
"Maafkan, ibu hanya takut akan kehilangan dirimu dan ibu juga takut tidak bisa memberitahukan siapa orang tuamu yang sebenarnya."
Mentari langsung memeluk Warni tanpa kata. Matanya tampak berkaca-kaca, entah itu tandanya dia sedih atau terharu yang jelas dalam hati Mentari, dia bersyukur telah ditemukan oleh orang baik seperti Warni dan ayahnya dulu. Kalau tidak belum tentu Mentari bisa bertemu dengan orang tua aslinya sekarang meski sang mama telah tiada.
"Maafkan ibu ya Nak sudah merahasiakan semuanya sejauh ini," ucap Warni dengan rasa penuh bersalah.
"Ibu tidak salah jadi tidak perlu meminta maaf dan terima kasih telah merawat Mentari seperti anak sendiri," ucap Mentari dengan tulus. Warni semakin mengeratkan pelukannya terhadap Mentari.
"Jadi Kak Mentari sebenarnya bukan kakak Pandu?" Sekian lama Pandu hanya menyaksikan para orang dewasa itu berbicara akhirnya bertanya karena tidak begitu paham tentang pembicaraan mereka.
"Pandu tetap adik kakak kok meski kita tidak terlahir dari rahim yang sama."
Anak kecil itu masih tampak bingung. Mentari menarik tubuh Pandu dalam dekapannya hingga mereka berpelukan bertiga.
"Sudah nangis-nangisnya sekarang bantu ibu dulu yuk buat minuman untuk ustadz Alzam dan adiknya itu." Warni mengelus punggung Mentari dan melepaskan pelukan mereka. Mentari mengangguk dan mengikuti langkah Warni ke dalam dapur.
"Aku ikut Kak!" Sarah bangkit dan ikut menyusul Mentari. Mentari mengangguk dan berkata, "Ayo!"
Semua orang juga bangkit berdiri dan kembali ke ruang tamu.
Setelah membuatkan minuman Mentari hendak menghidangkan minuman tersebut di meja ruang tamu.
"Biar Sarah saja Kak." Sarah menawarkan diri untuk membawakan minuman tersebut.
"Baiklah ini." Mentari menyodorkan nampan berisi minuman kepada Sarah dan Sarah menerimanya.
"Sekalian ambilkan buat Tuan Tama dan Nak Gala Me siapa tahu mereka masih haus," perintah Warni dan Mentari langsung menambah 3 gelas berisi minuman ke dalam nampan tersebut. Barangkali Pandu juga ingin minum.
Sarah langsung bergegas membawa minuman ke ustadz Alzam dan yang lainnya sedangkan Mentari masih berkutat di dapur dengan Warni untuk menyiapkan makan. Bagi Warni mereka semua jauh-jauh datang ke desa masa' tidak dijamu meskipun hanya dengan menu sederhana.
Sarah meletakkan minuman tersebut di meja di depan setiap orang kecuali di depan Gala, Sarah meletakkan dengan nampannya sekalian.
__ADS_1
"Silahkan diminum Tuan Tama, Kak Alzam, Pandu juga," ucap Sarah mempersilahkan semua orang untuk minum. Gala mendelik pada Sarah karena dirinya malah tidak disebut bahkan gelas berisi air minuman untuknya masih berada di atas nampan. Sarah tak kalah, malah ikut mendelik ke arah Gala.
"Sarah, kamu tidak sopan pada tamu," protes ustadz Alzam.
"Turunkan gelas dari nampannya dan pindahkan nampan itu!" perintah ustadz Alzam kemudian, membuat Gala tersenyum menang.
"Biarkan saja deh Kak saya kan juga tamu," jawab Sarah enteng membuat Gala berubah kesal.
"Ini Mas Gala diminum ya." Pandu yang menurunkan gelas itu kemudian menaruh gelas yang sudah kosong di atas nampan dan menyingkirkan nampan tersebut ke samping dirinya.
"Terima kasih Pandu, kamu meskipun masih anak-anak, tetapi lebih pintar dari yang dewasa." Gala melirik Sarah yang sekarang terlihat begitu cuek.
"Bodoh amat dibilang bodoh sekalian. Saya lagi malas melayani dia," batin Sarah.
Tama terlihat mengobrol serius dengan ustadz Alzam sedangkan Gala hanya berdiam diri bertopang dagu tidak tahu harus mengajak ngobrol siapa. Ikut nimbrung pembicaraan keduanya Gala malas sebab masih menganggap ustadz Alzam rivalnya dan sepertinya dia yang kalah.
"Mas Gala punya janji loh sama Pandu," ucap Pandu mengingat akan janji Gala tempo hari.
"Mau, asal ibu mengizinkan."
"Nanti aku yang ngomong sama kakak dan ibumu." Pandu hanya mengangguk mendengar usul Gala.
Beberapa saat kemudian makanan sudah siap. Mentari dan Warni membawa makanan tersebut ke depan orang-orang.
"Kita makan dulu ya pasti semuanya sudah lapar, Mentari saja sudah lapar," ucap Mentari sambil menaruh piring-piring berisi makanan di atas meja.
Tama dan ustad Alzam tampak menggeser-geser piring tersebut sedangkan Sarah bangkit dan membantu Mentari serta Warni membawakan makanan yang belum dibawa dari dapur.
Setelah selesai makan mereka membahas tentang pernikahan Mentari dan ustadz Alzam.
"Saya mau acaranya yang sederhana saja Pa," ucap Mentari menanggapi pernyataan sang papa yang ingin menggelar pesta pernikahan secara besar-besaran.
__ADS_1
"Tapi papa ingin rasanya mengadakan pesta yang besar," ucap Tama penuh harap.
"Nanti saja setelah Pak Gala menikah beliau kan belum menikah sekalipun sedangkan Mentari sudah yang kedua kalinya," tolak Mentari secara halus. Dia tidak mau menggemparkan publik lagi dengan berita pernikahannya dengan ustadz Alzam jika digelar secara besar-besaran.
Tama memandang wajah ustadz Alzam. Pria itu sepertinya menyetujui permintaan Mentari.
"Bagaimana menurutmu Gala?" Kali ini Tama meminta pendapat putranya.
"Terserah mereka," jawab Gala acuh tak acuh.
"Baiklah," ucap Tama pasrah.
***
Beberapa hari kemudian Gala termenung di sebuah rumah sakit saat membaca hasil tes DNA antara Tama dan juga Mentari.
"Berarti benar Mentari itu adikku," ucap Gala dengan mata yang berkaca-kaca. Berarti benar selama ini anggapan Tama bahwa Cahaya sang adik masih hidup.
Sejenak Gala teringat akan Bintang dan Katrina. "Berarti yang selama ini kalian siksa adalah adikku sendiri," geram Gala.
Gala membuka amplop berikutnya. Di dalam amplop ini berisi hasil tes DNA antara Bintang dan juga Aldan. Tidak sia-sia Gala menyuruh anak buahnya untuk mencuri sampel rambut mereka karena belum puas dengan hasil tes DNA tempo hari. Ternyata anak buahnya dapat diandalkan.
"Kira-kira apa hasilnya ya, apakah akan sama dengan hasil tes yang waktu itu?" Hati Gala jedag-jedug ketika membuka lipatan kertas tersebut padahal apapun hasilnya tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan dirinya sendiri.
"Satu, dua, tiga, apa?!" Gala tampak heran dan melotot melihat hasil tes DNA tersebut yang mengatakan Aldan tidak cocok dengan Bintang.
Gala menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dia menarik kesimpulan sendiri. "Berarti tes DNA waktu itu ada yang merekayasa."
"Baiklah akan ku rahasiakan untuk sementara sampai Bintang bisa merasakan siksaan batin seperti Cahaya. Saya yakin anak itu pasti akan terikat dengan ayah biologisnya." Gala tersenyum devil membayangkan suatu saat nanti Bintang akan menyesali semuanya.
Bersambung.
__ADS_1