HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 179. Drama Mangga Muda (2)


__ADS_3

"Bagaimana ini Abi?" Mentari kembali panik melihat banyak orang yang berlari ke arah mereka.


"Tenanglah biar Abi yang hadapi!" Sok tenang padahal dalam hati juga ketar-ketir sendiri. Tidak lucu bukan kalau tersebar berita seorang ustadz mencuri mangga? Mau ditaruh dimana muka ustadz Alzam?


Pria itu dengan pelan merosot sampai ke bawah. Sampai di bawah ternyata sudah dikepung oleh warga.


"Ustadz Alzam?" Ngapain ustadz naik pohon mangga?" tanya seseorang yang mengenal dirinya. Siapa yang tidak kenal dia, bahkan yang tidak kenal pun merasa kenal sebab kasus yang sudah direkayasa Arka dulu sudah menyebar menjadi berita yang viral.


"Maaf pemilik rumahnya yang mana tadi?" Sebenarnya ustadz Alzam sempat melihat tadi, tetapi tidak jelas wajahnya.


"Dia!" Warga menunjuk salah satu orang diantara warga yang banyak.


"Ya saya," jawab orang tersebut mengakuinya.


"Sebelumnya saya mohon maaf sebab telah masuk pekarangan Anda tanpa izin. Yang ke-dua mohon maafkan istri saya yang tidak terbendung keinginannya hingga telah mengambil mangga muda milik ibu padahal saya sudah teriak-teriak dari tadi agar dia turun saja."


Mentari memandang mangga di tangannya yang tinggal separuh dengan rasa bersalah sebab karena keinginan yang tidak terkendali dari dirinya membuat tidak sengaja mempermalukan suaminya sendiri.


"Tapi rupanya dia tidak mendengarkan dan terus naik ke atas dan setelahnya malah tidak bisa turun sehingga saya menyusulnya ke atas sebab dia takut jatuh. Maklum dia sedang hamil sehingga saya sangat takut, bukan cuma dia yang bahaya tetapi bayi yang ada dalam kandungannya," jelas ustadz Alzam panjang lebar berharap masyarakat mengerti keadaannya.


"Oh jadi istri ustadz hamil dan ngidam mangga muda?" tanya warga yang lain. Matanya menatap mangga muda di tangan Mentari dan ekspresi mukanya terlihat meringis sebab mangga yang dipegang Mentari benar-benar masih muda dam rasanya pasti kecut. Apalagi Mentari malah makan langsung tanpa dikupas terlebih dahulu juga tanpa tambahan bahan lain. Kebayang bagaimana rasanya, bukan?


"Iya, sekali lagi mohon maaf dan saya pasti akan membayarnya," ucap ustadz Alzam sambil mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan. Mungkin kemahalan kalau dia membayar sebanyak itu, tapi keikhlasan pemilik mangga lebih penting dari sekedar uang sebab ustadz Alzam harus memastikan apa yang dimakan anak dan istrinya harus halal.


"Tidak usah ustadz, mohon maaf saya tadi berteriak-teriak meminta tolong pada warga sebab takut ada yang mengintai rumah saya dan saya takut itu adalah rampok," jelas pemilik rumah tersebut apa adanya. Memang tadi dia berpikir orang yang dilihatnya di atas pohon mangga itu hanya memata-matai rumahnya dan tidak terbersit sama sekali bahwa orang-orang tersebut hanya mengambil mangga, sebab pemilik rumah tahunya mangga di atas pohon itu sudah habis semua.


"Sudah ambillah uangnya dan saya mohon ikhlaskan mangga ini sebab saya tidak ingin apa yang masuk ke dalam perut istri saya adalah barang haram. Mohon maafkan saya atas keteledoran saya untuk mencegah istri saya lebih cepat."


Mentari terlihat menunduk dan sedih. Air matanya sudah siap meluncur.


"Tidak apa-apa ustadz saya ikhlas kok, cuma mangga saja. Satu buah, lagi."


Barulah Mentari bernafas lega mendengar perkataan pemilik rumah. Air matanya urung menetes.


"Alhamdulillah kalau begitu jadi saya bisa tenang. Namun, tetap terima uangnya ya Bu sebagai permohonan maaf kami berdua." Ustadz Alzam menyodorkan uang dengan sedikit memaksa sehingga wanita paruh baya itu terpaksa menerima uang tersebut.


"Ayo ustadz mampir ke dalam dulu biar saya buatkan minuman," ajak wanita itu, tetapi ustadz Alzam menolaknya.


"Mohon maaf kami tidak bisa, sebab kami sedang terburu-buru," tolak ustadz Alzam dengan halus.


"Cuma sebentar ustadz, cuma minum-minum sebentar."

__ADS_1


Ustadz Alzam tampak berpikir.


"Ayolah ustadz sebentar saja, ada hal yang ingin kami tanyakan pada ustadz," mohon seorang warga.


"Tentang apa?"


"Tentang ilmu fikih. Boleh, bukan?"


"Baiklah kalau begitu."


"Ya sudah ayo masuk Ustadz!"


Ustadz Alzam mengangguk, menggandeng tangan Mentari dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara tangan di genggam oleh sang suami, Mentari tetap berjalan dengan posisi wajah yang menunduk.


"Silahkan duduk! Saya buatkan minuman dulu." Pemilik rumah undur ke belakang guna membuatkan minuman untuk ustadz Alzam dan juga para warga yang telah lelah berlari-lari karena ulahnya tadi main berteriak segala tanpa memastikan terlebih dahulu keadaannya.


Sementara pemilik rumah sedang membuatkan minuman, para warga mengajukan beberapa pertanyaan tentang apa yang ingin mereka tanyakan. Tentu saja pertanyaannya mengenai hukum Islam terhadap sesuatu masalah yang dihadapi oleh mereka, bukan pertanyaan pribadi.


Ustadz Alzam tidak segan-segan memberikan ilmu pada warga yang hadir di tempat itu. Jadilah pagi ini ustadz Alzam mengisi ceramah singkat dengan sistem tanya jawab.


"Diminum dulu ustadz, Mbaknya juga." Pemilik rumah mempersilahkan ustadz Alzam dan Mentari untuk minum terlebih dahulu baru setelahnya pada semua warga.


"Makan saja tidak apa-apa," ujar ustadz Alzam dan Mentari kali ini menggeleng.


"Atau perlu ibu buatkan bumbu rujak?" tanya ibu tersebut dan langsung bangkit dari duduknya hendak membuatkan sambal rujak.


"Tidak usah Bu, tidak perlu repot-repot," ujar Mentari.


"Tidak apa-apa tidak repot kok," ucap ibu tersebut dan langsung kembali ke dapur sedangkan para warga baik laki-laki dan perempuan masih antusias mengajukan pertanyaan pada ustadz Alzam.


"Ummi tolong buah yang di mobil ambil dan bawa ke sini!" perintah ustadz Alzam dengan cara berbisik.


Mentari mengangguk. "Nitip mangganya dulu." Wanita itu menyodorkan mangga ke tangan ustadz Alzam.


Pria itu menerima mangga dari tangan Mentari dan mengangguk sambil tersenyum. Setelahnya melanjutkan menjawab pertanyaan dari orang-orang.


Seorang wanita meminta mangga di tangannya untuk dikupaskan dan di kerat agar Mentari mudah nanti merujaknya.


Sementara itu Mentari keluar sebentar kemudian kembali ke samping ustadz Alzam dan meminta kunci mobil. Setelah mendapatkan kunci tersebut dia kembali ke sisi mobil. Wanita itu tidak langsung membuka pintu mobil sebab tercengang melihat seorang wanita yang baru masuk ke dalam pagar rumah dengan perut buncit yang teramat besar. Wanita itu tampak melihat ke atas pohon mangga dan terlihat kesal sebab yang dicarinya tidak ada. Wanita itu terlihat memberengut kemudian masuk ke dalam rumah.


Mentari mengusap perutnya yang masih rata. "Kamu jangan gede kayak gitu ya sayang, ummi takut tidak kuat membawa perut," ucap Mentari pada bayinya sambil mengusap-usap perutnya itu. Dia terkekeh pelan mendengar ucapannya sendiri. Namun, memang benar sih wanita tadi perutnya teramat besar sekali untuk ukuran kehamilan yang normal.

__ADS_1


Apa bayinya kembar ya? Kalau kembar sih nggak apa-apa kalau besar kayak gitu.


Mentari tersenyum sendiri membayangkan kerepotannya nanti kalau punya anak kembar.


"Ah kenapa aku jadi melamun." Dia membuka pintu mobil dan meraih dua tas kresek berisi buah dan menentengnya masuk ke dalam rumah.


"Buahnya Abi," ucap Mentari sambil menyodorkan tas kresek di tangan kanan dan kirinya.


Ustadz Alzam meraih dan menyodorkan pada seorang warga agar membagi-bagikan kepada yang lain.


"Manggaku mana?" tanya Mentari saat tidak mendapati mangga di tangan sang suami.


"Oh itu? Tadi dibawa ibu ke dapur katanya mau dipotong-potong biar kamu lebih mudah rujakannya."


"Oh." Mentari duduk di samping ustadz Alzam dan menunggu rujak mangga yang sedang dibuatkan oleh pemilik rumah dan tetangga tersebut. Wanita itu tidak sabaran, rasanya Mentari ingin cepat-cepat menikmatinya.


"Ustadz bawa buah banyak?" tanya warga yang membagikan buah di tangannya.


"Tidak bawa dari rumah tapi beli tadi dan gara-gara melihat buah-buahan itu istri saya jadi menginginkan mangga muda padahal si Mbak penjual buah tidak menjual mangga muda. Adanya cuman mangga yang sudah matang, istri saya tidak mau. Rencananya masih mau saya carikan di penjual buah yang lainnnya, eh dia khilaf lihat mangga orang," ujar ustadz Alzam terkekeh mengingat kebodohan istri dan dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat banyak kala sang istri sudah berada di atas pohon.


"Kok lama ya Abi?" Mentari sudah tidak tahan menunggu ingin segera menikmati mangga lagi. Air liurnya mulai memenuhi rongga mulut.


"Ayo aku antar ke dapur Mbak," ajak seorang gadis remaja yang melihat Mentari tidak sabaran.


"Baiklah ayo Dik." Mentari menyanggupi dan bangkit dari duduknya serta mengikuti langkah gadis tersebut menuju dapur.


"Mana rujak mangga nya Buk De?" tanya gadis tadi memanggil pemilik rumah.


Pemilik rumah yang sedang fokus menggerus sambal di cobek menoleh ke piring begitu juga dengan ibu tadi yang meminta mangga pada ustadz Alzam untuk dikupaskan. Ibu itu saat ini beralih mengupas buah kedondong yang kebetulan ada di dapur sebagai tambahan karena melihat mangga hanya tinggal sedikit setelah dipotong-potong.


Namun, kedua orang itu terlonjak kaget melihat mangga yang telah ditaruh di piring ini sudah tandas dan seorang wanita hamil di dekatnya tampak nyengir melihat pemilik rumah dan ibu tadi menatap dirinya tidak percaya.


"Dinda! Apa yang kau lakukan? Kau tahu ini mangga siapa?" tanya pemilik rumah yang tak lain adalah kakaknya sendiri.


"Tahu, mangga yang diambil dari pohon mangga di luar, kan? Aku sengaja membiarkan mangga tersebut sampai besar buat aku rujak nanti, eh kakak seenaknya mengambil." Wanita itu berkata tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Abi!" teriak Mentari kesal dan merengek menuju sang suami.


"Ada apa lagi?" tanya ustadz Alzam yang tidak mengerti sebab sang istri akhir-akhir ini sering badmood.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2