
"Ke sini cuma mau pamer kemesraan," gumam Diandra saat melihat Sarah berjalan menuju ke arahnya. Dia kesal dari tadi sebab melihat dari sekat kaca Sarah terlalu intim dengan Gala.
Sarah yang mendengar gumaman Diandra yang bernada kesal itu hanya menghela nafas kemudian melanjutkan langkahnya dan pura-pura tidak mendengar.
Namun, saat Sarah melintas di hadapan Diandra, perempuan itu segera menjulurkan kakinya ke depan hingga Sarah tersandung, oleng dan dahinya terpentok ujung meja Diandra.
"Auw." Sarah meringis dan mengusap dahinya. Kemudian wanita itu menatap kaki Diandra dengan terbelalak.
"Sorry nggak sengaja," ucap Diandra sinis.
"Tidak sengaja?" tanya Sarah tidak percaya.
"Iyalah makanya kalau jalan lihat-lihat," ujar Diandra kemudian.
"Pas saya jalan tadi posisi kakimu nggak begitu, tapi pas saya sampai kemari kau malah menjulurkan kakimu ke depan."
"Jadi orang jangan suka berburuk sangka," sarkas Diandra.
"Saya tidak berburuk sangka, tapi saya melihat tadi kamu memang sengaja mau menjatuhkan ku. Kalau kamu ingin berdebat atau berkelahi denganku katakan saja, saya akan ladenin, jangan jadi orang munafik! Saya tahu kamu cemburu 'kan padaku? Kau iri karena akhirnya pak Gala memilih diriku. Iyalah Pak Gala memilihku sebab tubuhku terjaga untuknya tidak seperti dirimu yang mengobral tubuhmu pada orang lain sehingga pria manapun langsung bisa mengekspose bentuk tubuhmu," kesal Sarah. Dia sebenarnya sudah lelah meladeni Diandra.
"Kau!" Diandra bangkit berdiri dan hendak menampar Sarah, tetapi segera ditepis dan tangannya dipelintir oleh Sarah.
"Aw, lepas!"
Sarah menghempaskan tangan Diandra.
Gala yang tidak sengaja melihat Sarah dan Diandra berdebat hendak berlari ke arah keduanya, tetapi urung tatkala yakin Sarah bisa mengatasi semuanya. Gala hanya mengawasi saja dari jauh dan berniat baru akan bertindak sekiranya ada yang berbahaya.
"Jangan pernah macam-macam denganku ya! Kau pikir saya takut padamu Bu Diandra! Meski saya pernah menjadi bawahan mu di perusahaan ini, kau lupa ya posisiku sekarang adalah Nyonya pemilik perusahaan," ujar Sarah menekankan pada kata 'Nyonya."
"Ya Allah maafkan hambamu ini, hamba tidak bermaksud sombong." Sarah memohon ampunan pada Tuhan dalam hati. Dia tidak bermaksud meninggikan diri, tetapi menurutnya Diandra perlu ditegur agar tahu diri.
"Cih jadi Nyonya Gala juga karena terpaksa. Karena musibah yang menimpa kakaknya sendiri sehingga Tuan Tama terpaksa menjodohkan agar keluarga tidak hilang," cibir Diandra membuat Sarah semakin geram, tapi perempuan itu sekuat mungkin menahan diri agar bisa menekan amarahnya. Dia tidak mau diperdaya oleh setan sehingga bisa saja melakukan hal kasar pada Diandra.
"Astaghfirullah hal adzim, terserahlah kamu mau ngomong apa," ucap Sarah lalu berlalu meninggalkan Diandra.
"Hei kau memang berhasil menjadi istri Pak Gala, tapi kau lupa ya bahwa dia pertama kali menyentuh diriku bukan dirimu. Jadi kau salah jika tadi mengatakan pak Gala lebih memilih dirimu dibandingkan diriku. Paling kalau pak Gala sudah menjelajahi tubuhmu kau akan dilempar juga. Dia hanya penasaran saja pada tubuhmu yang terbungkus itu." Diandra melirik Gala gala yang ternyata masih fokus menelpon seseorang. Dia yakin, karena sibuk, Gala tidak melihat perdebatan antara Sarah dan dirinya.
Mendengar perkataan Diandra, Sarah menghentikan langkah dan berbalik mendekat kembali ke arah Diandra.
"Kalau itu memang kehendak Allah saya tidak masalah. Yang terpenting saya menyerahkan tubuh pada Pak Gala sesudah menikah tidak zina seperti dirimu." Mata Sarah memerah mengatakan hal itu. Meskipun apa yang dikatakannya memang benar, tetapi tidak dapat dipungkiri hati Sarah sakit mengingat itu semua.
"Aku yakin Pak Gala sekarang mencintaiku, biarlah masa lalunya hanya sebatas menjadi masa lalu karena aku yakin aku adalah masa depannya."
"Cih percaya sekali dirimu."
"Ada apa ini? Kenapa menyebut namaku dan menyebut kata zina?" Tiba-tiba Gala sudah berdiri di samping mereka dan langsung menyerang keduanya dengan pertanyaan.
"Bapak katakan pada dia jangan selalu mengingatkanku akan masa lalu Bapak dengannya." Air mata Sarah tidak dapat terbendung lagi. Jatuh berlinang membasahi pipi putihnya. Jujur meskipun Sarah terlihat kuat dari luar dia sebenarnya rapuh kalau sudah menyangkut masalah perasaan.
__ADS_1
"Saya selama ini sudah berusaha melupakan apa yang terjadi di masa lalu Pak Gala, tapi kalau diingatkan terus mana mungkin akan berhasil?" Sarah mengusap air matanya.
"Sarah apa maksudmu, bukankah aku sudah menceritakan masa laluku padamu? Kenapa kau malah menangis seperti ini?" Gala mencoba memeluk Sarah, tetapi malah ditepis oleh tangan Sarah.
"Ada apa ini Diandra?!" tanya Gala dengan suara yang tegas.
Diandra menunduk, tiba-tiba rasa takut menyergap dirinya.
"Jelaskan ada apa ini!" bentak Gala, suara pria itu mengggelar memenuhi seluruh ruangan sampai-sampai Kiki yang sedang mengetikkan sesuatu pada laptopnya berhenti dan berlari keluar untuk memeriksa.
Diandra menunduk dengan tubuh bergetar, menyesali dirinya yang mengatai-ngatai Sarah di saat Gala ada di kantor. Dia lupa bahkan kalau tidak ada Gala sekalipun, ada cctv yang bisa merekam ucapannya.
"Kenapa kalian semua hanya diam?" tanya Gala tak mengerti ketika dirinya bertanya malah keduanya seperti orang bisu saja, tidak ada yang buka suara padahal Gala tahu mereka berdua sedari tadi memperdebatkan dirinya.
"Sarah katakan apa yang dikatakannya!" perintah Gala kini dengan suara yang lembut.
"Diandra bilang ... Diandra bilang–"
Diandra melirik Sarah, berharap wanita itu tidak mengatakan apa yang diucapkannya. Kalau pun Sarah akan mengatakannya Diandra berdoa agar lidah Sarah tiba-tiba keseleo ataupun kelu.
"Pak Gala sering tidur dengannya saat bertugas di luar kota," ucap Sarah lalu menunduk lagi. Dia tidak nyaman karena merasa ikut campur dengan masa lalu Gala yang seharusnya tidak menjadi urusannya.
"Apa?!" Tentu saja Gala kaget.
Diandra semakin gemetar. Kiki yang bersandar pada dinding hanya menghembuskan nafas berat tanpa ada keinginan untuk menimpali perdebatan ketiganya yang sama sekali tidak dalam ranah dirinya.
"Oh kau sengaja ya mengarang cerita ini agar Sarah menjauh dariku?" Gala baru paham bahwa Sarah dulu sempat menolak dirinya karena fitnah dari Diandra ini.
Diandra masih bungkam, sepatah katapun tidak bisa keluar dari mulutnya.
"Katakan apa yang sebenarnya atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Gala.
Melihat Diandra masih diam Gala semakin geram.
"Kau dipecat!" seru Gala barulah Diandra mengangkat muka.
"Maafkan saya Pak saya mohon!" Diandra langsung bersujud di kali Gala dan Gala mundur.
"Saya tahu kamu kecewa karena aku menolak cintamu, tapi fitnahmu itu berlebihan Diandra," ujar Gala kemudian.
"Kau bisa menghancurkan reputasiku kalau begini," lanjut Gala. Bisa saja penuturan Diandra yang tidak benar ini pada Sarah didengar orang lain dan beritanya akan menyebar kemana-mana.
"Saya minta maaf Pak!" ulangnya.
Sarah menghela nafas.
"Aku maafkan asal kamu mau menjelaskan sejujur-jujurnya pada Sarah bahwa semua itu tidak benar!"
Diandra mengangguk lalu berbalik pada Sarah.
__ADS_1
"Sarah apa yang kusampaikan padamu itu tidaklah benar. Saya tidak pernah melakukan hubungan intim dengan pak Gala. Bahkan saya sendiri sebenarnya masih perawan."
Sontak saja pengakuan Diandra mengejutkan Sarah. Wanita itu menganga dan langsung menutup mulut.
"Bagaimana mungkin kau tega menghancurkan nama baikmu sendiri hanya untuk sebuah ambisi?" Sarah menyebut ambisi karena yakin apa yang dirasakan Diandra bukanlah cinta yang sebenarnya, tetapi lebih mengarah pada obsesi mendapatkan Gala karena ingin mengalahkan dirinya.
Sarah benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Diandra. Mengaku dirinya sudah tidak perawan padahal sebaliknya.
Manusia zaman sekarang memang banyak yang benar-benar aneh. Zaman dulu orang-orang bersusah payah menutup aibnya sendiri, sekarang malah ada yang membongkar aib sendiri demi sebuah pencapaian yang entahlah apa itu, tapi yang paling banyak adalah agar bisa menjadi viral dan Diandra, lebih aneh lagi daripada mereka.
"Aku benci padamu, gara-gara kehadiranmu Pak Gala tidak pernah mau melihatku," ungkap Diandra.
Sarah dan Gala hanya bisa menggelengkan kepala sambil beristighfar dalam hati.
"Kamu sudah plong Sarah? Ternyata ini yang membuatmu ragu padaku. Jadi kalau sudah siap jangan pernah menolak ku lagi."
Sarah membelalakkan mata, Gala berbicara tidak tahu situasi.
"Terima kasih atas kejujuranmu, sekarang kau boleh pergi!" ujar Gala kemudian.
"Per–gi Pak?" tanya Diandra tidak paham.
"Ya pergi, bukankah aku sudah memecat dirimu tadi?"
"Jadi Pak Gala tidak biasa memaafkan saya?" tanya Diandra dengan raut wajah sedih dan panik.
"Memaafkan bukan berarti masih menerimamu bekerja di sini lagi."
"Tapi Pak saya mohon–"
"Sudahlah pergi sekarang atau kau akan bernasib sama dengan Katrina, sekretaris di perusahaan ini sebelum kamu. Dia sekarang menjadi pedagang keliling karena tidak ada perusahaan manapun yang mau menampung dirinya lagi.
"Beri saya kesempatan sekali lagi Pak. Saya akan memperbaiki kesalahan saya," mohon Diandra lagi dengan tatapan memelasnya. Siapa tahu dengan memasang tampang memelas seperti itu Gala akan kasihan lalu berubah pikiran.
"Maaf saya tidak bisa menelan kembali ludah yang saya buang. Saya sudah memutuskan untuk memecat dirimu dan saya tidak mungkin memelihara wanita sepertimu berada di sampingku karena itu akan berbahaya pada keharmonisan rumah tangga kami," pungkas Gala lalu menggandeng tangan Sarah dan membawanya keluar dari perusahaan.
"Tapi pak saya mohon!" teriak Diandra.
"Pak!"
"Paaakkk!"
Gala terus membawa Sarah keluar tanpa mau berbalik dan acuh dengan teriakan-teriakan dari Diandra.
"Arrgh!" Diandra terlihat sangat kesal sekali.
"Pak Kiki apakah kamu bisa menolongku?" tanya Diandra melihat Kiki menatap dirinya dengan perasaan iba.
Bersambung.
__ADS_1