HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 212. Kesempatan


__ADS_3

Kita berpencar dan apapun caranya harus menangkap pria itu!"


Mereka pun berpencar ke segala arah. Satu jam mengelilingi jalanan akhirnya mereka menemukan Arka sedang melintas di jalanan menuju sebuah perkampungan yang terlihat sepi.


"Itu dia, hubungi yang lainnya dan kita jangan gegabah dulu. Awasi saja pria itu akan kemana akan pergi!"


"Baik." Sesekali nampak mengambil ponselnya dan menghubungi teman-temannya. Beberapa saat kemudian mereka telah berhasil mengepung Arka dari segala penjuru.


"Hahaha ... Menyerahlah kau sudah tidak bisa lari kemana-mana!"


Arka yang terdesak akhirnya memilih melawan anak buah Emran.


Pertarungan sengit satu lawan 5 orang terjadi begitu gesit hingga akhirnya.


Bles.


"Argh!" Arka mengerang kesakitan karena lengannya tersabet benda tajam.


"Dia sudah terluka tangkap dia!"


Arka berbalik dan mundur ke belakang. Mereka semua mengejar dan mengepung kembali hingga Arka panik saat di depannya ada air terjun yang mengalir deras.


Semua orang semakin memepet tubuh Arka hingga akhirnya.


Bur.


Arka memilih menceburkan dirinya ke air terjun.


"Gawat dia terjatuh, apa yang harus kita lakukan?"


"Biarkan sajalah kita katakan saja pada bos kita sudah menghabisi pria itu!"


"Tapi bagaimana kalau pria tersebut masih hidup? Apa tidak sebaiknya kita cari ke hilir?"


"Tidak perlu dia pasti mati. Tidak ada seorangpun yang selamat dari keganasan air terjun ini."


"Baiklah kalau begitu kita kembali saja."


Mereka semua mengangguk dan kembali kepada kendaraan masing-masing dan meninggalkan tempat kejadian.


Esok Hari.


Pagi-pagi Gala sudah ada di rumah sakit untuk melihat keadaan Mentari sebelum pergi ke kantor.


Sarah yang baru datang dari luar kota langsung pulang ke rumah ibunya. Namun, di sana dia tidak menemui seorang pun sebab ibunya menginap di rumah sakit.


Menurut informasi dari tetangga dekat sang ibu menemani Mentari yang melahirkan sejak kemarin.


"Ibu tahu sekarang Kak Mentari ada dimana?"


"Nggak tahu juga Neng Sarah mungkin masih di rumah sakit atau sudah dibawa pulang ke rumah orang tuanya. Kami para tetangga ingin menjenguk kalau sudah pulang ke sini saja."


"Ya sudah deh Bu, kalau begitu Sarah permisi dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati Neng Sarah."


"Iya Bu."


Sarah langsung menuju rumah Tama. Menurut prediksinya kalau Mentari sudah melahirkan kemarin berarti hari ini harusnya sudah pulang.


Sampai di rumah Tama ternyata hanya ada Pandu bersama para pembantu sedangkan Tama dan Gala, juga Warni tidak terlihat di sana.


"Pandu kapan kamu datang?"

__ADS_1


"Kemarin Kak."


"Kak Mentari sudah pulang?"


Pandu menggeleng. "Belum katanya masih nanti sore."


"Kamu nggak ikut ke rumah sakit?"


"Nggak kemarin ibu berangkat terburu-buru dan tadi Mas Gala malah ninggalin aku." Pandu terlihat cemberut.


"Paman Tama ke sana juga?"


"Beliau masih ada di kamarnya katanya tidak enak badan."


"Oh, kalau begitu bagaimana kalau ikut kakak saja?"


"Kakak mau ke rumah sakit juga?"


Sarah mengangguk.


"Ya, tapi kakak nggak tahu alamat rumah sakitnya, Pandu tahu?"


"Nggak tahu juga Kak, kenapa nggak telepon saja?"


Sarah tersenyum.


Ponsel kakak lowbet, belum sempat ngisi baterainya."


"Pakai handphone Pandu saja." Pandu mengulurkan ponselnya ke arah Sarah.


"Oke terima kasih anak manis." Sarah mengambil ponsel dari tangan Pandu lalu menelepon Mentari.


"Bagaimana Kak?"


Pandu mengangguk dan mengikuti langkah Sarah menuju gerbang rumah.


"Pak Satpam kalau ada yang bertanya tentang Pandu katakan dibawa Sarah."


"Oke Non siap."


Sarah hanya menunjukkan jari jempolnya pada Pak satpam dan pak satpam membalas dengan senyuman.


"Eh Non!"


Baru saja hendak keluar dari pagar pak satpam menahan Sarah.


Sarah menoleh dan berkata, "Iya Pak?"


"Nona Sarah nggak merasa punya hutang sama saya?"


Sarah mengernyit.


"Bapak masih ingat saja padahal udah 9 bulan yang lalu."


"Iya dong Non, kan janji adalah hutang dan hutang harus diingatkan. Kalau nggak diingatkan nanti saya yang dosa."


"Iya deh Pak." Sarah meraih dompet dalam tas dan mengeluarkan uang dari dalamnya.


"Ini Pak, sudah lebih kan dari uang rokok?"


"Nah gitu dong Non kalau begitu saya 'kan jadi senang. Kalau nanti butuh bantuan bisa hubungi saya lagi."


"Iya Pak, sudah ah Sarah pergi. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam hati-hati Non."


Sampai di rumah sakit Sarah dan Pandu langsung menuju kamar rawat Mentari sebab sudah diberitahu nomor kamarnya oleh Mentari sendiri.


Setelah mengucapkan salam dan menyalami Mentari dan ustadz Alzam Sarah langsung menuju box bayi sedangkan Pandu berlari dan memeluk sang Kakak.


"Kamu apa kabar Pandu?" tanya Mentari sambil mengusap-usap rambut Pandu."


"Baik Kak."


"Lain kali kalau liburan sekolah mainlah ke rumah kakak nanti Kak Mentari akan ganti ongkosnya."


Pandu mengangguk.


"Wah keponakan aunty lucu sekali." Sarah menoel-noel pipi baby Izzam.


"Sarah jangan dibegitukan nanti bangun lagi dia," protes ustadz Alzam.


"Biarin Kak, Sarah mau lihat dia meleknya kayak gimana."


"Ckk, kau ini. Sejak semalam dia itu rewel. Nangis terus dan baru tidur pas adzan subuh. Kasihan sama kakak kamu, ibu dan Bu Warni."


"Iya deh Kak." Sarah memilih duduk di tepi ranjang Mentari berdampingan dengan Pandu.


"Bagaimana keadaan Kak Mentari?"


"Baik Sarah hanya saja tekanan darahnya masih belum stabil sehingga masih belum bisa pulang. Kalau semuanya normal kata dokter nanti sore sudah bisa pulang. Kamu kapan pulang, kok nggak nelpon sama Abi biar dijemput?"


"Baru saja Kak, aku langsung ke sini setelah tahu kakak dan Kak Alzam tidak ada di rumah. Kalau masalah jemput-menjemput kayaknya nggak perlulah sebab saya pulang bareng teman-teman juga."


"Oh."


"Sarah Kakak boleh meminta tolong? Tapi kamu capek ya?"


"Nggak Kak mana ada Sarah capek. Ayo katakan saja apa yang harus Sarah lakukan?"


"Ibu berdua ini belum ada yang makan, jadi Kakak minta tolong untuk beli makanan biar setelah beliau-beliau bangun bisa langsung makan pagi." Mentari menunjuk Warni dan ibu mertuanya.


"Dan Abi juga belum makan," lanjutnya.


"Oke siap, tapi kalau lama nggak apa-apa ya Kak sebab mungkin saja Sarah lama. Maklum Sarah nggak bawa kendaraan sendiri. Tadi ke sini naik taksi bersama Pandu."


"Nggak apa-apa beliau kan masih tidur juga."


"Bawa mobil Kakak sa-" Belum juga ustadz Alzam menyelesaikan kalimatnya, Gala biru-biru memotong.


"Biar aku yang antar."


Sarah menoleh ke arah Gala, melihat wajah pria itu tampak serius Sarah mengangguk.


"Ya sudah ayo!" ajak Gala.


"Ini uangnya dulu Sarah," kata ustadz Alzam.


"Tidak usah biar saya yang bayar, ayo Sarah!"


"Pandu ayo ikut!" ajak Sarah.


"Kenapa bawa-bawa Pandu sih?" gumam Gala.


"Iyalah Pak masa kita harus pergi berdua?"


"Ya udah deh, ayo Pandu!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2