
Pukul tujuh malam Katrina masih berkutat dengan pekerjaannya. Gala mendekati Katrina dan menyuruh untuk pulang terlebih dahulu.
"Kate sebaiknya kamu pulang duluan saja, biar saya yang menyelesaikan semuanya," ucap Gala merasa kasihan karena dalam keadaan hamil besar wanita itu masih saja gigih bekerja. Gala mengerti Katrina tidak jadi mengambil cuti karena Bintang sudah tidak bekerja lagi.
"Tidak apa-apa Pak saya selesaikan saja sekarang paling sebentar lagi ini akan selesai," kekeuh Katrina.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Gala ragu. "Aku tidak ingin dikatakan bos yang tidak berperasaan kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu karena membiarkan karyawan yang dalam kondisi hamil besar masih bekerja apalagi sampai malam," imbuh Gala.
"Tidak apa-apa Pak, itu kan kemauanku bukan paksaan dari Bapak yang mengharuskan saya harus bekerja lagi," jawab Katrina.
"Baiklah kalau itu kemauanmu, cepat selesaikan dan segeralah pulang. Saya tidak mau dituduh macam-macam lagi oleh Bintang."
"Iya Pak," jawab Katrina lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau begitu saya pulang duluan. Kamu hati-hati ya! Tenang saja besok saya sudah akan merekrut asisten baru di perusahaan ini, jadi pekerjaanmu tidak akan banyak lagi."
"Iya Pak pasti dan terima kasih."
Gala mengangguk dan meninggalkan Katrina seorang diri di kantor.
Tak terasa sudah 1 jam Katrina berada di kantor tanpa Gala. Wanita itu menghela nafas lega setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Katrina menatap arloji di tangannya. "Wah sudah jam delapan rupanya. Aku begitu fokus pada pekerjaan ini hingga tak terasa sudah satu jam sendirian di ruangan ini. Untung ruangan ini tidak serem. Katrina membereskan semuanya lalu bangkit dari duduknya. Meraih tas dan menentengnya keluar dari perusahaan.
"Baru selesai Bu?" tanya pak satpam saat melihat Katrina melintas.
"Iya Pak," jawab Katrina sambil terus melangkah menuju parkiran kantor.
"Loh kok pintu mobilku tidak terkunci sih?" Katrina bingung sekaligus kaget mendapati mobilnya tidak terkunci. Dia langsung memeriksa ke dalam barangkali ada barang-barangnya yang hilang. Dia pikir ada maling yang telah berhasil membuka pintu mobilnya.
"Tidak ada yang hilang kok, apa aku yang tadi pagi memang lupa menguncinya?" gumam Katrina seorang diri kemudian masuk ke dalam mobil.
Katrina menggerak-gerakkan kepalanya yang terasa kaku. "Hari ini sangat melelahkan semoga besok tidak harus lembur lagi." Katrina lalu menghidupkan mesin mobil dan bersiap untuk menyetir.
Tunggu dulu, dia mengingat obatnya belum diminum. Katrina mematikan mesin mobil kembali lalu mengambil obat dalam tas dan juga botol air minum yang ada di atas dashboard mobil lalu meneguknya. Kalau tidak diminum juga takutnya dia lupa setelah sampai di apartemen nanti.
__ADS_1
Bagi Katrina berjaga-jaga itu penting. Meski pada kenyataannya keguguran di usia kehamilan tua itu jarang terjadi. Namun, dia harus selalu mengantisipasinya. Baginya bayi dalam kandungannya itu yang akan membuat Tuan Winata luluh dan akan merestui hubungannya dengan Bintang nanti. Tak apalah Bintang saat ini tidak bekerja karena menurut Katrina Bintang sebenarnya sudah mempunyai segalanya.
Selesai meminum obat, Katrina menyetir mobilnya keluar dari area perusahaan.
"Huuuss!"
Katrina meraba tengkuknya yang tiba-tiba seperti ditiup angin.
"Kok jadi serem auranya nih mobil." Katrina bergidik ngeri bahkan bulu kuduknya merinding. Namun, dia terus saja menyetir mobilnya yang kini sudah meminta di jalan raya.
"Hussss!" Untuk kedua kalinya leher Katrina serasa ada yang meniup. Wanita itu menoleh, tak ada siapa-siapa dibelakangnya.
"Hantu jangan ganggu aku. Aku tidak pernah mengganggumu," ucap Katrina dengan suara yang sudah mulai bergetar.
Di belakang jok mobil ada seorang pria yang bersembunyi sambil cekikikan.
"Suara apa itu?" Katrina semakin takut hingga ia memutuskan untuk menghubungi Bintang.
Saat Katrina mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, tiba-tiba pria itu keluar dan menarik ponsel dari tangan Katrina.
Pria itu segera menutup mulut Katrina agar tidak berteriak lebih kencang lagi.
"Tidak usah berteriak! Aku tidak akan merampokmu."
Deg.
Katrina kenal suara itu. Wanita itu menoleh. "Arka?"
Pria itu tersenyum Katrina sudah mengenali dirinya. Kemudian pria itu mengangguk.
"Kau mengangetkan saja, bagaimana kalau aku keguguran karena kau membuatku syok?" protes Katrina.
"Tenang saja benihku tidak akan selemah itu." Arka begitu yakin.
"Cih." Katrina berdecih. "Mau apalagi? Aku sudah tidak punya uang. Kau pikir aku bekerja sampai malam seperti ini karena apa? Ya karena sudah tidak ada uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadi kau bekerja sendirilah jangan suka nebeng sama orang," cerocos Katrina sambil terus menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Sst! Aku tidak mau meminta uang. Aku tahu Bintang suamimu itu sudah tidak bekerja lagi, kan? Mengapa kau masih bertahan? Tidak pernahkah kau berpikiran untuk kembali padaku?"
"Hmm, Bintang mungkin saja tidak bekerja saat ini, tetapi suatu saat dia akan mewarisi dan menjadi pimpinan dalam perusahaannya sendiri," ujar Katrina begitu yakin.
"Dan putra kita yang akan menjadi penerus selanjutnya," lanjut Katrina.
"Kenapa kau begitu yakin? Bagaimana kalau si Mentari itu juga punya anak laki-laki dari si Bintang? Bisa saja anak kita ditendang oleh si tua itu."
Katrina tampak berpikir. Perkataan Arka ada benarnya juga.
"Dan bagaimana dengan status pernikahanmu? Hanya di bawah tangan, bukan? Pernikahan sirih menurut negara, anak dan istrinya tidak berhak atas harta warisan dari ayahnya," penjelasan Arka baru membuka mata Katrina bahwa dirinya meski istri pertama akan kalah dengan Mentari.
"Aku akan membuat wanita itu tidak hamil," ucap Katrina dengan tatapan tajam.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arka penasaran.
"Kau coba carikan aku obat yang bisa membuat wanita itu tidak subur lagi. Kenapa kau hanya berdiam diri saja? Mana janjimu yang katanya akan membantuku menyingkirkan wanita itu?"
"Kau santai saja dulu, ini belum saatnya. Jika sampai pada waktunya nanti bomnya akan siap meledak," sanggah Arka.
"Ah omong kosong, tidak bisa diandalkan," pekik Katrina.
"Bersabarlah dulu mungkin cara pertama memang harus mencari obat agar wanita itu tidak bisa hamil. Kalau tidak berhasil maka kita akan lanjut ke langkah kedua begitu seterusnya," beber Arka.
"Bagus kalau kau memang punya rencana," sambut Katrina.
"Tapi itu semua tidak gratis," ujar Arka membuat mata Katrina melotot dan dia langsung mengerem mendadak mobilnya.
"Sudah kubilang aku tidak ada uang," bentak Katrina.
"Sudah kukatakan aku tidak ingin meminta uang," balas Arka.
"Terus apa yang kamu inginkan?" tanya Katrina sama sekali tidak paham dengan imbalan apa yang Arka inginkan.
"Temani aku tidur malam ini." Sontak bola mata Katrina seakan melompat dari tempatnya mendengar permintaan Arka.
__ADS_1
Bersambung.