HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 88. Masih Pura-Pura


__ADS_3

"Kenapa aku bisa lupa sih?"


"Me tunggu aku!" teriak Bintang sambil melambaikan tangan ke arah Mentari.


Dari arah depan sana Mentari terlihat mengangguk. Bintang berbalik dan langsung menyelesaikan pembayaran pesanan makanannya tadi.


"Maaf Mbak tadi benar-benar lupa," ucap Bintang pada pelayan restoran.


"Tidak apa-apa Mas," jawab pelayan restoran maklum karena dia melihat sendiri Bintang sedang mengejar seseorang. Pelayan itu berpikir bahwa kekasih dari pria di hadapannya kini dalam posisi ngambek sehingga Bintang terburu-buru mengejarnya sampai melupakan bahwa dirinya belum membayar makanan di restoran ini.


"Terima kasih Mbak atas pengertiannya," ucap Bintang dan ketika pelayan itu mengangguk, Bintang melanjutkan langkahnya untuk menyusul Mentari yang sudah berdiri di samping mobil dengan posisi bersandar pada mobil dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kupikir mau kabur lagi," ucap Bintang seraya mendekat ke arah Mentari.


"Kate mana?" tanya Mentari dengan suara datar.


"Belum mau pulang belum selesai makan dianya," jawab Bintang.


"Aneh biasanya dia kan nggak suka kalau kamu lebih dekat denganku?" tanya Mentari tidak mengerti.


"Sudah sadar kali dia kalau aku juga milikmu."


Mentari tidak menjawab, tetapi langsung masuk ke dalam mobil begitupun dengan Bintang yang ikut masuk dan langsung menyetir mobilnya menuju apartemen.


Saat Mentari dan Bintang meninggalkan restoran, Arka membawa makanannya ke meja Katrina.


"Akhirnya pergi juga tuh orang." Arka menghela nafas lega.


"Ngomong-ngomong ini bagaimana cara pakainya?" tanya Katrina pada Arka. "Masa aku harus memberikan obat ini dalam bentuk tablet seperti ini?" Katrina tampak mengeluarkan sebutir obat dari dalam botol.


"Bilang aja ini suplemen rayu dia supaya mau menelannya," ucap Arka santai.


"Itu kalau dia percaya sama aku kenyataannya dia tidak seperti itu," kesal Katrina.


"Itulah kesalahan kamu dari awal. Seharusnya kamu pura-pura baik saja dulu sambil memikirkan cara ampuh untuk menyingkirkannya," protes Arka.


"Sudah telat Arka, sudahlah tidak perlu melihat ke belakang. Sekarang kasih solusi agar obat ini bisa masuk ke perut Mentari tanpa aku harus dicurigai macam-macam."

__ADS_1


Arka terlihat menggeleng.


"Kenapa malah menggeleng seperti itu?" tanya Katrina kesal. Bukannya menjawab Arka malah menggeleng-gelengkan kepalanya, buat Katrina kesal saja.


"Kau pintar, turut membuat sukses perusahaan Gala, tapi untuk hal sekecil ini kamu malah tidak tahu?" tanya Arka sedikit mengejek.


"Ah, sudahlah. Ngomong denganmu sangat menyebalkan!" Katrina bangkit dari duduknya. Namun, tangannya segera ditarik oleh Arka agar duduk kembali.


"Aku kasih tahu caranya," ucap Arka sambil menatap wajah Katrina dan memberi kode agar wanita itu duduk kembali.


"Katakan!" pinta Katrina dan dirinya duduk kembali.


"Kau tumbuk saja obat itu campurkan ke dalam minumannya beres," ucap Arka dengan enteng.


"Boleh juga idemu," sambut Katrina dengan senang. "Tapi ribet," lanjutnya. Katrina sama sekali tidak suka dengan hal ribet semacam itu.


"Kalau nggak mau ribet ya nggak usah kasih dia obat. Pasrah saja kalau dia nanti hamil anak Bintang," ucap Arka masih dengan ekspresi datar.


Katrina tampak berpikir sejenak. "Baiklah demi masa depan anak ini aku akan melakukanya." Katrina mengelus-elus perutnya diikuti Arka setelahnya.


Empat puluh lima menit akhirnya mobil Katrina sudah terparkir di depan gedung apartemen setelah sebelumnya sempat mengantar Arka pulang.


"Hai Bin, Hai Me!" sapa Katrina setelah dirinya kini berjalan di depan Mentari dan Bintang yang kini sedang mengobrol di sofa ruang tamu.


"Sudah pulang Kate?" tanya Bintang dan Katrina hanya mengangguk sambil berlalu ke dalam kamarnya sedangkan Mentari menatap Katrina masih dengan rasa tidak percaya wanita Itu bisa berubah dengan cepat.


Malam terlihat semakin larut. Mentari masuk ke dalam kamar untuk beristirahat diikuti Bintang di belakangnya.


Mentari mencegah Bintang untuk ikut masuk ke dalam. "Sekarang kamu tidur di kamar Katrina saja, aku tidak mau dikatakan mau menguasaimu kecuali kalau kamu mau menceraikannya," ucap Mentari sambil mendorong Bintang untuk keluar.


"Tapi kamu ...."


"Sudahlah aku tidak apa-apa. Aku tidak ingin kamu menambah dosa karena tidak bisa berbuat adil pada kami," jelas Mentari.


Bintang tampak terdiam, sesaat kemudian terlihat mengangguk. "Baiklah kalau itu keputusanmu, mulai sekarang aku akan berusaha bersikap adil kepada kalian berdua," ucap Bintang sambil mengurungkan dirinya yang akan masuk ke kamar Mentari dan kini melangkah ke kamar Katrina.


Mentari mengangguk lalu menutup pintu tanpa menguncinya.

__ADS_1


Dia duduk di tepi ranjang dan langsung menutup muka dengan kedua tangannya sambil menangis. Jujur ketika dirinya menyarankan Bintang untuk bisa berlaku adil sebenarnya dia tidak rela. Namun, apalah daya kalau disuruh menceraikan Katrina pun Bintang tidak mau dengan alasan kasihan dengan bayi yang ada dalam kandungan Katrina nanti, kalau harus hidup dengan orang tua yang terpisah.


"Bintang kenapa kami ke sini?" tanya Katrina melihat Bintang masuk ke kamarnya.


"Iya mulai sekarang aku akan tidur dengan Mentari semalam dan denganmu semalam, biar adil," jelas Bintang.


"Tidak perlu Bin kamu temani Mentari saja kalian kan baru saja bertemu. Aku ngalah saja deh, kalian pasti sama-sama menahan rindu kan setelah beberapa hari berpisah?"


"Beneran Kate seperti itu?" tanya Bintang tidak percaya.


"Iya Bin masa kamu pikir aku bercanda gitu?"


"Tapi tidaklah aku tidur di sini saja toh Mentari tadi yang menyuruh aku tidur di sini. Katanya aku akan berdosa kalau tidak bisa adil."


"Itu kalau aku tidak ikhlas Bin, nyatanya aku tidak apa-apa. Sudahlah kamu tidur saja sama Mentari aku tidak apa-apa kok tidur sendiri."


"Sudahlah Kate aku malas jalan ke sana kemari," ucap Bintang sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


"Bintang kamu tidak takut saat kamu tidur di sini Mentari malah kabur ninggalin kamu?" Katrina menakut-nakuti Bintang.


"Nggak mungkin Kate, dia sudah berjanji tidak akan kabur lagi," sanggah Bintang.


"Dan kau percaya begitu saja? Ya sudah kalau begitu nanti kalau Mentari benar-benar pergi jangan pernah menyalahkan aku karena aku sudah mengingatkan. Lagipula mumpung sekarang Katrina sudah memberi kesempatan lain kali tidak lagi. Kalau waktumu bersamaku jangan coba-coba bersama Mentari." Menasehati sekaligus mengancam.


Bintang tampak terdiam sebentar. "Baiklah aku akan tidur di kamar Mentari sekarang." Bintang bangun dari berbaring dan


akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar Mentari.


Setelah Bintang pergi Katrina menghembuskan nafas lega sambil mengusap dadanya.


"Aku selamat, akhirnya nurut juga tuh orang. Kalau tidak bisa mati aku kalau dia melihat bekas Arka di tubuhku."


"Argh laki-laki itu sudah kubilang jangan meninggalkan jejak masih saja nekat," kesal Katrina saat mengingat kelakuan Arka.


Bersambung.


Mohon maaf ya reader bukan maksud muter-muter atau berbelit-belit, tapi kalau aku singkat takutnya kalian malah protes 'seperti lompat' kayak di bab-bab awal. Semoga bisa memaklumi

__ADS_1


__ADS_2