HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 81. Kecurigaan


__ADS_3

Bintang menggeleng, meletakkan piring yang dia pegang di atas meja kemudian ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Mentari.


"Me maafkan aku ya." Bintang tak bosan-bosan mengucapkan kata maaf pada Mentari. Namun, sayang yang diajak bicara tidak pernah mau merespon ucapan.


Bintang menghela nafas tangannya terulur untuk meraih tubuh Mentari yang ada di sampingnya hendak memeluk. Bintang pikir pelukan hangat akan membuat seorang wanita menghilangkan kekesalan pada seorang suami. Itu yang dia harapkan terjadi pada Mentari.


Namun, saat tangan Bintang memeluk pinggang Mentari, wanita itu langsung melepaskan.


"Me tidak baik mendiamkan suami begitu lama, jatuhnya dosa," nasehat Bintang.


Bersamaan dengan itu terdengar ketukan pintu dari arah luar.


"Ada tamu." Alasan Mentari dan langsung bangkit dari berbaringnya. Dia kemudian keluar kamar dan berjalan menuju pintu unit apartemen.


"Kak!" Terlihat Sarah menunjukkan paper bag dengan tersenyum manis.


"Cepat banget Sarah." Mentari heran. Entah dengan kekuatan apa hingga Sarah begitu cepat kembali setelah membelikan dirinya pakaian.


"Hehe, ngebut Kak." Sarah tersenyum manis, menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Ya ampun Sarah kenapa harus ngebut sih? Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu? Pasti nanti kakak yang bakal disalahkan," protes Mentari.


"Buktinya sekarang Sarah baik-baik saja kan Kak?"


Mentari menggeleng mendengar jawaban Sarah.


"Lagipula kan Sarah takut baju ini dibutuhkan sekarang," jelas Sarah.


"Kakak kan nggak bilang harus beli sekarang Sarah. Itu baju buat dipakai besok," terang Mentari.


"Kakak kan nggak bilang bahwa baju-baju ini masih dibutuhkan besok." Sarah membalikkan ucapan Mentari.


"Iya deh iya kakak ngaku kalah. Terima kasih banyak ya atas bantuannya."

__ADS_1


"Nggak ada yang menang dan nggak ada yang salah, ini bukan perlombaan. Sama-sama," ucap Sarah dan sebelum Mentari menjawab perkataannya Sarah langsung bergegas pergi.


"Dada kakak! Aku pamit ya, kasihan kak Alzam sendirian." Sarah berucap sambil berjalan mundur dan menjauh. Tidak ada yang bisa dikatakan Mentari sekarang melihat Sarah sudah jauh dari tempatnya berdiri, wanita itu hanya mengangguk dan melambaikan tangan saja.


Mentari mengintip ke dalam paper bag. Senyumnya terbit mengingat sekarang dirinya sudah bisa membeli pakaian dengan hasil keringatnya sendiri.


Sekali-kali tidak apa-apa memanjakan dirinya sendiri.


Mentari tidak harus selalu memikirkan keuangan keluarganya di kampung kan? Walau Mentari juga masih punya keinginan besar, yaitu membawa Pandu, sang adik ke dokter ortopedi. Siapa tahu dengan rutin berobat bisa membuat adiknya bisa berjalan normal kembali.


Mentari yang sudah tidak sabar langsung membawa paper bag ke dalam kamar dan memeriksa pakaian yang telah dipilihkan Sarah.


"Bagus," ucap Bintang ketika Mentari mengeluarkan baju-baju itu dari dalam paper bag dan menaruh pakaian itu di depan tubuhnya lalu berkaca. Total ada 3 pasang pakaian yang dipilihkan Sarah dimana ketiganya memiliki warna dan corak yang berbeda-beda.


Mentari menaruh pakaian tadi di tepi ranjang dan meraih baju yang lain lalu mencoba tanpa melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Mentari pikir pakaian itu kekecilan kalau dilihat dari bentuknya. Namun, ketika dicoba ternyata masih pas di tubuhnya.


"Yang itu juga bagus. Kamu malah tambah cantik kalau pakai baju itu," rayu Bintang.


"Siapa yang membelikan baju-baju itu?" tanya Bintang terus saja mengajak Mentari untuk berbicara padahal dia sudah dapat menebak bahwa pasti Sarah yang telah membelikannya.


"Pak Gala," ucap Mentari sengaja menyebut nama Gala. Bintang telah membuat Mentari kesal dengan tuduhan yang Bintang layangkan tanpa alasan maka dirinya juga akan membuat Bintang kesal sampai dia menyadari dirinya tidak suka dituduh macam-macam.


Mendengar perkataan Mentari Bintang terlihat menelan ludah. Dia tahu Mentari itu berbohong.


"Maafkan aku telah menuduhmu macam-macam. Aku berpikir seperti itu karena aku tahu Gala memang menyukaimu," terang Bintang membuat Mentari semakin malas saja. Bintang pikir kalau seorang pria menginginkan seorang wanita dan wanitanya tidak, apakah akan terjadi yang namanya perselingkuhan. Tidak, bukan? Itu artinya menurut Mentari, Bintang tidak mempercayainya.


"Aku tahu yang membelikan baju ini Sarah, kan?" Bintang memastikan.


"Sudah tahu nanya," protes Mentari dan itu membuat Bintang merasa lega karena selain mengakui bahwa Sarah yang telah membelikan, Bintang juga senang karena sedikit demi sedikit Mentari sudah mau berbicara lagi padanya meskipun nada suara Mentari masih terdengar seperti orang jutek.


Selanjutnya kedua orang itu hanya saling diam di dalam kamar.


"Bin!" panggil Katrina dari arah luar.

__ADS_1


Bintang malah menatap wajah Mentari. Mentari memalingkan muka dan berkata, "Tuh dipanggil istri kesayangan."


Bintang tersenyum lagi mendengar Mentari mau mengajak dirinya bicara lagi. Dia berjalan ke arah pintu dan sebelum membuka pintu Bintang berkata, "Kau juga istri kesayangan."


"Cih." Mentari berdecih lalu membaringkan tubuhnya kembali.


Bintang membuka pintu kamar dan menutupnya kembali kemudian menemui Katrina.


"Iya ada apa Kate?"


Katrina tampak meringis sambil memegang perutnya.


"Perutku sakit Bin," ucap Katrina dengan menahan rasa sakit.


"Apa sudah waktunya melahirkan Kate?" tanya Bintang begitu khawatir.


"Tidak tahu Bin tapi kata dokter kan masih dua bulan lagi."


"Ya sudah kita ke dokter sekarang biar tahu kamu kenapa," ujar Bintang dan langsung meraih tubuh Katrina untuk digendong. Setelah Katrina ada dalam gendongan Bintang memanggil Mentari.


"Me aku bawa Katrina ke rumah sakit dulu ya. Kamu baik-baik ya di sini."


Tidak ada jawaban dari dalam. Bintang segera membawa Katrina keluar dari apartemen karena mendengar wanita itu semakin mengaduh kesakitan.


Setelah Bintang dan Katrina pergi barulah Mentari keluar kamar dan melihat kepergian keduanya.


"Apa dia sudah mau melahirkan?" tanya Mentari bingung. Kalau sampai Katrina lahir sekarang Mentari jadi bertanya-tanya dan ragu. Apakah memang bayi itu akan lahir prematur atau justru sebelum Katrina menikah dengan Bintang wanita itu sudah hamil duluan sebab menurut cerita Gala Katrina dan Bintang menikah tidak sampai sebulan dengan saat Bintang menikahi dirinya meskipun pengakuan Katrina mereka menikah jauh sebelum Bintang menikahi Mentari.


"Ah nanti aku tanya Mas Bintang saja kapan mereka yang sebenarnya menikah. Aku juga mau melihat tindakan papa Winata nanti kalau beliau sudah punya cucu. Apakah masih ingin mempertahankan Mentari dengan Mas Bintang atau justru akan berbalik menyayangi Katrina setelah tahu wanita itu telah memberikan cucu.


Apapun yang akan terjadi Mentari akan berusaha seikhlas mungkin. Berpisah dengan Bintang pun tidak mengapa asal semua akan baik-baik saja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2