
"Akh, lepaskan!" Pria itu menarik tangan Sarah dari mulutnya.
Namun Sarah semakin mengencangkan bekapan tangannya.
Matanya masih memandang awas keluar sedang kakinya menarik pintu agar tertutup. Mentari yang sudah masuk duluan menemukan sebuah sofa dan langsung duduk tanpa memikirkan apapun. Yang terpenting baginya Katrina dan mertua perempuannya tidak melihat dirinya ada di tempat itu.
"Akh!" Pria itu menghempaskan tangan Sarah dengan kasar.
"Auw kasar banget sih sama wanita." Sarah tampak meringis lalu meniup-niup tangannya.
Pria itu menatap dingin Sarah. "Suruh siapa menyusup ke sini? Siapa suruh berani menyentuhku? Kamu tahu? Tidak ada wanita yang boleh menyentuhku."
"Belok ya?" tanya Sarah dengan ekspresi datar.
"Jangan sembarangan ya menuduh."
"Katanya tadi tidak demen disentuh wanita berarti kan demennya sama cowok dong."
Pria itu tersenyum sinis pada Sarah. "Mau bukti? Ayo aku buktikan."
"Jangan pegang-pegang bukan muhrim," ucap Sarah karena pria itu menarik tangannya.
"Eh bukan muhrim tadi aja nyentuh duluan. Naksir ya sama aku?" Pria itu tersenyum devil.
"Kegeeran banget, dengar ya aku tidak sengaja alias terpaksa. Kalau tidak mana mungkin aku mau menyentuh mulutmu itu yang bau jengkol." Sarah mengibas-ngibaskan tangannya seolah benci telah menyentuh mulut pria itu.
"Nih cewek kayaknya cuma rambut aja dihijabin mulut nggak." Pria itu terlihat kesal. Sarah menganga, kaget dengan ucapan pria tersebut. Dia tidak terima dan langsung mendorong tubuh pria itu dan keluar dari unit apartemen tadi.
"Bodoh kenapa aku malah ikut bersembunyi? Si Katrina dan wanita itu kan tidak mengenalku." Sarah berjalan santai di luar sambil mengawasi Katrina dan Arumi.
"Loh kok tidak terkunci sih Tan perasaan tadi saya sudah menguncinya."
"Lupa kali kamu tadi. Coba cek di dalam ada yang hilang nggak?" saran Arumi.
Katrina mengangguk dan segera masuk ke dalam. Ia segera mengecek barang-barang miliknya serta milik Bintang. Dia lalu mengambil ponselnya yang ketinggalan dan memasukkan dalam tas kemudian keluar dari kamar.
"Bagaimana?" tanya Arumi.
"Tidak ada yang hilang kok Tan. Tante benar mungkin Katrina lupa tadi saking bersemangatnya Tante ngajak jalan-jalan."
__ADS_1
"Ya sudah. Tidak ada yang ketinggalan lagi? Kalau tidak ada ayo kita pergi."
Katrina mengangguk dan menggandeng tangan Arumi lalu berjalan menjauh.
Di dalam ruangan Mentari celingukan karena melihat Sarah tidak ada dalam ruangan tersebut. Pria itu malah menutup pintu setelah kepergian Sarah.
"Sarah!" panggi Mentari. Lelaki dalam ruangan itu menoleh ke arah sumber suara. Ia bingung bukankah wanita tadi telah pergi dari ruangannya. Namun, kenapa suaranya masih menggema di dalam?
Lelaki itu mendekati Mentari.
"Sarah!" panggil Mentari lagi. Kali ini ia bangkit dari duduknya.
Lelaki itu mengernyit karena seolah mengenal suara itu. Ia semakin berjalan mendekat.
Keduanya bersitatap kaget.
"Mentari?"
"Pak Gala?"
"Kenapa malah masuk ke sini? Apa kamu salah masuk apartemen?"
"Ini apartemenku."
"Kok aku bisa tidak tahu sih? Mas Bintang tidak pernah bercerita bahwa Pak Gala punya apartemen yang dekat dengan unit apartemen Mas Bintang."
"Karena apartemen ini sudah lama tidak aku gunakan. Aku ke sini untuk mengambil berkas lama yang diperlukan sekarang," terang Gala.
"Oh begitu ya Pak? Maaf kenapa tidak digunakan?"
"Karena semenjak kematian mama, papa jadi depresi jadi aku tidak tega meninggalkan beliau seorang diri di rumah. Ya sudah aku keluar saja dan pindah dari tempat ini. Cuma saya terkadang datang ke sini apabila ada pekerjaan yang harus cepat diselesaikan. Kalau dibawa pulang ke sini kan dekat dengan Bintang jadi bisa minta bantuan dia."
"Ide yang bagus Pak, tapi kalau boleh tahu kenapa mama Pak Gala meninggal? Maaf kalau saya lancang." Sudah tahu pertanyaannya lancang masih saja ditanyakan. Jiwa kepo Mentari meronta-ronta sebab penasaran mengapa kematian mamanya Gala sampai membuat suaminya depresi.
Gala menarik nafas berat sebelum menceritakan pada Mentari.
"Begini, dulu aku punya adik perempuan. Saat mama mengajaknya jalan-jalan mama melihat ada pengemis yang kelaparan dengan membawa seorang anak kecil seumuran anak TK. Mama menghampiri pengemis itu untuk memberikan makanan tanpa mendorong kereta bayi adikku itu karena berpikir dia hanya sebentar saja dan jaraknya juga dekat.
Mama lengah dalam hitungan detik saja Bayi dan kereta bayi itu sudah tidak ada. Mama berteriak meminta tolong dan orang-orang segera mencari. Papa saat itu sedang ada di luar negeri jadi tidak bisa terjun langsung melakukan pencarian. Beliau hanya bisa memerintahkan anak buah untuk mencari adik kecilku itu.
__ADS_1
Pencarian demi pencarian dilakukan tetapi hasilnya Nihil. Papa langsung terbang dari luar negeri untuk melakukan pencarian sendiri. Mereka mencari keberadaan pengemis itu siapa tahu orang itu melihat saat adikku diculik.
Pada akhirnya mereka menemukan petunjuk. Kereta bayi milik adikku itu ada di dalam sebuah hutan dengan banyak darah di dalam kereta tersebut dan terlihat sebuah harimau yang mengaum di samping kereta itu sambil sesekali menjilat mulutnya yang berdarah.
Kami menyimpulkan bahwa adikku itu pasti telah menjadi santapan harimau yang kelaparan."
Mentari meringis mendengar cerita Gala.
"Semenjak tahu anak bungsunya meninggal dengan cara dimakan harimau, mama jadi merasa bersalah dan kepikiran terus. Dia jarang makan, yang ada setiap saat menangis terus. Tubuhnya menjadi kurus dan sakit-sakitan. Akhirnya mama tidak bertahan lagi dan meninggalkan kami semua." Gala mengusap sudut matanya yang mulai berair.
"Maaf Pak saya tidak bermaksud untuk membuat Bapak bersedih. Saya bersimpati dengan apa yang menimpa Bapak." Mentari merasa bersalah telah membuat Gala bersedih. Ia pun menitikkan air mata. Ternyata hidup keluarga seorang Galaksi Pradiatama sangat memilukan. Saat mendengar itu Mentari merasa bahwa kesusahan hidupnya dulu tidak ada apa-apanya dibandingkan perjalanan hidup keluarga Gala.
"Tidak apa-apa Mentari. Setelah melihat mama meninggal papa merasa terpukul dan sampai sekarang masih depresi. Saya sudah berulang kali membawa dia ke psikiater tetapi belum berhasil juga. Kalau saja hidup adikku seumuran denganmu."
Setelah Sarah melihat Katrina dan Arumi pergi menjauh dia baru sadar Mentari sudah tidak bersamanya. Ia menoleh ke arah unit apartemen yang sempat dimasukinya tadi.
Ia kaget karena pintunya sudah tertutup rapat. Pikiran buruk menguasainya.
Brak!
Sarah mendorong pintu depan kasar. Melihat Mentari berurai air mata dia langsung curiga.
"Apa yang kamu lakukan pada Kak Mentari!" bentak Sarah dengan posisi tubuh memasang kuda-kuda.
Kedua orang di dalam ruangan itu menoleh.
"Sarah?" Mentari terlihat kaget melihat Sarah siap bertempur.
"Sarah? Kamu kenal wanita aneh itu?"
Mentari tertawa sambil tepuk jidat mendengar pertanyaan Gala. Dalam hati bertanya-tanya apakah Gala tidak melihat
kedatangan dirinya tadi bersama Sarah.
"Kau yang aneh," tuding Sarah.
"Apa yang kau lakukan pada Kakakku?" tanyanya lagi.
"Tanyakan sendiri pada kakakmu ini memangnya aku ngapain dia. Asal kau tahu saja Mentari ini adik iparku," jelas Gala sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. Malas meladeni wanita yang satu ini.
__ADS_1
Bersambung....