HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 33. Akur


__ADS_3

Mentari bangkit dari berbaring dan turun dari ranjang.


"Mau kemana?" tanya Bintang saat Mentari hendak berjalan ke luar.


"Tetaplah di sini!" perintahnya karena Mentari tidak menjawab pertanyaan darinya.


"Aku tidur di ruang tamu saja, di sini gerah," ucap Mentari tanpa menghentikan langkahnya terus berjalan ke luar kamar.


Bintang mendesah kesal Mentari seperti berubah. Wanita itu sebelumnya tidak pernah melawan dirinya ketika belum mengetahui bahwa Bintang punya istri lain selain dirinya.


Ataukah perubahan Mentari itu karena mengenal Gala? Bintang merasa perlu menyelidiki itu semua. Tidak mungkin seorang istri tidak mau disentuh oleh suaminya sendiri kalau tidak menjalin hubungan dengan orang lain sedang sebelum-sebelumnya Mentari tidak seperti itu meski sudah tahu akan hubungannya dengan Katrina.


Dia tidak sadar bahwa perubahan Mentari adalah karena sikap dirinya sendiri, bukan karena orang lain.


Bintang berjalan keluar, menatap Mentari yang sudah tertidur dengan pulas di atas sofa. Wanita itu dengan mudahnya tertidur setelah membuat Bintang tidak bisa tidur dengan perubahan sikapnya. Meskipun kesal tetapi Mentari sudah tidak bisa menahan kantuknya setelah seharian sibuk bekerja.


"Apa yang membuatmu berubah?" gumam Bintang sambil duduk di samping Mentari.


Laki-laki itu menatap intens wajah Mentari. Tidak ada yang berubah, semua seperti dulu. Mentari masih cantik meskipun tanpa make up sekalipun. Benar-benar cantik natural.


Bahkan untuk urusan pakaian pun Mentari masih berpenampilan sederhana. Bintang melarang Mentari untuk memakai pakaian seperti yang Gala pilihkan. Dia tidak mau Gala atau yang lainnya akan tertarik pada istrinya itu jika dia merubah penampilannya lebih modis, apalagi sampai berpenampilan seksi.


"Hah." Bintang menarik nafas panjang. Kepulangannya ke apartemen ternyata tidak disambut baik oleh sang istri. Padahal sebenarnya Bintang sangat merindukan Mentari.


Bintang juga sudah susah-susah merayu Katrina agar mengizinkannya pulang ke apartemennya sendiri. Berhubung Katrina sudah dibuat bahagia oleh Bintang di hari ulang tahunnya wanita itu dengan mudah mengizinkan Bintang untuk pulang. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, selalu ada drama sehingga Bintang memutuskan untuk tidak jadi meninggalkan Katrina.


"Me aku mencintaimu tapi aku tidak bisa selalu ada di sampingmu. Maafkan aku." Bintang merasa bersalah ketika melihat jejak air mata masih tersisa di pipi Mentari.


"Mungkin kau bisa bahagia jika aku melepasmu tapi maafkan aku yang tidak bisa melakukan itu. Aku masih ingin hidup denganmu Me meski keadaan semakin terasa sulit." Bintang tahu Mentari pasti tersiksa dengan pernikahan itu, tetapi apalah daya ternyata Katrina benar-benar hamil anaknya. Apalagi dia juga masih sangat mencintai wanita itu.


"Ah, mengapa begitu sulit menyatukan cinta dari masa lalu dan cinta yang muncul di masa sekarang?" Bintang memejamkan mata. Kalau saja Katrina tidak terlalu manja dan Mentari bisa mengerti posisi dirinya pasti semua ini tidak akan terjadi. Mungkin saja Bintang bisa berlaku adil terhadap keduanya dan Bintang tidak perlu melepaskan satu diantara mereka untuk mendapatkan kebahagiaannya.


Bintang tidak kembali ke kamar. Dia memilih tidur di sofa yang berhadapan dengan sofa tempat Mentari tertidur. Bintang menarik sofa tersebut agar menyatu dengan sofa tempat Mentari tidur. Pria itu memeluk tubuh istrinya lalu ikut terpejam.


Esok hari Mentari terbangun dengan Bintang di sebelahnya. Ia menatap suaminya dengan rasa sesal. Kasihan Bintang, seharusnya dia tidak mengabaikan suaminya semalam.


"Maafkan aku Mas, semalam aku benar-benar kesal padamu. Harusnya aku tidak begitu."


Mentari beranjak ke dapur, ingin menyiapkan sarapan untuk Bintang. Meskipun Bintang telah sering membuatnya kesal, tetapi Mentari tidak boleh melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri.


Beberapa saat kemudian Bintang terbangun dan tidak mendapati sang istri di sisinya. Ia langsung bangun dan memeriksa sang istri di kamar mandi.


Bintang khawatir karena tidak menemui Mentari di kamar mandi. Dia takut sang istri kabur dari apartemen.

__ADS_1


Namun kemudian Bintang tersenyum mengingat kebiasaan Mentari saat pagi-pagi buta. Kalau tebakannya tidak salah pasti Mentari sedang berkutat dengan bahan-bahan di dapur.


Bintang memeriksa Mentari di dapur. Senyumnya melebar tatkala tebakannya tidak meleset. Mentari benar ada di sana.


"Masak apa sayang?" tanya Bintang sambil merengkuh pinggang istrinya dari belakang.


"Mas lepas aku tidak bisa bergerak ini," pinta Mentari.


"Baiklah karena Nyonya Bintang yang minta maka aku lepaskan," goda Bintang sambil tersenyum.


"Bukannya Katrina ya Nyonya Bintang yang sebenarnya?"


"Sudahlah sayang jangan sebut nama dia kalau kita sedang berduaan. Dalam surat nikah hanya kamu yang tertulis sebagai istriku," ucap Bintang membuat Mentari sedikit merasa bahagia.


"Aku bantu," ucap Bintang.


"Boleh, tapi apakah Mas Bintang bisa memasak?"


"Hanya bisa motong bawang," ucap Bintang sambil terkekeh. Dia meraih pisau dari tangan Mentari.


"Kupikir bisa masak," ucap Mentari cemberut.


"Ish kenapa cemberut? Masih marah sama aku?"


"Emang apa ekspektasimu?"


"Aku pikir Mas Bintang bisa masak," kelakar Mentari. Wanita itu terlihat tertawa kecil.


Bintang senang melihat tawa sang istri.


"Tahu nggak Mas aku dulu pernah menghayal punya suami koki. Berasa kayak ratu gitu kalau istri tinggal duduk dan suami yang masakin. Aku tinggal nyicip di meja makan." Mentari tersenyum membayangkan khayalan-khayalannya dulu.


"Ah, aku terlalu banyak menghalu," protesnya pada diri sendiri. Jangankan punya suami yang seperti itu. Memiliki suami yang hatinya utuh untuknya saja terasa sangat sulit baginya.


Sadarlah Mentari! Itu hanya ada dalam khayalanmu semata.


"Kalau begitu kamu duduk saja biar aku yang buat sarapan!"


"Mas yakin?" tanya Mentari tak percaya.


"Yakin, lah. Nasinya sudah matang, kan?"


"Iya sudah."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu duduk di sana!" perintah Bintang. Mentari menggeleng, tidak yakin kalau Bintang benar-benar bisa memasak untuk dirinya.


Karena sang istri tidak mau beranjak juga dari tempatnya berdiri, Bintang langsung menggendong Mentari dan hendak mendudukkan di minibar dapur.


"Lepaskan Mas! Aku bisa jalan sendiri."


"Sudah tidak usah protes! Suruh siapa lelet, tadi disuruh jalan sendiri nggak mau." Mentari tidak menjawab karena tubuhnya kini sudah duduk dengan sempurna.


Bintang pun berkutat dengan memasaknya. Mentari memandang ke arah Bintang tidak berkedip.


"Kenapa, kurang menarik, kah?" tanya Bintang saat Mentari memandang datar kepadanya saat Bintang memainkan teflon seperti seorang koki.


Mentari tidak menjawab. Pikirannya tidak fokus pada antraksi Bintang yang gagal karena telor ceplok untuk nasi goreng yang Bintang buat malah jatuh ke lantai.


Seandainya kau hanya mencintaiku dan ragamu menjadi milikku seutuhnya. Alangkah indahnya jika dalam keluarga kita tidak ada wanita lain yang juga mengisi relung di hatimu. Aku pasti akan menjadi wanita paling beruntung di dunia. Ah, aku menghalu lagi. Memang dunia halu lebih indah dari kenyataan.


"Sorry sayang aku buat lagi," ucap Bintang sambil memungut telur yang jatuh tadi dan membuangnya ke tempat sampah.


Mentari tersadar dari lamunannya.


Wanita itu meraup wajahnya agar pikirannya tidak melantur kemana-mana.


"Mas mubadzhir Ah, kenapa harus dijatuhkan segala. Mas tidak pernah merasakan bagaimana sebutir telur itu sangat berarti." Mentari mengingat kehidupannya di kampung. Memiliki sebutir telur saja untuk lauk itu sudah sangat membuatnya bahagia. Yang penting Pandu makan dengan lauk meski ibu dan dirinya harus makan dengan garam dan cabe saja.


"Nggak sengaja sayang," ujar Bintang.


"Nggak sengaja bagaimana? Orang aku lihat tadi Mas Bintang mainkan telfonnya." Meski melihatnya dengan setengah sadar ternyata Mentari ingat akan tingkah Bintang tadi.


"Sorry lain kali nggak lagi. Kamu masuk kerja hari ini?" tanya Bintang mengalihkan perhatian. Tidak ingin Mentari sedih saat mengingat masa lalunya.


"Emang boleh? Semalam kan Mas Bintang nyuruh aku berhenti."


"Kalau pekerjaan kamu bisa membuatmu senang tidak apa-apa kamu kerja saja."


"Terima kasih ya Mas, akhirnya kamu bisa mengerti aku juga. Aku benar-benar kesepian jika harus di apartemen sepanjang hari sendirian." Senyum di bibir Mentari merekah.


Bintang ikut tersenyum. "Tapi itu tidak gratis, ada syaratnya."


"Apa syaratnya Mas?"


"Nanti aku kasih tahu. Sekarang kita makan dulu. Tara ... nasi goreng spesial buatan Bintang untuk Nyonya tersayang sudah selesai," ucap Bintang sambil membawa dua piring ke atas meja.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2