HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 109. Kau Jahat


__ADS_3

Beberapa hari kemudian saat surat cerai sudah di tangan, pagi-pagi sekali Mentari langsung mendatangi apartemen Bintang.


Sengaja menang Mentari datang pagi karena takut kalau kesiangan Bintang sudah pernah bekerja.


"Tidak tahu malu ya, sudah pergi sendiri sekarang datang sendiri kayak jalangkung aja," protes Katrina setelah membuka pintu terbuka Mentari yang datang pagi-pagi.


"Mana Mas Bintang?" tanya Mentari tidak menggubris perkataan Katrina.


"Mau apa kamu masih mau bertemu dengan Bintang?" Katrina hendak menutup pintu kembali. Namun, Menteri menahannya dan segera masuk ke dalam.


"Dasar kamu ya! Bintang tidak ada. Lagian kalau ada pun dia tidak akan pernah mau berbicara padamu."


"Aku tidak percaya dia pasti masih di dalam," ucap Mentari sambil terus masuk ke dalam.


"Mas! Mas Bintang!" teriak Mentari sambil mencari keberadaan Bintang di dalam apartemen. Sayangnya Bintang tidak ada di sana.


"Aneh, pagi-pagi begini sudah tidak ada di apartemen, kemana dia? Apa dia tugas keluar kota ya?" gumam Mentari.


"Apa aku bilang, Bintang tidak ada di dalam, bukan? Tidak tahu malu sudah dibuang masih saja berharap bisa kembali," gerutu Katrina.


"Bisa diam nggak sih Kate? Cerewet amat, saya heran kenapa Mas Bintang bisa bertahan dengan wanita sepertimu," kesal Mentari.


"Ya bisalah kenapa tidak? Aku ini cantik, pintar, wanita karir dan kamu tidak ada seujung kukunya dibandingkan denganku. Dasar kampungan!" geram Katrina.


"Terserahlah kamu mau ngomong apa, saya tidak perduli," ucap Mentari sambil duduk di sofa dan menyandarkan diri. Menteri membolak-balik map di tangannya. Dia tidak sabar ingin bertemu Bintang karena jam tujuh pagi dia sudah harus berada di toko bangunan.


Katrina tampak tersenyum sinis. "Bawa proposal seperti itu mau. minta sumbangan ya," ejek Katrina.


Mentari membalas senyuman Katrina dengan senyum sinis pula, tetapi dia memilih untuk tidak menjawab perkataan Katrina. Kalau wanita itu diladeni hanya akan membuat Mentari capek sendiri.


"Dasar munafik." Mentari menghujat Katrina dalam hati mengingat sebelumnya wanita ini begitu pandai berpura-pura. Sok baik di luar padahal licik di dalam. Untung saja Mentari tidak pernah mempercayainya.


Beberapa saat kemudian pintu unit apartemen tampak dibuka. Dari balik pintu terlihat Bintang melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan menenteng bungkusan di tangan.


"Kate ini makanan pesananmu!" seru Bintang sambil berjalan ke arah Katrina yang nampak masih berdiri di samping sofa.


"Waw hebat ya, suami sendiri dijadikan tukang antar makanan. Apa istrinya tidak bisa memasak ya," sindir Mentari.


"Bintang tidak sewot kenapa malah kamu yang sewot. Kau mengerti itu tandanya apa?"

__ADS_1


Mentari tidak menjawab.


"Itu tandanya Bintang sangat menyayangi istrinya ini. Apalagi aku sudah bisa memberikan dia seorang anak, laki-laki lagi," ucap Katrina dengan bangga.


"Siapa Kate?" tanya Bintang karena hanya melihat bagian belakang tubuh Mentari dan itupun tidak jelas.


Mentari semakin membenci Bintang. Pria itu benar-benar tidak mengingat suaranya. Mentari langsung berdiri.


"Aku Mas."


"Oh kamu ngapain kamu ke sini?" tanya Bintang dingin, tatapannya datar.


Mentari menghela nafas dan mencoba menetralkan detak jantungnya karena sedikit emosi.


"Mau kembali tinggal di sini? Tidak betah tinggal di jalanan atau mau minta sumbangan untuk biaya hidup?"


Mentari mengepalkan tangan karena menahan gejolak amarah. Dia harus bersikap tenang dan tidak terpancing oleh perkataan Bintang.


"Aku tidak butuh uangmu. Kau pikir aku masih bisa berdiri di sini karena apa?" Mentari diam sebentar.


"Karena hasil keringatku sendiri, dan yang perlu kamu tahu kartu yang kau berikan itu sudah kucampakkan di jalanan."


"Ini." Mentari menyodorkan map di tangannya ke tangan Bintang. Bintang menerima masih dengan raut wajah bingung.


"Apa ini?" tanya Bintang dengan tangan yang masih berusaha membuka map di tangannya.


"Kau tinggal tanda tangani dan mulai hari ini kita resmi bercerai," jelas Mentari dengan wajah yang terlihat datar.


Katrina yang ada di sampingnya tampak kaget mendengar perkataan Mentari, tetapi tentu saja dia senang mendengar berita tersebut.


"Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Bintang yang seutuhnya dan semua akan menjadi lebih mudah," batin Katrina.


Sedangkan Bintang saat mendengar kata cerai dari mulut Mentari, cepat-cepat membuka map tersebut. Matanya terbelalak melihat tulisan yang sama dengan perkataan Mentari. Dia pikir Mentari tidak serius tadi.


"Cepat tanda tangani aku harus pergi untuk bekerja!" perintah Mentari melihat Bintang hanya bengong sambil memandangi kertas di tangannya.


"Apa kau tidak takut papa akan menuntut dengan semua perjanjian kalian. Mampukah kau mengembalikan semua harta yang telah diberikan papa untuk keluargamu. Bukankah kau tahu kalau kamu yang meninggalkan aku duluan atau menuntut cerai terlebih dahulu maka semuanya dianggap hutang."


Bintang sebenarnya tidak mau menceraikan Mentari, tetapi rasa gengsinya terlalu tinggi untuk sekedar mengakui bahwa sebenarnya dia tidak ingin kehilangan Mentari. Dia masih merasa marah sekarang.

__ADS_1


"Mas Bintang jangan khawatir Papa sudah menyerahkan padaku untuk mengambil keputusan. Dia pernah mengatakan jika aku sudah tidak bisa bertahan maka melepaskan diri adalah jalan terbaik. Dia berjanji tidak akan menuntut apa-apa lagi setelah tahu bagaimana sikap Mas Bintang kepada Mentari."


"Cih tukang ngadu. Sudah Bin tanda tangani saja biar perempuan ini menyesal nantinya," ucap Katrina memanas-manasi Bintang agar cepat menandatangani surat cerai itu.


Namun Bintang masih tidak bergeming.


"Tanda tangani Mas! Mas Bintang tenang saja meskipun papa mengatakan ikhlas akan semua yang beliau berikan Mentari akan menyicilnya," lanjut Mentari.


"Cih sombong banget kamu. Palingan sampai mati nggak akan mampu bayar. Emangnya perempuan bodoh sepertimu bisa apa?" hina Katrina.


Mentari tidak menjawab. Memang saat Katrina berbicara dia harus menulikan telinga agar tidak terpancing amarah. Dia tidak mau berdebat pagi-pagi karena akan sangat menguras tenaga padahal tenaga itu harus disimpan untuk bekerja nantinya.


"Mas ayolah jangan mengulur-ulur waktu. Aku harus pergi!"


"Oh jadi kau buru-buru?"


"Iya," jawab Mentari singkat.


Sreeeek!


Terdengar sobekan kertas. Mentari terperanjat saat melihat Bintang malah menyobek kertas di tangannya.


"Mas!" bentak Mentari. Wanita ini terlihat syok begitupun dengan Katrina.


"Kau pikir aku mau menceraikanmu?"


Mentari nampak menggelengkan kepala melihat tingkah Bintang.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu menikah dengan siapapun. Enak saja kalau aku menceraikanmu maka ustadz gadungan itu akan benar-benar menikahimu." Bintang terlihat murka.


"Seharusnya kamu senang Mas tidak perlu repot-repot mengurus surat perceraian kita karena aku yang telah mengurusnya, dan seharusnya kamu sadar dengan melepaskan aku kamu bisa menikah secara resmi dengan Katrina. Itukan yang diinginkan kalian?"


"Tapi aku tidak akan pernah membiarkan kamu menikah dengan siapapun." Bintang keras kepala.


"Kamu jahat!" teriak Mentari sambil mendorong tubuh Bintang beberapa kali dengan kuat. Namun, Bintang tidak melakukan perlawanan.


"Ingat aku akan tetap berjuang untuk bisa melepaskan diri darimu!" teriak Mentari lagi lalu meninggalkan unit apartemen Bintang dengan perasaan kecewa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2