
Hingga waktu subuh tiba Sarah belum bisa terlelap juga. Tidak ada tanda-tanda kepulangan Gala juga.
"Hah sepertinya dia memang tidak akan pulang." Sarah masuk kamar mandi membersihkan diri lalu berwudhu dan shalat. Setelah selesai shalat dan masih dalam keadaan memakai mukena Sarah menguap.
"Huh kenapa malah mengantuk sekarang sih, semalam dipaksa tidur malam, tidak mau." Sarah menggerutu seolah memarahi matanya sendiri.
"Tidak aku tidak boleh tidur, nanti papa Tama akan menganggapku menantu malas kalau pagi begini masih tidur." Sarah menguap lagi.
"Tapi aku tidak kuat menahan kantuk, lebih baik tidur sebentar saja." Lekas-lekas Sarah membuka mukena lalu melihat sajadah. Sarah lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Tidak menunggu lama akhirnya Sarah terlelap juga.
"Sudah pulang Den?"
"Iya Bi. Sarah dimana?"
"Saya belum melihatnya turun Den mungkin masih tidur mengingat semalam Non Sarah menunggu Den Gala sampai tengah malam."
"Oke." Buru-buru Gala naik ke atas dan membuka pintu kamarnya.
"Benar kata bibi," ujar Gala melihat Sarah masih tertidur pulas lalu masuk ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi Gala hendak membangunkan Sarah. Namun, dia urung saat melihat sajadah masih tergeletak begitu saja, buru-buru Gala memeriksanya.
"Dia sudah shalat." Gala menyimpulkan tatkala mukena Sarah sedikit basah. Pria itupun melaksanakan shalat sendirian.
Rasanya ada yang kurang karena selama ini mereka selalu shalat berjamaah. Gala menoleh ke arah Sarah setelah menyelesaikan shalatnya.
"Kasihan dia."
Setelah selesai berdoa Gala menghampiri Sarah di ranjang dan duduk di sampingnya. Ingin rasanya Gala menyentuh sang istri.
"Tidak, dia harus diberi pelajaran." Gala urung dan meninggalkan kamar.
"Bi buatkan teh!" perintah Gala sambil duduk santai di ruang keluarga.
"Baik Den."
"Kamu kemana saja semalaman? Dan kenapa istrimu tidak ikut turun sekarang?" tanya Tama penuh selidik.
"Ada sedikit pekerjaan yang harus aku kerjakan bersama Kiki Pa," sahut Gala santai.
"Dan tidak mengabari istrimu?"
"Kan semalam Gala sudah mengatakan kalau Sarah sudah tidur makanya saya menelpon Papa."
"Nyatanya kata bibi semalam Sarah tidak tidur. Apa kalian bertengkar?" tebak Tama.
"Tidak hanya masalah kecil saja." Gala malas membahas.
"Apapun masalah kalian berdua jangan sampai berbuat yang bisa mengecewakan istrimu apalagi sampai melakukan pelarian dengan cara berkhianat. Ingat Nak, perempuan kalau sudah dikhianati rasa sakitnya akan membekas. Mungkin dia bisa memaafkan, tetapi akan sulit melupakan."
"Saya tidak mungkin seperti itu Pa, saya bukan pria yang ketika sedang marah lari ke alkohol. Rugi saya sebab kalau sudah mabuk bisa lepas kendali dan bisa melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin dilakukan ketika dalam keadaan sadar."
"Baguslah kalau kamu sadar kemana arah pembicaraan papa."
Gala hanya mengangguk lalu menyandarkan dirinya pada sofa.
__ADS_1
"Kalau ada masalah, sekecil apapun biasakan diselesaikan dengan baik, jangan sampai masalah kecil malah menjadi besar jika salah penanganan."
"Saya hanya perlu memberikan pelajaran pada Sarah Pa, biar dia tuh tidak melupakan Gala sebagai suaminya saat harus membuat keputusan."
Tama mengernyit tidak mengerti, tetapi tidak mau bertanya sebab dia tidak mau ikut campur terlalu dalam terhadap urusan anak dan menantunya. Yang terpenting dia sudah memberikan nasehat pada Gala tadi. Selebihnya Gala sudah dewasa jadi Tama membiarkan putranya itu menghadapi masalahnya sendiri.
"Int tehnya Den, kopinya Tuan."
"Taruh saja Bik!"
"Baik."
Pembantunya pun menaruh teh dan kopi di hadapan kedua majikannya.
"Selesai menyeruput teh Gala langsung kembali ke kamar sedangkan Tama masih duduk santai.
Sampai di dalam kamar Sarah masih belum bangun juga. Gala mengganti pakaiannya dengan baju kantor dan menyiapkan apa saja yang harus dibawa. Selesai berkemas pria itu turun ke meja makan.
"Istrimu belum bangun?" tanya Tama yang kini sudah duduk di meja makan.
"Belum Pa, biarkan saja dulu kasihan jika baru tidur sudah dibangunkan lagi."
Tama hanya mengangguk sebab perkataan Gala memang ada benarnya.
"Nanti bibi antar saja makanan ke kamarnya!"
"Baik Den."
"Ayo Pa makan!"
"Hati-hati Gala!"
"Iya Pa."
30 menit kemudian dari saat Gala pergi Sarah baru terbangun. Wanita itu mengucek matanya dan langsung kaget melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Sarah keluar kamar.
"Bik suamiku belum pulang?"
"Sudah Non dan tadi sudah pergi ke kantor."
"Bibi, kenapa nggak bangunin Sarah si?" Sarah langsung duduk di tangga.
"Kata Den Gala Non Sarah tidak usah dibangunin, tunggu bangunnya sendiri karena Den Gala tahu Nona Sarah mengantuk sebab semalaman tidak tidur."
"Dia mengatakan begitu Bik?"
"Iya Non dan Den Gala meminta bibi untuk mengantar makanan ke kamar kalian. Non Sarah tidak melihatnya?"
Sarah menggeleng. Namun, hatinya cukup lega sekarang.
"Baik Bik kalau begitu Sarah kembali ke kamar." Sarah jadi terlihat antusias membuat sang pembantu ikut melengkungkan senyuman.
"Ternyata dia masih perhatian," gumam Sarah lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Sampai di dalam dia langsung menikmati hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja.
__ADS_1
Baru saja menyendok nasi, aroma masakan terasa aneh di hidung Sarah.
"Kok aromanya begini sih?" Sarah bingung. Semalam dia begitu lahap makan, tetapi sekarang mencium menu dihadapannya tiba-tiba saja merasa tidak berselera.
"Ah cuma aromanya saja, barangkali hidungku yang bermasalah."
Sarah makan sambil sesekali menyumbat hidungnya. Ketika dia melepaskan tangan di hidung dia langsung mual.
"Ada apa sih denganku? Sakit nggak, hamil nggak mungkin. Terus kenapa seperti ini? Apa ini hukuman di dunia karena sudah membuat suami kecewa?" Sarah memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Hufft, aneh."
Tiba-tiba Sarah merasakan perutnya yang sakit dan seperti ada yang mau keluar. Buru-buru Sarah berlari ke kamar mandi.
Sampai di westafel Sarah muntah-muntah.
"Ya Allah! Aku kenapa sih?" Sarah mengusap mulutnya setelah kumur-kumur dan berjalan ke ranjang. Rasanya saat ini dia tidak ingin melakukan apapun kecuali hanya rebahan saja. Namun, menu sarapan yang ada di atas meja terasa begitu mengusik.
Akhirnya Sarah memutuskan untuk memanggil pembantu.
"Ada apa Non?"
"Bawa makanannya ke dapur Bik!"
"Nona makan sedikit?"
"Tidak berselera Bik. Sudah cepat bawa pergi! Rasanya Sarah ingin mual mencium baunya."
Buru-buru si bibi membereskan makanan sedangkan Sarah kembali ke atas ranjang dan berbaring.
Beberapa saat kemudian Gala kembali ke rumah karena ada berkas yang ketinggalan.
"Dimana aku menaruhnya ya?" Gala melacak meja kerjanya, tetapi tidak menemukan yang berkas yang carinya itu.
"Mungkin ada di kamar." Buru-buru Gala melangkah ke arah kamar.
"Pak?" Sarah antusias melihat Gala kembali. Meskipun tubuhnya masih merasa tidak nyaman dia bangkit dari berbaring dan berjalan ke arah Gala.
"Ada yang ketinggalan?" Gala tidak menjawab dia terlalu fokus dengan pencariannya.
"Katakan apa yang Pak Gala cari biar saya bantu." Kali ini bukannya tidak mendengar. Namun, sengaja Gala tidak menggubris perkataan Sarah.
"Pak Sarah minta maaf, Sarah janji tidak akan me–"
"Dapat!" seru Gala sambil menarik kertas dari dalam sebuah laci. Setelah itu Gala beranjak keluar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sarah.
"Pak!" seru Sarah. Tak ada jawaban.
"Pak!" teriak Sarah. Masih nihil, Gala tidak perduli.
"Ckk, dia malah mendiamkanku, yasudah lah."
Padahal awalnya Sarah ingin memberitahukan keanehan pada tubuhnya.
Bersambung.
__ADS_1