
Mobil melaju mulus di jalanan. Malam hari memang jalanan terlihat lebih sepi dibandingkan siang hari yang sering mengalami kemacetan lalu lintas.
"Mentari tadi Bintang datang ke rumah untuk menanyakan keberadaan mu. Sebenarnya apa yang terjadi hingga engkau harus keluar dari apartemen?" tanya Gala membuka percakapan dalam mobil karena sedari tadi keadaan mobil hening, tidak ada yang berbicara sepatah katapun.
"Sebenarnya aku hanya kesal saja sih Pak sama Mas Bintang, tetapi alasan saya yang sebenarnya memilih keluar dari apartemen karena takut akan Katrina melakukan hal-hal yang aneh padaku. Kebetulan juga papa mengajakku untuk tinggal bersama keluarga di rumah. Papa juga mengajak Mas Bintang untuk tinggal bersama tetapi Mas Bintang menolak. Saat itu papa yang tahu bahwa ternyata Mas Bintang masih lebih membela Katrina dibanding dirinya sekaligus juga mengetahui bahwa ternyata Mas Bintang telah menikah dengan Katrina, papa menjadi murka. Jadi ya terpaksa papa menyembunyikan keberadaan ku agar bisa tahu siapa yang lebih penting di mata Mas Bintang. Katrina atau aku."
"Hm, boleh juga paman mengetes Bintang." Gala terlihat mengangguk-angguk.
"Tapi apakah Bintang tidak menelponmu? Sehingga harus mencari keberadaanmu sedari tadi?"
"Entahlah Pak, tapi yang jelas saya sudah tidak menggunakan nomor telepon yang lama. Papa yang meminta dan memberikan nomor baru. Katanya dia tidak ingin keberadaanku bisa dilacak oleh Mas Bintang.
"Dan bagaimana ibumu bisa memberikan kabar padamu bahwa adikmu sakit?"
"Kata ibu beliau menelpon Mas Bintang saat nomorku tidak bisa dihubungi. Beliau sempat bingung karena tidak ada kabar dari Mas Bintang bahwa aku sudah pulang atau belum. Akhirnya ibu teringat akan nomor papa Winata. Jadi beliau langsung menghubungi nomor papa. Papa kasih tahu ke Mentari dan saya langsung telepon balik ke kampung."
"Oh begitu ya." Mentari mengangguk. Gala menoleh ternyata sang papa yang duduk di sampingnya sudah tertidur pulas. Seperti biasa dia menyelimuti sang papa.
"Mentari, terima kasih ya."
"Atas?" Mentari bingung kenapa Gala berterima kasih kepadanya. Bukannya Gala lah yang telah membantu Mentari mengantarkan ke kampung kini. Mengapa Gala yang berterima kasih. Harusnya kan dirinya?
"Kau tahu sebelum kedatangan mu papa tidak pernah bicara pada siapapun, termasuk juga aku. Kalau aku mengajaknya bicara beliau hanya mengangguk atau menggeleng. Namun, kamu lihat sendiri kan tadi dia sudah mulai bicara lagi."
"Bapak tidak bercanda, kan?" Mentari merasa aneh, dirinya tidak punya kelebihan apapun. Mengapa dengan mudahnya membuat Tama mau berbicara lagi hanya karena melihat dirinya.
"Tidak Mentari saya bicara serius."
"Bagaimana mungkin Pak? Saya hanya orang asing yang tiba-tiba datang ke rumah Bapak. Bagaimana caranya saya bisa membuat papa pak Gala menjadi seperti itu sedangkan Pak Gala saja yang merawatnya selama ini tidak."
"Itulah mungkin yang dimaksud kekuatan pikiran. Kau dengar sendiri kan tadi dia menganggap mu apa? Dia menganggap kau Cahaya, adikku dan juga putrinya yang telah tiada belasan tahun silam."
Iya Mentari masih ingat Tama tadi memanggilnya 'putriku'.
__ADS_1
"Sepertinya beliau masih menaruh harapan bahwa putrinya masih hidup sampai sekarang, dan itu adalah kamu."
Mentari terdiam mendengarkan penjelasan Gala. Baginya harapan itu tidaklah mungkin tergapai sebab dia tahu siapa yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya. Tentu saja almarhum ayahnya dan juga Warni, ibunya.
"Mentari bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Gala penuh harap.
"Apa itu Pak?"
"Apakah kamu mau membantuku merawat papa? Melihat kehadiranmu yang sebentar saja telah membuat dia mengalami perkembangan. Aku berharap apabila dia bisa lebih dekat denganmu perkembangannya akan lebih dari ini. Siapa tahu papa bisa bangkit dari rasa terpuruknya dan hidup dengan normal kembali."
Mentari memandang jalanan. Otaknya sedikit dibawa untuk berpikir, tetapi dia menggeleng tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa. Mentari membuang nafasnya kasar. Bagaimana dia bisa membantu Gala sementara dia juga masih bekerja.
Kalau menerima tawaran Gala pasti dia tidak akan ada waktu untuk pulang ke rumah. Pagi sampai sore harus bekerja dan malam hari harus menemani Tama dan itupun kalau Gala mau dia menemani papanya saat malam hari saja. Ingin berhenti bekerja pun juga tidak enak pada Sarah.
"Bagaimana Mentari apakah kau bisa?"
"Maaf Pak saya tidak bisa. Saya sangat ingin membantu, tetapi masalahnya saya tidak punya cukup waktu. Setiap hari saya bekerja di toko kue dan roti."
"Ayolah Mentari aku mohon. Aku akan bayar tiga kali lipat dari gajimu di toko itu. Berapa gajimu sebulan? Aku akan bayar dimuka."
"Siapa? Temanmu yang menyebalkan itu?" tebak Gala karena dia tidak pernah melihat Mentari punya teman kecuali wanita yang bertemu dengannya tadi pagi di apartemennya.
"Sarah Pak."
"Sarah namanya? Gadis yang masuk ke apartemenku bersama dirimu tadi pagi?" Gala terlihat kesal.
"Iya Pak."
"Oh Sarah ya namanya. Gadis yang punya misi menyembunyikan dirimu dari Katrina dan Bintang?" tebak Gala lagi.
"Iya Pak benar."
"Biar besok aku yang bicara padanya saja. Kalau perlu aku akan membayar dia agar mau melepaskanmu tanpa syarat. Berikan alamat tokonya!"
__ADS_1
"Tapi Pak ...."
"Apalagi Mentari? Apakah kamu sebenarnya tidak ingin membantuku untuk merawat papa? Kamu jijik ya dengan papaku yang seperti ini? Jadi perasaan tidak enak pada Sarah itu hanya alasanmu semata?"
"Tidak Pak bukan begitu maksudku." Mentari terlihat gelagapan. "Ah, baiklah saya mau tapi tidak bisa tiap hari dan itupun saya bukan hanya harus meminta izin pada Sarah saja, tetapi juga pada papa."
"Tidak masalah meski tidak tiap hari. 2 atau 3 kali dalam seminggu pun tak apa. Yang penting kamu ada waktu untuk papa. Aku benar-benar berharap papa bisa kembali hidup normal seperti semula." Gala membelai rambut sang papa yang menutupi matanya. Rambut Tama memang sedikit panjang karena selama ini menolak saat ingin dicukur.
"Insyaallah ya Pak saya diskusikan dulu dengan papa dan juga Sarah dulu."
"Siap aku tunggu kabar darimu. Berikan kabar secepatnya ya."
"Iya Pak."
"Kita sekarang ke rumahmu atau langsung ke rumah sakit?"
"Ke rumah sakit langsung Pak. Kata ibu Pandu sudah ada di sana. Pak Gala tidur saja dulu. Tempatnya masih jauh jadi masih lama sampainya. Pak Gala pasti lelah kan seharian sudah bekerja keras dan setelanya harus merawat Om Tama."
"Baiklah kamu tidur saja juga. Nanti kalau hampir sampai biar pak sopir yang membangunkan."
"Iya Nona tidurlah biar saya yang menjaga Tuan Tama," ujar si bibi yang masih standby mengawasi majikannya.
"Aku tidak bisa tidur Bik kalau dalam mobil seperti ini. Paling cuma bisa mata terpejam tapi pikiran entah melanglang buana kemana. Lebih baik bibi saja yang tidur biar saya yang jaga Om Tama."
"Beneran Non? Serius?"
"Iya Bik mumpung Om Tama lagi tidur besok biar bibi bisa fresh menjaga beliau."
"Wah terima kasih kalau begitu Non," ujar sang bibi lalu menyandarkan bahunya di sofa mobil dan memejamkan mata.
"Hah sepertinya aktivitasku semakin sibuk ini. Ya Tuhan sehatkan lah tubuh ini agar bisa menjadi insan yang berguna untuk orang-orang yang membutuhkanku."
"Oke. Pak sopir percepat laju mobilnya!"
__ADS_1
"Baik Den." Pak sopir pun tancap gas.
Bersambung....