
"Ini Pak Gala kalau mau lihat bayinya," ujar dokter dan langsung menunjukkan bayi pada Gala kemudian pada Sarah.
"Terima kasih Dok, bayinya ganteng seperti saya," ucap Gala lalu terkekeh.
"Narsis amat sih," ujar Sarah lalu mencebik kemudian ikut tertawa.
Dokter memberikan bayi pada suster agar dibersihkan sedangkan dia sendiri meminta Sarah untuk mengejan yang ke-dua kalinya.
"Bayinya kembar Dok?" tanya Gala antusias.
"Tidak Pak Gala, hanya tinggal plasentanya saja."
"Oh tak kirain."
Dokter menggeleng, Gala menggantikan posisi ibu mertuanya yang duduk di dekat kepala Sarah.
"Maaf ya sayang hanya bisa menemani saat kamu mau melahirkan plasenta," ujar Gala sambil mengelus rambut Sarah. Entah bagaimana ceritanya tadi kerudung itu bisa terlepas, tiba-tiba saja sudah tidak ada di kepala Sarah.
"Apaan sih Mas," protes Sarah.
"Ayo Bu Sarah mengejan-lah sedikit saja!" perintah dokter dan Sarah pun melakukan apa yang diperintahkan.
Tidak lama kemudian plasentanya pun keluar.
"Pak Gala silahkan di adzani putranya, kalau mau ambil wudhu dulu silahkan," ujar suster sambil memegang bayi yang sudah di bedong itu.
"Baik Sus," jawab Gala sambil berjalan cepat ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian keluar dengan wajah yang basah sambil membenahi lengan kemejanya yang digulung.
"Sudah Sus."
Suster mengangguk dan langsung menyodorkan bayi dalam gendongannya pada Gala.
Gala meraih putra kecilnya dan mendekatkan dirinya ke wajah Sarah.
Pria itu menatap Sarah sebelum membacakan adzan dan Sarah langsung mengangguk sambil tersenyum.
Kali ini Gala menatap wajah putranya setelahnya langsung mengadzani.
"Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar."
Sarah mengernyit. Merasa dirinya salah dengar.
"Lailahaillallah Allahu Akbar."
Kali ini bukan hanya Sarah yang bingung, tapi semua orang malah termangu.
"Allahu Akbar walillah ...."
__ADS_1
Belum sempat Gala menyelesaikan kalimatnya semua orang yang ada dalam ruangan itu tertawa bersamaan.
"Loh kok pada ketawa sih?" protes Gala langsung menghentikan seruannya. Dia belum sadar dengan apa yang dibacanya.
"Gimana nggak ketawa, Mas Gala sudah keburu lebaran ya? Sabar Mas lebaran masih beberapa bulan lagi," ujar Sarah lalu terbahak-bahak.
"Sarah!" protes sang ibu melihat Sarah tertawa berlebihan.
"Memang saya mengucapkan apa tadi?" tanya Gala bingung, pria itu langsung menggaruk kepala dengan satu tangannya.
"Mas Gala takbiran tadi," sahut Mentari.
Gala tampak berpikir sejenak. "Oh iya ya, saya baca kalimat takbiran tadi." Pria itu pun ikut terkekeh.
"Maklum ya sayang papi lagi dehidrasi nggak sempat minum tadi langsung tancap gas kemari," ujar Gala sambil mencolek pipi putranya hingga bayi itu terlihat tersenyum.
"Nak Gala jangan ditunda-tunda lagi! Tolong disegerakan adzan nya!" nasehat ibu mertuanya.
"Iya Bu."
Gala pun mengadzani putra kecilnya itu.
Semua orang diam, menghayati kalimat demi kalimat yang dilantunkan oleh Gala. Semua orang terenyuh dan mengucap hamdalah dalam hati atas kebahagiaan yang telah didapatkan Sarah dan Gala saat ini.
Sementara Mentari terisak mendengar Gala adzan. Dia mengingat saat kelahiran Izzam dimana sang suami langsung cekatan mengadzani putranya.
"Kamu kenapa Ca?" tanya Gala saat sesudah menyelesaikan adzannya. Pria itu memberikan kembali putranya pada suster. Suster pun langsung menaruh bayi kecil itu di dada Sarah untuk mendapatkan ASI pertamanya.
"Haaah!" Gala menghembuskan nafas kasar.
"Lupakanlah Ca jika sekiranya itu membuat dadamu sesak." Gala tahu apa yang dipikirkan Mentari saat ini.
"Aku kangen suara Abi," ucap Mentari lalu terisak kembali.
"Sabar ya Ca ustadz Alzam pasti sudah bahagia di alam sana. Beliau orang baik, inyaAllah, Allah akan memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Jangan usik dia lagi." Gala mengusap bahu adiknya agar bisa lebih bersabar.
Mentari hanya bisa mengangguk dengan air mata yang masih berurai. Bagaimana dia tidak sedih sebab tanggal kelahiran putranya sama dengan tanggal sang suami meninggalkan dirinya untuk selamanya. Jadi jika dia mengingat momen kelahiran putranya otomatis dia akan mengingat tanggal dimana ustadz Alzam meninggalkan dunia ini.
Sarah dan sang ibu tidak kalah sedih mengingat kepergian ustadz Alzam yang begitu mendadak itu. Apalagi saat mengetahui yang telah melakukan aksi penembakan adalah orang gila. Namun, keduanya berusaha menahan diri agar tidak terlihat begitu bersedih di hadapan semua orang. Dia tidak mau melihat Mentari bertambah sedih.
"Tuh Ca lihat keponakanmu yang sedang berjuang mencari ASI." Inginnya Gala agar Mentari bisa melupakan kesedihan tatkala melihat putranya yang menuru Gala lucu.
Sontak Mentari langsung menatap keponakannya itu.
"Mas Gala, sorry aku tidak kuat."
Mentari langsung keluar dari ruangan bersalin itu. Semakin dia melihat bayi kecil yang sedang berjuang mencari ASI di dada ibunya semakin Mentari mengingat Kalimat yang diucapkan ustadz Alzam saat Izzam sedang dalam posisi yang sama seperti bayi Gala saat ini.
__ADS_1
Sarah pun akhirnya menitikkan air mata.
"Kau jangan menangis juga. Ini hari bahagia kita, lihat tuh bayimu," ujar Gala pada Sarah.
Sarah hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum kemudian fokus pada putranya. Sarah membelai-belai kepala bayinya dengan lembut. Sang ibu memalingkan muka dan langsung mengusap sesuatu yang dari tadi ditahannya dan sekarang tumpah ruah begitu saja.
"Saya tahu kesedihan kalian rasakan dan saya pun juga merasakannya, tapi tolong di depan bayi kita jangan tunjukkan air mata. Itu terlihat seolah-olah kita tidak bahagia dengan kehadirannya," ujar Gala.
"Iya Mas maaf."
"Ibu juga minta maaf Nak Gala," ujar mertuanya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, sudahlah kita fokus pada dia saja," tunjuk Gala pada bayinya.
"Kau sudah menyiapkan nama?" tanya Gala kemudian dan Sarah menjawab dengan gelengan kepala.
"Mas saja yang beri nama," saran Sarah.
"Kasih nama siapa ya, saya juga masih bingung," ujar Gala kemudian berpikir keras.
"Nanti di rumah saja deh saya belum kepikiran ini nama apa yang bagus."
"Baiklah terserah Mas Gala saja," ujar Sarah dan Gala hanya mengangguk.
Di luar ruangan Mentari langsung mengambil Izzam dari gendongan Tama setelah mengusap air matanya.
"Um–mi, Om Gala su–dah punya dedek kecil?" tanya Izzam dengan suara yang sedikit terbata.
"Iya Sayang," jawab Mentari singkat.
"Nan–ti Om Gala ti–dak akan gendong Izzam lagi." Anak itu tampak cemberut.
"Nggak, siapa bilang sayang? Om Gala akan tetap sayang sama Izzam meskipun sudah punya dedek. Nanti Om Gala gendong kalian secara bergantian."
Izzam menatap mata Mentari yang memerah. "Ummi na–ngis?"
"Ah nggak Sayang kelilipan tadi di dalam sana makanya ummi langsung keluar," bohong Mentari dan putranya hanya mengangguk saja.
"Ummi, Izzam mau gendong sama om Gala," rengek Izzam, anak itu seakan takut pria yang menggendongnya saat ini akan lebih sayang pada anaknya sendiri.
"Gendong sama Om saja ya?"
Sontak saja Izzam menoleh pada pria yang sedang berjalan ke arahnya.
"Om Bintang!" serunya antusias. Anak itu tersenyum pada Bintang lalu langsung mengangkat kedua tangannya. Bintang pun langsung mengambil Izzam dari gendongan Mentari.
"Kau tenang saja, jika Om Gala tidak bisa menggendong Izzam maka Om Bintang yang akan menggendongmu. Jangan bersedih oke?"
__ADS_1
Izzam hanya mengangguk sambil tersenyum sedangkan Mentari hanya bisa menghela nafas panjang.
Bersambung.