
"Oke yuk Ki," ajak Gala.
"Loh-loh kenapa malah ngajak Pak Kiki?" protes Sarah.
"Tuh Kak Pak, Sarah hanya ingin menghukum Pak Gala bukan saya. Kenapa malah bawa-bawa saya segala? Kan perjanjiannya hanya melibatkan dua orang yaitu Sarah dengan Bapak." Berharap dirinya tidak ikut menikmati hukuman dari Sarah.
"Dia harus menemani aku menjalankan hukuman ini Sarah, dan kamu Kiki jangan membantah! Bukankah sudah kubilang tadi apa konsekuensinya jika kamu menolak?"
"Pak Gala kenapa begitu?" tanya Sarah tidak paham. "Kalau Pak Gala mengajak Pak Kiki ya malu Pak Gala nggak begitu besar dong. Lagian Pak Kiki sama sekali tidak terlibat dalam perjanjian itu," protes Sarah panjang lebar.
"Siapa bilang dia tidak terlibat? Dia yang bahkan memberikan ide supaya menyerahkan tugas itu padamu," bantah Gala.
"Benar Pak Kiki?"
Kiki menelan ludah, dari ekspresi Sarah sudah dapat ditebak gadis itu pasti setuju dengan Gala untuk menghukum dirinya juga.
"Katakan yang sebenarnya Ki jangan jadi pengecut," ujar Gala.
"Cih dia sendiri yang pengecut malah berkata seperti itu. Kalau dia bukan pengecut seharusnya melaksanakan hukumannya sendiri tanpa melibatkan orang lain."
Tentu saja Kiki hanya bisa protes dalam hati karena ia takut jika melafalkan kalimat ini dengan jelas, bisa-bisa jabatan dirinya yang akan menjadi taruhan.
"Kenapa, kamu mau protes? Kalau aku pengecut aku bisa saja tidak mau melaksanakan hukuman dari Sarah ini. Nyatanya aku mau kan melaksanakan hukuman ini, meskipun di tempat ini sebenarnya aku yang berkuasa." Sepertinya Gala bisa membaca pikiran Kiki.
"Nggak kok Pak siapa bilang saya protes?" Daripada panjang urusannya lebih baik dia berbohong saja. Sungguh sikap yang tidak pantas ditiru.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Kalian bisa menjalankan hukuman berdua dan karena berdua hukumannya harus kerjasama," jelas Sarah.
"Dibagi dua ya Sarah?" tanya Gala antusias.
Sarah mengernyit. "Maksudnya?"
"Yang namanya kerjasama itu harus bagi tugas. Jadi, yang biasanya mengelilingi gedung kantor dibagi 2 menjadi keliling setengah kantor saja." Sepertinya Gala sedang melakukan penawaran terselubung.
"Ih, jangan itu Pak. Yang saya maksud kerjasama itu adalah Bapak bisa pegang telinga Pak Kiki dan begitu sebaliknya sambil terus berjalan dengan satu kaki mengelilingi gedung ini," jelas Sarah.
"Mana ada perjanjian seperti itu sarah? Kamu jangan curang tahu. Kalau kamu curang aku nggak mau melaksanakan hukumannya."
"Boleh deh Pak keliling separuh gedung saja asal sesuai dengan yang saya sebutkan tadi."
"Oke siap. Ayo Ki cepat laksanakan!"
__ADS_1
Dengan langkah malas Kiki mendekat ke arah Gala yang sedang menyingsingkan celana kainnya ke atas dan menggulungnya agar mudah nantinya berjalan dengan satu kaki.
Gala memegang telinga Kiki dengan santainya lalu mengangkat satu kakinya seperti flaminggo. Hampir terjatuh, dia langsung menyangga pada lutut kaki yang satunya sebelum dirinya mulai melaksanakan hukuman, sedangkan Kiki sendiri terlihat canggung untuk menyentuh telinga sang atasan.
"Cepetan Ki! Kau kira aku tidak pegal-pegal apa berdiri dengan satu kaki seperti ini?" protes Gala pada Kiki sebab sang asisten terlalu lelet.
"Oke-oke Pak." Kiki pun langsung menirukan posisi Gala saat ini.
"Sudah siap ya? Oke saya hitung sampai 3. Satu, dua, tiga mulai!" Sarah memberi aba-aba dan kedua pria itu langsung berjalan dengan satu kaki dan saling menjewer telinga satu sama lain.
"Hahaha Pak Gala kenapa itu kok seperti ada banjir saja?" Seorang Karyawan tampak kaget melihat atasannya berjalan dengan satu kaki dengan tangan yang memegang telinga Kiki.
"Pak Kiki juga, astaga kenapa kedua atasan kita menjadi aneh seperti itu hari ini," sambung yang lain.
"Apa mereka kerasukan setan anak kecil ya hingga bermain-main seperti itu?"
Sarah hanya bisa tertawa mendengar banyak karyawan keheranan menatap ke arah Gala dan Kiki dan berasumsi macam-macam. Itu sebatas yang didengar Sarah, yang tidak terdengar banyak, bahkan banyak yang berbisik-bisik lalu tersenyum geli. Ada pula beberapa karyawan yang lebih memilih merekam daripada fokus melihat ke arah Gala dan Kiki dengan mata langsung.
"Pak Kiki ngapain?" teriak Pak Herman yang melintas di sampingnya. Namun, Kiki tidak menjawab dia hanya fokus pada hukumannya agar segera selesai.
"Pak Gala! Mau ikut dong Pak main engklek nya, tapi kenapa permainannya berbeda ya? Apa itu permainan engklek versi terbaru?" Seorang karyawati berjalan ke arah kedua pria tersebut.
Kiki mengangguk. Keduanya yang tadi berjalan dengan satu kaki kini malah mengubah langkah dengan berlari hingga,
Bug.
Kedua pria itu jatuh bergulung-gulung karena posisi tubuhnya tidak seimbang.
"Hahaha."
"Hahaha."
"Hahaha."
Semua karyawan yang menyaksikan kedua pria itu jatuh, malam tertawa terbahak-bahak.
"Dasar kalian!" Ingin rasanya Gala mengutuk semua karyawannya yang memilih ketawa daripada menolong dirinya yang terjatuh.
"Bubar! Masuk! Masuk!" perintah Gala geram.
"Ini sudah jam berapa? Kenapa masih berada di luar semuanya?" lanjutnya dengan ekspresi marah.
__ADS_1
Semua karyawan dan karyawati pun langsung berhamburan masuk ke dalam ruangan.
Pak Herman dan Diandra menghampiri dan menolong kedua pria itu untuk bangun.
"Ngapain sih Pak kalian main-main seperti tadi. Masa kecil kurang bahagia ya Pak?" Goda Diandra yang menyebabkan uluran tangannya langsung ditepis oleh Gala.
Dari jauh Sarah terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang sakit karena banyak tertawa melihat kejadian yang sedari tadi disaksikannya.
"Kenapa Bapak kasar sih? Mau ditolong juga," protes Diandra sebab dirinya pun ikut terduduk akibat tepisan tangan Gala yang kasar.
"Ini gara-gara kamu coba dua hari yang lalu kamu masuk, nggak bakal seperti ini." Gala menyalahkan Diandra.
"Lah aku kan sudah izin sakit Pak. Memang ada kejadian apa dua hari yang lalu?" Diandra sang sekretaris bingung.
Gala tidak tidak menjawab pertanyaan Diandra melainkan matanya melirik tajam kearah Sarah.
"Dasar gadis barbar," geram Gala.
"Ini namanya senjata makan Tuan Pak," ujar Kiki sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu.
"Sarah sini!" teriak Gala kemudian.
Sarah menghentikan aksi tawanya ketika melihat Gala melambaikan tangan ke arahnya.
"Puas sekarang kamu?"
"Alhamdulillah puas Pak." Sarah tersenyum mengejek.
"Ada apa ini sebenarnya sih Pak?" Pak Herman penasaran dengan apa yang terjadi pada kedua atasan yaitu.
"Kami hanya menuruti permintaan dia Pak," ucap Gala sambil menunjuk Sarah.
"Dan kalian malah nurut kepada siswa magang?" Diandra semakin tidak mengerti.
"Iya itu karena kasihan. Dia kan sedang hamil muda dan ngidamnya itu meminta kami melakukan permainan seperti tadi."
Ucapan Gala membuat Sarah menganga dan syok.
"Rasain kamu," ujar Gala tersenyum dalam hati.
Bersambung.
__ADS_1