HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 176. Bicara Dari Hati Ke Hati


__ADS_3

"Semoga mereka tidak tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya. Semoga Mentari menepati janjinya," batin Arumi penuh harap.


"Assalamu'alaikum Bibi!" sapa ustadz Alzam membuat Arumi sedikit lega sebab sepertinya pria itu tidaklah dalam keadaan marah.


"Wa'alaikumsalam Nak Alzam. Mari silahkan masuk!"


Ustadz Alzam mengangguk dan masuk ke dalam rumah.


"Duduk Nak Alzam!"


"Terima kasih Bi." Ustadz Alzam menghampiri kursi dan duduk.


Berbeda dengan ustadz Alzam yang langsung masuk saat dipersilahkan, Gala memilih diam di pintu.


"Bintang mana Bi?"


"Bintang ... Bintang ...."


"Saya tahu Bintang ada di rumah. Jangan bohongi saya seperti pada Katrina!"


Arumi menatap mata Gala lalu mengangguk.


"Kalau boleh tahu ada apa kamu mencari Bintang?"


"Saya kira pasti Bibi sudah tahu dan kalaupun tidak nanti Bibi akan tahu sendiri."


"Baik, bibi panggil Bintang dulu sebab sejak mabuk semalam dia tidur terus dan tidak mau bangun," jelas Arumi, berharap ada simpati sedikit dari Gala sebab Arumi melihat ada kemarahan di wajah Gala


"Bibi tenang saja kami tidak akan melaporkan Bintang ke polisi asal dia mau menemui kami." Gala bisa melihat wajah sang bibi terlihat tegang. Dia tidak mau wanita itu malah berpikir macam-macam dan akhirnya tubuhnya akan drop. Kalau terjadi sesuatu kepada Arumi dirinya juga yang repot dan yang lebih mengerikan lagi dia yang akan disalahkan oleh sang papa.


Arumi mencoba tersenyum walaupun dalam hati masih merasa tidak tenang. Wanita ini takut Bintang akan dikeroyok oleh kedua pria di hadapannya ini.


Arumi meninggalkan kedua tamunya ini dan naik ke atas guna memanggil Bintang agar mau menemui keduanya.

__ADS_1


"Ada apa Ma? Aku masih sangat ngantuk ini, jadi biar nanti aku akan ambil makan sendiri." Masih menyangka sang mama membangunkan dirinya untuk makan seperti tadi.


"Ada Nak Alzam dan Gala di bawah dia ingin bertemu denganmu."


"Katakan saja aku tidak ada Ma. Aku sedang malas untuk menemui siapapun."


"Singkirkan rasa malas mu kalau kamu tidak ingin masuk penjara!"


Mendengar perkataan Arumi, Bintang bangkit dari posisi berbaring kemudian duduk.


"Siapa yang mau melaporkan Bintang ke polisi Ma, mereka tidak punya bukti," sanggah Bintang.


"Dan kalau itu sampai terjadi mama tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kamu tahu, Gala bisa melakukan segalanya untuk mendapatkan bukti, atau mungkin saja mereka saat ini sudah punya bukti kalau kamu telah melakukan aksi penculikan terhadap Mentari. Kalau tidak darimana dia mendapatkan informasi ini sebab Mentari sendiri sudah berjanji pada papa dan mama untuk menutup mulut. Kesimpulannya kalau kedua pria yang berada di bawah sekarang tahu berarti mereka tahunya dari orang lain."


"Tidak ada yang melihat kok Ma, apa mungkin dokter itu yang menceritakan semuanya?"


"Dokternya tahu?"


"Mungkin, mungkin saja Mentari yang memberi tahu dokter itu. Ya sudahlah Bintang akan menemui mereka daripada melihat Mama khawatir seperti ini." Bintang turun dari tangga dan melangkah mendekat ke arah ustadz Alzam dan Gala. Pria itu lalu duduk dalam satu meja.


"Kenapa kamu menculik istriku?" tanya ustadz Alzam langsung ke pokok permasalahan.


"Kau sudah tahu aku mencintainya dan apapun akan aku lakukan agar dia kembali padaku termasuk membawa kabur dia darimu." Entah kenapa bawaannya kesal saat melihat wajah ustadz Alzam padahal pria itu tidak pernah punya salah sedikitpun pada Bintang.


Brak.


Ustadz Alzam menggebrak meja mendengar jawaban dari Bintang. Arumi yang memantau pembicaraan mereka dari atas tangga hanya bisa mengelus dada melihat ustadz Alzam yang jarang marah itu tiba-tiba terlihat murka.


"Bintang apa yang kamu katakan Nak?" Hanya bergumam sendiri dan berharap Bintang tidak semakin membuat dua orang tamunya itu marah besar.


"Kamu tahu, perbuatanmu itu bisa merenggut nyawa Mentari. Apa itu yang dinamakan cinta? Kau tahu makna cinta yang sebenarnya?"


Kali ini Bintang tidak menjawab perkataan ustadz Alzam.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan bukanlah sebuah cinta tapi hanya obsesi semata, ambisi untuk memilikinya kembali atau kau hanya sekedar ingin mendapatkan dirinya karena ingin mengalahkan diriku? Dengar Bintang, Mentari bukanlah piala ya harus diperebutkan. Dia manusia yang punya hati, dan satu hal aku yakin seumpama kau bisa mendapatkan dirinya kembali kau akan mencampakkan dirinya lagi."


"Tahu apa kamu ustadz dengan perasaanku," protes Bintang.


"Mungkin dia tidak tahu dengan hatimu, tapi aku tahu seperti apa itu hatimu," sambung Gala pembicaraan keduanya.


"Hatimu seperti bunglon yang akan menyesuaikan dimana kamu berada. Di dekat Cahaya kau akan merasa mencintai dia, di dekat Katrina kau akan merasa lebih mencintai Katrina dan ketika semuanya dekat kau bingung akan memilih warnamu sendiri," imbuh Gala.


"Kau ...!" Bintang terlihat kesal.


"Apa aku salah? Sudahlah kami berdua kemari tidak ingin membahas masalah hati, tapi ingin memperingatkan dirimu supaya tidak menggangu Cahaya lagi, kalau tidak jangan salahkan kami jika kami akan menghancurkan kehidupanmu," ancam Gala.


Bintang tidak menjawab lagi hanya menatap wajah Gala saja yang terlihat begitu serius dengan perkataannya.


"Bintang, aku tidak suka mengancam seperti Mas Gala bukan karena aku takut dan tidak mampu menghadapi dirimu. Aku masih ingat posisi dirimu di dalam keluarga istriku dan aku juga menghormati kedua orang tuamu terutama Paman Winata yang selama ini begitu baik pada Mentari." Ustadz Alzam menjeda ucapannya dan menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.


"Aku mohon dengan sangat agar kamu tidak mengganggu Mentari lagi sebab aku tidak ingin istriku menjadi terganggu pikirannya. Kau tahu perlakuanmu kemarin saja membuatnya trauma sehingga saat mendengar namamu disebut saja dia seperti ketakutan meski pada kenyataannya dia menahan diri agar orang yang ada di sekitarnya tidak tahu dengan perasaan takut pada dirimu itu, tapi kami bisa merasakannya."


"Dan ingat satu hal, dengan mengganggu Cahaya kamu tidak hanya mengganggu dia saja, tetapi juga janin dalam kandungannya. Kau tidak ingin mereka pergi karena ulah dirimu, bukan?"


"Maksudnya?" tanya Bintang tidak paham.


"Kau bisa mengancam nyawa Cahaya dan janinnya, bodoh!" kesal Gala. Bagaimana mungkin pria itu tidak paham. Kemana kepandaian pria itu sekarang? Apakah Bintang hanya pandai dalam menjalankan tugas di perusahaan sedangkan dalam kehidupan sehari-harinya dia adalah pria yang tidak mengerti apa-apa?


"Baik aku akan menjauhinya." Bintang akhirnya mengambil keputusan itu demi kebaikan Mentari. Dia membenarkan dalam hati bahwa ucapan ustadz Alzam tadi memang tepat. Jika dia benar-benar mencintai Mentari sudah seharusnya dia merelakan wanita itu kepada orang lain yang bisa membuatnya bahagia dan pria itu adalah ustadz Alzam. Cara satu-satunya yang bisa dilakukan dirinya untuk membuat Mentari bahagia saat ini adalah tidak menampakkan diri di hadapan wanita itu.


Ternyata keputusannya kemarin untuk membiarkan Mentari bahagia dengan anak dalam kandungannya yang sempat goyah adalah keputusan terbaik.


"Terima kasih atas pengertiannya, saya akan berdoa agar engkau mendapatkan kebahagiaan," ucap ustadz Alzam sambil menepuk bahu Bintang dan Bintang mencoba untuk tersenyum meski terasa masih berat dengan keputusannya sendiri.


"Syukurlah kalau kamu paham jadi tidak perlu ada adu kekuatan di sini," ujar Gala dan Bintang hanya mengangguk.


Arumi yang melihat dari atas merasa lega melihat ketiganya akhirnya akur-akur saja.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2