
Mereka pun meminum es teh yang dibuatkan oleh ibu kos Mentari sambil menunggu Mentari bersiap-siap.
Beberapa saat kemudian Mentari membuka pintu dan berjalan ke arah mereka semua.
Ustadz alzam yang melihat penampilan Mentari tercengang melihat Mentari yang begitu cantik dengan gaun yang cocok menurutnya. Bukan karena baju yang dipakai adalah
pemberiannya tetapi memang baju yang dipakai Mentari semakin mendukung kecantikannya.
"Sabar Kak," goda Sarah yang melihat ustadz Alzam tidak berkedip melihat ke arah Mentari. Namun, ustadz Alzam tidak menggubris perkataan Sarah karena tidak mendengar.
"Belum halal," bisik Sarah di telinga ustadz Alzam, tetapi suaranya dikeraskan sehingga di dengar oleh semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Ustadz Alzam tampak kaget membuat dirinya ditertawakan semua orang.
"Sarah," protesnya sedangkan yang diprotes dalam mode tertawa kencang. Ustadz Alzam hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang adik.
"Bagaimana sudah siap?" tanya ustadz Alzam pada Mentari. Wanita itu tampak mengangguk.
"Kalau begitu mari kita pergi."
Semua orang bangkit berdiri dan langsung berpamitan pada ibu kos.
Setelah pamit mereka pergi menuju mobil. Saat Mentari hendak masuk ke dalam mobil malah Sarah mendorong tubuh Mentari agar masuk di bagian depan mobil.
"Aku di belakang saja Sarah kamu aja yang duduk di depan," mohon Mentari. Dia tidak mau mau duduk berdua dengan ustadz Alzam bisa copot jantungnya kalau terus-terusan berdegup kencang.
"Saya ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Reni dan itu rahasia tidak boleh ada yang mendengarnya." Alasan Sarah semata.
"Baiklah," ucap Mentari pasrah lalu masuk ke dalam mobil bagian depan dan duduk di samping kemudi berdampingan dengan ustadz Alzam. Sepanjang perjalanan Mentari hanya diam dan menunduk karena merasa canggung.
Ustadz Alzam melirik Mentari dan mengernyit. "Kenapa menunduk terus seperti itu tidak capek ya membungkuk seperti itu?"
"Ah tidak apa-apa," jawab Mentari grogi.
"Tidak usah khawatir ibuku baik kok," ucap ustadz Alzam barangkali hal itulah yang dipikirkan Mentari saat ini.
"Saya masih takut ibu dari ustadz tidak bisa menerima statusku sebagai janda," ucap Mentari mulai ragu.
"Insyaallah beliau akan merestui. Kita berdoa saja ya."
Mentari mengangguk.
__ADS_1
"Kau sangat cantik seperti itu, jangan dilepas ya hijabnya," pinta ustadz Alzam. Selama ini Mentari hanya memakai kerudung saat bekerja saja karena mengikuti aturan di tempat kerjanya, tetapi ketika di luar Mentari masih berpenampilan biasa saja.
Mendengar kalimat pujian dari ustadz Alzam, pipi Mentari bersemu merah seperti kepiting rebus saja.
"Insyaallah ustadz. Nanti kalau Mentari jadi istri ustad bimbing Mentari ya." Mentari langsung menutup mulutnya tatkala kalimat itu keluar tanpa sadar. Dia jadi malu sendiri.
Jangan ditanya ustadz Alzam, pria itu malah senang mendengar perkataan Mentari tadi. Sampai-sampai dibenaknya terbayang saat dirinya duduk berdua di depan pak penghulu.
"Eh saya turun di sini saja Pak!" seru Reni dari kursi belakang.
Ustadz Alzam langsung menghentikan mobilnya.
"Tidak mau ikut ke rumah Ren?" tanya ustadz Alzam barangkali gadis itu mau menemani Mentari.
"Tidak usah Pak saya pulang saja dulu karena ada sesuatu yang harus diurus. Kamu tidak apa-apa kan Me aku tinggal? Kan ada Bu Sarah ya?"
"Iya Ren tidak apa-apa terima kasih ya selalu menemaniku."
"Iya Me sama-sama." Reni turun dan mobil melaju santai di jalanan lagi.
Setelah Reni turun tidak ada satupun yang bicara termasuk Sarah.
Mentari tampak berdiri di samping mobil dengan pikiran yang masih was-was.
"Sudah ayo Kak, bismillah saja insyaallah akan lancar," ucap Sarah menenangkan Mentari.
Mentari digandeng masuk oleh Sarah dan ustadz Alzam berjalan di belakang.
"Siapa dia?" tanya ibu dari ustadz Alzam dan Sarah itu ketika melihat sosok wanita yang berdiri di samping putrinya setelah menjawab salam dari Mentari dan kedua anaknya.
"Calon istriku Bu, jadi sekarang ibu tidak usah khawatir lagi Alzam akan jadi perjaka tua," jawab ustadz Alzam menggoda sang ibu.
Ibu hanya mengangguk dan mempersilahkan Mentari duduk. Mentari terlihat ketar-ketir saja.
"Sebentar saya tinggal dulu untuk membuatkan minuman," pamit ibu dari ustad Alzam tersebut.
"Tidak usah repot-repot Bu," tolak Mentari dengan halus. Dia memang tidak ingin merepotkan ibu ustadz Alzam yang sudah setengah tua itu.
"Tidak apa-apa cuma minuman kok, menjamu tamu itu hukumnya sunnah loh," jelas ibu dan langsung bergegas pergi ke dapur.
Mentari hanya mengangguk pasrah sambil menstabilkan detak jantungnya yang semakin kencang sedangkan ustadz Alzam dan Sarah tampak bersandar pada sofa sambil memejamkan mata.
__ADS_1
beberapa saat kemudian ibu kembali dengan nampan berisi minuman dan juga setoples kue kering kemudian dihidangkan di atas meja.
"Silahkan dinikmati dulu Nak minumannya dan kue keringnya, maaf hanya bisa menyuguhkan ini."
"Tidak apa-apa Bu, ini sudah lebih dari cukup," jawab Mentari. Dia pun meraih satu keping kue kering dan mengunyah kemudian meminum minuman yang telah dihidangkan.
Sepertinya saya mengenalmu, apa kita pernah bertemu Nak?" tanya ibu penasaran saat melihat dengan jelas wajah Mentari membuat Mentari yang sedang meminum dari gelas hampir saja tersedak.
"Biar saya jelaskan Bu." Ustadz Alzam langsung menjelaskan siapa sebenarnya Mentari karena yakin Mentari tidak akan sanggup untuk menceritakannya sendiri.
"Oh dia toh pantas saja saya seperti familiar dengan wajahnya," ucap sang ibu.
"Iya Bu," ucap Mentari sambil menunduk dia merasa tidak nyaman saat ini.
"Apa kalian tidak takut berita yang beredar itu akan memanas kembali ketika orang-orang tahu bahwa kalian akan menikah?"
"Tidak masalah Bu kami berdua akan menghadapinya dengan ikhlas, iya kan Mentari?"
"Iya," jawab Mentari singkat dan masih menunduk. Dia tidak berani melihat wajah calon mertuanya. Mentari teringat akan Arumi yang sama sekali tidak pernah mau menerimanya.
"Baiklah kalau begitu ibu merestui," ucap sang ibu dengan mantap. Sontak saja Mentari langsung mendongak dan menatap calon mertuanya itu.
"Terima kasih Bu atas pengertiannya," ucap ustadz Alzam terharu mendapatkan restu dari sang ibu.
Ibunya langsung memeluk tubuh Mentari dan mengusap-usap punggung wanita itu. "Semoga kalian berjodoh ya dan semoga dapat menemukan kebahagiaan."
"Terima kasih Bu," ucap Mentari terharu sampai menitikkan air mata. Mungkin benar ustadz Alzam memang jodohnya sehingga semua jalan dipermudah untuknya.
"Jangan lama-lama ya menikahnya biar saya tidak perlu repot-repot lagi untuk menjelaskan kepada mereka-mereka yang menginginkan putrinya untuk dinikahi olehmu," pinta sang ibu.
"Baik Bu, setelah mendapat restu dari orang tuanya saya akan langsung mengurus acara pernikahan."
Sang ibu mengangguk setuju.
"Kalau begitu sekarang kami pamit mau menemui orang tuanya," pamit ustadz Alzam.
"Baiklah hati-hati," sahut sang ibu melepaskan kepergian anaknya.
Setelah pamit dan menjabat tangan calon mertua dan ibu, mereka pergi ke desa untuk menemui orang tua Mentari.
Bersambung.
__ADS_1