
Tujuh hari dari hari kelahiran Gaffi diadakan pesta yang cukup besar dan meriah dibandingkan acara aqiqah pada umumnya.
Dari pagi kediaman Tama sudah ramai dengan orang-orang yang mendapatkan undangan untuk hadir. Hari ini yang hadir tidak hanya dari kerabat dekat dan anak-anak panti juga para santri tempat almarhum ustadz Alzam mengajar dulu. Namun, dari beberapa teman Gala dan Sarah, juga beberapa perwakilan karyawan di perusahaan Gala dan karyawan Sarah juga hadir.
Di depan pintu para tamu disambut oleh hadrah bimbingan dari pesantren tempat ustadz Alzam mengajar. Ada juga panitia yang dibentuk untuk menyerahkan bingkisan berupa nasi berkat dan juga uang ala kadarnya sebagai pengganti waktu yang digunakan para tamu untuk menghadiri undangan padahal mungkin saja hari ini adalah waktu kerja mereka.
Seperti halnya pepatah yang mengatakan waktu adalah uang, Gala tidak mau mereka kehilangan waktu mereka yang seharusnya menghasilkan uang hanya demi memenuhi undangan dari dirinya.
"Banyak banget yang diundang Sarah, jangan-jangan kamu yang meminta ini sama Nak Gala ya!" tebak sang ibu lalu melangkah masuk ke dalam kamar mendekati anak dan cucunya.
"Kenapa memangnya Bu? Kebahagiaan kita patut disyukuri dan dirayakan, bukan?" Sarah berbicara dengan tangan yang masih fokus mendandani putra kecilnya.
"Udah ganteng ya Sayang," ujar Sarah sambil membenahi dasi kupu-kupu di leher putranya. Ya Sarah mendandani Gaffi dengan setelan jas dan celana kain dengan aksen dasi berbentuk kupu-kupu di leher bak seorang pangeran kecil.
"Tapi ini berlebihan Nak, seperti ada yang mau nikah saja di rumah ini, berapa uang yang harus dikeluarkan oleh suamimu? Saya tidak enak dengan mertuamu itu."
"Sudahlah Bu mereka juga tidak keberatan kok, lagian itu bukan permintaan Sarah, tapi rencana Mas Gala. Kalau memang mereka keberatan Sarah juga punya tabungan, jadi tinggal ganti saja uang mereka."
"Apa yang mau diganti? Tidak ada yang perlu diganti karena membahagiakan istri dan anak adalah tugas seorang suami," ujar Gala sambil melangkah mendekat ke arah putranya.
"Wah genteng nih anak papa. Sudah kayak bos saja. Sudah siap dicukur? Acaranya sudah mau dimulai nih Sayang."
"Anaknya dah ganteng mamanya belum siap nih," ujar Sarah sambil menyerahkan bayinya ke tangan sang suami lalu Sarah beranjak ke kamarnya sendiri.
"Biar saya yang gendong Nak!"
"Tidak usah Bu, saya jarang menggendong dia karena seharian bekerja di kantor. Malamnya pas saya pulang dari bekerja dia sudah tertidur pulas. Jadi, kalau di rumah seperti sekarang saya akan menyempatkan menggendong putra saya biar nggak merasa asing dengan ayahnya sendiri nantinya." Gala tersenyum manis ke arah mertuanya.
"Tapi ... Nak Gala mungkin ada yang harus dikerjakan di luar."
"Tidak Bu, semua sudah beres. Ibu kalau mau istirahat, istirahat saja. Gala tahu pasti ibu capek bantu-bantu dari kemarin."
"Tidak Nak, ibu sehat kok masih banyak tenaga ini," kelakar ibu mertuanya.
"Ibu ada-ada saja."
"Bagaimana Mas?" tanya Sarah menunjukkan baju yang dipakainya.
"Bagus, sederhana formal dan membuat auramu semakin keluar," goda Gala.
"Ah Mas Gala, tahu nggak siapa ya ngasih baju ini?"
"Hmm, yang pasti bukan aku lah."
__ADS_1
"Iya lah, kalau kamu yang beli, ngapain juga saya ngasih tebak-tebakan," protes Sarah.
"Mungkin Mentari," tebak Gala.
"Salah."
"Ibu."
"Bukan."
"Papa."
"Bukan."
"Terus siapa dong? Masa si bibi sih? Atau jangan-jangan kamu punya fans tersembunyi," kelakar Gala lalu terkekeh.
"Enak aja, kamu mau menuduhku berselingkuh ya Mas?!"
"Nggak Sayang. Astaghfirullah, su'udzon saja sih sama suami sendiri. Terus siapa dong yang ngasih? Teman-temanmu? Atau karyawanmu?"
"Bukan, tapi bibi Arumi."
"Oh ya?" tanya Gala tidak percaya.
"Iya."
Sebenarnya bukan tidak tahu ukuran, tapi kadang tergoda dengan model sehingga meskipun tidak yakin muat tetap dibelinya.
Sarah hanya menanggapi ucapan Gala dengan anggukan dan senyuman.
"Sarah, baby-nya sudah siap? Tuh kata papa sudah mau dimulai," ucap Mentari sambil melangkah ke dalam kamar Gaffi.
"Baiklah," ucap Sarah sambil mengambil Gaffi dari gendongan Gala dan meletakkan dalam kereta bayi khusus yang sudah didandani cantik dengan lampu plip-plop sebagai hiasan tambahan.
"Ya ampun, Gaffi kayak anak raja aja yang tiduran di atas kereta kencana," ujar Mentari langsung tertawa.
"Lebay ya Kak, tapi nggak masalah yang penting Sarah suka," ujar Sarah tidak mau ribet dengan penilaian orang lain. Yang penting dia bahagia, putranya bahagia dan tidak mengganggu orang lain, beres. Sesimpel itu pemikiran Sarah.
"Bercanda Sarah."
"Itu pak kyai nya masih tausiah," ujar Sarah.
"Nggak apa-apa, kita gabung bersama para tamu. Nanti juga ikut baca shalawat bersama," saran Gala.
__ADS_1
"Baiklah."
Akhirnya semua orang keluar dari kamar Gaffi dan bergabung bersama para tamu.
Setelah acara sambutan oleh Tama dan tausyiah dari pak kiyai sekarang dilanjutkan dengan pembacaan shalawat nabi sambil mendorong kereta Gaffi di depan para tamu undangan, sedangkan di belakang Gala yang mendorong bayinya ada Kiki yang menyemprot parfum pada baju-baju tamu yang hadir. Tentunya tidak semua tamu karena akan menghabiskan waktu lama.
Selesai membaca shalawat kereta Gaffi ditaruh di depan pak kyai dan beberapa keluarga berkumpul di sana.
"Namanya siapa?" tanya Pak kyai sebelum mencukur rambut Gaffi. Setelah Gala memberitahukan nama panjang putranya pak kyai berdoa kemudian mencukur bayi tersebut.
"Sudah selesai."
"Alhamdulillah. Terima kasih Pak Kyai, terima kasih juga ya para tamu undangan yang sudah hadir hari ini," ucap Gala pada semua orang yang hadir.
"Akhirnya selesai juga acara kita, terima kasih banyak yang sudah meluangkan waktunya untuk hadir ke acara syukuran kali ini. Mohon maaf ya apabila ada kekurangan dalam acara ini sebab kami sekeluarga hanya manusia biasa yang penuh dengan kekurangan," ujar Tama melalui mikrofon sebab bisa saja tamu undangan yang berada di luar ruangan tidak mendengar ucapan Gala.
"Selanjutnya kalian semua bisa menikmati hidangan yang sudah kami sediakan. Silahkan!"
Semua keluarga pun meninggalkan tempat sementara untuk memberikan waktu pada para undangan agar menikmati hidangan yang sudah tersedia tanpa rasa canggung.
Selesai acara makan-makan, para tamu banyak yang berpamitan pulang menyisakan anak-anak yatim dan seorang pengasuh pondok pesantren untuk menerima bantuan lainnya dari Gala.
"Hei saya tidak terlambat, kan? Sorry acara kalian bertepatan dengan meeting di kantor. Pembahasan yang serius membuat saya lupa kalau di sini ada acara," jelas Bintang panjang lebar sebab merasa tidak enak, orang-orang sudah mau pulang Bintang malah baru sampai.
"Saya juga minta maaf ya, karena juga terlambat." Seorang perempuan tampak ikut berbicara di belakang Bintang.
"Dia? Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Sarah bingung.
Semua orang pun menatap wanita yang berada dibalik punggung Bintang.
"Apa kamu yang mengundangnya Mas?" tanya Sarah masih penasaran.
"Hai Bu Sarah! Hai Pak Gala! Apa kabar? Lama ya kita tidak berjumpa. Selamat ya atas kelahiran putra kalian. Semoga jadi anak yang sholeh." Wanita itu mengulurkan tangan ke hadapan Gala dan Sarah.
"Diandra? Ngapain kamu ke sini?" protes Gala sedangkan Sarah tiba-tiba mendadak pusing.
"Mas aku mau ke dalam saja, kepalaku rasanya sakit sekali," ucap Sarah sambil memijit pelipisnya dengan kuat.
Sarah hendak mengambil Gaffi dari tangan Arumi, tetapi dicegah oleh bibi Gala itu.
"Kau istirahatlah, biar Gaffi sama kami semua!"
"Baik Bi." Sarah balik badan dan hendak melangkah, tetapi belum ada 5 langkah wanita itu langsung pingsan.
__ADS_1
"Sarah!" seru Gala lalu menangkap sang istri agar tidak jatuh ke lantai.
Bersambung.