HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 235. Keisengan Bintang


__ADS_3

Gala langsung memposisikan dirinya tengkurap di samping Sarah dan mengikuti jejak sang istri.


"Bapak mau ngapain?" Sarah menghentikannya aktivitasnya sementara dan menoleh ke samping.


"Iku membayar hukuman pada kakakmu."


Sarah mengangguk dan mulai melakukan push up lagi.


"Sepuluh, sebelas, dua belas ...."


"Satu, dua, tiga ...."


Mereka berdua seolah bersaing hingga suara hitungan mereka memenuhi udara.


"Ada apa ini?" Mentari yang sedari tadi fokus berbicara pada makam ustad Alzam akhirnya terganggu dengan suara pasangan suami istri itu yang begitu berisik.


Dia yang sedari tadi menangis kini malah tertawa melihat Sarah dan Gala melakukan push up bersamaan.


"Hei ini pemakaman bukan tempat olahraga ataupun lapangan," protes Mentari sambil masih cekikikan.


Keduanya tidak ada yang menjawab karena takut hitungannya salah.


"Apaan sih kalian?" Mentari tidak paham dengan keinginan kakak dan iparnya itu.


"Hei kalian mau membangunkan mayat, ya?" tanya Mentari lagi.


"Mas Gala! Sarah!" teriak Mentari, dia begitu kesal dicuekin oleh kedua saudaranya itu.


"Kami sedang menjalankan hukuman Kak." Sarah terpaksa berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan dari Mentari agar wanita itu tidak bertambah kesal.


"Hukuman?"

__ADS_1


"Ya hukuman dari Kak Alzam karena akhirnya kami berdua benar-benar menikah."


"Abi dengarlah walaupun kau sudah tiada ternyata kau masih berkuasa," ujar Mentari seolah berbicara dengan ustadz Alzam. Wanita itu mengusap pipinya yang basah kembali.


"Abi ummi kangen," rengek Mentari lagi. "Abi tidak rindu kah pada putra kita? Abi lihatlah! Dia begitu dekat dengan Mas Bintang. Dia butuh sosok ayah, tapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi Abi, baik di hatiku maupun di hati putra kita."


Mentari lalu melamun di samping makam. Kesehariannya bersama ustadz Alzam semasa hidupnya kembali berputar di ingatannya. Kadang Mentari tersenyum kadang juga menangis mengingat semuanya.


"Selesai. Akhirnya selesai juga." Sarah mengakhiri hukumannya.


Mendengar kata selesai dari mulut Sarah Gala pun semakin mempercepat gerakannya. Dia malu jika salah sudah menyelesaikan 100 kali push up sedangkan dirinya masih belum ada 80 pun.


"Aduh sakit." Gala meringis kesakitan. Akhirnya Gala menyerah saat merasakan punggungnya terasa sakit. Saat dia mencoba duduk dia salah gerak sehingga bukan hanya punggung yang sakit dan pinggangnya yang terasa encok, bahkan lututnya serasa tidak bisa digerakkan.


Gala benar-benar merasakan tubuhnya remuk seketika.


"Kamu sudah Sarah?" tanya Gala memastikan hukuman Sarah selesai sebelum akhirnya berusaha berdiri.


"Bapak sendiri?" tanyanya lebih lanjut.


"Belum masih sisa 910 push lagi biar lah aku bayar nyicil aja. Kamu nggak ngomong sih kalo mau bayar hutang push up. Kalau begitu semalam aku hemat tenaga dengan tidak menyerangmu habis-habisan," sesal Gala.


"Lah aku yang diserang saja nggak apa-apa," protes Sarah membuat Gala menelan ludah untuk kedua kalinya. Gala akui performa tubuh Sarah memang lebih bagus darinya yang jarang olahraga itu.


"Iyalah wong kamu nggak banyak gerak." Gala tetap saja tidak mau kalah dari Sarah dan Sarah hanya mengernyit mendengar kalimat Gala.


"Ya sudah kalau begitu jangan minta jatah lagi," bisik Sarah di telinga Gala sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Eh kok gitu?"


"Biar Pak Gala sehat dan kuat," ujar Sarah lalu berjalan cepat ke arah Bintang untuk menemui keponakannya.

__ADS_1


Gala pun berjalan sambil tertatih menuju sang istri.


Melihat cara jalan Gala, Bintang tertawa terbahak-bahak.


"Apaan sih tertawa begitu?" tanya Gala dari jarak jauh.


Bintang tidak menjawab karena sibuk dengan kamera ponselnya sedangkan Izzam tampak ikut tertawa mendengar Bintang tertawa.


"Wah kau memvideokan kami rupanya ya? Hapus!" perintah Gala sambil berusaha merampas ponsel Bintang sedangkan Sarah begitu cuek. Dia langsung meraih Izzam dalam gendongan Bintang agar tidak jatuh.


"Awas kalau nyebar foto Sarah. Aku nggak akan mau membantu menyelesaikan masalah perusahaan kamu," ancam Gala.


"Mana ada Gala, ini aku lebih fokus mengambil gambarmu daripada Sarah. Jadi dia hampir tak terlihat." Bintang mengarahkan layar ponselnya ke arah Gala dan pria itu melihat jelas dirinya dalam ponsel itu, terutama saat mengaduh kesakitan dan berjalan seperti orang pincang.


"Bintang hapus!" perintah Gala lagi.


"Emak-eman Gala, ini video lucu tahu. Buat koleksi bagus. Nanti kalau kamu sudah punya anak aku bakal tunjukkan pada mereka kalau ayahnya kalah sama ibunya, hahaha." Bintang tertawa renyah.


"Bintang!"


Gala masih berusaha merebut ponsel milik Bintang.


"Aku masih belum keluar dari grup wa kantormu. Nanti aku akan kirim ke sana biar viral. Kali aja menjadi trending topik dan mengalahkan popularitas lato-lato."


"Bintang!"


Bintang tetap saja tidak menggubris seruan Gala.


"Hapus Bin, malu-maluin tahu!" kesal Gala.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2