HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 192. Mendadak Akur


__ADS_3

Tinn!


Tinn!


Bunyi klakson mobil dan motor saling bersahutan.


"Pak Gala, lampu sudah berubah hijau tuh. Ngelamun aja dari tadi!" seru Sarah dari kursi belakang.


"Iya-iya." Gala langsung menghidupkan mesin mobil lagi dan mobil membelah jalanan kembali.


Gala melirik jam Rolex di pergelangan tangannya sendiri dan waktunya tinggal lima menit lagi.


"Kayaknya masih nutut nih sebab hotelnya sudah di depan sana."


Sarah hanya mengangguk dan tidak berkata apapun. Saat ini dia sedang grogi sebab sebentar lagi akan segera melakukan tugasnya.


"Kenapa sekarang malah engkau yang bengong?" tanya Gala penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Sarah saat ini.


"Pak Gala bisa nggak sih diam? Kata semua karyawan Pak Gala itu cuek, dingin, tapi kalau menurutku malah cerewet nggak ketulungan. Nggak pernah mau diem dari tadi kecuali saat melamun.


"Sudah sampai, ayo turun!" perintahnya pada Sarah tanpa mau menimpali perkataan Sarah tadi.


Sarah langsung turun dari mobil tanpa berkata-kata lagi. Dia mengikuti langkah Gala yang masuk ke lobby hotel.


Terdengar ponsel Gala berbunyi. Pria itupun menghentikan langkahnya sejenak untuk menerima telepon dari Kiki


"Iya Ki, ada apa?


"Pak katanya klien yang mau bertemu Bapak hari ini datangnya telat. Mungkin satu jam lagi baru mereka akan sampai. Ada kejadian tak terduga dalam perjalanan mereka menuju hotel tempat kalian akan bertemu sehingga membuat mereka harus berhenti di tengah perjalanan."


"Bagus ya Ki, kenapa tidak besok atau lusa saja kau kabari aku," protes Gala kesal.


"Sorry Pak, eh kecepatan ya aku ngabarinnya," ujar Kiki lalu terkekeh.


"Dasar." Gala langsung memutus panggilan telepon secara sepihak.


"Ada apa Pak, apa kata Pak Kiki?" tanya Sarah penasaran melihat ekspresi Gala yang nampak kesal.


"Pertemuan dengan klien ditunda satu jam katanya. Gini nih kalau punya asisten somplak macam dia semua dianggap enteng. Bintang saja yang sepupu denganku selalu tepat perhitungan. Kalau dia ngasih kabarnya tadi pagi kan kita nggak bakal kejar-kejaran dengan waktu sampai kayak orang balapan saja."


"Sabar Pak mungkin klien nya yang memang baru mengabari saat ini karena kejadian yang menimpa mereka di jalan sebelumnya tidak diprediksi," ujar Sarah.


"Nggak tahulah," ujar Gala masih dengan ekspresi tidak senang seperti tadi. Pria itu terlihat masih menyimpan kekesalan pada Kiki.

__ADS_1


"Makan yuk Pak, sepertinya perutku lapar. Lupa sarapan tadi," ajak Sarah. Dia berpikir Gala seperti itu karena lapar. Setelah kenyang mungkin amarahnya bisa reda.


"Oke boleh, aku juga belum sarapan tadi." Memang Gala belum sempat sarapan.


Sarah mengangguk. Mereka berdua menuju restoran hotel dan memesan menu sesuai dengan selera masing-masing.


"Jangan lupa tambahkan udang lada hitam ya Mbak!" seru Gala saat dirinya dan Sarah sudah memesan menu mereka.


"Baik Mas," ujar waitress itu sambil mencatat pesanan kedua orang yang duduk di depan dia berdiri saat ini.


"Ada lagi?"


"Tidak ada."


"Baiklah kalau begitu, ditunggu ya Mas, Mbak, pesanannya."


"Iya Mbak."


Pelayan wanita itu berjalan menjauh dari mereka. Beberapa saat kembali dengan menu di atas nampan, pesanan Gala dan Sarah.


"Silahkan dinikmati Mas, Mbak."


"Terima kasih Mbak."


"Ayo makan katanya lapar," suruh Gala agar Sarah menyentuh makanannya.


"Pak Gala tidak alergi makan itu?" Tiba-tiba Sarah mengingat saat kulit Gala merah-merah waktu itu.


"Oh iya ya, kenapa tidak mengingatkan tadi?" tanya balik Gala.


"Baru ingat sekarang," ujar Sarah sambil mengunyah makanannya sendiri.


Gala hanya mengangguk dan menaruh kembali udang yang ada dalam sendok dan pria itu beralih mengambil ikan yang lainnnya.


"Makan kamu aja." Gala mengambil piring berisi udang lada hitam itu dan meletakkan di hadapan Sarah. Sarah mengangguk dan langsung mengambil udang tersebut sebab dia sedari tadi memang berselera ketika melihat udang tersebut.


"Pak Gala makan ini aja." Sarah meletakkan ayam fillet saus ke hadapan Gala. "Rasakan deh ini enak juga kok nggak kalah dengan udang ini. Kesehatan lebih penting bukan, ketimbang menuruti selera kita?"


Gala mengangguk. "Jadinya kita tukaran nih?"


Sarah hanya mengangguk dan fokus kembali pada makanannya. Kenyang dalam perutnya hilang sudah karena tergoda dengan makanan yang terhidang di depannya saat ini. Benar-benar nikmat di lidah Sarah.


Gala pun melakukan hal yang sama. Meskipun dia tidak jadi makan udang yang merupakan menu favoritnya, dia menikmati sarapannya pagi ini. Mungkin memang karena perutnya yang lapar atau justru menu-menu di hadapannya memang enak.

__ADS_1


"Bagaimana rasa ayam fillet-nya Pak?"


"Not bad," sahut Gala dan kembali mengunyah lagi. Sarah hanya mengangguk dan juga fokus makan. Mereka berdua saat ini terlihat berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Kalau saja Kiki hadir di tempat ini pastilah pria itu akan kebingungan melihat kedua insan ini mendadak akur, tidak seperti kucing dan tikus lagi yang sering berselingkuh walaupun tentang hal sepele.


"Tidak nambah lagi?" tanya Gala melihat Sarah berhenti terlebih dahulu.


"Nggak Pak, saya sebenarnya akhir-akhir ini pengen mengurangi makan, eh tergoda dengan menu di sini," ujar Sarah jujur.


"Ngapain ngurangin makan?"


"Diet," jawab Sarah singkat.


"Cih diet, orang nggak ada gemuk-gemuknya malah diet, lagian kalau udah niat diet tuh seharusnya pesan salad saja tadi, nggak usah makan nasi segala."


"Khilaf Pak," ujar Sarah.


"Ya-ya boleh saja, setelah selesai makan baru sadar ya. Besok khilaf lagi ya," kelakar Gala.


"Nggak lagi Pak, sekarang mungkin karena butuh supplai makanan lebih biar nanti saat menghadapi klien bisa fokus dan bertenaga."


Penjelasan Sarah mengingatkan Gala akan taruhannya lagi sehingga pria itu langsung berhenti makan. Mendadak selera makannya menghilang.


"Kok berhenti Pak? Takut ya?" goda Sarah.


"Siapa takut, kamu pasti kalah," ujar Gala.


"InsyaAllah saya bisa menyakinkan klien Bapak. Jadi, Pak Gala tenang saja karena tidak akan kehilangan aset perusahaan," ujar Sarah dengan tersenyum manis. Namun, begitu menusuk dalam pandangan Gala.


"Pak Gala senang bukan jika misi perusahaan berhasil untuk menggaet klien-klien yang berpotensi besar untuk kemajuan perusahaan?"


"Ya kamu benar," sahut Gala. "Tapi tidak melalui dirimu karena taruhannya aku akan dipermalukan di depan karyawan sendiri," batin Gala.


Sarah terlihat mengangguk-angguk dalam hati dia sudah merasa menang sebab Gala merasa dilema.


Beberapa saat kemudian muncullah dua orang dengan berpakaian kantor.


"Pak Gala, bukan?" Dua orang laki-laki menghampiri meja mereka berdua.


"Iya Pak."


"Meeting-nya boleh dimulai sekarang?"

__ADS_1


Sarah menjadi grogi kembali sebab melihat pria yang menyapa Gala ini sepertinya adalah pria yang galak.


Bersambung.


__ADS_2