HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 91. Sogokan


__ADS_3

"Sebelum aku memutuskan biarkan aku berdiskusi dengan Papa Winata dulu." Mentari memutuskan dan langsung bangkit dari duduknya.


"Cekk." Katrina berdecak kecewa. Kalau Mentari akan bertanya dulu kepada Tuan Winata tentu saja jawabannya sudah dapat diprediksi oleh Katrina.


"Kenapa?" tanya Bintang melihat Katrina tiba-tiba tidak bersemangat.


"Bagaimana mungkin kita dapat tanda tangan dari Mentari kalau dia harus berdiskusi dulu dengan Paman Winata. Kamu tahu kan bagaimana sikap papamu padaku. Sampai saat ini aku tidak mengerti mengapa dia sangat membenciku," ucap Katrina dengan raut wajah yang nampak memelas.


"Sudahlah Kate waktunya masih lama. Masih tinggal setengah bulan lagi kan kamu lahirannya? Nanti aku akan membujuk Mentari barangkali dia mau nurut sama aku, kan suami dia bukan papa, tapi aku." Bintang menepuk bahu Katrina untuk menenangkan.


"Bagaimana kalau dia tetap tidak mau?" tanya Katrina masih khawatir, bisa-bisanya Bintang menganggap waktu setengah bulan itu adalah waktu yang lama. Bagaimana kalau Katrina lahirnya tidak menunggu 2 minggu lagi, bagaimana kalau besok atau lusa?


"Kamu tenang saja Kate aku akan urus semuanya."


Ucapan Bintang ini tetap tidak bisa membuat Katrina lega. Dia tahu Bintang orangnya mudah berubah. Kalau dia berbicara panjang lebar nanti dengan Mentari bisa saja dia tidak akan perduli lagi dengan tanda tangan dan status anaknya nanti.


"Kalau perlu aku akan bujuk mama agar dia merayu papa supaya menyetujui semuanya."


Mendengar perkataan Bintang kali ini, barulah Katrina bisa tersenyum. Bukan karena Bintang yang akan meminta mamanya untuk merayu Tuan Winata agar menyetujui Mentari menanda tangani surat pernyataan itu. Namun, Katrina lebih ke ingin memanfaatkan Arumi untuk menekan Mentari.


"Bagaimana sudah lega sekarang?" tanya Bintang dan Katrina mengangguk disertai senyuman.


"Bagus kalau begitu. Ibu hamil tidak boleh banyak berpikir yang berat-berat, nanti anak kita ikutan stres," ucap Bintang sambil mengelus perut Katrina.


"Kate dia menendang ku," ucap Bintang sumringah.


"Itu tandanya anak kita tidak sabar ingin keluar dan ingin digendong oleh ayahnya," ucap Katrina mengada-ada.


Bintang tersenyum sambil mengelus perut Katrina lagi. "Sabar masih setengah bulan lagi, atau kalau telat mungkin masih sebulan lagi." Dia seolah bicara pada bayinya.


"Sudah ya Kate aku berangkat dulu, kamu mau berangkat bareng?"


"Nggak usahlah Bin aku bawa mobil sendiri saja. Takutnya entar kamu ketemu Pak Gala lagi. Katanya malas ketemu dia," tolak Katrina.


"Oh ya sudah, tapi hati-hati ya nyetir soalnya perut kamu sudah tambah besar lagi," nasehat Bintang.


"Oke Bin siap. Yuk kita keluar bareng."


Bintang mengangguk. Mereka bangkit dari duduknya dan berjalan bergandengan keluar dari apartemen kemudian menuju kantor dengan mobil masing-masing.

__ADS_1


***


Siang hari Katrina memilih makan di luar kantor. Dia sudah berjanji dengan Arka untuk bertemu di rumah makan sederhana yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor Gala.


Setelah memesan makanan mereka duduk sambil mengobrol sembari menunggu pesanan mereka terhidang di meja.


"Bagaimana Arka, sudah beres suratnya?" tanya Katrina tidak sabaran.


"Beres," sahut Arka sambil menyodorkan kertas ke hadapan Katrina. Katrina meraih dan membacanya.


"Bagaimana?" Arka balik bertanya.


"Bagus." Katrina melipat kertas tersebut dan memasukkan ke dalam tasnya.


Bersamaan dengan itu pesanan mereka datang dan mereka langsung makan bersama.


Dari luar sana Mentari yang hendak masuk bersama Sarah mengurungkan niatnya.


"Kenapa?" tanya Sarah.


"Kita beli makanan di tempat lain saja ya," mohon Mentari pada Sarah.


"Loh kenapa?" tanya Sarah heran.


"Ada mereka," jawab Mentari sedangkan matanya fokus kepada ponsel kameranya yang sedang merekam aksi keduanya. Sayangnya mereka hanya mengobrol biasa, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.


"Oh madumu?" tanya Sarah terkekeh.


"Madu rasa racun," balas Mentari tak kalah terkekeh.


"Sudah yuk!" Mentari menarik tangan Sarah keluar.


"Nggak mau nyelidiki siapa pria yang bersamanya?" tanya Sarah kepo.


"Dari tadi nggak ada yang mencurigakan, buang-buang waktu saja. Mungkin hanya teman kantor yang sama-sama ingin berhemat," ucap Mentari terus menarik tangan Sarah menjauh.


"Terus kenapa kamu tidak jadi beli makanan di sini?" tanya Sarah bingung.


"Dia tidak boleh tahu kalau aku melihatnya. Aku perlu tahu siapa pria itu dulu, tapi jangan sekarang kayaknya kita nggak bakal dapat info kalau sekarang," cegah Mentari Sarah yang berjalan kembali ke arah mereka.

__ADS_1


Tampak Katrina sudah bangkit dari kursi dan berjalan keluar diikuti Arka di belakangnya.


Mentari menarik Sarah untuk bersembunyi.


Setelah keduanya pergi dengan kendaraan masing-masing barulah Mentari dan Sarah keluar dari persembunyian dan memesan makanan.


"Kayaknya ada yang nggak beres deh. Kalau teman sekantor kok arah mereka berlawanan?" Sarah merasa curiga. Mentari hanya mengangkat kedua bahunya pertanda dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Mungkin lain kali kita akan mengetahui kebenarannya."


Setelah makanan mereka selesai dibungkus, Sarah membayar lalu mengajaknya Mentari kembali ke toko.


***


Sore hari Katrina pulang dari kantor dan singgah sebentar ke sebuah restoran untuk membeli makanan yang enak-enak. Setelah itu dia masih singgah sebentar ke sebuah butik untuk membeli sebuah pakaian. Hari ini dia memang dianjurkan untuk pulang terlebih dahulu oleh Gala karena melihat kondisi kehamilan Katrina yang semakin membesar.


Setelah sampai di apartemen dia menaruh belanjaannya terlebih dahulu di atas meja ruang tamu dan dirinya langsung beranjak ke kamar mandi untuk


membersihkan diri. Bintang dan Mentari tampak masih belum pulang karena sebenarnya masih belum sampai pada jam pulang kantor ataupun toko.


Selesai mandi Katrina langsung menuju dapur menata makanan yang dibelinya tadi di atas meja makan.


Setelah selesai dia berjalan kembali ke ruang depan dan duduk di sofa ruang tamu. Katrina menanti kehadiran Mentari dengan harap-harap cemas.


Saat pintu nampak dibuka dari luar Katrina tampak menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan panjang pula.


"Kau sudah pulang Me?" Katrina berjalan ke arah pintu, mendekat ke arah Mentari yang terlihat mengangguk.


"Ini untukmu." Katrina menyodorkan paper bag di tangannya.


"Apa ini?"


"Pakaian, kebetulan aku lihat ada gaun yang bagus dan sepertinya cocok untukmu. Jadi tidak ada salahnya kan aku membelikan untuk maduku?"


"Tidak salah, tapi aku tidak mau orang lain repot-repot hanya karena aku," jawab Mentari.


"Ah tidak repot kok dan aku ikhlas melakukan ini." Katrina meraih tangan Mentari dan meletakkan paper bag itu di tangannya sehingga terpaksa Mentari menerima pemberian Katrina itu.


"Kalau begitu terima kasih dan saya pamit mandi dulu," ucap Mentari dengan senyuman lalu pergi ke dalam kamar.

__ADS_1


"Iya," jawab Katrina dengan senyum yang mengembang.


Bersambung.


__ADS_2