
"Apa?" Ustadz Alzam kaget setengah mati.
"Iya ustadz, saya mohon ya ustadz bisa menolong saya," bujuk Bintang.
"Maaf saya tidak bisa," tolak ustadz Alzam.
"Ayolah ustadz please, setelah ustadz bercampur dengan Mentari ustadz bisa menceraikan dia. Jadi ustadz Alzam tidak perlu mencintai dia untuk bisa menikahinya."
Ustadz Alzam menggeleng mendengar ucapan Bintang. Bukannya dia tidak mau menikah dengan Mentari, tetapi dia tidak bisa mempermainkan pernikahan meski alasannya untuk membantu orang lain. Entahlah ustadz Alzam tidak suka dengan usul Bintang.
"Ayolah ustadz saya tidak mau Gala yang menikahi Mentari karena kalau sampai dia yang menikahinya maka dia tidak akan pernah melepaskan Mentari untukku," ucap Bintang meyakinkan ustadz Alzam agar mau membantunya.
"Terus bagaimana dengan istrimu yang lainnya?" tanya ustadz Alzam penasaran.
"Setelah ini saya akan berusaha adil untuk kedua istri saya," jawab Bintang membuat ustadz Alzam mendesah dan menggeleng.
"Sudah tahu tidak bisa adil masih saja serakah," batin ustadz Alzam.
"Saya janji kalau ustadz mau menikahi Mentari maka saya akan segera mengembalikan nama baik ustadz. Saya akan mengkonfirmasi bahwa video yang beredar itu tidaklah benar dan akan memberikan video yang sebenarnya," bujuk Bintang lagi.
Lagi-lagi ustadz Alzam menggeleng tidak mengerti dengan pikiran Bintang. Bagaimana pria ini begitu yakin bahwa Mentari mau kembali padanya terlebih lagi dirinya akan melepaskan Mentari begitu saja setelah menikahi wanita tersebut. Pria yang tidak mencintai wanita saja bisa jatuh cinta apabila mereka dinikahkan apalagi dirinya yang memang memiliki rasa terhadap Mentari.
"Bagaimana ustadz mau ya?"
Ustadz Alzam tidak menjawab.
"Kau belum bercerai dengan Kak Mentari, kan? Bagaimana bisa kakakku menikahi Kak Mentari jika secara negara kalian belum resmi bercerai." Sarah melangkah ke arah ustadz Alzam dan Bintang serta menimpali pembicaraan keduanya.
"Ustadz Alzam bisa menikahi Mentari secara siri biar tidak repot nanti kalau bercerai," saran Bintang, menanggapi perkataan Sarah.
"Tidak bisa saya tidak ingin kakakku diterpa gosip lagi," sanggah Sarah.
"Baiklah saya akan mengurus surat cerai itu secepatnya." Bintang berkata dengan penuh semangat dan wajah yang terlihat berseri. Dia langsung berbalik dan pergi.
"Apapun yang terjadi kau tetap takdirku Mentari, jadi kau tidak akan pernah jauh dariku," gumam Bintang begitu percaya diri.
"Hei Bintang!" Ustadz Alzam memanggil Bintang, tetapi pria itu tidak menjawab karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri.
"Biarkan saja dia pergi Kak," ujar Sarah tidak ingin melihat kakaknya menahan kepergian Bintang.
"Astaghfirullah hal adzim Sarah. Bagaimana kamu bisa menjanjikan harapan palsu untuk dia," protes ustadz Alzam.
"Biarkan saja Kak, pria bodoh dan suka mempermainkan pernikahan seperti dia memang perlu dikerjai," ucap Sarah dan langsung tertawa.
Sarah menutup mulutnya kala melihat ustadz Alzam menatap tajam dirinya.
__ADS_1
"Kakak tidak pernah mengajarkan dirimu seperti itu."
"Dia yang mengajarkan saya dengan bersikap seperti itu," tunjuk Sarah pada punggung Bintang yang sudah menjauh.
"Sarah-Sarah!"
"Tapi Kakak suka kan mendengar berita mereka berpisah?" tanya Sarah menggoda sang kakak.
"Mana ada?"
"Nggak usah menampik perkataan Sarah Kak. Sarah melihat ada cinta di mata kak Alzam," ucap gadis itu lagi membuat ustadz Alzam hanya tersenyum mengetahui adiknya begitu peka.
"Kulihat Kak Mentari juga menyukai Kakak. Awalnya suka lama-lama menjadi cinta. Cie-cie kayaknya gayung bersambut nih," goda Sarah.
"Ada cin ... ta di bola matamu yang membuat lidahku gugup tak bergerak ....." Malah benyanyi.
"Ada pelangi bukan cinta," protes Mega yang lewat di samping Sarah sambil terkekeh.
"Ah Mega kebanyakan protes, jadi aku salah lirik, kan?"
"Loh kok malah saya yang disalahin," protes Mega sambil berlalu meninggalkan Sarah dan ustadz Alzam.
"Gimana-gimana Kak, mau aku lamarkan Kak Mentari untuk Kak Azam sekarang juga?"
"Sudah sana shalat maghrib dulu, kayaknya setan-setan menempel di tubuh kamu nih abis dari luar. Makanya bicaranya ngelantur saja dari tadi."
"Sarah!"
"Iya Kak?" Sarah membalikkan badan.
"Tidak semudah itu melamar wanita apalagi Mentari masih dalam masa iddah, tidak boleh dilamar sembarangan. Kita harus menunggu waktu yang tepat," jelas ustadz Alzam.
"Berapa lama Kak?"
"Biasanya untuk talak tiga aturannya satu kali masa haid," jawab ustadz Alzam.
"Wah cukup cepat ya Kak dibandingkan masa iddah karena bercerai biasa maupun cerai mati."
Ustadz Alzam mengangguk.
"Wah selamat Kak, kayaknya sebentar lagi kakakku tersayang akan melepas masa lajangnya," ucap Sarah merasa bahagia.
"Tapi Sarah, saya ragu."
"Ragu kenapa? Bukannya Kakak yang selalu menasehati Sarah untuk menghindari yang namanya keragu-raguan. Jadi yakin saja Kak."
__ADS_1
"Bukan begitu aku hanya takut Mentari tidak bisa menerimaku," ucap ustadz Alzam tidak percaya diri. Siapa dirinya dibandingkan Bintang yang merupakan seorang putra dari salah satu pengusaha terkenal di kota itu.
"Kakak tenang saja, Sarah pastikan Kak Mentari akan menerima pinangan Kak Alzam nanti," ucap Sarah lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Amin," jawab ustadz Alzam begitu kencang membuat Sarah yang mendengarnya dari dalam kamar mandi menjadi tersenyum.
"Akhirnya Kak Alzam akan menikah juga," gumam Sarah lalu mengguyur air ke wajahnya.
***
Paman kata pihak rumah sakit hasil tes DNA nya sudah keluar," lapor Gala melalui sambungan teleponnya.
"Sudahlah Gala saya sudah tidak perduli dengan semua itu. Terserah Bintang mau apa. Mau menikahi Katrina secara sah, mau Aldan anak dia atau bukan saya tidak perduli lagi. Anggap saja saya tidak pernah punya anak," ucap Tuan Winata acuh. Dia sudah terlalu kecewa dengan Bintang.
"Tapi Paman ini bisa membuat Bintang ...." Belum sempat Gala meneruskan kalimatnya sambungan telepon sudah diputus oleh Tuan Winata secara sepihak.
"Ah Paman." Gala mendesah kesal mengetahui panggilan teleponnya diputus.
Gala duduk termenung memikirkan antara mau ke rumah sakit ataukah tidak. Satu jam lagi dia ada meeting, tetapi terlalu penasaran dengan hasil tes DNA itu.
"Baiklah hanya sebentar saja." Gala bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
"Mau kemana Pak? Sebentar lagi kita ada meeting," ucap Kiki, sang asisten. Hanya sekedar mengingatkan takut-takut sang bos lupa.
***
"Anda Pak Gala?" tanya petugas yang bertanggung jawab menyampaikan hasil tes DNA.
"Iya betul," sahut Gala.
"Tuan Winata memang sempat berpesan kalau dirinya tidak bisa mengambil langsung maka hanya Pak Gala yang bisa mengambil hasil tes ini," beber perempuan yang memakai hijab dan bertubuh langsing itu.
Gala hanya mengangguk.
"Sebentar ya Pak, saya ambil dulu." Perempuan itu masuk ke ruangan tertentu dan mengambil kertas laporan hasil tes DNA.
"Ini dia." Perempuan itu memberikan kertas beramplop dan berlogo rumah sakit ke tangan Gala.
"Terima kasih," ucap Gala dan setelah melihat anggukan perempuan itu Gala langsung pergi.
Sampai di lorong rumah sakit Gala berhenti sebentar untuk membuka amplop tersebut karena sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya.
"Loh kok ...." Gala heran dengan hasil tes DNA yang terpampang di depannya.
Bersambung.
__ADS_1
Selamat ya yang sudah mencapai fans umum teratas. Sesuai janjiku 3 orang teratas akan mendapatkan hadiah pulsa. Tadi pagi saya sudah ambil ss-annya. Ditunggu besok ya pengumumannya.🙏