
"Hai Kate!" Arka melambaikan tangannya ke arah Katrina saat wanita itu terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan dirinya.
"Hai Arka!" Katrina berlari ke arah Arka dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Yuk masuk!" ajak Arka sambil memegang pergelangan tangan Katrina dan membawanya masuk ke dalam perusahaan.
"Namanya Katrina?" Seorang staf laki-laki tampak membolak-balik kertas di tangannya.
"Iya Pak," jawab Katrina sambil tersenyum ke arah Arka yang juga ikut duduk di sampingnya.
"Sebentar." Pria itu tampak mengetik sesuatu di komputernya. Beberapa saat setelah memeriksa pria itu tampak mengernyit.
"Pernah bekerja di perusahaan Praditama?" tanyanya lagi.
"Iyap betul Pak." Katrina pikir dengan mengetahui di perusahaan mana dia bekerja sebelumnya pasti perusahaan ini akan mempertimbangkan untuk memberikan dirinya posisi yang bagus di perusahaan.
"Menjabat sebagai sekretaris, bukan?"
"Iya," jawab Katrina cepat lalu menoleh ke arah Arka dengan senyum yang merekah. Arka pun membalas tatapan Katrina dengan tersenyum pula.
"Maaf kami tidak bisa menerima Anda," ucap bapak yang duduk di hadapan kini membuat ekspresi wajah Katrina pucat seketika.
"Bagaimana mungkin bapak menolak saya sebelum melakukan interview? Bapak belum tahu kemampuan saya malah menolak begitu saja." Katrina tidak terima lamarannya di tolak mentah-mentah.
"Wah Bapak ini apa-apaan! Saya sudah mengkonfirmasi kepada Bu Bos terlebih dahulu bahwa saya ingin membawa teman saya bekerja di sini dan Bu Bos setuju. Dia mengatakan ada lowongan pekerjaan di sini untuk teman saya." Arka pun tidak terima sebab Bos nya sudah menjanjikan untuk memberikan pekerjaan kepada Katrina.
"Tapi riwayat pekerjaan dia buruk, mana mungkin kami menerima ibu ini bekerja di perusahaan ini," jelas pria yang masih terlihat santai-santai saja itu.
Brak.
Katrina yang tidak terima dibilang pengalaman kerjanya buruk langsung menggebrak meja.
"Bapak dengar ya, profesi saya di perusahaan Pradiatama itu sebagai sekretaris. Sebagai sekretaris," ulangnya dengan menekan kata sekretaris.
"Bagaimana mungkin Bapak menilai kinerja saya buruk? Kalau memang kinerja saya buruk di perusahaan sebelumnya pasti jabatan saya tidak akan sampai ke sekretaris. Mungkin saya akan menjadi OB di sana, Bapak mengerti?" tekan Katrina.
"Tapi laporan di sini menunjukkan bahwa kamu ...."
"Saya kenapa?" potong Katrina dengan cepat perkataan pria di hadapannya itu.
"Sudahlah Pak lebih baik Bapak hubungi saja Bu Bos dan katakan padanya saya membawa teman saya untuk bekerja di sini kalau Bu Bos yang menolak baru kami terima," ujar Arka.
Bapak itu terdiam, berpikir apakah perlu menelpon bosnya, sedangkan dirinya sudah diberi tanggung jawab penuh untuk menentukan calon karyawan baru yang lolos seleksi ataukah tidak.
__ADS_1
"Kalau Bapak menolak begini bukan hanya teman saya yang tidak bekerja di sini melainkan bapak juga akan terlempar dari perusahaan ini," ancam Arka.
"Cih mentang-mentang dekat dengan Bu Bos dan diangkat jadi manager malah sok." Pria itu membatin sendiri sebab kalau perkataan itu diucapkan dengan keras dia takut pekerjaannya benar-benar akan melayang. Bukankah posisi Arka di perusahaan itu lumayan tinggi dibandingkan dengan dirinya?
"Baik tunggu sebentar, saya akan menghubungi Bu Bos." Pria itu langsung meraih ponsel dan menelpon atasannya.
"Halo Bu ada seorang wanita yang melamar pekerjaan, dia bersama Pak manager dan beliau mengatakan Ibu sudah menyanggupi untuk memberikan dia pekerjaan."
"Ya benar, berikan saja pekerjaan yang tersedia di kantor. posisi sekretaris masih kosong, bukan?
"Tapi Bu?"
"Tapi apa?"
"Sebentar."
Pria itu bangkit berdiri dan menjauh dari Arka serta Katrina.
"Kenapa Pak apakah ada masalah dengan calon karyawan itu?"
"Iya Bu, karyawan itu mempunyai catatan buruk saat bekerja di perusahaan Pradiatama dan saya hanya takut dia akan mengulangi bersikap buruk di perusahaan ini."
"Benarkah?" tanya wanita itu tidak percaya.
"Oke-oke."
Beberapa saat kemudian wanita itu tampak termenung.
"Hmm, bagaimana ya? Saya sudah kadung berjanji pada Arka untuk menerima temannya bekerja di perusahaan milikku." Orang dibalik telepon pun jadi ragu padahal kebetulan dia memang membutuhkan seorang sekretaris saat ini dan mendengar wanita itu punya pengalaman menjadi sekretaris wanita itu berharap Katrina bisa menggantikan sekretaris lamanya yang sudah mengundurkan diri tanpa sebab.
"Tapi semalam Arka juga bilang padaku bahwa temannya itu memang pernah berselisih dengan adik pemilik perusahaan Pradiatama sehingga catatan buruk itu mungkin saja hanyalah manipulasi semata."
"Kalau masalah itu saya kurang paham Bu benar tidaknya. Bagaimana kalau kita kasih posisi yang rendah dulu Bu, nanti kalau memang kinerjanya bagus baru ibu angkat menjadi sekretaris. Kalau memang dia layak jadi sekretaris ya silahkan saja ibu angkat jabatan dia."
"Bolehlah, staf bagian gudang masih ada yang kosong, bukan?"
"Ide yang bagus Bu, staf di sana memang kurang Bu. Apakah saya akan menerima dia di bagian itu?"
"Iya coba dulu di sana."
"Baiklah kalau begitu, kalau begitu saya tutup teleponnya dulu ya Bu."
"Iya."
__ADS_1
Pria ini langsung menutup telepon.
"Bagaimana Pak?" tanya Arga penasaran.
"Baiklah teman Pak manager ini kami terima," ucap pria itu dengan senyumannya.
"Tuh kan apa aku bilang? Bu Bos pasti tertarik kan dengan pengalaman kerjaku?" Katrina begitu percaya diri melihat senyum di bibir pria di hadapannya kini mengembang.
"Iya begitulah, maaf tadi menolak ibu. Saya hanya takut ditegur Bu Bos kalau menerima karyawan baru sembarangan."
"Tidak apa-apa Pak, santai saja lagi," ucap Katrina. Moodnya mulai membaik dan wajahnya tampak berbinar-binar kembali.
"Oh ya mulai sekarang ibu sudah bisa langsung bekerja."
"Bekerja sekarang juga?" tanya Katrina tak percaya.
"Selamat ya Kate." Arka mengulurkan tangannya ke arah Katrina dan wanita itu langsung menjabat tangan Arka dengan senang.
"Kalau begitu mari saya antar ke ruangan ibu," ajak pria yang tadi dan langsung berjalan keluar.
Katrina mengangguk dan mengikuti langkah pria itu dari belakang. Arka pun ikut melangkah di belakang Katrina. Pria itu terhenyak ketika Katrina dibawa ke sebuah gudang.
"Kenapa malah dibawa ke tempat ini?" batin Arga.
"Ini tempat kerja ibu."
Katrina kaget di kala pria itu mengantarnya ke sebuah ruangan luas dan berhenti depan pintu.
"Apa ini? Gudang?"
"Ya ibu kami tempatkan di bagian gudang untuk mengecek keluar masuknya barang, sekalian membantu yang lainnya mengangkut barang," jelas pria itu secara rinci.
"Apa? Aku harus bekerja di sini? Nggak banget, ini perusahaan apa tempatnya kuli sih!" protes Katrina tidak terima dengan posisi yang harus diterjuninya saat ini.
"Tapi cuma ini Bu lowongan pekerjaan yang tersedia."
"Tidak aku mau yang lain, yang pegang laptop sama bolpen, bukan yang pegang-pegang barang kayak gini apalagi sampai harus mengangkutnya."
"Ya sudah kalau tidak mau, Ibu bisa cari kerja di perusahaan lain."
"Arka," rengek Katrina pada Arka yang juga terlihat bingung.
Bersambung.
__ADS_1