HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 187. Hadiah Untuk Mentari


__ADS_3

Setelah acara ultah selesai dan mereka mengobrol sebentar akhirnya Mentari dan ustadz Alzam pamit pergi.


Nanik undur ke belakang dan mengambil kue yang dipesan oleh ustadz Alzam tadi.


"Terima kasih ya semuanya. Saya pamit ya," ujar Mentari setelah menerima satu bungkus kue dari tangan Nanik.


"Iya Me, hati-hati. Kalau ada waktu main ke sini ya," ucap Nanik lagi, mengingatkan.


"InsyaAllah Mbak Nanik. Kalian semua juga kalau ada waktu berkunjunglah ke rumah kami," ucap ustadz Alzam.


"Iya Ustadz, insyaAllah," sahut Nanik mewakili semua rekan kerjanya.


"Ya sudah kalau begitu kami berdua pamit dulu.


Assalamualaikum," ucap ustadz Alzam lalu membawa Mentari keluar dari toko.


"Waalaikumsalam."


"Mau mampir ke suatu tempat dulu atau langsung ke toko?" tanya ustadz Alzam kepada Mentari. Mereka berdua kini sudah duduk di dalam mobil.


"Langsung ke toko aja Abi, memang kita mau mampir ke mana lagi?"


"Enggak, siapa tahu kamu masih mau mampir di restoran untuk makan atau pulang ke rumah papa Tama."


"Nanti malam lah kita ke sana, ke rumah Papa Tama. Kalau untuk makan, ummi masih kenyang akibat kebanyakan makan rujak buah tadi, tapi kalau Abi lapar bolehlah kita mampir ke restoran dulu."


"Tidak, Abi masih kenysmg kok. Baiklah kalau begitu kita langsung ke toko bangunan saja."


Ustadz Alzam pun mengendarai mobilnya menuju toko miliknya itu.


Seperti halnya di toko Sarah tadi, di toko bangunan mereka disambut meriah oleh


Reni dan para pekerja lainnya.


Mereka di sana bercerita panjang lebar tentang pekerjaan. Juga mengingat-ingat masa-masa saat Mentari menjadi pekerja di tempat itu dan Ustadz Alzam pun menyamar menjadi pekerja juga.


Mereka semua tertawa mengingat kekonyolan itu. Kekonyolan yang membawa kedua orang tersebut menjadi berjodoh.


Hingga sore hari ustadz Alzam dan Mentari baru pulang dari toko bangunan. Saat setelah bercerita panjang lebar bersama para pekerjanya Ustadz Alzam memeriksa seluruh ruangan yang ada dalam toko bangunan itu dan meninjau barang-barang apa yang sekiranya kosong dan butuh dikirim secepatnya.


"Kita pulang ke rumah papa Tama ya Abi malam ini. Kira-kira diizinkan nggak sama ibu?"


"InsyaAllah diizinkan. Nanti Abi akan menelpon ibu."

__ADS_1


Mentari mengangguk dan fokus menatap jalanan di depannya sedangkan ustadz Alzam fokus menyetir.


"Loh kok berhenti disini Abi?" tanya Mentari heran sebab sang suami menghentikan mobilnya di depan dealer mobil.


"Mobilnya macet ya Abi?" tanya Mentari lagi sebab ustadz Alzam masih belum menjawab pertanyaan darinya.


"Enggak kok Ummi. Ayo turun!"


"Turun, ngapain?"


"Sudah jangan banyak tanya. Ummi nurut saja dan nanti bakal tahu sendiri."


Mentari mengangguk dan langsung turun dari mobil meski belum paham apa maksud suaminya berhenti di tempat ini.


"Abi mau beli mobil?" tanya Mentari saat ustadz Alzam malah masuk ke dalam area dealer tersebut.


"Iya untuk kamu."


"Untukku?" tanya Mentari tidak percaya.


"Iya biar nanti kalau Abi tidak ada di samping Ummi nanti Ummi masih bisa pergi bareng ibu atau Sarah ataupun putra kita kalau sudah lahir. Kalau mobil yang tadi dipakai Abi saat harus keluar kota kan jadi tidak ada mobil di rumah. Jadi, kalian bisa pakai mobil ini nantinya."


"Baiklah kalau begitu. Jadi Ummi harus belajar menyetir mobil nih," ucap Mentari.


"Ya nanti bisa belajar sama Abi ataupun Sarah kalau dia ada waktu. Tergantung kamu nyamannya belajar sama siapa. Sekarang Ummi pilih mobilnya dulu yang mana!"


"Ada yang bisa saya bantu Mas?" sapa seorang wanita yang mendekat ke arah ustadz Alzam.


"Mbak tolong bantu istri saya untuk mendapatkan mobil yang sesuai dengan seleranya. Mungkin dia ada yang mau ditanyakan sama Mbaknya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan mobil-mobil ini."


"Baik Mas." Wanita itu menghampiri Mentari dan menyapanya.


Mereka berdua terlihat berbicara serius dan ustadz Alzam hanya berdiam diri dan mengawasi dari jauh serta membiarkan Mentari memilih mobil sesuai dengan seleranya sendiri.


"Kalau yang itu bagaimana menurut Abi?" Mentari berjalan ke arah suaminya dan meminta pendapat.


"Yang mana?"


"Yang warna biru itu yang ...." Mentari menyebut nama merek dan tipe mobil.


"Hmm, kalau yang biru itu sepertinya bodynya bagus. Sebentar aku tanya-tanya dulu sama Mbak nya."


Mentari mengangguk.

__ADS_1


Ustadz Alzam segera bertanya pada sales wanita tadi mengenai spesifikasi, harga, konsumsi bahan bakar, kapasitas mesin tenaga, serta fitur yang tersedia dalam mobil, misalnya: entertainment, keselamatan, pendukung berkendara, dan sebagainya. Pria itu harus memastikan mobil yang dibelinya itu bisa memuaskan Mentari dan juga mertuanya mengingat istrinya adalah keturunan orang kaya.


Dirasa cocok ustadz Alzam langsung mengurus administrasinya dan meminta pihak dealer untuk mengirimkan ke rumahnya.


"Suruh kirim ke rumah Papa saja lah Abi biar tidak merepotkan ibu di sana. Apalagi kita tidak akan pulang ke sana malam ini," usul Mentari.


"Boleh juga." Ustadz Alzam pun menuruti kemauan sang istri.


Setelah transaksi pembelian mobil selesai mereka berdua kini berkendara kembali menuju rumah Tama.


Saat sampai di depan pintu pagar, mereka berpapasan dengan Gala yang juga baru sampai.


"Mas Gala baru pulang?" tanya Mentari basa-basi padahal sudah tahu kalau sang kakak memang baru datang dari kantor.


"Saya duluan ya," ujar Gala dan langsung membawa masuk mobilnya ke dalam garasi disusul ustadz Alzam dan Mentari di belakangnya.


"Mas!" teriak Mentari melihat kakaknya sekarang sedikit cuek dari sebelumnya. Setelah memarkirkan mobilnya Gala langsung masuk ke dalam tanpa menoleh sedikitpun padanya.


"Kenapa sih tuh orang kok mukanya jadi kucel begitu," gumam Mentari.


"Mungkin dia lelah Ummi, biarkan saja dia membersihkan diri dulu biar segar kembali.


Mentari mengangguk dan langsung menggandeng tangan sang suami.


"Yuk masuk," ajaknya.


Ustadz Alzam pun mengangguk dan mengikuti langkah sang istri masuk ke dalam rumah.


Sampai di dalam Mentari tercengang melihat para pembantu tampak mendekor dinding-dinding rumahnya.


Mentari mengernyitkan dahi. "Ada apa ini Bik?" tanya Mentari penasaran.


Siapa yang mau berpresta?" tanyanya lagi sebab tidak ada satupun dari pembantu yang menjawab pertanyaan darinya.


"Apa kalian mau merayakan ulang tahunku?" tanya Mentari lagi sebab ekspresi para pembantunya seperti ekspresi Nanik dan Mega tadi.


"Ya nggak surprise lagi deh, orangnya dah muncul dan persiapannya belum rampung," ujar Tama sambil berjalan ke arah anak dan menantunya.


"Lagian jam segini belum siap? Mau merayakan ulang tahun tengah malam?" Mentari menggoda sang ayah.


"Iya, kan kamu lahirnya malam," jawab sang papa.


"Jadi aku lahir tengah malam?" tanya Mentari setengah tak percaya.

__ADS_1


"Bukan tengah malam, tapi jam sembilan malam," jawab sang Papa.


Bersambung.


__ADS_2