
"Pak Kiki apakah kamu bisa menolongku?" tanya Diandra melihat Kiki menatap dirinya dengan perasaan iba.
"Maaf tidak bisa, Pak Gala kalau sudah memutuskan sesuatu itu tidak akan mau merubahnya lagi. Kalau dipaksa akan berpengaruh pada posisiku saat ini. Sekarang kamu lebih baik cari pekerjaan di kantor lain dan ingat apa yang terjadi hari ini harus dijadikan pelajaran ke depannya."
Diandra hanya diam mendengar Kiki sama sekali tidak bisa membantu dirinya.
"Diandra kau perlu ingat, sifat masing-masing pria itu tidaklah sama. Ada pria yang senang kau goda dengan body mulusmu itu, tetapi jangan pernah lupakan juga ada pria yang merasa jijik jika kamu memamerkan tubuhmu secara berlebihan seperti itu. Dia yang merasa seperti itu akan menganggap kau wanita murahan. Apalagi kalau sampai kau memfitnah pria seperti yang kau lakukan pada Pak Gala. Sayangi dirimu sendiri dan pergilah dari perusahaan ini."
Setelah mengatakan kalimat-kalimat nasehat pada Diandra, Kiki keluar dari ruangan itu meninggalkan Diandra yang masih diam terpaku.
🍓🍓🍓
Sampai di rumah Gala langsung menyuruh Sarah membersihkan diri.
"Saya buatkan minuman dulu ya Pak." Sarah menawarkan diri.
"Tidak usah Sarah, mandi saja sana biar tubuhmu fresh lagi!"
"Tapi kayaknya otak Pak Gala masih panas perlu di suguhin yang dingin-dingin biar jadi adem," ujar Sarah melihat wajah Gala masih terlihat memerah dan juga lelah.
"Ya sudah sana, kalau begitu aku yang mandi duluan."
Sarah mengangguk lalu berjalan menuju dapur sedangkan Gala langsung menuju kamar.
"Darimana saja?" tanya Tama melihat Gala malah keluyuran di hari pernikahannya.
"Dari kantor Pa."
"Baru menikah sehari sudah bekerja, apa tidak bisa ditinggal tuh pekerjaan? Kasihan istrimu kalau ditinggal-tinggal."
"Ada yang penting Pa, lagipula Sarah juga nggak apa-apa dan dia juga ikut kok."
"Oh, kupikir dia dari tadi ada di dalam kamar. Yasudah kalau begitu."
Gala mengangguk dan meneruskan langkah, menapaki tangga demi tangga hingga sampai ke kamarnya sedangkan Tama sebaliknya turun ke bawah dan berjalan-jalan keluar dari rumah.
Sarah sudah menyelesaikan membuat 2 gelas minuman jus semangka, wanita itu langsung membawanya ke dalam kamar.
"Siang Sarah!" sapa Tama saat berpapasan dengan Sarah.
"Siang Paman, eh Pa. Mau minum jus semangka Pa?" Sarah menawarkan jus semangka yang sebenarnya untuk dirinya sendiri.
"Tidak usah papa tidak haus kok, berikan saja pada suamimu."
"Baik Pa."
"Ya sudah papa keluar dulu untuk mencari angin segar."
Sarah mengangguk dan melanjutkan langkahnya kembali.
"Cepat banget pak mandinya," sapa Sarah saat melihat Gala sudah mengucek rambutnya yang basah dengan handuk.
__ADS_1
"Ya begitulah kalau laki-laki mandi, bisa kilat nggak kayak perempuan," ujar Gala sambil berjalan ke arah ranjang.
"Hmm, minumannya aku taruh di sini ya!" Sarah meletakkan dua gelas jus semangka di atas sebuah meja lalu meletakkan nampan di sampingnya.
"Ya, mandilah biar segar!"
Sarah mengangguk, mengambil handuk dan baju ganti kemudian masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Gala memakai pakaian rumahan.
Beberapa saat Sarah keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja rias lalu mengeringkan rambut dengan hair dryer.
"Sudah diminum jusnya?" tanya Sarah sambil terus mengarahkan hair dryer ke setiap helai rambut.
"Sudah tuh habis, tinggal punyamu."
"Maaf ya Pak, kalau Pak Gala tidak suka sebab Sarah kan belum tahu makanan atau minuman favorit maupun yang tidak disukai oleh Bapak. Sepertinya saya masih harus banyak belajar nih tentang Pak Gala."
"Nggak usah emang kamu pikir aku mata pelajaran apa sehingga harus dipelajari." Gala terkekeh.
"Ckk, bukan begitu maksudku." Sarah cemberut.
"Kamu tidak perlu memahami apa yang aku sukai ataupun tidak karena semua yang kamu suka pasti saya sukai begitupun sebaliknya. Kita kan satu rasa. Satu rasa cinta." Gala terkekeh lagi.
Sarah terlihat meringis, kemudian tersenyum, dia memandang aneh pada Gala lewat cermin di depannya.
"Kenapa berekspresi seperti itu?" Gala pun melihat wajah Sarah melalui cermin di meja rias.
"Gombal." Sarah tertawa.
"Bukan kuingin memastikan
akulah cinta sejatimu, yakinkan hatimu
akulah takdir yang engkau nantikan."
Gala memeluk tubuh Sarah dari belakang dan membelai rambut istrinya itu yang sudah setengah kering.
Sarah mendongak menatap wajah Gala yang nampak serius, menyanyi penuh penghayatan. Padahal Sarah awalnya ingin protes tapi dia urungkan.
"Nyanyi dia," gumam Sarah. Sebenarnya ingin bicara pada diri sendiri, tetapi malah di dengar oleh Gala.
"Oh iya ya, aku lupa seharusnya aku baca shalawat ya bukan nyanyi. Kan yang ada di pelukanku sekarang ini wanita shalihah, adiknya ustadz."
"Apaan sih!" protes Sarah.
"Kalau kita satu rasa berarti Pak Gala suka dong makan seafood. Nanti deh saya masakin banyak-banyak," goda Sarah sebab lagu yang dinyanyikan Gala berjudul 'Satu Rasa'.
"Tidur yuk Sarah aku ngantuk!"
"Tidur siang sendiri saja ya. Ini tanggung belum dhuhur."
"Nggak apa-apa dhuhur nya nanti saja abis bangun tidur."
__ADS_1
"Takut kebablasan, kalau aku tidur siang biasanya bakal lama."
"Nggak bakal kebablasan karena sekarang bakal ada pengganggu dalam tidurmu."
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan aku?" Gala tersenyum penuh arti.
Sarah mencebik. "Untuk apa diajak tidur kalau akhirnya diganggu juga?"
"Aih tidak paham dia," gumam Gala dan Sarah hanya mengerutkan dahi bingung.
"Sudah jangan banyak berpikir, minum dan tidur. Aku pasang alarm nih biar ada yang bangunin kita." Gala kembali ke arah ranjang merebahkan tubuhnya di atas kasur sedangkan Sarah mengangguk dan meletakan hair dryer di dalam laci meja rias kemudian meminum jus semangka sampai tandas.
Setelahnya dia membaringkan tubuhnya di samping Gala. Gala segera meraih tubuh Sarah dan mendekapnya erat membuat jantung Sarah memompa tiga kali lipat lebih cepat.
"Mau nggak aku masakin seafood?" Sarah mencoba menghilangkan rasa canggung dengan mengajak Gala bicara. Wanita itu tertawa mengingat tubuh Gala yang merah-merah dulu akibat alergi seafood.
"Boleh sih asal jangan banyak-banyak," sahut Gala semakin menarik tubuh sang istri hingga membuat Sarah seperti sesak nafas saja.
"Mau nggak setia sama aku?" Ternyata Gala masih ingat dengan lirik lagu terakhir yang dinyanyikannya tadi.
"Dalam keluarga kita kan Pak Gala yang jadi imamnya. Jadi Sarah sebagai makmum ikut imam saja kemana dia akan membawa atau mengarahkanku. Jika imam setia makmumnya sudah pasti dong setia, tapi kalau imamnya main hati ya jangan salahkan kalau makmumnya juga ikutan."
Gala menelan ludah mendengar jawaban Sarah.
"Nggak boleh ikutan yang salah Sarah, dosa. Dalam shalat saja jika gerakan imam salah makmum nggak ikutan gerakan yang salah, tapi wajib menegurnya. Maka suatu saat jika aku bersalah kau tegur saja."
"Iya kan makmum juga manusia bisa salah dan lupa dan kalau salah dosanya ditanggung imam."
"Omongan kita semakin ngawur aja ya?" Gala menggaruk kepalanya.
"Sudah ah ayo tidur!"
Sarah mengangguk lalu mencoba memejamkan mata. Gala yang katanya mengantuk malah tidak tidur melainkan memainkan rambut Sarah.
"Pak kenapa pria suka memainkan rambut wanita?" tanya Sarah dengan serius.
"Kenapa pria suka memainkan rambut wanita?" Gala mengulang pertanyaan Sarah.
"Ya."
"Kenapa pria suka memainkan rambut wanita kenapa saat ini saya suka memainkan rambutmu?" ulang Gala.
Sarah mengangguk. Berharap ada jawaban romantis dari Gala.
"Karena ingin memeriksa di rambutmu ada kutunya atau tidak, hahaha.... " Gala tertawa renyah membuat Sarah langsung mendorong tangan Gala dan cemberut.
"Jangan ngambek dong, aku kan cuma bercanda," rayu Gala.
"Bercanda bapak keterlaluan." Sarah memalingkan muka.
__ADS_1
Bersambung.