
Jum'at pagi Bintang menyempatkan mampir sebentar ke rumah Tama sebelum pergi ke kantor.
"Assalamualaikum Paman, apa kabar?
"Waalaikumsalam warahmatullahi Bin, paman baik-baik saja. Bagaimana denganmu dan juga kedua orang tuamu?"
"Juga baik Paman."
"Alhamdulillah kalau begitu. Tumben kamu ke sini, tidak kerja hari ini?"
"Ini masih mau berangkat Paman cuma mampir ke sini sebentar untuk menanyakan sesuatu pada Gala."
"Mau tanya apa? Apa ada sesuatu yang penting?"
"Masalah pekerjaan Paman, biasa ada sedikit masalah di dalam perusahaan saya makanya saya ke sini mau minta pendapat Gala. Kan dia lebih pandai dan berpengalaman daripada saya Paman dalam mengelola perusahaan."
"Ih kamu malah merendahkan diri Bintang. Kamu tidak kalah loh kemampuannya dari Gala sebenarnya, buktinya selama ini kalau tidak ada kamu perusahaan kami tidak mungkin sampai ke tahap ini."
"Paman terlalu melebih-lebihkan."
"Lah itu kenyataannya Bintang. Kau duduk dulu lah atau kalau terburu-buru bisa langsung samperin dia ke kamarnya," saran Tama.
"Baiklah Paman kalau begitu Bintang ke atas dulu ya!"
"Iya, silahkan."
Bintang pun menapaki tangga demi tangga hingga sampai ke depan pintu kamar Gala. Pria itu hendak mengetuk pintu kamar Gala, tetapi urung kala mendengar suara Gala dari dalam.
"Kenapa sempit sekali sih Sarah?" tanya Gala pada Sarah sambil berusaha memasukkan kaos pembelian Sarah. Sarah membelinya couple untuk Sarah sendiri dan juga untuk sang suami.
"Namanya juga masih baru dipakai Pak, masak langsung masuk," ujar Sarah sambil memakai kaos berlengan panjang miliknya sendiri lalu mengulurkan jilbabnya sampai ke dada.
"Gimana bisa masuk kalau begini," protes Gala.
"Bisa lah Pak, dipaksa dikit juga masuk. Lama-lama kalau sudah sering dipakai longgar juga."
"Iya juga. Biar ku paksa saja."
Bintang yang mendengar percakapan suami istri di dalam kamar menggeleng lalu berbalik badan dan turun dari tangga. Dia berpikir saat ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Gala.
"Dasar pengantin baru, mereka aneh banget. Bukannya main malam-malam eh malah olahraga pagi. Eh apa Gala sama Sarah belum MP juga ya sampai sekarang? Tadi Gala mengatakan milik Sarah masih sempit itu kan artinya ... astaghfirullah hal adzim kenapa aku malah ngurusin urusan orang ya!" Bintang mengusap wajahnya lalu melanjutkan langkah turun ke lantai bawah.
__ADS_1
"Bagaimana Bin sudah ketemu Gala?"
Bintang menggeleng. "Belum Paman."
"Kok kembali?" tanya Tama tidak mengerti.
"Tidak mau menganggu pengantin baru Paman," sahut Bintang. Dia merasa tidak enak hati hampir saja menganggu kesenangan kakak sepupunya bersama sang istri.
"Ya sudah tunggu saja disini. Kita makan pagi bersama dulu, belum sarapan, kan?"
Bintang mengangguk.
"Duduk di sini dulu sambil nunggu si bibik menghidangkan menu makan pagi nya!"
"Iya Paman."
Di dalam kamar.
"Berhasil, kan?" ujar Sarah.
"Iya Alhamdulillah. Lagian kamu ngapain sih Sarah mau ke makam pakai baju seperti ini?" tanya Gala tidak mengerti.
Sarah hanya menjawab dengan senyuman.
"Ingat aku tidak suka kamu pakai baju seperti itu," protes Gala.
"Memang ada larangan berpakaian ke makam Pak? Yang terpenting saya kan tidak buka aurat," sahut Sarah.
Namun, Gala menatap tidak suka dengan pakaian Sarah. Memakai kaos sedikit membuat bentuk tubuhnya kelihatan dari luar.
"Hanya waktu tertentu saja Pak," ujar Sarah masih dengan mengulas senyum.
"Awas saja kalau ada pria yang melirik bentuk tubuhmu," ancam Gala.
"Kan yang penting nggak megang Pak. Kata Bapak 'boleh lihat nggak boleh pegang'." Sarah menirukan gaya pengucapan Gala beberapa hari lalu saat Sarah mendampingi Gala bertemu klien dari Jepang.
"Sekarang dua-duanya nggak boleh," ucap Gala geram membuat Sarah hanya bisa menelan ludah.
"Saya pakai baju beginian karena ada alasannya. Yuk turun sepertinya papa sudah menunggu di meja makan." Sarah menarik tangan Gala keluar dari kamar mereka berdua.
Saat turun ke lantai bawah ternyata ada Bintang yang sedang mengobrol dengan Tama.
__ADS_1
"Ada Bintang, tumben ke sini pagi-pagi?" tanya Gala sambil melangkah mendekat ke arah keduanya.
"Ada sedikit masalah di perusahaan, bisa bantuin nggak?"
"Bisa saja sih tapi nggak bisa sekarang. Nanti siang saja ya sebab pagi ini saya dan Sarah akan berziarah ke makam almarhum ustadz Alzam," terang Gala.
"Kalau begitu saya ikut sekalian mau mampir ke rumah Mentari, sudah beberapa hari ini saya tidak melihat keadaan Izzam, kangen rasanya."
"Kangen Izzam apa kangen umminya?" tanya Sarah menggoda Bintang.
"Dua-duanya sih cuma yang mau dikangenin kan cuma Izzam, umminya tidak," jawab Bintang lalu tersenyum canggung.
Tama hanya memandang Bintang dengan perasaan yang entah, sulit diartikan. Dia tahu ponakannya itu masih ada perasaan pada putrinya makanya masih betah hidup sendiri. Namun, apa boleh buat sepertinya di hati Mentari hanya ada nama ustadz Alzam meskipun pria itu sudah tiada. Apalagi masa iddah Mentari juga masih lama.
Kebaikan ustadz Alzam memang sulit di lupakan. Jangankan Mentari semua orang masih sangat menyayangi pria itu meskipun sudah tiada. Semoga saja ustadz Alzam memang di kenang sebagai orang baik di hati setiap insan.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama yang artinya seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatannya ini, baik maupun buruk akan tetap dikenang meskipun seseorang sudah mati.
"Usaha dong Bin kalau kamu masih mencintai adik saya," ujar Gala dan Bintang mengangguk lemah.
"Nanti saja, sekarang bukanlah waktu yang tepat," ucap Bintang. Dia tahu akan sulit bagi seseorang untuk melupakan orang yang dicintainya apalagi orang itu terpisah karena maut yang memisahkan.
"Sudah kita sarapan dulu, tuh bibik sudah mengatakan menunya sudah siap," ajak Tama.
Semua orang mengangguk dan berjalan ke arah ruang makan lalu sarapan bersama.
"Ayo kita berangkat," ajak Gala pada Sarah dan Bintang setelah mereka sama-sama menyudahi makannya.
Sarah dan Bintang mengangguk. Mereka bangkit berdiri lalu pamit pada Tama.
Setelahnya mereka keluar dari rumah menuju mobil masing-masing kecuali Sarah yang satu mobil dengan Gala.
Sarah bunga dan Al-Qur'an nya sudah dibawa?" tanya Gala sebelum melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Oh ya Pak, saya lupa." Buru-buru Sarah membuka pintu mobil dan turun. Dia langsung berlari menuju pintu rumah.
"Tuh orang bisa nggak sih jalan biasa aja. Mana mungkin kerja kerasku selama ini membuahkan hasil jika dia lebih aktif dari kecebongku." Gala menepuk jidatnya sendiri.
"Dasar Sarah!"
Bersambung.
__ADS_1