HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 244. Melahirkan


__ADS_3

Tama pun semakin kencang menyetir.


"Aduh sakit sekali Bik," ucap Sarah sambil mengusap-usap perutnya sambil meringis.


"Sabar Non." Hanya kalimat itu yang bisa diucapkan oleh pembantunya. Wanita itupun ikut mengusap-usap perut Sarah.


"Kamu tenang ya Nak Sarah, sebentar lagi kita sampai," ujar Tama sambil terus fokus menyetir.


"Iya Pa."


Sarah merasakan tiba-tiba rasa sakitnya berhenti mendadak. Wanita itupun akhirnya bernafas lega lalu membenarkan sandarannya yang merosot dari sandaran kursi mobil.


"Sudah mendingan Non?" Sang bibi bertanya karena melihat Sarah sudah terlihat lebih tenang.


"Alhamdulillah Bik, sudah mendingan."


"Syukurlah kalau begitu."


"Tapi sekarang Sarah mengantuk Bik," ucap Sarah lalu menutup mulut dengan tangan dan menguap.


"Tidurlah sebentar, barangkali dengan istirahat begitu Non Sarah akan memiliki tenaga saat mengejan nanti."


Sarah mengangguk dan menutup mata.


Bibik menghela nafas.


"Kenapa dia Bik?"


"Tidur Tuan."


Tama pun akhirnya bisa lebih tenang.


"Tapi bibi awasi nafasnya takut terjadi hal yang tidak diinginkan!"


"Baik Tuan."


Tama pun sedikit melambatkan laju mobil dari sebelumnya sebab takut mengganggu tidur Sarah.


15 menit kemudian akhirnya mobil memasuki area rumah sakit.


"Aduh sakit lagi, rasanya Sarah sudah tidak kuat Bik, Arrrgh!" Sarah langsung mengejan dan ada yang terasa pecah dibawah sana. Dress panjang Sarah terlihat basah.


"Bik?"


"Sepertinya ketubannya sudah pecah Tuan," lapor si bibik.


"Suster menantu saya sepertinya sudah siap melahirkan!" lapor Tama pada suster yang sudah menunggu kedatangannya di sekitaran tempat parkir dengan brankar di samping mereka.


Salah satu suster mengangguk dan langsung membuka mobil. Mereka langsung membantu Sarah untuk naik ke atas brankar. Setelahnya brankar itu didorong dengan cepat ke ruangan bersalin.


Sampai di dalam dokter sudah menyambut kedatangan Sarah. Wanita itu sudah memakai sarung tangan. Sarah pun langsung dipindahkan ke atas ranjang.


"Dokter rasanya bayinya sudah mau keluar," ujar Sarah sambil menahan ringis.


"Baiklah, kalau begitu saya periksa dulu."


"Air ketubannya sudah pecah Dok," ujar suster.

__ADS_1


"Kalau begitu langsung tarik nafas lalu hembuskan! Kumpulkan kekuatan dulu sebelum mengejan," ujar dokter kandungan sambil berjalan ke arah kaki Sarah.


"Maaf ya saya harus lepas pakaian dalamnya," ujar dokter dan Sarah hanya bisa mengangguk. Dokter pun membenahi posisi Sarah.


"Ada keluarga yang bisa menemaninya Sus?"


"Ada Dok mertua laki-lakinya, tapi Bu Sarah ini juga diantar oleh pembantunya."


"Boleh panggilkan pembantunya saja!"


"Baik Dok."


Suster membuka pintu ruangan.


"Apakah saudara saya sudah melahirkan Dok?" Tiba-tiba Mentari berlari ke arah suster.


"Nona Mentari?"


"Iya Bik."


"Kalau begitu Nona bisa langsung menemani Bu Sarah di dalam."


Mentari mengangguk dan menyerahkan Izzam pada ibu mertuanya yang juga ikut bersamanya.


"Atau ibu saja yang mau masuk?" tanya Mentari.


"Kalian berdua sama-sama masuk juta tidak apa-apa," ujar suster yang membuat Mentari langsung mengambil Izzam lagi kemudian memberikan pada Tama.


"Nitip Izzam Pa," ujarnya sambil bergegas masuk ke dalam ruangan sedangkan Tama hanya terlihat mengangguk saja. Wajah pria itu tampak khawatir.


Setelah keduanya masuk suster langsung menutup pintu dari dalam.


"Susah juga ya Dok ngelahirin bayi, ternyata lebih susah dibandingkan buang air besar saat sembelit," ujar Sarah lalu meringis lagi.


"Iyalah Bu Sarah, mungkin mengeluarkan manusia Bu Sarah samakan dengan buang zat sisa metabolisme. Pasti lebih sulit lah. Yang gampang buatnya saja," ujar dokter sambil terkekeh.


"Sarah!"


"Ibu? Kak Mentari?" Sarah tersenyum. Akhirnya ada juga yang menemani lahirannya meskipun sang suami tidak ada. Sebenarnya Sarah ingin melahirkan ditemani oleh Gala. Namun, apa boleh buat Gala sedang tidak bersamanya.


"Iya ayo semangat biar bayinya keluar dalam keadaan sehat," ujar Mentari.


"Iya Kakak, dari tadi juga sudah semangat tapi susah keluarnya. Apa mungkin bayinya masih menunggu ayahnya? Padahal sudah sejak dari mobil rasanya ingin keluar, tapi sampai saat ini belum keluar-keluar juga."


"Coba lagi dan lagi!"


Sarah mengangguk. Sang ibu mengambil tempat di dekat kepala Sarah. Menyeka keringat putrinya lalu meniup ubun-ubunnya.


"Semangat tidak usah pikirkan yang lainnya. Fokuskan pada bayimu!"


"Iya Bu."


"Kok diam?" tanya Mentari. "Kalau mau keluar jangan ditahan nanti bahaya loh sama bayi dan tubuhmu sendiri."


"Belum kontraksi lagi," jawab Sarah.


"Makan dulu ya Sarah? Kali aja butuh tambahan tenaga, tidak apa-apa kan Dok?"

__ADS_1


"Tidak apa sambil makan, malah bagus kok."


Mentari mengangguk lalu keluar dari ruangan. Tadinya wanita itu ingin memberikan makanan pada Tama dan yang lain di rumah, tetapi saat mendengar dari pak satpam bahwa Sarah ingin melahirkan, dia langsung mengarahkan mobilnya ke rumah sakit.


Mentari pun kembali ke dalam ruangan dengan membawa sebuah rantang di tangan kanan dan air mineral di tangan kiri. Dia langsung menyuapkan ke mulut Sarah.


Ditengah-tengah makannya Sarah merasakan sakit perut yang menderanya lagi. Kali ini sakitnya sangat dahsyat.


"Sudah Kak! Perutku sakit lagi."


Mentari mengangguk dan meletakkan rantang di tangannya dan berubah mengelus perut Sarah. "Mungkin sudah saatnya."


"Ayo tarik nafas hembuskan, tarik nafas hembuskan setelah itu kumpulkan kekuatan lalu mengejan!" saran dokter.


Sarah pun menurut dia melakukan apa yang dokter sarankan.


"Hem, Huffft! Arrgh!" Sarah berteriak.


"Jangan berteriak Bu Sarah, tapi mengejanlah!" protes dokter.


"Iya Dok, hehe."


Di tengah kerisauannya, Sarah masih terlihat cengengesan padahal orang-orang yang mendampinginya sudah sangat khawatir dan takut.


Di sisi lain Gala langsung berlari saat setelah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.


"Aku tidak boleh terlambat, aku harus menemani Sarah lahiran," gumam Gala sambil terus berlari.


Sarah mengambil nafas lalu mengejan sekuat tenaga. "Arrrgh!"


"Oek oek oek!"


Akhirnya ada tangisan dari dalam ruangan.


Gala berhenti di depan pintu.


"Pa? Bik?"


Tama mengangguk.


"Iya Den sepertinya Non Sarah sudah melahirkan."


Gala langsung membuka pintu.


"Selamat bayinya laki-laki," ujar Dokter pada Sarah dan keluarga.


"Sayang!" panggil Gala dan Sarah langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Mas Gala sudah datang?" Sarah terlihat tersenyum.


"Iya Sayang maaf aku terlambat dan tidak bisa menemani saat-saat kamu kesakitan," ucap Gala dengan penuh sesal. Kalau saja dia tahu Sarah akan melahirkan hari ini dia pasti akan menugaskan Kiki untuk meninjau proyek yang berada di luar kota itu.


"Nggak apa-apa Mas, yang terpenting bayi kita selamat," ucap Sarah.


"Bukan hanya bayinya, tapi juga ibunya," ujar Gala sambil berjalan ke arah Sarah lalu mengecup kening sang istri.


"Terima kasih telah membuat hidupku jadi sempurna."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2