
Di sisi lain Gala yang katanya ingin melamar Mentari menggantikan Bintang nyatanya makin sibuk saja dengan pekerjaannya.
Membuka cabang Perusahaan di beberapa kota dan meninjau langsung beberapa proyek yang sedang digarap oleh perusahaan juga memeras waktu dan otaknya sehingga untuk sementara melupakan hal-hal lainnya, termasuk keinginannya untuk mencari Mentari ditambah sang paman yang sudah tidak pernah menghubungi maupun bisa dihubunginya.
Bahkan Gala semakin ke sini semakin jarang pulang. Pria itu lebih memilih menginap di hotel yang berada di daerah tempat berkunjung tanpa pulang ke rumah menemani sang papa. Untunglah keadaan Tama semakin ke sini semakin membaik, jadi Gala tidak perlu mengkhawatirkan sang papa lagi ketika harus meninggalkannya.
Siang yang terik matahari berada di atas kepala. Gala terjun langsung ke tengah-tengah pembangunan perusahaan cabang yang baru setengah rampung.
"Sudah Pak berhenti dulu! Sekarang waktunya istirahat dan makan siang!" Seru Gala kepada tukang bangunan yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Semua orang mengangguk dan mulai menghentikan pekerjaannya masing-masing.
Gala menepi dan mencari tempat berteduh. Tiba-tiba ponselnya berdering. Segera ia mengangkatnya.
"Halo Pak!"
"Ya halo, ada kabar apa? Apa terjadi sesuatu pada Papa?" Hal pertama yang ada dalam pikiran Gala adalah Tama, sang papa.
"Bukan tentang Tuan Tama, tetapi soal Mentari."
"Mentari? Kau sudah menemukannya?"
"Iya Pak, wanita itu sekarang bekerja di sebuah toko bangunan."
"Baiklah kau pantau saja terus saya masih belum bisa pulang, akhir-akhir ini terlalu sibuk."
"Baik Pak."
"Oke thanks."
Bagi Gala yang penting Mentari sudah ditemukan dan masih dalam pengawasannya agar tidak menghilang lagi sebab untuk melamar wanita itu saat ini tidak mungkin mengingat Mentari baru berpisah dengan Bintang.
Berbeda dengan Gala yang sibuk dengan pekerjaannya, Bintang malah sibuk dengan sang anak yang kondisi tubuhnya semakin lama semakin menurun.
"Kate kita harus membawa Aldan ke rumah sakit lagi," ucap Bintang dijawab anggukan lesu dari Katrina. Wanita itu sudah terlihat lelah mengurus putranya yang masih bolak-balik ke rumah sakit pasca mendapatkan sumsum tulang belakang. Katrina pikir setelah mendapatkan sumsum tulang belakang dari ayahnya sudah dipastikan Aldan langsung sembuh nyatanya tidak demikian.
Kadang Katrina berpikir apakah operasi pemberian sumsum tulang belakang yang sudah dilakukan tidak berhasil. Entahlah Katrina hanya melihat kenyataannya saja bahwa Aldan masih sakit.
"Baiklah Ayo," ajak Katrina sambil menggendong putranya keluar dari unit apartemen.
Bintang pun melangkah dengan tergesa-gesa. Mengambil kunci mobil lalu menutup pintu apartemen dan segera turun ke bawah. Dengan gerak cepat dia langsung masuk ke dalam mobil dan membawa Aldan ke rumah sakit langganannya.
"Bagaimana Dok?" tanya Bintang dengan nada suara yang terdengar khawatir.
"Kondisi Aldan semakin memburuk. Sepertinya dia harus dibawa berobat keluar negeri karena peralatan yang ada di sini tidak lengkap," ucap sang dokter.
"Ini rumah sakit apa sih Dok, kok bisa tidak lengkap?" protes Bintang dengan nada kesal.
"Terus mana hasil pemberian donor sumsum tulang belakang kemarin. Kon nggak ada efeknya sama sekali?" tanya Bintang heran dengan kinerja rumah sakit tersebut. Kalau saja rumah sakit ini miliknya mungkin saja Bintang langsung akan menendang keluar para dokternya yang tidak bisa diandalkan.
"Maaf tapi menurut pengamatan kami ada yang aneh dengan kondisi putra Anda. Ternyata putra anda mengidap penyakit lainnya dan mohon maaf kami tidak bisa mendeteksi penyakit tersebut karena itu tergolong penyakit langka," jelas sang dokter membuat Bintang semakin kesal saja.
"Ayo Kate bawa pulang saja Aldan dari sini, Rumah sakit ini tidak bisa diandalkan!" ajak Bintang pada Katrina.
Katrina mengangguk dan menurut. Wanita itu langsung menggendong putranya kembali. Mereka berdua langsung keluar dari rumah sakit.
"Bagaimana ini Bin? Apakah akan kita biarkan saja Aldan seperti ini?" tanya Katrina sambil melihat putranya yang terlihat semakin lemas. Mereka berdua kini sudah duduk di dalam mobil.
"Sebentar aku cari informasi dulu di negara mana sekiranya yang canggih dan bagus pelayanannya," ucap Bintang lalu meraih ponsel dan menelpon temannya.
"Bagaimana Bin?" tanya Katrina dengan ekspresi memelas.
__ADS_1
"Kita ke Singapura sekarang." Bintang mengambil keputusan dan Katrina hanya mengangguk. Dalam situasi seperti ini dia tidak bisa berpikir jernih jadi hanya mengutamakan setiap keputusan Bintang.
Mereka berdua langsung menuju bandara, membeli tiket pesawat dan menunggu keberangkatan. Setelah sampai pada waktunya mereka langsung terbang ke negara yang dijuluki The Lion City.
Di negara itu Bintang menunggu putranya sampai satu bulan tanpa melihat ada perkembangan dari putranya itu.
***
Sudah satu bulan Bintang berada di luar negeri dan itu artinya sebulan sudah Mentari bekerja bersama dengan ustadz Alzam.
Pria itu selalu memberikan perhatian pada Mentari meski tidak terlalu kentara, tetapi membuat Mentari nyaman bersama ustadz Alzam. Apalagi ustadz Alzam selalu meminta Mentari untuk mengangkat barang-barang yang ringan saja dan barang yang berat diambil alih dirinya sendiri.
Awalnya Mentari pikir ustadz Alzam akan sulit bergaul ataupun kaku dengan karyawan wanita seperti dirinya dan Reni. Namun, nyatanya pria itu luwes dan begitu pandai berbaur dengan semua orang.
"Ustadz, Mentari, dan semuanya ... sekarang kita akan menutup toko ini sementara," ucap pak mandor kepada semua orang.
"Loh kok tutup, apakah toko ini sudah bang ...."
"Tidak Mentari, toko ini tidak bangkrut kok, toko ini masih jaya," jelas pak mandor.
Terus kenapa mesti ditutup Pak?" tanya Mentari tak mengerti.
"Kan aku bilang cuma sebentar. Alasannya adalah karena pemilik toko ini ingin mengajak kita semua makan bersama di sebuah restoran," ucap pak mandor dengan senyum yang lebar.
"Wah asyik dong," ucap Reni sambil melihat ustadz Alzam.
"Terus kita naik apa?" tanya Mentari lagi.
"Tenang saja pak bos sudah menyewa sebuah mobil untuk kita tumpangi, mungkin sebentar lagi mobil itu datang," ucap pak mandor dan bersamaan itu memang benar ada sebuah mobil yang berhenti di depan toko.
"Nah itu dia mobilnya sudah sampai tinggal kitanya yang bersiap-siap," ucap pak mandor lagi.
Setelah semua siap mereka langsung menuju sebuah restoran yang menjadi pilihan ustadz Alzam.
"Wah desain depan restorannya bagus," ucap Mentari kagum.
"Benar bagus banget," sambung Reni.
Sampai di dalam tempat mereka sudah dipersiapkan. Ada sebuah meja panjang dan besar dengan berbagai menu yang sudah siap di atas meja dengan dikelilingi banyak kursi.
Pak mandor pun mengarahkan semua karyawan pada meja itu dan mempersilahkan teman-temannya untuk makan bersama.
"Bos kita mana sih?" tanya Mentari penasaran. Katanya yang mengajak makan mereka adalah pemilik toko bangunan tersebut. Namun dari tadi bos yang mereka maksud itu tidak tampak sama sekali sampai Mentari menyelesaikan makannya.
"Mungkin sebentar lagi," ucap pak mandor sambil melirik ustadz Alzam.
"Ekhem, Me boleh aku bicara denganmu sebentar?" tanya ustadz Alzam dengan hati-hati.
"Boleh ustadz katakan saja."
"Jangan di sini banyak orang, di kursi yang di sana saja yuk!"
Mentari tampak melihat teman-temannya satu persatu dan mereka sama-sama mengangguk.
"Hanya berdua ustadz? Boleh saya ditemani Reni? Maaf saya hanya takut ...."
"Timbul fitnah?" potong ustadz Alzam.
Mentari mengangguk.
__ADS_1
"Saya kan baru dua bulan bercerai Ustad takutnya dapat predikat janda apa lah gitu kalau terlihat berdua dengan Ustadz," terang Mentari akan kekhawatirannya.
"Kau tenang saja, kita tidak akan berdua. Ada Sarah di sana," tunjuk ustadz Alzam pada sebuah kursi yang diduduki Sarah.
"Hai Kak!" Sarah melambaikan tangan.
"Hei Sarah," ucap Mentari kaget bercampur senang.
"Yuk!" ajak ustadz Alzam pada Mentari. Tanpa diajak pun mentari sudah lebih dulu menjumpai Sarah.
"Duduk Kak!" perintah Sarah.
Mentari mengangguk dan duduk di samping Sarah. Ustadz Alzam menarik kursi dan ikut duduk.
"Ada yang penting ya sehingga kalian menemui saya?" tanya Mentari penasaran.
"Penting, penting sekali," jawab Sarah.
"Apaan tuh Sar?"
"Kak!" Sarah melempar pembicaran pada sang kakak agar mengambil alih.
"Begini Me, setelah kamu berpisah dengan Bintang apakah kamu sudah ada janji dengan orang lain?" tanya ustadz Alzam terlebih dahulu berbasa-basi. Siapa tahu wanita itu telah terikat janji dengan Gala seperti perkataan Bintang bahwa Gala yang akan segera melamar Mentari.
"Janji apa maksudnya ustadz?" tanya Mentari tak mengerti.
"Maksud saya apakah ...." Ustadz Alzam nampak ragu.
"Apa Ustadz?"
"Apakah kamu sudah ada yang melamar?" Ustadz Alzam tampak grogi sehingga tidak bisa memilih kata-kata dengan baik. Sungguh ingin mengutarakan keinginannya terhadap Mentari jauh lebih sulit dibandingkan berceramah di depan orang banyak. Baru kali ini ustadz Alzam gugup.
"Ustadz bercanda ya, siapa juga yang mau sama saya yang jelek seperti ini apalagi saya sudah berstatus janda." Mentari tersenyum pahit apalagi dia masih ingat kata-kata Katrina waktu itu.
"Kalau begitu bagaimana kalau saya yang melamarmu?" tanya ustadz Alzam to the poin. Dia bukanlah seorang lelaki yang romantis dan sebenarnya tidak suka berbasa-basi.
"Apa?" Mentari terlihat kaget.
"Jangan bercanda lah ustadz, canda ustadz tidak lucu," protes Mentari.
"Saya serius," ucap ustadz Alzam menyakinkan Mentari.
"Ustadz Alzam tidak salah makan kan tadi?" tanya Mentari masih merasa tidak percaya dengan pendengarannya.
"Demi Allah saya bersungguh-sungguh," ucap ustadz Alzam dengan sungguh-sungguh.
Kalau sudah membawa nama Tuhan Mentari tidak akan meragukan ustadz Alzam lagi sebab wanita itu yakin ustadz Alzam tidak akan mempermainkan nama Tuhan.
"Apa yang membuat ustadz Alzam mengambil keputusan seperti itu? Apakah ustadz Alzam kasihan kepada saya? Apa kelebihan saya? Kekurangan saya banyak, jelek, miskin, bodoh. Apa ustadz tidak salah memilih saya? Saya sadar diri, tidak pantas untuk Ustadz," cerocos Mentari.
"Tidak ada alasan untuk mencintai. Ana Uhibbuka Fillah, aku mencintaimu karena Allah. Biarkan aku menjadi pelengkap untuk kekuranganmu dan dirimu menjadi pelengkap untuk kekuranganku karena seyogyanya manusia tidak ada yang sempurna."
Mendengar pernyataan ustadz Alzam Mentari meneteskan air mata. Apakah dia akan menolak jika seseorang begitu yakin menyatakan cintanya atas nama Allah? Tetapi pantaskah Mentari menikah dalam waktu yang begitu singkat sejak perceraiannya dengan Bintang?"
Mentari dilema sedangkan Sarah tiba-tiba ikut menangis karena terharu.
.
Bersambung.
__ADS_1
Panjang Bet nih bab hampir jadi 2 bab nih. Tak apalah teruntuk kalian semua. Seperti tulusnya cinta ustadz Alzam pada Mentari begitupun tulusnya cinta othor pada kalian semua. Eak-eak 🤣🤣🤣🤣🤣