HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW 227. Salah Sasaran (2)


__ADS_3

Sampai di kantor polisi, polisi merasa ada yang ganjil pada diri Diandra.


"Anda memberinya obat perangsang?" tanya polisi setelah mengintrogasi pria bule tersebut.


"Tidak, saya tidak tahu menahu perkara obat," ujar pria itu sebab memang begitulah kenyataannya.


"Jangan berbohong!" Polisi menggertak pria tersebut.


"Saya bersumpah demi Tuhan tidak pernah melakukan itu Pak," bantah pria itu.


"Saya hanya ingin menolong untuk membawanya ke rumah sakit sebab dia mengeluhkan sakit kepala yang sangat dan tubuhnya terasa panas. Kami tidak berniat berbuat mesum tapi Bu Diandra ini malah menggodaku di dalam mobil. Awalnya saya kuat tapi lama kelamaan goyah juga. Namun, saya bersumpah pak tidak sampai melakukan hal yang lebih jauh." Pria itu masih mencoba membela diri.


"Iya karena keburu dipergoki kami kalau tidak pasti wanita ini sudah jebol," sanggah masyarakat yang turut ikut ke kantor polisi.


"Betul Pak."


"Betul."


"Betul."


Suara orang-orang terasa bising di telinga.


"Sudah jangan berisik lebih baik kalian carikan dia air kelapa atau susu beruang biar efek obatnya bisa cepat menghilang!"


"Uangnya Pak?"


Ya ampun mereka masih perhitungan.


Sebelum polisi memberikan uang pria bule tersebut yang mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar uang pada seseorang.


"Ini kebanyakan Mr. tidak ada uang kecilnya?" Seorang pria melambaikan selembar uang 100$ di tangannya.


"Sudah kembaliannya ambil saja," ujar pria bule itu membuat orang yang memegang uang itu tersenyum senang.


"Biar saya yang membeli!" Warga lainnnya mencoba merebut uang tersebut dari tangan pria tadi hingga terjadi saling rebut diantara mereka.


"Sudah jangan heboh!" himbau polisi. Semua orang pun akhirnya diam.


"Berikan uangnya kepada pria yang menerima pertama kali tadi! Jangan menghambat waktu. Kalian tidak melihat apa kegelisahan yang terjadi pada wanita ini?" Polisi menunjuk ke arah Diandra.


"Baik Pak." Akhirnya semua orang diam.


"Cepat beli yang saya perintahkan tadi!"


"Baik Pak." Pria yang memegang uang itupun berlari keluar dari kantor polisi.


"Kamu sudah punya istri?" Pria bule itu menggeleng mendengar pertanyaan dari pak polisi.


"Kamu punya suami?" tanyanya kemudian pada Diandra. Diandra pun menggeleng.


"Mana coba lihat KTP atau paspor!"


Mereka berdua pun memberikan kartu identitas masing-masing kepada polisi.


"Sama-sama bujang, bagaimana kalau kita nikahan saja?" tanya polisi lagi saat setelah membaca kartu identitas keduanya.


"Setuju Pak!"


"Setuju!"


Seru orang-orang serentak.


Diandra memandang lekat wajah pria bule itu dan menggeleng.


"Tidak Pak saya tidak mau," jawab Diandra kemudian.

__ADS_1


"Saya juga tidak mau," ujar pria bule itu.


"Bagaimana kalau kita panggil orang tua kalian?"


Diandra tampak syok.


"Boleh asalkan pak polisi bisa menunggu, tahu sendiri kan penerbangan dari Amerika ke Indonesia membutuhkan berapa jam? Belum lagi harus mengurus ini itunya," ujar pria bule tersebut.


"Tidak ada keluarga yang ada di sini?"


"Tidak ada sebab saya ke sini hanya seorang diri ingin bertemu klien saja." Dalam hati pria itu sebenarnya ingin meminta bantuan Kiki saja dan menyuruh Kiki yang mengaku keluarganya biar cepat kelar masalahnya, tapi takut berita ini akan semakin menyebar luas.


"Ini Pak susu beruangnya." Seseorang yang disuruh tadi sudah kembali dan menyodorkan 4 kaleng susu beruang sekaligus.


"Banyak sekali Mas?"


"Untuk jaga-jaga Pak siapa tahu butuh lebih dari satu."


Polisi mengangguk dan membuka tutupnya lalu memberikan pada Diandra.


"Ini diminum dulu!"


Diandra mengangguk dan langsung meneguk satu kaleng susu tersebut sampai tandas.


"Kalau masih haus minum lagi!"


Diandra mengangguk dan meraih satu botol kaleng lagi dan meneguknya sampai habis.


"Sudah?"


"Sudah pak."


"Baiklah kalau begitu dari keluarga dari pihak wanitanya saja yang datang kemari."


"Maksudnya Pak?" tanya Diandra ingin lebih jelas.


"Jangan Pak, saya tidak mau orang tua saya tahu," mohon Diandra.


"Suruh mereka ke sini atau kau akan kami tahan," ancam polisi.


"Baiklah aku akan menelpon mereka." Akhirnya Diandra pasrah.


Para polisi mengangguk.


"Boleh pinjam telepon? ponsel saya ketinggalan di mobil."


Seorang polisi memberikan ponselnya dan Diandra pun menelepon kedua orang tuanya. Setengah jam kemudian orang tua Diantara datang.


Diandra menepis dugaan polisi yang menyampaikan bahwa pria bule itulah yang memberikan obat perangsang padanya sebab Diandra terlebih dahulu yang memesan minuman itu sebelum pria bule tersebut datang sebab pria itu sedikit terlambat.


"Kalau begitu kita harus mencari tahu pelaku yang sebenarnya Pak," ujar orang tua Diandra karena merasa anaknya ada yang menjebak.


"Di restoran mana kalian mengadakan pertemuan? Kita interogasi pelayan di sana," saran ibu dari Diandra.


"Tidak perlu Ma, tidak perlu Pak polisi. Saya tidak ingin kasus ini menjadi melebar dan viral, sudah anggap saja saya yang salah minum obat sendiri," ucap Diandra sebab tidak ingin pelayan yang disuruhnya itu menceritakan bahwa Diandra yang mencoba memberikan obat untuk dimasukkan ke dalam minuman Gala, meski obat yang diberikan oleh Diandra sendiri hanyalah obat tidur saja.


Mana berani Diandra memberikan obat perangsang, meskipun dia memang terobsesi untuk mendapatkan Gala, dia tidak mau Gala menikmati tubuhnya dalam keadaan setengah tidak sadar. Dia perlu obat tidur hanya untuk menjebak Gala seakan-akan tidur dengannya dan memberikan foto-fotonya nanti pada Sarah.


"Baiklah kalau itu keinginan Anda kami akan menghentikan kasus ini dan tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut. Namun, kami menghimbau agar sampai kejadian ini terulang lagi, kalau tidak kami akan menikahkan kalian secara paksa."


"Baik Pak!"


Setelah mendapatkannya pembinaan mereka semua diperkenankan pulang.


Sampai di luar kantor polisi.

__ADS_1


"Oh ya mana tadi yang punya video saya dan Bu Diandra?"


"Saya Mr."


"Hapus video itu sesuai dengan perjanjian kalian!"


"Tapi Mr.?"


"Ambil uang ini dan serahkan ponselmu!" Pria itu menyodorkan 7 lembar uang 100$ ke tangan pria itu.


Tentu saja pria itu langsung memberikan ponselnya yang hanya seharga 2 juta itu ke tangan pria bule tersebut.


"Ambil sekalian dengan kartunya Mr."


"Awas ya kalau video itu sampai beredar kalian yang akan saya laporkan pada polisi," ancam Diandra pada semua orang sebab bisa saja mereka mempunyai salinannya.


"Iya Mbak," jawab mereka serentak.


"Mana ponselnya!" Diandra pun meminta ponsel tersebut dari tangan pria bule lalu menghapusnya.


"Ini sudah ku hapus takut menjadi tontonan sehari-hari Bapak," ujar Diandra sambil mengembalikan ponsel ke tangan pria bule itu. Pria itu hanya menggaruk rambutnya melihat Diandra berburuk sangka pada dirinya.


Mereka pun kembali dengan mobil warga ke tempat mobil pria bule itu terparkir kecuali Diandra yang kembali dengan mobil orang tuanya untuk mengambil tasnya yang ketinggalan di sana.


Setelah itu Diandra langsung pulang bersama kedua orang tuanya.


Di mobil Diandra langsung menelpon sahabatnya, Vivian. Wanita itu adalah pemilik restoran tempat Diandra mengadakan pertemuan tadi.


"Ada apa Diandra?" tanya Vivian dari balik telepon.


"Mengapa kau masih memberikan obat kepada gelas minuman yang aku pesan? Bukannya aku menyuruhmu untuk membatalkan sebab Pak Kiki telah menukar tempat bertemu klien dengan Pak Gala?"


"Maksudmu apa sih Diandra?"


"Pelayanmu tetap memberikan obat ke dalam gelas dan anehnya obat yang dicampur dengan minuman itu bukan obat tidur melainkan obat perangsang," ketus Diandra.


"Terus-terus gimana? Obat itu kena Pak Kiki apa kena si bule?" tanya Vivian begitu penasaran.


"Kena aku dan kau puas, aku seperti cacing kepanasan di depan bule itu. Sial banget." Diandra begitu kesal sedangkan sahabatnya di sana malah tertawa lepas karena merasa lucu.


"Tertawa loh, dasar! Mau aku laporkan pada polisi?" Diandra langsung memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.


"Diandra! Diandra! Jangan dong! Nanti aku tanya deh siapa karyawanku yang berani melakukan itu. Diandra! Hello!" Vivian pun langsung memijit pelipisnya yang mendadak pusing.


"Bagaimana kalau Diandra tidak main-main dengan ancamannya?"


Di dalam mobil.


"Jadi kamu yang melakukan ini semua Diandra?"


"Bukan Ma, bukan. Mama salah paham."


"Kau pikir mama tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan dengan Vivian tadi? Kau mau menjebak atasanmu dengan cara memberikan obat tidur dan hasilnya kamu sendiri yang terjebak dalam obat perangsang yang diberikan seseorang. Dengan begitu simpulkan sendiri bahwa perbuatan buruk kita terhadap orang lain bisa berdampak lebih buruk terhadap diri kita sendiri."


"Iya Ma, maafkan Diandra. Diandra terpaksa melakukan ini karena sangat mencintai Pak Gala."


"Saya tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu bagaimana kamu bisa mencintai seorang pria yang sudah memiliki istri? Ingat ya, menghancurkan rumah tangga orang lain itu dosa Nak."


"Iya Ma. Maafkan Diandra."


Wanita setengah tua yang duduk di samping Diandra pun mengangguk.


"Tapi aku tidak bisa melupakan Pak Gala Ma," batin Diandra.


"Ini semua gara-gara Sarah," ucap Diandra dalam hati dengan perasaan dongkol.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2