HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 167. Kekhawatiran Ustadz Alzam


__ADS_3

Mereka bertiga kini sudah nongkrong di sebuah mall. "Sana cepat kalian katanya mau berbelanja?" Sarah sedikit mendorong tubuh Maila agar memulai belanjanya.


"Kamu nggak ikut?" tanya Maila heran sebab bukannya menggandeng tangannya, Sarah malah memerintahkan dirinya untuk cepat berbelanja.


"Nggak, aku tunggu di sini saja." Sarah duduk di sebuah restoran yang ada di lantai satu mall tersebut.


"Oke tidak apa-apa." Segera Maila menarik tangan Rika agar ikut dengannya.


"Aku temani Sarah saja di sini. Kan aku nggak ada kebagian mau ditraktir belanja sama Sarah. Ke sini cuma ikut doang. Daripada capek-capek berkeliling nggak dapat apa-apa mendingan aku duduk di sini saja siapa tahu dapet traktiran makan," ujar Rika sambil cengengesan. Rupanya anak ini lupa tadi saat Sarah menyanggupi untuk mentraktir dirinya juga. Ya tentu saja sebab yang Rika ingat adalah Sarah ingin mentraktir dirinya makan bukan berbelanja.


"Siapa yang mau makan? Aku cuma mau duduk-duduk doang sambil menunggu Maila selesai berbelanja," kata Sarah.


"Cih pelit amat sih sana teman sendiri padahal tadi sudah janji mau traktir makan," keluh Rika.


"Biarin, pelit juga pelit sama uang sendiri, kenapa malah kamu yang repot," ucap Sarah sok cuek.


"Hmm, kayaknya nih anak benar-benar ketempelan nih, dari tadi siang sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat," gumam Rika. Sarah yang mendengar gumaman Rika tidak menanggapi perkataan temannya itu karena memang merasa dirinya sendiri ada perubahan yaitu mood dirinya sedang buruk seharian ini.


"Lebih baik ikut aku saja, kan bisa diam-diam ikut berbelanja," bisik Maila di telinga Rika.


"Ide bagus." Rika balik berbisik di telinga Maila.


"Ingat tadi batasan belanjanya berapa. Kalau lebih ya bayar sendiri," ujar Sarah seakan mendengar perkataan keduanya padahal keduanya sangat pelan berbisiknya tadi.


Maila dan Rika hanya bisa menelan ludah dan mengangguk. Setelahnya mereka pamit dan mulai bertualang mencari barang-barang yang mereka inginkan.


Setelah kedua sahabatnya pergi dan hilang dari pandangan mata. Sarah memesannya jus jeruk untuk menemani kesendiriannya di tempat itu.


Gadis itu mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan dan meminum jus jeruknya tersebut hingga tandas.


Mengapa masih haus saja sih padahal satu gelas sudah tandas. Kayaknya aku harus pesan lagi deh," ujar Sarah lalu melambaikan tangan ke arah pelayan agar mendekat ke arahnya.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya pelayan tersebut saat sudah berdiri di depan Sarah.


Saat Sarah ingin memesan minuman kembali terdengar ponselnya berbunyi dari dalam tas.


"Sebentar!" Sarah menahan agar pelayan itu diam sebentar dan dirinya malah mengangkat telepon yang ternyata adalah panggilan masuk dari nomor telepon tak dikenal.


Sarah mengernyit. "Nomor siapa ini?"


"Ini saya Sarah Kak Mentari." Terdengar suara Mentari dari balik telepon.


"Halo Kak ada apa? Tumben menghubungi Sarah di jam seperti ini?" tanya Sarah tanpa berbasa-basi.


"Sarah nanti kamu pulang ke rumah ya sebab Kak Mentari tidak bisa pulang. Tolong jaga ibu selama kakakmu sedang bertugas," ujar Mentari dari balik telepon dengan suara yang terdengar lemah di telinga Sarah.

__ADS_1


"Kak Mentari tidak apa-apa?" tanya Sarah khawatir.


"Nggak apa-apa kok, kakak baik-baik saja," bohong Mentari agar Sarah tidak mengkhawatirkan dirinya.


"Kakak sekarang ada dimana?" tanya Sarah untuk memastikan keberadaan kakak iparnya itu.


"Tentu saja di rumah papa Tama memangnya dimana lagi?"


"Oh, oke-oke," ucap Sarah sambil menutup panggilan teleponnya. Dia pikir Mentari pasti menelpon mengunakan ponsel Tama atau malah ponsel Gala.


"Pesan apa Mbak?" tanya pelayan yang masih senantiasa berdiri di depannya itu.


Baru saja hendak menjawab pertanyaan dari pelayan tersebut tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Terpaksa Sarah harus mengangkat telepon lagi.


"Kak Alzam? Tumben saat kerja dia meneleponku. Ada apa ya?" gumam Sarah dan langsung mengucapkan salam terhadap sang kakak.


"Waalaikum salam warahmatullahi Sarah, Kamu bersama Kak Mentari?"


"Tidak Kak, Sarah sedang dalam perjalanan pulang dari kampus ke apartemen," bohongnya. Kalau mengatakan masih ada di mall di jam seperti ini pasti dia akan langsung kena semprot.


"Tolong pulang ke rumah ya Sarah saya tadi menelpon kakakmu itu kok nggak ada yang menjawab telepon dari kakak. Perasaan kakak tidak enak kayak kepikiran dia terus. Kalau begini terus kakak bakal nggak konsen nih tausiyahnya."


"Mungkin ponsel kak Mentari ketinggalan kali di rumah. Tadi kan dia nelpon pakai nomor lain? Tapi kenapa suara kak Mentari seperti meringis tadi. Apa ada yang Kak Mentari rahasiakan dari kami? Ah sudahlah biar kucari tahu saja dulu sebelum memberi tahu Kak Alzam," ucap Mentari dalam hati.


"Baiklah terima kasih ya Sarah atas bantuannya."


"Oke Kak santai aja mah kalau sama Sarah nanti pas nyampe rumah pasti Sarah akan langsung kabari Kak Alzam biar kerjanya jadi konsen."


"Mantap, saya tunggu kabar darimu."


"Oke siap."


"Sudah dulu ya acara sudah dimulai nih nggak enak kalau kakak terlihat mainin ponsel."


"Iya Kak."


"Oke. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Sepertinya aku harus ke rumah Paman Tama nih, tapi ...." Sarah terlihat ragu.


"Semoga saja pria itu tidak ada di rumah saat ini."


Sarah bangkit dari duduknya, menaruh kembali ponselnya dalam tas dan merogoh dompet dari dalam sana. Setelah mendapat dompetnya dia mengeluarkan sejumlah uang dan menaruh uang tersebut di atas meja lalu bergegas pergi.

__ADS_1


"Mbak! Mbak!" panggil pelayan tadi yang terlihat kesal karena merasa Sarah telah mengerjai dirinya. Ditunggu-tunggu sedari tadi malah ditinggal pergi begitu saja.


Sarah yang mendengar pelayan itu memanggil dirinya baru sadar telah membuat orang lain kesal.


"Astagfirullahaladzim kenapa bawaannya aku selalu bikin orang kesal," ungkapnya, tetapi Sarah terus melanjutkan langkahnya pergi dari mall tersebut.


Sampai di parkiran dia segera melajukan motornya langsung ke rumah Tama.


"Nona Mentari tidak ada di sini Non," ujar seorang satpam di depan rumah Gala.


"Tidak ada di sini Pak?" Sarah terhenyak ternyata Mentari membohongi dirinya.


"Katanya tadi ada di sini?"


"Tidak Nona Sarah, Nona Mentari tidak ada di sini," ulang pak satpam itu lagi.


"Kalau tidak di sini dimana dong Pak?"


"Ya, katanya Den Gala sih Nona Mentari masuk rumah sakit."


"Apa! Masuk rumah sakit?"


Pak satpam itu mengangguk. "Tadi Den Gala dan Tuan Tama segera bergegas ke rumah sakit saat mendengar kabar Nona Mentari masuk rumah sakit."


"Kak Mentari sakit apa Pak?"


"Nggak tahu juga Non mungkin saja kecelakaan."


"Apa?" Sarah langsung terlihat lemas.


Apa jangan-jangan setelah menelpon tadi Kak Mentari langsung kecelakaan?


Sarah segera menelpon ustadz Alzam. Namun, beberapa kali menelpon tak sekalipun panggilan teleponnya ada yang mengangkat.


"Ah Kak Alzam." Sarah menggaruk kepalanya dengan kasar hingga hijabnya berantakan sekali.


"Bapak tahu alamat rumah sakitnya?"


"Tidak tahu Non."


Sarah menggeleng lalu dia ingat dengan nomor telepon yang Mentari gunakan untuk menelponnya tadi.


"Ah kenapa jadi tidak aktif?" Sarah gusar sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2