
Esok hari baby Aldan sudah mulai ceria meski tidak seceria kemarin-kemarin. Bintang sudah mulai nampak bersemangat melihat putra kecilnya membaik keadaannya. Dia memegang jari-jari bayi kecil itu dan mengelusnya. Sesekali ikut tersenyum melihat putranya tersenyum.
"Bintang papa ingin bertanya sesuatu." SuaraTuan Winata memecah keheningan di ruangan itu. Katrina dan Arumi masih belum sampai ke rumah sakit.
"Tanyakan saja Pa," sahut Bintang tanpa menoleh sambil memainkan tangan kecil putranya.
"Kau ada masalah dengan Mentari?" tanya Tuan Winata terlebih dahulu.
"Iya Pa, Mentari selingkuh dengan ustadz siapa itu." Bintang enggan menyebutkan nama ustadz Alzam.
"Ustadz Alzam?"
"Iya Pa."
"Dan kau percaya?"
"Sudah ada buktinya Pa, untuk apa lagi masih ragu."
"Seharusnya kamu cari bukti yang lengkap bukan potongan seperti itu. Kita tidak akan tahu kan apa yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian itu?"
"Sudahlah Pa, Bintang malas membahas itu."
"Bintang seharusnya kamu menggunakan logika untuk berpikir. Jangan seenaknya mengambil kesimpulan hanya karena sebuah rekaman yang tidak jelas darimana."
Bintang tidak menjawab. Namun, sebenarnya dia sudah mengecek ke bagian cctv dan tidak menemukan rekaman panjangnya. Bintang tidak perduli karena amarah sudah mendominasi hingga ia kehilangan akal pikirannya.
Bersamaan dengan itu Gala datang.
"Selamat pagi Paman dan Bintang. Ada kabar baik, kah?"
"Iya Aldan sudah baikan." Tuan Winata yang menjawab. Bintang masih enggan berbicara dengan Gala sejak kejadian pemukulan dirinya oleh Gala. Walaupun harus berbicara sekiranya yang penting saja, kalau sekedar basa-basi dia tidak akan menjawab.
"Kau membawa rekaman lengkap tentang video itu Gala?" tanya Tuan Winata.
"Oh, ada Paman." Gala mengeluarkan laptop dari dalam tas kerjanya. Memang dia sekarang ingin pergi ke kantor, tetapi mampir sebentar ke rumah sakit untuk melihat keadaan.
"Ini Paman."
"Putarkan video lengkapnya biar Bintang bisa melihat dengan jelas seperti apa kejadian yang sebenarnya."
Gala mengangguk dan melakukan yang diperintahkan oleh Tuan Winata. Dia kemudian mengarah layar Laptop itu pada Bintang.
Bintang sama sekali tidak menolak untuk melihat rekaman tersebut. Rekaman itu lengkap sejak Mentari keluar dari unit apartemen Bintang hingga Mentari keluar dari dalam unit apartemen Sarah.
__ADS_1
Terlihat Mentari keluar dari unit apartemen Bintang dengan terburu-buru hingga pada saat di lorong-lorong apartemen Mentari terlihat menangis dan langkahnya mulai tertatih. Wanita itu terus berjalan sambil memijit pelipisnya. Lalu Sebentar kemudian tubuhnya roboh dan pingsan.
**Ada jeda sebelum akhirnya ustadz Alzam menemukan Mentari dalam keadaan pingsan dan menggendong tubuh Mentari serta membawanya ke dalam unit apartemen Sarah. Namun, sebelum memutuskan untuk menggendong Mentari, ustadz Alzam terlebih dahulu menoleh mencari keberadaan orang lain.
Beberapa saat kemudian Mentari keluar dari kamar Sarah dengan berlari**.
"Kau lihat, jeda antara masuk dan keluar dari unit apartemen itu hanya sebentar. Jadi bisa dipastikan mereka tidak akan sempat melakukan apapun," jelas Tuan Winata.
Bintang menelan ludah melihat video yang berputar jelas di depannya.
"Darimana kamu mendapatkan itu?" tanya Bintang penasaran. Bukannya dirinya sudah mengecek dan tidak mendapatkan video semacam itu
"Saya dan paman mencari pemegang video asli itu saat tahu bahwa rekaman video itu tidak lengkap di ruangan ccttv apartemen." jelas Gala.
"Iya Bin saat tahu bahwa ada yang aneh kami merasa ada yang ganjil dan langsung menelusuri keberadaan pak Yanto sebagai programmer cctv apartemen yang tiba-tiba mengundurkan diri dari pekerjaannya," terang Tuan Winata lagi.
Bintang menekan kepalanya yang tiba-tiba berdenyut kencang. Tubuhnya kembali lemah lagi bagai tak bertulang. Untung saja Tuan Winata segera menangkap putranya itu.
Gala menutup laptopnya dan memasukkan ke dalam tas kembali.
"Makanya kamu harus minta maaf padanya karena telah berprasangka buruk terhadap Mentari. Saya harap kamu jangan membuatnya menangis lagi," ucap Tuan Winata sambil mengelus rambut putranya. Dia ingat bagaimana kemarin Mentari berlari keluar apartemen dengan air mata yang bercucuran.
"Jangan buat dia menangis terus Nak, kasihan dia. Sudah cukup penderitaannya selama ini. Sekarang waktunya kau membuat istrimu itu bahagia," ucap Tuan Winata lagi.
"Maksudmu?" tanya Tuan Winata tidak paham dengan ucapan putranya.
"Aku sudah mentalak dia Pa," jujur Bintang.
Tuan Winata dan Gala tampak menggeleng tidak percaya.
"Kau tidak bercanda, kan?" tanya Tuan Winata.
Bintang tampak menggeleng.
"Teledor sekali sih," protesTuan Winata, tapi tak apa kau bisa rujuk kembali."
Bintang menggeleng lagi.
"Kenapa? Apa karena kamu memang sudah tidak mencintainya lagi?"
"Bukan Pa, tapi karena Bintang sudah menjatuhkan talak tiga padanya."
"Apa?" Tuan Winata terlihat syok. Jika Gala tidak segera menangkap tubuh Tuan Winata mungkin pria itu sudah terjungkal ke belakang. Pupus sudah ingin punya cucu dari Mentari.
__ADS_1
"Maafkan aku Pa, tolong bantu Bintang untuk bisa kembali padanya," sesal Bintang.
"Maaf papa sudah tidak bisa membantu. Nikmatilah hari-hari tanpa Mentari di sisimu. Maafkan papa yang selama ini telah memaksakan kalian berdua untuk bersatu padahal kalian mungkin bukan jodoh," ucap Tuan Winata dengan wajah yang kecewa dan hendak pergi dari ruangan itu.
"Paman!" Gala mencegah Tuan Winata untuk pergi.
"Ya Gala?"
"Paman jangan khawatir. Meski Bintang sudah tidak dengan Mentari lagi, paman akan tetap melihat Mentari terus karena Gala yang akan menikahi dia."
Sontak Bintang melotot ke arah Gala.
"Kau menyukai dia? Kalau tidak, jangan dipaksa. Aku tidak mau hal yang terjadi pada Mentari kini akan terjadi kembali."
"Tidak Paman, selama ini saya memang menyukai dia cuma Gala tahu diri sebab dia adalah istri dari adikku sendiri."
"Baiklah dekati dia dan nikahi dia kalau mau. Saya harap kamu bisa membahagiakan dia. Satu lagi saya pikir akan bagus jika kamu menikahi dia. Bukankah Mas Tama ingin selalu dekat dengan Mentari." Setelah mengatakan itu Tuan Winata menepuk bahu Gala
kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Terimakasih Paman sudah memberi restu!" seru Gala sambil tersenyum senang.
"Jangan senang dulu saya tidak akan membiarkan dia menikah denganmu," geram Bintang. Dia tidak suka melihat Gala seolah senang melihat dirinya hancur.
"Lebih baik kau jangan pikirkan Mentari lagi. Sekarang fokuslah pada Katrina dan putramu itu," ucap Gala dan langsung pergi menyusul Tuan Winata.
Di dalam ruangan hati Bintang menjadi panas mendengar perkataan Bintang. Dia mengepalkan tangannya lalu memukul mulutnya sendiri mengingat mulut itu begitu mudah mengucapkan kata talak.
"Ah mengapa jadi seperti ini?" Bintang menelungkup kan wajahnya ke ranjang rawat Aldan bahkan berkali-kali
membenturkan kepala.
"Ada apa Bin?" tanya Katrina melihat Bintang terlihat syok.
Bintang tidak menjawab.
"Apa terjadi sesuatu dengan Aldan?" Katrina nampak khawatir lalu berlari ke dekat putranya. Dia bersyukur melihat putranya tidak apa-apa.
"Kenapa dia?" tanya Arumi yang berjalan di belakang Kartina.
"Tidak tahu Ma," jawab Katrina karena melihat Bintang tidak menyahut.
Bersambung.
__ADS_1