
Kali pertama yang harus Mentari lakukan adalah mencari tempat tinggal dulu baru setelah itu dia akan mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya di kota. Tidak mungkin dia hanya mengandalkan dari hasil menulisnya saja yang tidak seberapa jika dibandingkan kebutuhan hidupnya di kota ini.
Setelah seharian mencari tempat kos akhirnya Mentari mendapatkan yang cocok terutama soal harga. Baginya tidak mengapa meski dia tinggal di kamar yang sempit tidak seperti di kamar apartemennya yang begitu luas. Toh tempat ini masih lebih baik dari rumahnya tempo dulu. Bagi Mentari yang penting tidak kepanasan dan kehujanan itu sudah cukup membuatnya merasa aman.
Akhirnya dia mengakhiri perjalanan panjang hari ini di atas kasur. Merebahkan tubuhnya untuk menghilangkan penat setelah seharian berpetualang mencari tempat tinggal.
Di kediaman Winata seorang pria turun terburu-buru dari mobil dan langsung membuka pintu rumah.
"Mama ada dimana?" tanya Tuan Winata setelah sampai di rumah tidak menemui keberadaan istrinya.
"Anu ... Tuan, nyonya ada di apartemen Den Bintang," sahut Bik Jum yang sedang membawa makanan ke meja untuk persiapan makan malam.
"Tumben, ngapain dia di sana sampai petang seperti ini?" tanya Tuan Winata heran sebab tidak biasa istrinya tidak ada di rumah saat hari menjelang malam.
"Memangnya Tuan belum tahu?" tanya Bik Jum heran. Apakah nyonya nya itu tidak memberikan kabar pada suaminya.
"Ada kabar apa Bik?"
"Itu loh Tuan, Non Katrina katanya sudah lahiran."
"Oh." Setelah berkata seperti itu Tuan Winata langsung naik ke atas tangga menuju kamarnya. Sampai di sana dia langsung membersihkan diri dari beristirahat sejenak. Tubuhnya terasa sangat kelelahan dan pikirannya juga masih belum bisa rileks akibat pekerjaan yang satu setengah bulan ini menyita waktunya. Benar-benar menguras pikiran. Sekarang saatnya Tuan Winata untuk bersantai melepaskan penat setelah sekian lama beraktivitas tanpa ada jeda untuk refreshing sejenak.
"Tuan, tidak mau makan dulu?" Bik Jum mengetuk pintu dan mengabarkan makanan telah siap.
Tuan Winata bangkit dan berjalan ke arah pintu. Setelah membuka pintu dia langsung berkata," Nyonya sudah kembali?"
"Belum Tuan mungkin sebentar lagi."
"Baiklah kalau begitu panggil saya setelah Nyonya datang saja. Sekarang saya ingin beristirahat sebentar dulu."
"Baik Tuan." Bik Jum undur diri.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Arumi datang.
"Papa sudah pulang Bik?" tanyanya dengan langkah yang terburu-buru."
"Iya Nyonya, sekarang Tuan Winata sedang beristirahat di kamar. Beliau berpesan kalau Nyonya datang supaya diberitahu kalau beliau masih menunggu Nyonya untuk makan bersama," tutur Bik Jum."
"Dia belum makan?" Arumi melihat jam di ponselnya. "Sudah jam berapa ini."
"Akan saya panggilkan Nyonya."
"Tidak usah Bik, biar saya langsung temui dia di kamar."
Bik Jum mengangguk lalu pergi.
Arumi naik ke atas melalui tangga. Dengan pelan dia membuka pintu agar sang suami tidak terbangun secara mendadak.
"Sudah pulang Ma?" Ternyata Tuan Winata sudah terbangun. "Darimana?" Basa-basi padahal sudah tahu dari Bik Jum.
"Anak siapa?"
"Tentu saja anak Bintang lah Pa, memang kita punya anak lagi selain dia?"
"Maksudku anak Bintang dengan siapa?" tanya Tuan Winata lagi membuat Arumi menjadi kesal.
"Sama siapa lagi, ya Katrina lah. Memang papa pikir Mentari bisa hamil?"
Tuan Winata mengernyit. "Bisa lah memang kenapa tidak bisa?"
"Karena Mentari ... ah sudahlah, yuk kita makan malam saja katanya papa belum makan."
Tuan Winata mengangguk dan bangkit dari berbaring. Arumi menggandeng tangan sang suami ke meja makan lalu setelah duduk dia melayani Tuan Winata makan seperti biasanya.
__ADS_1
"Tidak ada kabar lagi selain kabar Katrina melahirkan Ma?" tanya Tuan Winata.
Arumi tidak menjawab langsung, dia masih nampak berpikir apakah perlu memberitahu tentang masalah Mentari ataukah dia akan diam saja. Sebenarnya itu adalah kabar bagus mengingat suaminya begitu menyayangi Mentari agar sekarang berbalik membenci. Namun, dia tidak mau suaminya tahu kalau Mentari sudah pergi dari apartemen Bintang.
Mentari tidak mau Bintang ataupun dirinya akan kena marah dari Tuan Winata. Terlebih lagi dia tidak mau suaminya mencari keberadaan Mentari dan membawa kembali ke apartemen putranya.
"Bagaimana Ma, ada kabar lain?" tanya Tuan Winata lagi melihat istrinya terbengong sendiri.
"Ah tidak Pa tidak ada kabar lagi."
"Oke." Tuan Winata tidak berbicara lagi melainkan fokus makan.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, tetapi Mentari masih saja bergelung dengan selimutnya. Dia menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil mencoba membuka mata. Namun, mulutnya masih terlihat beberapa kali menguap. Rasanya Mentari tidak ingin bangun dulu dan bermalas-malasan. Toh di tempat ini dia tidak perlu memasak karena ibu kos sudah menyediakan makanan tanpa dia harus repot-repot mengolahnya. Maklum Mentari tinggal di kosan yang menampung anak sekolahan.
Namun Mentari ingat sesuatu, dia melupakan shalat subuh. "Jam berapa ini?" Mentari bangun dengan kaget lalu segera masuk ke kamar mandi hanya untuk mengambil wudhu. Meski tidak tahu masih ada ataupun tidak waktu shalat subuh tetap saja Mentari melakukan shalatnya yang telat gara-gara bangun kesiangan.
Setelah selesai dia langsung masuk ke kamar mandi lagi. Mandi dan bersiap-siap. Hari ini dia begitu bersemangat untuk mencari pekerjaan. Sebelum dia keluar dari tempat kosan, Bu kos mencegah dan meminta dirinya sarapan dulu bersama-sama anak-anak kosan lainnnya.
"Terima kasih ibu makannya saya permisi dulu." Setelah melihat bu kos mengangguk Mentari langsung pergi.
Mencari pekerjaan di kota besar tidaklah mudah, apalagi untuk Mentari yang hanya tamatan SMA. Kalau mencari kerja di perusahaan tidak banyak yang bisa dia kerjakan apalagi saingannya orang-orang yang minimal memiliki tittle S. Mungkin hanya profesi sebagai cleaning servis lah yang bisa dia dapatkan di tempat seperti itu. Itupun kalau perusahaan belum ada tenaga cleaning servis yang memadai. Kalau sudah ada mana mungkin dia menambah karyawan baru.
Dengan pertimbangan seperti itu akhirnya Mentari mencari pekerjaan di tempat-tempat yang tidak begitu besar. Seperti di tempat makan, toko-toko atau yang selainnya.
Seharian mencari pekerjaan tidak berhasil juga. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kosan dan beristirahat kembali. Mentari nampak berpikir tempat apa yang sekiranya akan dimasukinya esok.
Hari begitu cepat berganti. Mentari mulai mencari pekerjaan lagi dengan berjalan kaki dia menyusuri jalanan sambil melihat-lihat kanan-kiri. Mentari mengusap keringat yang mulai bercucuran di dahinya.
Mentari lalu tersenyum melihat sesuatu Terpampang di depan mata. Ada selembar kertas yang menempel pada sebuah tiang. Mentari dengan langkah cepat mendekati kertas tersebut dan membacanya. Ternyata benar itu adalah brosur lowongan pekerjaan.
"Sepertinya Tuhan mengerti kegundahanku saat ini." Mentari nampak tersenyum senang.
__ADS_1
Bersambung.