
Pagi hari Katrina dikejutkan dengan kiriman uang yang masuk ke rekeningnya. Seperti biasa bangun tidur wanita itu selalu mengecek ponselnya dan menemukan notifikasi yang tertulis bahwa Arka mengirimkan uang ke nomor rekeningnya.
"Wah tumben dia ngiringin aku uang, biasa suka mengancam agar aku yang mengirimkan dia uang. Apa karena dia benar-benar sudah sukses kali ya." Katrina tersenyum senang. Kalau memang demikian dia rela meninggalkan Bintang dan hidup bersama Arka, sebab meskipun Bintang orang kaya dia tidak punya kuasa apa-apa.
Katrina memencet nomor Arka hendak mengucapkan terima kasih dan sedikit akan berbasa-basi meminta penjelasan padanya.
Belum terhubung ternyata Arka sudah menelpon dirinya terlebih dahulu.
"Selamat pagi Sayang!" sapa Arka dari balik telepon.
"Pagi, benar kamu yang mengirimkan uang untukku?" tanya Katrina tak sabaran. Dia ingin tahu seberapa besar gaji Arka sekarang.
"Ya begitulah," sahut Arka singkat.
"Emang kamu sudah gajian?" tanya Katrina tak percaya sebab sepertinya Arka belum ada genap satu bulan bekerja atau memang dirinya saja yang tidak tahu bahwa Arka sebenarnya sudah lama bekerja di perusahaan itu. Namun, tidak menceritakan kepada Katrina.
"Belum sih cuma itu saya mengajukan permohonan pinjaman sebab tidak pegang uang."
"Bisa ya, padahal kamu adalah karyawan baru?"
"Bisa lah asal mulut kita pintar merangkai kata." Terpaksa Arka berbohong karena takut Katrina curiga. Bagaimana mungkin karyawan baru begitu cepat naik ke posisi manager, mendapatkan fasilitas mobil yang lumayan mewah dan mendapatkan gaji lebih awal, tidak masuk akal, bukan?"
"Oh, kupikir." Katrina tampak kecewa. Apa yang didengar dari mulut Arka tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Oh ya Kate, katanya kamu butuh pekerjaan? Bos mengatakan butuh seorang karyawan di perusahaannya."
"Benarkah?" Wajah Katrina kembali bersinar mendapatkan berita yang baik.
"Di posisi apa?" Berharap langsung mendapat posisi yang baik karena pengalaman kerjanya cukup bisa diandalkan.
"Kalau itu mah aku nggak tahu, Bu Bos tidak menjelaskan dan aku segan untuk bertanya. Kalau kamu mau atau penasaran bisa cek langsung ke perusahaan nanti saya temenin."
"Baiklah, aku akan datang ke sana pagi ini."
"Baik, aku jemput ke aparteman atau aku tunggu di kantor saja?"
"Jangan ke apartemen nanti Bintang curiga bahwa kita ada hubungan, tunggu di depan kantor saja ya."
"Oke aku kirimkan alamat perusahaannya."
"Boleh." Padahal sudah tahu dimana alamat perusahaan itu, hasil menguntit Arka kemarin.
"Jangan lupa bawa surat lamaran pekerjaan. Sudah adakah atau perlu saya buatkan?"
"Oke siap. Tidak perlu, nanti aku bikin kilat."
__ADS_1
"Oke sudah dulu ya Kate, bye!"
"Bye!"
Setelah panggilan telepon terputus terdengar notifikasi dari dalam telepon Katrina. Wanita ini tampak memeriksa dan ternyata itu adalah chat dari Arka yang memberikan alamat kantornya berada.
"Oke aku segera ke sana." Katrina menyingkap selimut lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi dan berdandan, Katrina tidak langsung keluar kamar melainkan mengambil laptop dan membukanya. Dia langsung sibuk mengetik-ngetik, membuat surat lamaran pekerjaan.
"Ah, kelar juga akhirnya." Katrina menarik nafas lega.
Setelah menyiapkan cv nya dia langsung melangkah keluar dari kamar dan langsung berjalan menuju pintu keluar dari unit apartemen.
"Kemana Kate?" tanya Bintang heran melihat Katrina memakai pakaian formal padahal dia sudah tidak ke kantor Gala lagi.
"Biasa mau cari pekerjaan, aku tidak betah jika berdiam diri saja dalam apartemen," jawabnya.
"Sepagi ini?"
"Iya Bin, namanya juga sedang mencari pekerjaan. Ya usahakan pagi-pagi dong berangkatnya jangan sampai kedahuluan orang lain. Kamu kalau mau makan bikin mie instan saja, aku tidak bisa masakin kamu hari ini," ucap Katrina dan langsung meninggalkan Bintang yang berdiri mematung.
"Biarkan saja apa maunya, hari ini aku makan di rumah mama saja." Bintang pun kembali ke kamar dan membersihkan diri.
Setelah memakai pakaian kantor Bintang langsung keluar dari apartemen dan pergi menuju rumah orang tuanya.
"Papa sudah berangkat ke kantor?" Bintang menyalami tangan sang mama.
"Belum, masih bersiap-siap masih belum sarapan juga," ujar Arumi. "Ayo sekalian kamu makan bareng," ajak Arumi disambut anggukan oleh Bintang.
Memang itu yang dicari Bintang di rumah itu, bukan?
Arumi menggandeng tangan putranya ke meja makan. Setelah Bintang duduk, Arumi menyusul suaminya ke kamar dan memanggil untuk sarapan.
"Itu Bintang Ma?" tanya Tuan winata saat melihat punggung pria duduk di meja makan dengan posisi membelakanginya.
"Iya Pa."
Tuan Winata mengangguk dan langsung bergegas ke meja makan.
"Bagaimana kabarmu Bin?" tanya sang papa sambil menarik kursi dan duduk.
"Baik Pa," jawab Bintang berbohong. Pada kenyataannya dia sedang tidak baik-baik saja. Fisiknya memang terlihat seolah baik-baik saja, tetapi tidak dengan batinnya yang selalu merasa gelisah dan tersiksa akhir-akhir ini.
"Syukurlah, yasudah kalau begitu kita makan saja dulu."
__ADS_1
Arumi dan Bintang mengangguk.
Arumi melayani Tuan Winata sedangkan Bintang memandang dengan hampa. Dia teringat ketika masih bersama dengan Mentari. Ketika menjadi istrinya wanita itu selalu melayani dirinya ketika makan, bahkan wanita itu melebihi sang mama karena memasak sendiri menu yang dihidangkan di meja makan.
Melihat putranya yang terlihat sendu segera Arumi mengambilkan nasi dan lauk ke piring sang anak.
"Mau ikan apa lagi?"
"Tidak usah Ma, ini sudah cukup. Nanti kalau Bintang kepingin biar Bintang ambil sendiri."
Arumi mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita makan," ajak Tuan Winata lagi. Bintang dan Arumi mengangguk lalu mereka makan bersama.
"Bagaimana kamu sudah menceraikan Katrina?" tanya Tuan Winata saat melihat Bintang telah menghabiskan air putih dalam gelas sedangkan dirinya pun sudah berhenti makan terlebih dahulu.
Bintang menggeleng.
"Kenapa, kau masih ragu?" Tuan Winata tidak bisa memahami seperti apa pikiran anaknya ini. Sudah tahu dirinya dibohongi oleh Katrina masih saja mempertahankan rumah tangga yang tidak sehat itu.
"Aku tidak bisa melepaskan Kate sebelum Bintang bisa membuat Mentari kembali pada bintang Pa."
Tuan Winata terhenyak mendengar pengakuan dari sang putra.
"Maksudmu apa, kamu masih mengharapkan Mentari menjadi istrimu lagi?" tanya Tuan Winata, tak percaya dengan pemikiran Bintang yang aneh ini.
"Ya begitulah Pa, Bintang menyesal telah menceraikan dia dan Bintang ingin Mentari menjadi istriku lagi," jujurnya pada sang papa.
Tuan Winata yang mendengar pengakuan dari anaknya itu hanya bisa menggeleng dan berkata, "Bintang, wanita itu bukan cuma Katrina dan Mentari saja, jadi meskipun kamu tidak hidup dengan salah satu atau keduanya masih banyak wanita lain di luaran sana yang papa yakin pasti mau menerima mu untuk menjadi suaminya."
"Tidak Pa, Bintang tidak ingin yang lain. Bintang hanya ingin Mentari kembali kepada Bintang. Bintang akan mengatakan kepadanya bahwa Bintang rela melepaskan Katrina hanya untuk agar dia mau kembali padaku lagi."
Tuan Winata terlihat syok ternyata Bintang mempertahankan Katrina hanya untuk sebagai bukti kepada Mentari nantinya apabila Bintang dihadapkan dengan kedua wanita itu maka Bintang akan memilih Mentari.
"Benar-benar gila, apakah Bintang sedang stres?" tanya batin Tuan Winata tak percaya.
"Mentari itu sudah punya suami Nak, jadi tolonglah kamu lupakan dia. Ceraikan juga Katrina nanti Mama akan mencarikan wanita yang lebih cantik, lebih baik, dan lebih pintar juga dari keduanya," ujar Arumi.
"Tidak Ma, Bintang hanya mau Mentari, titik. Bintang akan merebut kembali Mentari dari lelaki kurang ajar itu apapun caranya," tekad Bintang.
Mendengar perkataan Bintang kali ini, Arumi dan Tuan Winata hanya saling pandang lalu menggeleng bersama.
Tuan Winata langsung bangkit berdiri dan menepuk bahu Bintang.
"Papa minta kamu jangan jadi pria yang pengecut Nak, ustadz Alzam tidak pernah merebut dia dari tanganmu, tapi kamu sendiri lah yang melemparkan Mentari. Jadi tidak salah jika ustadz Alzam menangkap mantan istrimu itu untuk dijadikan istrinya sendiri. Sudahlah lupakan dia, carilah wanita yang lain saja papa yakin di dunia masih banyak wanita yang baik bahkan mungkin saja baiknya melebihi Mentari."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu Tuan Winata langsung menyambar tas kerjanya dan pergi meninggalkan Bintang dan Arumi di meja makan menuju ke kantor.
Bersambung.