen enteric menyebabkan diare, dan Jamur Dermatophitic yang biasanya sering menghinggap pada kaki."


Mentari hanya mendengarkan secara seksama seperti murid di sekolahan saja.


"Kak dipanggil ibu katanya kalian harus makan dulu. Ya ampun kedua orang ini tidak lapar apa ya sampai jam 3 pun belum makan siang." Laporan disertai keluhan dari Sarah.


"Baik, katakan sama ibu kami akan segera ke ruang makan."


"Baik Kak." Sarah berlalu pergi.


"Ayo Ummi kita makan dulu!" ajak ustadz Alzam pada Mentari dan wanita itu langsung mengangguk dan membuka mukenanya.


"Ayo Abi."


Ustadz Alzam pun mengangguk dan menggenggam tangan Mentari lalu menggandengnya menuju meja makan.


"Hemm so sweet deh kalian, bikin Sarah pengen cepat-cepat nikah saja," ucap Sarah yang kini sudah lebih duduk di kursi di ruang makan. Ibu yang duduk di sampingnya pun hanya bisa tersenyum dan menggeleng.


"Mari Nak duduk sini!"


"Makasih Bu," ucap Mentari sambil duduk di samping mertuanya.


"Sudah ada calon belum?" tanya ustadz Alzam sambil menarik kursi dan duduk di tengah-tengah antara Mentari dan Sarah sebab kursi di ruang itu ditata melingkar.


"Belum," jawab Sarah sambil menggelengkan.


"Hem, bagaimana kalau kita jodohkan Sarah sama Mas Gala, Ummi?"


"Bolehlah Abi, asal mereka sama-sama mau," jawab Mentari.


"Ogah ah aku tidak mau kalau berjodoh dengan dia. Lihat wajahnya saja Sarah malas," ucap Sarah cemberut.


"Jangan terlalu benci sama lelaki takutnya perasaan itu berubah jadi cinta," protes ustadz Alzam lagi.


"Tidak akan Kakak Alzamku yang baik sedunia. Sarah tidak akan pernah jatuh cinta sama dia sampai kapanpun. Kalau sampai Sarah jatuh cinta sama dia Sarah janji akan push up seratus kali."


Mentari menganga mendengar pernyataan Sarah.


"Sudah-sudah jangan bicara lagi. Lebih baik kita makan saja sekarang."

__ADS_1


"Baik Bu," ucap mereka serentak.


Bersambung.


__ADS_2