
Sore hari Bintang langsung mengantarkan Izzam ke rumah Tama. Mengingat Gala sudah mengabarkan Sarah sudah akan dibawa pulang, Bintang mengajak Arumi dan Tuan Winata sekalian agar tidak perlu menjenguk ke rumah sakit.
"Berhenti dulu Bin!" pinta Arumi saat mobil yang Bintang kendarai melintasi sebuah toko yang menjual pernak-pernik dan perlengkapan bayi dan anak.
"Mama mau ngapain?" tanya Bintang tidak mengerti dengan jalan pikiran Arumi yang meminta menghentikan mobilnya di tengah jalan.
Beli kado buat Sarah dan bayinya dulu," ujar Arumi lalu memberikan Izzam pada suaminya.
"Sama Opa dulu ya Izzam!"
"Ini Pa." Menyodorkan anak dalam gendongannya.
Izzam yang diajak bicara pun mengangguk dan Tuan Winata meraih Izzam lalu mendudukkan bayi itu dalam pangkuannya.
Arumi membuka pintu mobil lalu melangkah ke arah toko yang berada tepat di pinggir jalan.
Setengah jam masuk ke dalam toko, Arumi belum kembali juga ke dalam mobil.
"Ya ampun lama amat sih mama," keluh Bintang karena bosan menunggu. Izzam pun terlihat gelisah di dalam mobil, sepertinya anak itu gerah padahal AC mobil masih dalam keadaan menyala.
"Mending kamu susul aja deh Bin, memang apa sih yang mau dibeli mama kamu?" Tuan Winata pun tak kalah protes melihat keadaan Izzam sudah terlihat tidak sabaran.
"Ya udah deh Pa, Bintang turun saja mau lihat mama sekalian bawa Izzam barangkali ada mainan yang bisa menarik hatinya di dalam toko itu."
"Ide yang bagus sebab anak ini sudah kelihatan tidak betah dan sepertinya akan menangis," ucap Tuan Winata sambil melihat bola mata Izzam yang sudah nampak berkaca-kaca.
Bintang turun dari mobil dan berjalan ke belakang kemudian membuka pintu samping mobil dan meraih Izzam dari papanya.
"Izzam ikut Om ke dalam ya biar nggak bosan nunggu di sini," ujar Bintang sambil melangkah ke arah toko.
Anak itu akhirnya tersenyum sambil mengangguk.
"Kau ganteng banget sih kayak Abimu kalau tersenyum seperti ini," ucap Bintang sambil mencubit pipi Izzam dan anak itu malah menggelembungkan pipinya membuat semua orang yang melihatnya pasti akan merasa gemas.
"Pantas saja Ummimu tidak bisa melupakan Abimu. Memandang wajahmu saja pasti akan langsung teringat ustadz Alzam," gumam Bintang dengan ekspresi wajah yang sendu.
"Aku mah dibandingkan dia tidak ada apa-apanya." Rasanya Bintang sudah tidak mau berharap banyak bisa bersatu dengan Mentari kembali. Ya walaupun dia juga tidak bisa membuka hatinya untuk wanita lain juga.
"Rasanya cinta umminya sudah mati bersama kepergian abimu." Kali ini bola mata Bintang yang tampak berkaca-kaca.
Anak yang tidak begitu mengerti perkataan Bintang itupun masih menatap wajah Bintang sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ah sudahlah, kita masuk sekarang." Bintang mencoba membalas senyuman Izzam lalu masuk ke dalam toko.
Kali ini Bintang sudah berada dalam toko dan menawarkan beberapa mainan pada keponakannya itu.
"Izzam mau ini?" Bintang menawarkan mainan robot pada Izzam, tetapi anak itu menggeleng.
"Ini?" Kali ini Bintang menawarkan mobil-mobilan pada Izzam dan untuk kedua kalinya anak itu menggeleng.
"Tidak mau?" tanya Bintang heran dan Izzam malah mengangguk.
"Atau mau beli baju? Ini?"
"Ti–dak," sahut Izzam singkat.
"Oh oke. Kalau begitu kita cari oma dulu," ujar Bintang sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Arumi.
"Cari siapa Mas?" tanya seorang pelayan perempuan.
"Cari mama saya Mbak, masih ada di sini kah atau sudah pindah toko?"
"Apa yang Mas maksud ibu itu?" tanya pelayan sambil menunjuk wanita yang sedang memilih pakaian.
"Ah iya benar, terima kasih," ucap Gala sambil berlalu dari hadapan pelayan menuju tempat dimana Arumi yang begitu fokus menatap satu demi satu pakaian yang tergantung di sudut ruangan.
"Astaghfirullahaladzim, kau ngagetin saja Bin," protes Arumi sambil memegang dadanya karena telah dikejutkan oleh Bintang.
"Maaf Ma," ucap Bintang.
"Mama cuma mau ngasih Sarah pakaian busui, menurutmu mana yang cocok Bin?" tanya Arumi sambil menunjukan beberapa pakaian yang tergantung di depannya.
Bintang mengernyit lalu tertawa.
"Malah tertawa sih?" protes Arumi.
"Habisnya Mama aneh deh malah bertanya pada Bintang yang belum pernah beli baju untuk orang hamil," keluh Bintang.
"Bukankah kamu pernah beliin Katrina ya dulu? Seharusnya kau tahu model apa yang cocok."
"Ckk, mana ada Ma? Katrina dul kalau beli baju milih sendiri. Sudahlah mama tidak perlu nyebut-nyebut dia lagi. Lagipula gaya berpakaian Katrina berbeda dengan Sarah."
"Iya juga ya? Yang mana yang bagus dan kekinian, tapi masih bisa dipakai untuk menyusui?" Arumi terlihat berpikir.
__ADS_1
"Mama sayang ya sama Sarah? Padahal dia bukan mantu mama," protes Bintang.
"Dia menantu Mas Tama berarti menantu mama juga. Kau tenang saja dan tidak perlu iri pada Gala sebab nanti kalau istrimu juga melahirkan mama akan lebih sayang dan perhatian padanya dibanding dengan Sarah."
"Ah sudahlah jangan ngomongin istri Bintang. Mungkin Bintang tidak akan pernah menikah lagi."
Sontak saja Arumi syok dengan perkataan putranya.
"Apa kamu bilang? Tidak akan menikah?" Wajah Arumi terlihat kecewa, lebih kecewa lagi saat Bintang menjawab pertanyaannya dengan anggukan.
"Kamu jangan bercanda Bin. Kau sadar kan dengan apa yang kamu ucapkan?"
"Mentari tidak bisa membalas perasaan Bintang Ma, apakah kita bisa memaksanya?"
Arumi menggeleng mendengar perkataan Bintang.
"Kau pikir wanita hanya Mentari saja di dunia ini?"
"Tapi hanya dia yang Bintang cintai Ma dan dia sama sekali tidak perduli dengan perasaan Bintang."
"Dia bukannya tidak perduli, tetapi sudah tidak ada perasaan cinta lagi padamu karena dulu sudah sering dikecewakan olehmu. Bukalah hatimu untuk yang wanita yang lainnya Bin, jangan menutup hatimu!"
"Maaf Ma Bintang tidak bisa."
"Tidak bisa karena kamu tidak mau berusaha untuk melupakan perasaan itu. Kalau sudah dicoba mana mungkin kamu akan tetap mengatakan tidak bisa. Cobalah lihat di sekelilingmu, banyak wanita cantik, single dan pintar dan mama yakin dia akan sangat senang jika kamu lamar."
"Sudahlah Ma. Mama selesaikan belanjaan Mama saja, kasihan papa di mobil sendirian jika kita berlama-lama di sini."
"Bagaimana kalau mama jodohkan kamu dengan sekretarismu itu?" Tiba-tiba saja Arumi ingat akan sekertaris baru Bintang.
"Ya Tuhan! Mama masih saja mau main jodoh-jodohan. Ogah Bintang tidak mau. Ngomong-ngomong bagaimana kalau mama pilih baju yang ini saja?" tanya Bintang mengalihkan pembicaraan.
"Yang mana, yang ini?"
"Iya Ma kelihatannya bagus, kayak bukan baju busui loh Ma. Sepertinya bisa dipakai di acara formal juga tanpa jelas terlihat bahwa baju ini adalah baju untuk ibu menyusui karena resletingnya tersembunyi. Modelnya juga bagus dan lengannya yang panjang cocok untuk sarah yang berhijab dia hanya tinggal menambahkan rok di bagian bawahnya dan juga kerudung di bagian atasnya," jelas Bintang panjang lebar.
"Oh iya ya bentuknya juga kekinian," ujar Arumi sambil menimang-nimang baju atasan di tangannya.
"Itu namanya zide zhipper Nyonya, memang merupakan salah satu model baju busui modern. Zhipper atau resletingnya yang tersembunyi tidak mengurangi estetika pakaian itu sendiri."
"Ya sudah bungkus saja kalau begitu Mbak!" perintah Bintang agar sang mama tidak berlama-lama lagi.
__ADS_1
Bersambung.