HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 31. Kejutan


__ADS_3

Di dalam angkutan umum air mata yang ditahannya tadi sudah tidak bisa terbendung lagi. Mentari tidak perduli dengan orang-orang yang menatapnya aneh karena melihat dirinya menangis di tempat umum. Biarkan saja mereka berasumsi apapun, Mentari tidak perduli. Yang ada di hatinya kini hanya rasa sakit yang mendalam.


"Eh Pak stop di sini!" perintah Mentari pada sopir angkot ketika melihat di pinggir jalan ada depot makanan. Ia tiba-tiba ingat akan perintah Sarah yang menyuruh dirinya membeli makanan sebelum kembali ke toko. Mentari mengusap air matanya lalu turun dari angkot. Sebelum pergi tidak lupa wanita tersebut membayar ongkos.


Setelah memesan beberapa bungkus makanan Mentari menyetop angkutan umum lagi. Kali ini tujuannya adalah toko roti milik Sarah.


Sampai di depan pintu toko Mentari melongo ke dalam ruangan yang terlihat sepi sedang pintunya masih terbuka.


"Sepi amat. Mereka pasti sibuk membuat pesanan pelanggan, tapi mengapa tidak berada di dapur?" Mentari terus melangkah mencari kebenaran Nanik dan Sarah.


"Kalau Sarah mungkin sudah pergi, katanya tadi kan ada kepentingan mendesak, tapi kalau Nanik kemana sih? Mana toko ditinggal begitu saja lagi. Gimana coba kalau ada orang yang tidak bertanggung jawab masuk dan mencuri kue atau uang hasil penjualan kue dan roti. Bisa mampus kita dipecat," gerutu Mentari sambil terus mencari keberadaan Nanik.


"Mbak Nanik!" panggil Mentari lembut, tetapi tak ada jawaban.


"Mbak Nanik!" Kali ini Mentari berteriak. Namun, tetap tak ada jawaban. Mentari meletakkan bungkusan makanan dan bahan-bahan kue yang dibelinya tadi.


"Kemana sih tuh orang." Mentari tampak bingung.


"Ih kok aku berasa ngeri ya tempat ini tiba-tiba berubah sepi. Jangan-jangan Mbak Nanik di sembunyikan roh makhluk halus lagi." Mentari bergidik ngeri. Mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba terasa dingin.


Mentari terus melangkah hingga sampai di depan pintu ruangan kosong langkahnya terhenti karena merasa ada suara dari dalam. Meskipun volume suara itu kecil tetapi Mentari seolah mendengar seperti ada orang yang berbisik.


Meskipun takut, dia memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan tersebut. Rasa takut di hati Mentari ternyata kalah dengan rasa penasaran.


Mentari meriah gagang pintu lalu memutarnya. Dalam sekejap pintu sedikit terbuka.


Dor! Dor! Dor


Terdengar bunyi beberapa balon meletus dalam ruangan.


"Astaghfirullah hal Adzim. Apaan ini Tuhan?" Mentari memegang jantungnya yang seakan mau copot karena terkejut. Wanita itu bahkan sampai melompat kaget dengan mata yang terpejam.


"Sarah!" protes ustadz Alzam karena adiknya itu sampai membuat Mentari syok.


Mendengar suara ustadz Alzam, Mentari membuka mata. Ketika melihat ternyata di tempat itu benar-benar ada ustad Alzam, Sarah, dan Nanik barulah Mentari bernafas lega.


"Kalian mengagetkan saja," protes Mentari sambil mendorong pintu agar terbuka lebar.


"Selamat ulang tahun Kakak," ucap Sarah sambil berjalan mendekat ke arah Mentari.


Mentari terbelalak melihat nuansa kamar itu yang terlihat berbeda. Benar-benar disulap menjadi indah.


"Happy birthday Mentari, semoga panjang umur, murah rezeki dan sukses selalu," kata Nanik.


"Terima kasih Mbak Nanik. Terima kasih Sarah."

__ADS_1


Mereka berdua mengangkut.


Ustadz Alzam maju ke depan menghampiri Mentari. "Selamat hari lahir ya. Terimalah kado ini dariku meski sangat sederhana sekali. Semoga kamu suka dan bermanfaat." Ustadz Alzam menyodorkan sebuah kotak berwarna merah ke tangan Mentari.


"Terima kasih Ustad," ucap Mentari dengan mata yang nampak berkaca karena merasa terharu. Dalam hati mengapa dia harus menerima kado pertama dari orang lain bukan dari suaminya sendiri.


"Ah, sudahlah Mas Bintang tidak bisa diharapkan untuk mengingat hari ulang tahunku," batin Mentari.


"Oh ya Kak Sarah juga punya kado." Sarah mengambil kotak di atas meja dan memberikannya pada Mentari.


"Semoga suka ya Kak. Kakak kan suka baca tulis Novel jadi aku kasih kakak kado ini biar menjadi inspirasi nantinya."


"Terima kasih Sarah, kau memang baik sekali."


"Ah biasa aja Kak jangan berlebihan."


"Dan ini dariku," ujar Nanik sambil menyodorkan sebuah paper bag berisi sebuah tas.


"Maaf belum sempat dibungkus kado habisnya kamu keburu datang tadi," imbuhnya.


"Tidak apa-apa Mbak. Terima kasih ya semuanya. Aku berasa punya keluarga karena kehadiran kalian semua di sini."


"Sama-sama," ucap ketiga orang tersebut serempak.


"Bagaimana caranya kalian menyiapkan semua ini dalam waktu yang singkat?" tanya Mentari heran. Pasalnya hanya beberapa jam saja Mentari tinggal, mereka bertiga sudah bisa menyiapkan semuanya dengan hasil yang hampir sempurna.


"Tidak Sarah ini lebih dari cukup bagi saya. Terima kasih ya semuanya telah membuatku bahagia hari ini. Ini akan menjadi momen yang paling berkesan dari hidupku tentang kita berempat dalam," ujar Mentari.


"Ayo berdoa dulu sebelum meniup lilinnya!" ajak ustadz Alzam dan Mentari hanya menjawab dengan anggukan.


"Ayo Kak duduk sini!" Sarah menyeret kursi agar Mentari duduk.


Mereka berempat pun duduk dan mulai berdoa dengan dipimpin oleh ustadz Alzam. Setelah selesai berdoa Mentari diminta untuk meniup lilin yang bertuliskan angka 19 dimana sesuai umurnya sekarang.


"Sekarang potong kuenya!" perintah Sarah lagi. Mentari pun menurut.


"Ayo untuk siapa itu potongan kue pertamanya," goda Sarah karena di tempat itu tidak ada Bintang maupun keluarga dari Mentari.


"Ya pastilah untuk Bu Sarah. Secara, kan Ibu adalah atasannya," tebak Nanik sambil pura-pura cemberut.


Mentari memandang Sarah. Ingin memberikan potongan kue pertama tersebut pada Sarah, tetapi tidak enak pada Nanik.


Namun Sarah langsung berkata," Terserah Kak Mentari tidak harus Sarah."


"Baik biar adil saya berikan potongan kue ini pada orang yang telah membuat kue tart ini," ucap Mentari. Sontak Sarah dan Nanik kaget. Mereka berdua langsung reflek melihat ustadz Alzam.

__ADS_1


Mentari mengernyit tidak mengerti mengapa keduanya malah memandang ustadz Alzam. Ia pun ikut memandang pria tersebut membuat ustadz Alzam langsung menunduk.


"Kak sini mendekat!" pinta Sarah membuat Mentari semakin heran saja.


"Kak Mentari yang membuat kue ini adalah kakak saya. Kak Alzam," jelas Sarah membuat Mentari semakin kaget. Dia pikir yang membuat kue ini bisa saja Sarah ataupun Nanik atau bisa kedua-duanya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa kue yang dihias indah ini adalah buatan seorang pria.


Mentari memandang kue tersebut dan ustadz Alzam secara bergantian. Muncul kekaguman terhadap sosok ustadz Alzam. Mentari pikir akan sangat beruntung wanita yang jadi istrinya kelak. Bukan hanya tahu tentang ilmu agama, sepertinya pria itu adalah pria yang romantis.7


"Astaghfirullah hal adzim, jangan sampai hati hambamu ini belok pada pria ini," ucap Mentari sambil mengusap wajahnya yang tiba-tiba berkeringat, dengan tissue.


"Ini untuk ustadz, terimakasih sekali lagi ya, kuenya benar-benar bagus," pungkas Mentari.


"Alhamdulillah kalau suka," ucap ustadz Alzam lalu meraih kue yang disodorkan oleh Mentari.


Setelah itu Mentari memotong kue tersebut untuk Sarah dan juga Nanik.


"Sekarang makan siang dulu yuk mumpung belum ada pelanggan yang datang," ajak Sarah.


"Oh ya kalau begitu saya siapkan dulu ya Sarah," ucap Mentari sambil berjalan ke arah dimana ia meletakkan bungkusan tadi.


"Aku ikut!" Nanik setengah berlari menyusul Mentari.


Di dalam ruangan kini hanya tinggal Sarah dan ustadz Alzam.


"Kak Alzam!" panggil Sarah.


"Ada apa Sarah?"


"Kak Mentari sepertinya cocok dengan Kakak."


"Dia istri orang Sarah!" tekan ustadz Alzam.


"Aku berharap Kak Mentari segera bercerai dengan suaminya dan menikah dengan Kak Alzam."


"Sarah!" Ustadz Alzam bangkit dari duduknya. "Kakak pergi sekarang karena ada kepentingan di madrasah."


"Tidak makan siang dulu Kak?"


"Tidak usah biar nanti Kakak makan sama ibu saja, kasihan beliau harus makan sendirian."


"Baiklah Kak, kalau begitu."


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam warahmatullahi," jawab Sarah.

__ADS_1


Ustadz Alzam pun berlalu pergi.


Bersambung....


__ADS_2