
Tuan Winata kaget saat mobilnya berhenti di depan sebuah bar.
"Ini tempatnya Pak?" tanya tuan Winata pada pak sopir.
"Iya Tuan, kalau menurut dari alamat yang diberikan Den Bintang memang berada di dalam tempat ini."
"Baiklah kalau begitu saya turun dulu dan memeriksa ke dalam."
"Baik Tuan, hati-hati."
Tuan Winata mengangguk dan langsung turun dari mobil. Setelah itu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam bar.
Sampai di pintu bar kedatangannya disambut oleh dentuman musik keras yang memekakkan telinga.
"Sejak kapan dia jadi kenal tempat seperti ini?" Tuan Winata menggeleng melihat perubahan sang putra yang semakin hari semakin buruk saja.
"Rasanya aku gagal menjadi orang tua." Pria itu celingukan mencari keberadaan Bintang. Diantara banyak orang yang duduk didampingi oleh beberapa perempuan, Tuan Winata melangkahkan kakinya ke arah sana. Setelah mengamati ternyata tidak ada Bintang diantara mereka dia langsung pergi.
"Ada dimana dia sekarang?" Tuan Winata terus masuk ke dalam dan menjelajahi tempat yang begitu asing untuknya. Dia memang tahu yang namanya bar seperti apa, tapi seumur hidup dia tidak pernah masuk ke dalam tempat itu kecuali saat ini saja.
Bau alkohol menyeruak seakan membuat perutnya terasa mual. Tuan Winata terus bergerak mencari keberadaan putranya sambil memencet hidung, berharap tidak akan bisa mengendus bau yang tidak disukainya itu.
"Tuan!" Seorang pria yang berdiri di ujung ruangan berteriak sambil melambaikan tangan ke arah Tuan Winata.
Tuan Winata pun membalas lambaian tangan pria itu dan segera berlari menuju Bintang yang sedang duduk pada sebuah meja dimana di sekelilingnya terdapat muntahan.
"Tambah alkoholnya, kamu budeg ya!" Bintang menunjuk seorang pria yang berdiri di hadapannya yang ternyata adalah seorang pelayan di tempat itu dengan jari telunjuknya kemudian mendorong ke belakang.
"Alkohol di tempat ini sudah habis dipesan pengunjung lainnya." Pelayan itu terpaksa berbohong sebab Bintang masih saja ngotot saat pelayan itu menjelaskan akan berbahaya jika Bintang minum lagi.
"Cih bar ini bangkrut ya? Kalau pemiliknya sudah miskin kenapa bar ini tidak ditutup sekalian?" Wajah Bintang memerah karena amarah.
"Dasar bar sampah! Kamu juga sampah!"
"Bintang, apa-apaan kamu?" protes Tuan Winata, pria itu langsung berdiri di samping Bintang.
Bintang menoleh. "Papa?" Pria itu menunjukkan ekspresi kaget, tetapi kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata papa perduli juga padaku, kupikir papa lebih sayang pada Gala dan ustadz Alzam pecundang itu, haha hahaha."
"Bintang, kamu bicara apa Nak, bagi papa kamu tetap nomor satu." Tuan Winata mendekat ke arah Bintang dan memegang bahunya. "Kita pulang sekarang."
__ADS_1
Bintang menghempaskan tangan Tuan Winata.
"Aku tidak mau pulang Pa, aku mau minum sampai aku bisa melupakan Mentari."
Tuan Winata menggeleng. "Iya dan kamu juga tidak akan bisa melihat dia lagi untuk selamanya," ujar Tuan Winata. "Karena kalau kamu paksa dirimu lagi untuk minum, bisa-bisa nyawamu melayang."
Bintang terlihat menatap papanya dan terkekeh. "Itu jauh lebih baik daripada Bintang sakit hati seperti ini."
Tuan Winata menggeleng tak percaya. "Bintang mati dalam keadaan begini tidak baik Nak, kamu bisa langsung masuk neraka."
"Aku tidak perduli Pa, toh hidupku sudah seperti neraka."
"Ya neraka yang kau ciptakan sendiri," batin Tuan Winata. Dia tidak mau mengatakan langsung pada Bintang karena sadar orang mabuk sudah bisa dikatakan seperti orang yang tidak waras.
"Berikan alkoholnya!" teriak Bintang dengan suara keras sehingga membuat orang-orang yang berada dalam ruangan yang sama dengannya langsung menoleh dan merasa heran. Bagi mereka yang sudah mabuk malah tertawa sambil menunjuk ke arah Bintang.
Tuan Winata memberikan kode terhadap pelayan tadi agar membantunya membawa tubuh Bintang keluar dari bar tersebut. Pelayan itu langsung sigap dan membantu mengangkat tubuh Bintang.
Bintang memberontak hingga membuat keduanya kewalahan.
"Sebentar Tuan saya panggil teman-teman saya dulu. Sepertinya kalau hanya kita berdua tidak akan bisa membawa putra Tuan keluar sebab tenaganya terlalu kuat."
Tuan Winata mengangguk dan pria itu langsung bergegas untuk memanggil pelayan yang lain. Baru lima langkah ternyata tubuh Bintang melemah dan pingsan.
Pria itu berbalik dan membantu Tuan Winata menggotong tubuh Bintang keluar dari bar dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Apa yang terjadi pada Den Bintang, Tuan? Apa kita harus membawanya ke rumah sakit?" tanya Pak sopir setelah membantu memasukkan tubuh Bintang ke dalam mobil.
"Bawa ke rumah dulu Pak, dia hanya pingsan saja. Nanti kalau kita tidak bisa mengatasinya baru dibawa ke rumah sakit."
"Baik Tuan." Sopir pribadi Tuan Winata pun masuk ke dalam mobil dan siap melajukan kendaraannya itu sedangkan pelayan tadi tampak berbalik.
"Eh Mas tunggu!" Tuan Winata mencegah pelayan itu untuk pergi dulu.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu lagi?" Pria itu berbalik dan berjalan mendekat ke arah mobil lagi. Tuan Winata mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikan pada pria itu.
"Terima kasih atas bantuannya dan ini uang sebagai upah untuk membersihkan meja yang penuh muntahan."
Pria itu terdiri bengong, bukankah sudah kewajibannya membersihkan meja?
"Kalau Putra saya ke sini lagi tolong hubungi saya sebelum dia minum-minum."
__ADS_1
"Iya Tuan, terima kasih atas tipsnya."
Tuan Winata mengangguk. "Jalan Pak sopir!"
Sopir pun tancap gas dan membawa mobil menuju kediaman Tuan Winata.
"Loh bagaimana aku bisa menghubungi Tuan itu, aku kan tidak punya nomor teleponnya?" Pelayan itu hanya bisa menepuk jidat tatkala melihat mobil tersebut sudah hilang dari pandangan mata.
"Pak berhenti di depan!" perintah Tuan Winata saat melihat ada penjual kaki lima yang menjual kelapa muda di pinggir jalan.
"Untuk?" tanya Pak sopir heran dan tidak mengerti.
"Berhenti dan belikan aku kelapa muda itu!"
Sopir pribadi Tuan Winata mengangguk dan langsung mengerem mobil secara mendadak. Setelah mobil berhenti dia keluar dari mobil dan berjalan menuju pedagang kaki lima yang mangkal di pinggir jalan.
"Beli berapa buah, Tuan?"
"Lima, buat stok kalau masih nggak mempan."
Sopir itu mengangguk dan langsung melakukan apa yang sudah diperintahkan oleh tuannya.
Setelah mendapatkan pesanan dia kembali ke mobil dan mendapati Bintang meracau tidak jelas dengan posisi mata masih terpejam. Sesekali pria itu terdengar menangis.
"Ada apalagi dengan Den Bintang Tuan?"
"Dia sudah sadar, tolong minta pada penjual kelapa mudanya untuk melubangi kelapa ini dan mengambil airnya karena saya akan memberikan airnya sekarang juga pada Bintang mumpung dia lagi sadar."
"Baik Tuan." Sopir itu berlari ke arah penjual kelapa muda untuk meminta tolong agar mengambilkan air kelapa muda yang sekarang ada di tangannya. Penjual itu mengangguk dan melakukan apa yang diminta pak sopir. Setelah kepala muda itu berlubang pedagang tersebut langsung menuangkan air tersebut ke dalam sebuah botol mineral sebelum memberikannya kembali pada pak sopir.
"Ini Pak." Pria tua itu menyodorkan botol tersebut ke arah pak sopir.
"Terima kasih Pak," ucap pak sopir dan berlari kecil ke arah mobil.
Bintang terlihat muntah-muntah lagi hingga mengotori mobil mereka. Dia juga mengoceh tidak jelas.
"Ini Tuan kelapa mudanya." Pak sopir menyodorkan botol ke arah Tuan Winata dan Tuan Winata memaksa Bintang agar meneguk air kelapa dalam botol tersebut.
Melihat tidak ada reaksi dari Bintang saat setelah meminum air kelapa tersebut, Tuan Winata memerintahkan sopirnya kembali untuk meminta pedagang tadi agar membelah kelapa muda yang lainnnya untuk diambil airnya lagi.
Setelah meneguk air kelapa yang kedua, Bintang baru berhenti muntah-muntahnya. Pria itu terlihat meringis sambil memijit pelipisnya sendiri. Bintang menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sambil memejamkan mata. Kepalanya benar-benar terasa sakit sekarang.
__ADS_1
Bersambung.